Merger Of Love

Merger Of Love
Satu Fandom



"apa kabar El?" wanita itu mendekati Elma yang berdiri terpaku menatapnya.


"baik, mami gimana kabarnya?" Elma mencoba tersenyum walau terpaksa.


"mami baik juga, sebaiknya kita mencari tempat untuk duduk"


"maaf mi saya masih ada keperluan" Elma berusaha menghindar.


"sebentar saja, lama kita tidak bertemu, bagaimanapun juga saya nenek dari anak kamu, saya ingin tau keadaan cucu saya" mama Cristine melangkahkan kakinya menuju cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri dan akhirnya Elma pun mengikuti masuk ke dalam cafe itu.


"kapan kamu kembali dari luar negeri?" mereka duduk berhadapan di balkon luar cafe.


"dua minggu yang lalu" jawab Elma singkat.


"Zivana bagaimana kabarnya?" mama Cristine mengeluarkan kotak rokoknya.


"alhamdulillah Zivana baik kabarnya" Elma mencoba menjawab sesopan mungkin.


"terakhir aku bertemu Zivana waktu ulang tahun dia yang ke sepuluh, anak itu sama seperti Kevin dan kamu, keras kepala" mama Cristine mulai menyalakan rokoknya.


"mungkin karena dia tidak dekat dengan mami saja jadi terkesan keras kepala"


"enggak juga, saya dan opanya sudah berusaha mendekat tapi anak kamu itu tetep aja tidak pernah menanggapi kehadiran kami, atau mungkin mama kamu yang ingin menjauhkan Zivana dari keluarga Kami" mama Cristine menghembuskan asap rokoknya.


"nanti coba saya bicara dengan Zivana" rasanya Elma ingin segera mengakhiri pertemuan dengan mantan mama mertuanya itu.


"Zivana itu satu-satunya keturunan kami, sampai sekarang Eliza kakak Kevin belum juga punya anak, bilang sama Zivana dia nanti yang akan meneruskan usaha Opanya"


"saya enggak mau memaksakan Zivana harus menjadi apa, saya ingin dia berkembang sesuai keinginannya" Elma mengaduk minumannya.


"kamu jangan terlalu memberikan anak kamu kebebasan, arahkan dia biar enggak salah arah seperti kalian dulu" wanita cantik blesteran Manado dan Belanda itu tersenyum sinis.


"saya pasti mengarahkan tapi bukan memaksakan, saya tau mana yang baik buat anak saya karena saya tidak mau anak saya mengulangi kegagalan saya"


"bagus, tapi aku harap kamu juga sadar dalam darah Zivana ada darah Kevin, kami juga ada hak terhadap Zivana, jadi kamu dan keluarga kamu jangan menjauhkan Zivana dari kami"


"saya dan keluarga saya tidak pernah menjauhkan Zi dari mami dan papi"


"kalau begitu bujuk Zivana untuk sesekali mau tinggal bersama kami, ini nomer telpon mami" mama Cristine menyerahkan kartu nama pada Elma


Elma hanya menyungging senyumannya, ingatannya kembali ke tiga belas tahun yang lalu dimana mama Cristine menginginkan Elma menggugurkan kandungannya.


"maaf mi, saya benar-benar ada keperluan, nanti kapan-kapan kita bisa ketemuan lagi" Elma berdiri dari duduknya kemudian mendekati mama Cristine dan mengambil punggung tangan mantan mertuanya itu dan menciumnya.


****


Hari-hari Elma lebih banyak disibukan dengan pekerjaan di butik tante Weni yang mulai dia nikmati, banyak pelanggan tante Weni yang puas dengan design buatan Elma.


Hubungannya dengan Zivana belum ada kemajuan yang berarti, namun setidaknya anak itu mulai tidak memperlihatkan sikap permusuhan dengannya.


Elma sedang sibuk memilih bahan untuk baju pesanan pelanggan di sebuah toko kain langganan tante Weni ketika ponselnya berbunyi.


"siang ma"


"kamu dimana El?"


"lagi di luar ma"


"mama minta tolong kamu jemput Zi sekolah ya, karena pak Tono lagi aku minta antar tamu mama, dan tadi aku telepon Alex ternyata sopir Zahra juga sedang antar Alex ke luar kota"


"iya ma, biar Elma aja yang jemput Zi"


"sekalian kamu antar Zahra kerumahnya ya"


"iya ma, setelah ini Elma otw ke sekolah Zi"


Setelah menutup panggilan dari mamanya Elma berpamitan pada pemilik toko dan bergegas dia melajukan mobilnya ke sekolah anaknya.


Jam pulang sekolah membuat mobil penjemput mengular mulai dari jauh, sekolah Zi merupakan sekolah Elma dan Alma dulu, sekolah bertaraf international dari jenjang kindergarten sampai SMA itu selalu membuat jalanan macet ketika waktu berangkat dan pulang sekolah. Elma agak kesusahan mencari tempat parkir, setelah cukup lama menunggu akhirnya Elma mendapat parkir yang lumayan jauh dari pintu gerbang sekolah.


