Merger Of Love

Merger Of Love
Menyebalkan



POV Elma


Terapi yang aku jalani sungguh membawa banyak perubahan pada diriku terutama sangat berdampak baik untuk hubunganku dengan Zivana.


Untuk hubunganku dengan mama hampir tidak ada perubahan, padahal aku sudah berusaha mengalah, berusaha untuk bisa menyelami hati mama, berusaha untuk melupakan kesalahan mama padaku. Aku sadar ego mama terlalu tinggi, mama orang yang selalu merasa benar, dan semua sifat mama menurun padaku, namun aku sadar aku tidak mau mengulang apa yang dilakukan mama padaku, aku ingin menjadi ibu yang bisa merangkul putriku, yang bisa membuatnya nyaman berada di dekatku.


Hubunganku dengan Alvin semakin rumit, laki-laki itu tetap mendekatiku, dan aku tak mampu menjauh. Aku sadar hubungan kami tak akan berujung, namun perhatiannya padaku yang bertubi-tubi membuatku tidak bisa begitu saja menghindarinya. Jika tidak mengingat akan janjiku pada Zi untuk tidak menjalin hubungan dengan laki-laki manapun pasti aku sudah menerima Alvin.


Pekerjaanku bisa dikatakan tidak ada masalah, bahkan Tante Weni sangat puas dengan kinerjaku, beliau menyarankan aku untuk mulai mandiri membuka usaha sendiri, namun aku masih belum merasa nyaman bekerja sendiri. Selama ini aku tidak pernah mengalami masalah dengan klien yang aku tangani, namun ada satu klein yang aku hadapi begitu cerewet dan menyebalkan, jika tidak mengingat dia sahabat Tante Weni aku tidak sudi mengerjakan desain kain miliknya.


Emier, nama yang selalu mengerikan bagiku, setiap kali bertemu tidak pernah ada manis-manisnya padaku, ada aja yang membuat aku salah dimatanya. Padahal jika mau sedikit tersenyum wajahnya mirip Gong Yoo aktor korea idolaku. Desain yang aku buat untuknya tidak pernah benar, beberapa kali aku harus merevisi, padahal semua sudah sesui dengan keinginannya.


Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyelesaikan pesanannya meskipun penuh drama, aku ingat bagaimana seminggu yang lalu ketika aku sedang menikmati dinner bersama Alvin, Tante Wina meneleponku untuk segera merevisi desain kain Pak Emier, padahal desain itu sudah aku serahkan pada pengerajin batik tulis dan akan segera dikerjaan, sialnya lagi malam itu Pak Wito pengerajin yang aku serahi tugas tidak bisa aku hubungi, akhirnya dengan sangat terpaksa aku batalkan dinner dengan Alvin dan dengan sedikit kecewa Alvin mengantarmu ke butik Tante Wina, di sana Pak Emier ternyata sudah menungguku.


"Kamu yakin tidak mau aku tunggu," Alvin mengantarku masuk ke dalam butik.


"Enggak apa-apa kamu tinggal aja, lagian ada beberapa karyawan yang tidur dibutik ini," aku memasuki butik setelah kepergian Alvin.


"Maaf kalau mengganggu acara malam minggu kamu," suara yang mengagetkanku ketika hendak memasuki butik, dan aku hanya berlalu memasuki butik.


Pak Emier menjelaskan bagian mana yang harus direvisi, ternyata ada satu daun yang ruasnya ternyata salah jumlahnya, untuk orang yang tidak mengerti memang kesannya tidak ada bedanya. Aku bisa merevisi dengan cepat, tapi masalahnya Pak Wito beberapa kali aku hubungi masih belum bisa, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke tempat pengerajin itu, karena jika sampai pola sudah tercetak dikain maka sayang harus membuang kain yang didatangkan khusus dari India yang konon harganya sangat mahal.


Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam tanpa banyak bicara, malam pekat menghiasi pejalanan menuju desa Pak Wito, perjalanan yang kami tempuh hampir 2 jam membuat tubuhku merasakan lelah dan aku pun tertidur.


"Hai, bangun," aku merasakan tubuhku ada yang menggoyang goyang.


"Apa sudah sampai," aku mencoba untuk mengumpulkan nyawa.


"Belum, saya tidak tau rumahnya yang mana," Pak Emier terlihat kesal.


"Maaf saya tertidur," aku melihat sekeliling, dua kali aku mendatangi tempat itu, mencoba mengingat ditengah gelapnya malam.


"Sepertinya agak maju pak, kalau enggak salah rumahnya depan sekolah dasar,"


Pak Emier memajukan mobilnya dan ternyata benar, akhirnya kami menemukan rumah Pak Wito. Berkunjung jam sebelas malam membuat pemilik rumah terkejut, setelah aku jelaskan Pak Wito bisa paham, dan untungnya pola belum tercetak di kain.


