Merger Of Love

Merger Of Love
Sampai Bismillahmu Berakhir Alhamdulilah



POV Alex


Aku duduk dengan sangat gelisah, kegelisahan yang melebihi ketika menghadapi tim penguji desertasiku. Dihadapanku sudah duduk Mas Burhan dan Penghulu, entah mengapa aku menjadi canggung berhadapan dengan Mas Burhan, muncul perasaan aneh aku sebentar lagi harus mengucapkan ijab qobul dengan Mas Burhan.


Keasyikan melamun aku tidak menyadari jika disebelahku telah duduk calon istriku, lucu rasanya menyebut Elma calon istri, aku tidak berani menatap kearahnya, bahkan meliriknya pun aku tak ada keberanian.


Sepertinya penghulu sudah akan memulai acara, aku menunduk namun aku bisa melihat bayangan penghulu yang berbisik pada Mas Burhan.


"Bagimana sudah bisa dimulai?" suara penghulu memaksa aku untuk mengangkat kepalaku, dan aku mengangguk pelan. Ini bukan pertama bagiku namun rasanya nervous yang aku rasakan melebihi pernikahan pertamaku.


Penghulu mulai membuka kutbah nikah, aku mendengarkan tetapi tidak bisa menghayati mungkin karena rasa grogi yang teramat sangat, setelah itu lantunan ayat suci Al Qur'an mulai terdengar dibacakan dengan suara yang indah, namun sekali lagi aku hanya mendengar namun pikiranku berkelana entah kemana.


Tiba diacara yang menjadi penentu kehidupanku dan Elma, ijab qobul. Setelah mencocokan semua data kami, penghulu memintaku menjabat tangan Mas Burhan, aku mencoba tidak terlihat nervous namun Penghulu justru menggodaku "Menjabat tangannya jangan terlalu kencang Mas, nanti dipikir mau adu panco," aku hanya tersenyum getir, dan Mas Burhan pun terlihat juga sedikit tegang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Elma Hyra Baskara dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai," entah kekuatan dari mana aku begitu lancar mengucapkan qobul yang baru aku hapalkan beberapa jam yang lalu


****


POV Elma


"Sah" terdengar Om Wira sepupu papa dan entah satu lagi laki-laki saksi dari pihak Om Alex mengucapkan satu kata yang membuat statusku berubah detik itu juga, status janda yang aku sandang selama ini lepas menjadi status istri orang.


Penghulu meminta Om Alex memasangkan cincin di jari manisku, dia begitu terlihat tegang, tangannya begitu dingin ketika memegang tanganku. Giliranku memasangkan cincin di jari manis Om Alex , aku justru tersenyum ingat dua puluh lima tahun lalu aku pernah memasangkan gelang ditangan Om Alex ketika mama menitipkan aku dirumah Om Alex, rasanya seperti dejavu.


"Cium tangan suaminya mbak, udah halal," penghulu kembali menggoda kami, dan dengan sejuta rasa yang terasa masih aneh aku cium tangan Om Alex,


"Balas cium kening istri mas," seorang yang memegang kamera giliran yang menyuruh Om Alex, dan dengan raut muka datar Om Alex mencium keningku dengan terpaksa.


****


Setelah prosesi ijab qobul selesai, semua yang hadir menikmati makanan yang telah disediakan. Zi dan Zahra nampak begitu bahagia, kedua gadis cantik yang memakai baju kembar tak henti-hentinya berselfi ria.


Jika semua yang hadir nampak bahagia, tidak dengan raja dan ratu sehari yang seharusnya paling bahagia namun justru mereka yang terlihat paling tersiksa, duduk berdampingan dengan berjarak, tidak nampak adanya kemesraan sama sekali, bahkan saling melirik pun tidak.


"Selamat ya El, Tante benar-benar bahagia kamu menikah dengan Emier," Tante Weni memeluk Elma.


"Terima kasih Tante," Elma mencoba tersenyum pada Tante Weni yang datang bersama suami dan putrinya.


