Merger Of Love

Merger Of Love
Siapa Dia



"El, nanti setelah makan siang ada teman SMA tante yang minta untuk dibuatkan desain kain, tolong kamu temui ya, karena tante mau kamu yang mengerjakan desainnya, tante harap kamu bisa mengerjakan sebaik mungkin karena kain ini akan menjadi seragam untuk komunitas internasional," tante Weni mengatakan sebelum berpamitan keluar butik.


"Baik tante," Elma menjawab dengan senyum bahagia karena desainnya mulai disukai banyak orang.


Siang itu Alvin mengajak Elma untuk makan siang bersama, meskipun Elma telah memberikan batasan pada Alvin untuk tidak berharap banyak akan hubungan mereka, namun kenyataannya Alvin tidak menyerah untuk tetap bisa dekat dengan Elma, dan Elma sendiri tidak dapat menghindar, karena jujur dia butuh temen.


"Sorry lama ya nunggu aku?" Elma menghampiri meja yang berada agak diujung, Alvin tersenyum lebar menyambutnya.


"Enggak, aku juga baru lima menit duduk disini," Alvin sedikit berbohong, padahal sudah lebih dari setengah jam dia menunggu Elma, padahal gadis itu sendiri yang meminta makan siang lebih awal karena dia ada tamu seusia makan siang.


"Tapi kenapa minuman kamu sudah habis?" Elma menatap ke arah gelas di depan Alvin yang sudah kosong tak berisi.


"Aku tadi haus banget, jadi langsung habis minumannya... kamu mau pesan apa?" Alvin mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sepertinya gado-gado enak ya, udah lama aku enggak pernah makan gado-gado," Elma memang tadi sengaja meminta Alvin untuk bertemu di cafe dengan menu masakan Indonesia.


Setelah memesan makanan pada pelayan cafe, Alvin meletakan beberapa lembar tiket di depan Elma.


"Apa ini?" Elma bingung dengan tiket yang disodorkan Alvin padanya.


"Itu tiket untuk beberapa permainan di Trens, kebetulan mereka satu manejemen dengan cineplex tempat aku kerja... itu aku kasih buat Zi," Trens merupakan wahana permainan yang lebih mengedepankan permainan untuk remaja.


"Wah terima kasih, Zi pasti seneng sekali, beberapa kali dia minta aku temani pergi kesana tapi aku masih sedikit repot... sekali lagi makasi ya," Elma melihat lembaran-lembaran tiket dengan tersenyum.


"Luangkan waktu untuknya, anak seusia Zi butuh dekat dengan orang tuanya," Alvin nampak begitu bijak bertutur kata.


"Pengalaman pribadi ya?" Elma tersenyum mengingat ketika seusia Zi mereka adalah anak-anak yang kurang perhatian dari orang tua.


"Pengalaman kamu juga kan, kita sama-sama hanya mendapat perhatian materi dari orang tua kita, padahal kita butuh waktu mereka untuk bersama kita," Alvin mengingat betapa orang tuanya hanya menghujaninya dengan materi, beruntung dia tidak sampai salah pergaulan seperti temannya yang lain, sehingga dia tidak sampai tenggelam dalam banjir materi tanpa landasan kasih sayang.


"Aku ingin Zi tidak bernasib seperti kita dulu... setidaknya aku ingin dia merasa ada aku yang selalu mendengarkan keluh kesahnya."


Sesaat kemudian makanan pesanan mereka datang, "Ini pangsit gorengnya enak loh El, coba deh," Alvin mengambil satu pangsit goreng dan mengarahkan ke mulut Elma, dan Elma pun menerima suapan dari Alvin.


"Gimana, enak kan?" Alvin memandang Elma yang mulutnya sibuk mengunyah pangsit.


"Iya enak," Elma berusaha menjawab dengan mulut yang masih terasa penuh.


Menikmati makan siang bersama dengan saling bercerita masa lalu dan masa sekarang tanpa membicarakan masa depan rasanya membuat obrolan mereka lebih terasa nyaman, tidak ada tuntutan untuk hubungan mereka harus seperti apa kedepannya, yang terpenting sekarang mereka menikmati sebagai teman yang saling membutuhkan.


Alvin mengantar Elma kembali ke kantornya karena sesuai permintaan Alvin tadi Elma berangkat menggunakan taxi, letak cafe yang tidak terlalu jauh dengan tempat kerja Elma membuat pejalanan terasa begitu singkat.


"Terima kasih untuk traktiran makan siang dan tiket gratisnya," Elma membuka self beltnya.


"Aku juga terima kasih karena kamu mau menemani aku makan siang" jujur dalam hati Alvin berharap mendapatkan hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Elma.