Pak Wito menyuruh kami menginap namun aku menolaknya, kami putuskan pulang malam itu juga.


"Biar saya yang bawa mobilnya pak," aku menawarkan diri untuk menggantikan membawa mobil.


"Ga usah, kamu tidur aja,"


"Saya sudah tidur tadi, bapak kan belum tidur mungkin capek biar saya gantiin,"


"Ga usah, saya enggak ngantuk," jawabnya singkat dan tanpa menatap diriku.


Perjalanan terasa dingin tanpa ada pembicaraan kembali, rasanya aneh duduk berdua tapi saling diam. Aku mencoba membuka pembicaraan, "Apa kainnya nanti aku dibuat baju?"


"Enggak,"


"Lalu dibuat apa, katanya buat seragam,"


"Seragam belum tentu berupa baju kan, lagian sayang jika dipotong jadi baju, maknanya enggak bisa dinikmati karena terpotong-potong,"


Aku hanya terdiam, mungkin benar apa yang dikatakan Pak Emier, kain batik yang aku buat itu seperti ada alur ceritanya, jika dipotong-potong maka alurnya akan terputus.


"Kamu tinggal dimana? Biar saya antar ke rumah kamu," rupanya kami sudah hendak memasuki kota.


"Saya turun di butik Tante Weni aja pak,"


"Kenapa? kamu enggak punya rumah?"


"Bukan begitu pak, saya hanya tidak enak pulang jam segini, tadi saya sudah pesan orang rumah saya ada lembur tidur dibutik," waktu masih menunjukan pukul tiga pagi kurang, aku takut membuat orang rumah berpikir aku pergi ke club malam.


Sampai di depan butik Pak Emier menghentikan mobilnya.


"Terima kasih pak, selamat malam" aku lalu turun dari mobil Pak Emier dan tanpa satu katapun Pak Emier melajukan mobilnya meninggalkan butik.


"Dasar orang aneh," rasanya ingin aku lempar dengan batu saja mobilnya, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang menyebalkan akut.


****


"Mbak Elma, ada Pak Emier di depan, katanya mau ketemu Mbak Elma," Luna berkata dengan suara lirih dari depan pintu ruangan Elma yang terbuka.


"Ngapain lagi?" Elma dengan muka masam berdiri mendekat pada Luna, dan Luna hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.


"Mencari Bu Weni mungkin," Elma merasa urusan desain dengan laki-laki itu sudah selesai semua, tinggal menunggu hasil selesai dibatik.


"Enggak mbak, cari Mbak Elma, udah sana temuin mbak, entar kelamaan nunggu marah- marah dia," Luna mendorong Elma untuk segera berjalan ke ruang depan.


Elma dengan tidak bersemangat menemui Pak Emier yang duduk menunggu di sofa ruang tunggu, "Selamat siang pak,"


"Siang," Pak Emier berdiri dari duduknya.


"Maaf, apa yang bisa saya bantu lagi?" Elma berusaha tersenyum, jika mengingat kejadian seminggu yang lalu dia malas menemui laki-laki itu.


"Apakah kamu ada acara hari ini?" Pak Emier mengatakan dengan manis tidak seperti biasanya.


"Maksud Bapak?" Elma masih belum percaya sepenuhnya dengan sikap manis Pak Emier takutnya itu hanya kamuflase dia untuk kembali mensiksa dirinya.


"Saya mau ajak kamu makan siang di luar," suaranya terdengar indah mengatakannya seperti ada ketulusan.


"Makan siang?" Elma memperjelas apa yang dikatakan Pak Emier, dia takut salah mendengar.


"Iya makan siang, ini sudah hampir jam makan siang kan? Terserah kamu mau makan dimana,"


"Saya traktir kamu sebagai ucapan terima kasih karena desain yang kamu buat mendapat pujian dari komunitas saya,"


"Terima kasih sebelumnya, cuma saya...."


"Ok, kita makan di Cafe depan itu saja," Pak Emeir dengan gaya otoriternya yang kembali muncul, meninggalkan Elma dan berjalan menuju pintu keluar, Elma hanya terdiam melihat laki-laki itu.


"Ayo, keburu habis jam makan siangnya, aku gak mau bikin Weni rugi," Pak Emier menoleh ke arah Elma karena diliat gadis itu tidak mengikuti langkahnya.


"Sebentar pak, saya ambil ponsel saya dulu," Elma bergegas keruangnya mengambil ponsel dan dompetnya.