Berjalan dengan terburu-buru karena takut dia terlambat menjemput, mendekati pintu gerbang sekolah yang ternyata masih tertutup, ingatannya kembali pada masa dia masih SMP, masa dimana bahagia dan duka dia alami dalam waktu yang hampir tiada jeda, gerbang itu masih sama seperti dulu hanya catnya aja yang mungkin diperbaharui.


"apa siswa SMP sudah keluar?" Elma bertanya pada penjaga gerbang.


"belum mbak, kurang lima menit" penjaga itu menjawab dengan sopan sambil menatap pada Elma dengan tatapan penuh selidik.


"terima kasih" jawab Elma sambil membuka tasnya untuk mengambil ponsel.


"apa mbak ini mbak Elma?" tanya penjaga itu.


Elma memandang ke arah penjaga itu, "iya saya Elma"


"bapak masih ingat saya, maaf ya pak, saya enggak ingat sama bapak" Elma tersenyum pada penjaga itu.


"Saya Nirno mbak, yang dulu pernah memergoki mbak Elma dan mas Kevin ciuman di dekat gudang" ucap penjaga itu sambil tertawa lirih dan menutup mulutnya.


Wajah Elma seketika memerah menahan malu atas pengakuan penjaga itu, "bapak bisa aja, itu masa jahiliyah tidak perlu diingat-ingat"


"maaf mbak" penjaga itu menahan senyumnya.


"enggak apa-apa" Elma menengok kearah dalam gerbang ternyata sekumpulan anak-anak beragam SMP mulai nampak keluar dari pintu utama sekolahan.


"mbak Elma mau jemput siapa?" tanya pak Nirno.


"Zivana dan Zahra" jawab Elma sambil memandang ke arah pintu utama sekolah.


"sepertinya itu sudah mulai keluar" pak Nirno mulai bersiap membuka lebar gerbang sekolah.


"Zi... Zivana" Elma memanggil Zi yang sedang berjalan bersama Zahra keluar dari pintu utama dan menuju gerbang.


"Zi, sepertinya itu tante Alma" Zahra menunjuk ke arah Elma.


"itu bukan tante Alma itu miss failed" jawab Zi ketus.


"itu mami kamu?"


"iya" sambil memutar malas bola matanya.


"hai" Elma mendekati Zi dan Zahra, menyapa mereka dengan senyum terbaiknya.


"halo tante" Zahra membalas sopan sapaan Elma.


"ini pasti Zahra ya" Elma menunjuk ke arah Zahra.


"iya tante, saya Zahra"


"ok, ayo... Mobil mami parkir didekat ruko depan" Elma berjalan mendahului mereka.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil Elma, dan mobil mulai bergerak meninggalkan halaman ruko, jalanan masih sedikit macet yang membuat mobil Elma bergerak lambat.


"kalian mau makan dulu?" tanya Elma sambil tetap fokus menyetir.


"saya masih kenyang tante" Zahra menjawab sopan sementara Zi yang duduk disamping Elma sibuk memainkan ponselnya.


"rumah Zahra dimana?"


"di kawasan graha indah... Maaf ya tante nanti cukup jauh antar saya"


"enggak apa-apa, kan sekalian jalan-jalan, lama tante tidak pernah jalan ke arah sana"


Elma kemudian memutar audio mobilnya, lagu Butter milik BTS terdengar mengalun dan Elma menirukan dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya, Zi seketika melihat ke arah Elma,


"kalian suka BTS?" Elma bertanya disela-sela menirukan lagu Butter.


"suka banget tante" Zahra nampak antusias mengatakannya sambil mengikuti menyanyikan lagu Butter.


"kamu enggak suka Zi?" Elma melihat ke arah Zi.


"Zi lebih suka Treasure tante" Zahra yang menjawab.


"wah sama dong mami juga suka Treasure, selusin anak ganteng kesayangan mami itu" Elma mengatakan dengan nada penuh kegembiraan.


"wah tante keren, suka Blackpink juga enggak?" Zahra semakin antusias jika berhubungan dengan Kpop.


"suka, Big Bang tante juga suka"


"wah, keren.. Keren kita satu fandom tante" Zahra mengarahkan tangannya ke arah Elma untuk tos.


"Zi, udah punya boneka Truz belum?" Elma kembali menatap ke arah Zi yang sepertinya masih menjaga jarak dengan Elma.


"belum" jawabnya singkat namun tidak ketus seperti biasanya.


"koleksi boneka Truz mami udah lengkap, tapi masih ada di Paris, mami udah minta tolong teman mami buat kirim semua barang mami yang disana"


"beneran?" Zi mengatakan dengan antusias dan tersenyum sambil menatap ke arah Elma.


Elma hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, sedikit senyuman dari Zi membuat hatinya begitu bahagia, anak yang begitu dia ingin rengkuh sudah mulai mau tersenyum padanya. Senyuman itu membuat Elma semakin bersemangat dan tidak pernah menyerah.


...***Kamu boleh berteriak. Kamu juga boleh menangis. Akan tetapi, kamu tidak boleh menyerah***...


...____*****____...