Elma tersenyum kemudian memutar tubuhnya untuk membuka pintu.


" El.."


"Iya.." Elma kembali berbalik memandang ke arah Alvin.


"Salam untuk Zi ya," Alvin mengatakan dengan suara lembut.


"Iya," Elma menjawab dengan senyuman dan sedikit anggukan, dan melanjutkan membuka pintu mobil.


Melepaskan kepergian Alvin dengan lambaian tangan dan senyuman bahagia, setidaknya hari ini dia punya waktu untuk menghibur dirinya sendiri.


Baru beberapa saat memasuki ruang kerjanya, Luna mengetuk pintu ruangannya, "Mbak Elma ada tamu yang ingin bertemu mbak Elma, katanya diminta ibu ketemu mbak Elma,"


"Pak Emier ya?"


"Iya mbak,"


"Sekarang beliau dimana?" Elma bergegas mengambil ipad dan note booknya.


"Saya minta nunggu di depan mbak,"


"Aduh, itu teman baiknya ibu, kenapa enggak langsung diantar ke ruang meeting," Elma bergegas keluar dari ruangannya meninggalkan Luna yang masih berdiri di dekat pintu.


"Selamat siang pak," sapa Elma dengan sopan pada laki-laki yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Maaf, saya Elma Staff bu Weni, mungkin lebih nyaman jika kita berbincang di ruang meeting," Elma mengarahkan tamunya untuk ke ruang meeting yang berada disamping ruang tante Weni.


"Maaf saya tidak bisa lama, karena saya ada keperluan di tempat lain, mungkin bisa kita langsung pada tujuan saya ke sini," ucap Pak Emier dengan suara tegas setelah mengambil duduk di salah satu kursi ruang meeting.


"Baik, silakan pak, apa yang bisa kami bantu?" Elma berusaha sopan meskipun laki-laki didepannya nampak kurang minum vitamin senyum.


"Weni pasti sudah cerita sama kamu, saya meminta dia untuk membuat desain kain untuk komunitas saya," suaranya benar-benar terdengar tegas dan berwibawa, tapi sayang tidak diiringi dengan senyuman sehingga terkesan sedikit menyeramkan.


"Iya pak, tadi tante.. maksud saya bu Weni sudah bercerita sedikit pada saya," Elma berusaha membuat tamu didepannya nyaman.


"Emang kamu nanti yang akan mengerjakan desain kain saya?" Pak Emier menatap ragu pada Elma.


"Iya pak, Bu Weni menugaskan saya untuk membantu bapak mendesain kain yang bapak inginkan," berusaha untuk tetap tersenyum menghadapi klien yang lama-lama terasa menyebalkan.


"Kelihatannya kamu masih baru disini, apa tidak ada staff Weni yang lain yang lebih pengalaman karena saya tidak mau nanti hasilnya jelek," Pak Emier menatap Elma dengan tatapan meremehkannya.


"Maaf sebelumnya pak, saya memang masih baru disini, tapi beberapa klien Bu Weni puas dengan hasil desain saya," Elma sedikit menyanjung dirinya sendiri karena merasa jengkel diremehkan.


"Ok, nanti saya akan bicara lagi sama Weni,"


"Silakan, tapi jika bapak berkenan saya akan tunjukkan beberapa hasil desain saya," Elma berdiri untuk mengambil contoh kain hasil designnya.


Membawa berkas yang berisi contoh kain hasil desainnya, Elma duduk disamping Pak Emier dan meletakan tumpukan berkas dihadapan pak Emeir. Laki-laki itu membuka satu persatu berkas yang diserahkan Elma. Tanpa sadar Elma melamun memandang wajah pak Emier dan hatinya berbisik, "Dia teman SMA tante Weni berarti seumuran mama, tapi mengapa dia masih terlihat belum terlalu tua, apa karena rambutnya diwarnai dan penampilannya yang layaknya anak muda, pasti ketika SMA menjadi idola para gadis termasuk mama." Elma tersenyum membayangkan dulu ketika SMA mamanya kecentilan seperti dirinya.


Terlalu meresapi lamunannya Elma tidak sadar Pak Emier memandangnya yang sedang asik senyum-senyum sendiri, "Halo, apakah saya nampak lucu sehingga kamu tersenyum melihat saya." suara yang terkesan kaku itu menyadarkan lamunan Elma.


"Maaf pak, saya lagi memikirkan sesuatu... bagaimana pak desain yang pernah saya buat?" Elma mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.