Sampai di depan dilihatnya Pak Emier sudah berada di pinggir jalan untuk siap menyeberang, Elma dengan sedikit berlari mensejajarkan tubuhnya untuk berdiri disamping Pak Emier, tanpa basa basi tiba-tiba tangan Pak Emier menggandeng tangan Elma dan tanpa bersuara menarik Elma untuk mengikutinya menyeberang di jalan yang lumayan ramai, beberapa kali mereka menghindari pengendara sepeda motor yang kadang tidak mau berjalan pelan. Elma merasa aneh, laki-laki itu memegang tangannya, bukankan selama ini dia tidak pernah mau bersalaman dengannya.


Sampai di depan Cafe Pak Emier belum juga melepaskan genggaman tangannya, memasuki Cafe dengan tetap saling bergandengan layaknya sepasang kekasih.


"Maaf Pak," Elma melepas tangan Pak Emier, dia merasa tidak nyaman bergandengan tangan seperti itu, dan laki-laki itu hanya menanggapi dengan wajah datar.


Berjalan mendahului Elma menuju salah satu meja yang terletak di pinggir kaca, Elma mengikuti dari belakang, dan mereka akhirnya duduk saling berhadapan.


Seorang pelayan mendekati mereka, "Bisa saya bantu untuk menulis pesanannya?" tanya pelayan itu dengan ramah.


Membuka buku menu yang sudah ada di meja Pak Emier masih nampak memilih-milih menu yang ada, "Saya Carbonara Spaghetti dan Fresh Orange," Elma tanpa membuka buku menu menyampaikan pesanannya.


"Saya sama aja," Pak Emier mengatakan sambil menutup buku menunya.


Setelah membacakan ulang menu yang mereka pesan pelayan itu meninggalkan mereka berdua yang duduk berhadapan dengan sejuta kecanggungan yang sama-sama mereka rasakan.


"Ba..."


"Te..."


Sama-sama terdiam, "Terima kasih sekali lagi untuk usaha keras kamu, maaf jika selama ini saya terkesan sangat cerewet masalah desain kain itu, karena saya ingin semua sempurna,"


"Tidak apa-apa pak, saya senang bisa membantu bapak," Elma merasakan tatapan laki-laki didepannya begitu tajam, dia berusaha menghindari menatap mata Pak Emier.


Kring


Kring


Ponsel Elma berdering dilihatnya nama Alvin, "Maaf pak saya jawab telepon dulu," Elma lalu menekan tanda hijau pada ponselnya.


"Halo, Vin,"


"Kamu dimana El?"


"Lagi makan siang di Cafe seberang butik,"


"Ya sudah" Alvin langsung menutup teleponnya.


Elma meletakan kembali ponselnya di meja.


"Siapa? Pacar kamu?"


"Bukan Pak, saya tidak punya pacar,"


"Suami?"


"Bukan, hanya teman,"


"Kalau hanya teman kenapa dia menyusul kamu kesini?" Pak Emeir menatap ke arah pintu masuk Cafe.


"Maksud bapak?" Elma bingung dengan perkataan Pak Emier.


"Bukankah itu teman kamu?" Pak Emier melihat Alvin berjalan dengan cepat ke arah mereka.


Elma menoleh kebelakang dan dilihat Alvin sudah berada di belakangnya, "Kamu juga makan siang disini?"


"Aku tadi ke butik katanya kamu keluar, makanya aku telepon kamu," pandangan Alvin mengarah pada Pak Emier dengan tajam.


"Kenalkan ini Pak Emeir, Klien aku," Elma mengenalkan Pak Emier pada Alvin.


"Kamu sudah selesai makannya?" Alvin melihat meja kosong tidak ada makanan.


"Belum, kami baru datang pesanan kami belum datang,"


"Boleh saya bergabung untuk makan siang bersama?" Alvin hendak mengambil duduk di samping Elma.


"Maaf, saya dan Elma bukan makan siang tapi ada pembicaraan bisnis yang mau saya sampaikan, jadi saya keberatan jika anda bergabung," Alvin dan Elma terkejut dengan apa yang diucapkan Pak Emier, Alvin akhirnya tidak jadi duduk disebelah Elma.


"Maaf kalau begitu, saya pikir jam makan siang tidak ada pembicaraan pekerjaan," Alvin membalas dengan ucapan yang ketus.


"Ya sudah, nanti pulang kerja saya akan temui kamu," Alvin mengatakan dengan suara lembut pada Elma, lalu meninggalkan meja mereka dengan kesal.


Elma hanya bisa melihat kepergian Alvin, "Memang bapak mau bicara masalah bisnis apa dengan saya, apa bapak mau memesan desain lagi?"


"Tidak, saya mau mengenalkan kamu sama anak saya,"


"Maksud bapak?"


...Tak selamanya yang indah datang dari kebaikan karena keburukan mendatangkan pelajaran dan itulah yang indah....


......___****____......