"Not bad... tapi saya akan tetap telepon Weni dulu memastikan kamu benar-benar recommended untuk mengerjakan pesanan saya,"


"Baik pak, kami akan tunggu kabar baik dari bapak,"


Elma mengantar tamunya sampai didepan butik, "Terima kasih untuk kunjungan bapak, semoga kita dapat bekerja sama," Elma benjulurkan tangannya untuk bersalaman, namun laki-laki itu malah hanya menakupkan dua tangannya di dada, tanda dia tidak mau bersalaman.


Elma merasa sedikit malu, namun dia tetap tersenyum dan segera ikut menakupkan tangannya di dada. Dengan tersenyum Elma mengantar kepergian tamunya sampai hilang dibalik pintu gerbang kantor, padahal dirinya merasa dua kali dibuat malu oleh tamunya itu.


****


POV Emier


Aku pernah melihatnya tapi entah dimana, wajahnya terasa tidak asing bagiku. Sepanjang perjalanan aku mencoba terus mengingat namun tak kunjung ingat, benar-benar umur tidak dapat dibohongi, semakin bertambah umur kadang aku semakin suka lupa.


Entah kenapa aku jadi memikirkan staff Weni itu, mungkin karena dia cantik atau karena aku seakan pernah mengenalnya. Sepertinya dia masih sangat muda, seusia Sari staffku dibagian dokumen, namun dia nampak profesional dalam bekerja, tidak nampak terpancing dengan sikapku yang terkesan tidak suka padanya, bahkan dua kali aku seakan membuatnya malu, pipinya yang putih merona merah karena menahan rasa malunya.


Pertama melihatnya didepan kantor Weni aku seperti tertarik untuk memperhatikan gadis itu terus, keluar dari mobil lalu melambaikan tangan pada pengendara mobil yang mengantarnya, mungkin kekasihnya. Mengikuti pergerakannya sampai dia masuk ke dalam butik Weni. Pucuk dicinta ulam tiba, begitu kata pribahasa, ternyata gadis itu yang ditunjuk Weni untuk mendesain kain pesananku. Sebenarnya Weni sudah menjelaskan bahwa nanti Elma yang akan mengerjakan, Weni sudah meyakinkan aku jika gadis itu sangat berbakat dan semua kliennya puas dengan hasil desainnya. Namun entah mengapa aku ingin menggodanya, seakan aku masih ragu dengan pekerjaannya padahal aku lihat hasil desainnya memang bagus.


Bertemu dengannya seakan membangkitkan perasaanku terhadap wanita, sudah lebih dari tujuh tahun perasaan itu hilang bersamaan dengan kandasnya pernikahanku. Beberapa hari ini putriku yang sudah mulai beranjak remaja mengomentari penampilanku, dengan bersusah payah dia meminta aku untuk merubah penampilanku. Aku selama ini memang terkesan tidak memperdulikan penampilanku, rambutku yang sudah 80 persen beruban tidak pernah aku coba warnai, sering malas mencukur wajahku membuat jambangku yang berwarna putih sering menghiasi wajahku, kesannya memang terlihat begitu tua.


Putriku menyeretku ke salon langganannya, dia memastikan aku untuk merubah penampilanku agar tidak terlihat terlalu tua, "kali ini papa harus nurut, aku enggak mau jalan sama papa dipikir jalan ama kakek aku," perkataan putriku itu membuat aku mau di make over, aku tidak mau membuat putriku kecewa, dia harta berharga yang aku miliki.


Beginilah penampilanku sekarang, rambut dipotong rapi dan dicat warna coklat, wajahku bersih dari jambang putihku. Pertama melihat dipantulan cermin ketika di salon aku seperti melihat diriku lima belas tahun lalu sebelum menikah. Bahkan sampai dikantor semua pegawaiku tidak mengenali aku, putriku tertawa bahagia melihat semua orang yang tidak mengenaliku karena katanya aku seperti sepuluh tahun lebih muda.


Bayangan Elma seakan terus mengusikku, mungkin apa yang dibicarakan putriku beberapa waktu lalu ada benarnya, aku harus membuka hati untuk wanita lain, putriku berharap aku menemukan cinta dan bisa move on dari mamanya. Namun rasanya terlalu aneh jika aku tertarik pada Elma gadis itu lebih pantas menjadi anakku.


...Tak ada larangan bagi siapapun untuk menjatuhkan hati pada siapa dia jatuh cinta, karena dalam cinta ada campur tangan takdir didalamnya...


...___****___...


.


.


.


Maaf jika tulisan ini lama up datenya, karena saya masih penulis amatiran yang tidak bisa membagi waktu antara dunia nyata dan dunia halu.


Terima kasih untuk yang sudah membaca tulisan receh ini, semoga bisa menjadi hiburan yang berfaedah.