"Selamat ya, jaga Elma baik-baik ya Nyo, seperti kita menjaganya waktu dia kecil," Tante Wina menyalami Om Alex sambil tertawa lirih dan Om Alex hanya membalas dengan senyum masamnya.


"Seperti yang selalu kamu bilang padaku, mulailah semua dengan bismillah...... semoga bismillahmu berakhir dengan alhamdulillah ya," Tante Weni seakan memberi support pada Om Alex untuk pernikahannya bersama Elma.


"Terima kasih Non," Om Alex sambil mengangguk. Tante Weni dan Om Alex memiliki panggilan istimewa masing-masing, karena dulu mereka berdua sempat menjalin hubungan spesial walaupun hanya cinta monyet yang singkat di masa SMA dan kemudian mereka lebih memilih menjadi sahabat.


Menjelang dhuhur semua tamu undangan mulai banyak yang meninggalkan villa, hanya tinggal keluarga inti yang masih berada di villa.


Elma meninggalkan acara dan masuk ke dalam kamarnya ketika Om Alex sedang berbincang dengan Om Danu dan papa.


Memasuki kamar Elma segera mengganti bajunya dan membersihkan riasan wajahnya. Terlalu capek fisik dan pikiran membuat Elma tertidur dengan begitu mudah.


"Papa mau kemana?" Zahra melihat papanya hendak keluar villa.


"Papa mau sholat ke masjid,"


"Masjidnya lumayan jauh, papa sholat dirumah aja, lagian liat mendungnya gelap banget, sebentar lagi pasti hujan," Zahra menarik tangan papanya untuk kembali masuk ke dalam villa.


"Tapi disini tidak ada ruang mushola papa bingung mesti sholat dimana,"


"Papa kan bisa sholat di kamar, entar Zahra ambilkan sajadah," anak itu berjalan meninggalkan papanya menuju kamarnya, dan Alex mengikuti dari belakang.


Zahra keluar kamar sambil membawa sajadah dan sedikit terkejut ketika papanya ada di depan pintu kamar, "Papa ngapain ngikut kesini?"


"Papa numpang sholat di kamar kamu aja ya," wajah Alex nampak begitu frustas.


"Papa kan udah ada kamar sendiri, lagian enggak enak ada Zi yang lagi tidur di dalam," Zahra kembali menarik tangan papanya menuju kamar Elma yang ada dilantai dua.


"Zahra, lebih baik papa sholat ditempat lain saja," Alex bersikeras tidak mau masuk kamar Elma ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamar Elma.


"Papa, please... Papa jangan seperti anak kecil," Zahra sedikit berteriak pada papanya.


"Tapi...." Alex nampak ragu-ragu ketika Zahra memaksanya masuk ke kamar Elma.


"Kamar itu buat kamu dan Elma, kamu sudah berhak untuk masuk kamar itu," Mama Rita keluar dari kamarnya mendengar keributan antara Zahra dan papanya.


Alex hanya terdiam mendengar ucapan Rita,


Tanpa ragu Zahra mengetuk kamar Elma namun tidak ada sahutan dari dalam, dia mencoba membuka pintu ternyata tidak dikunci, "Tante Elma di dalam sedang tidur, Papa masuk aja,"


"Enggak ah, Papa diluar aja," Alex hendak pergi namun tangannya keburu ditarik Zahra.


"Ayo lah Pa, Papa dan tante Elma kan sudah menikah jadi enggak apa-apa satu kamar, lagian tadi Omanya Zi bilang ini kamar buat Papa dan Tante Elma," Zahra lalu membuka pintu dan Zahra mendorong papanya masuk ke dalam.


Alex merasa bingung, dengan masih memegang sajadah yang tadi diberi Zahra Alex masih mematung berdiri di depan pintu, dilihatnya Elma tidur dengan pulas tidak terganggu sama sekali dengan kedatangannya. Bergegas Alex menuju kamar mandi untuk berwudhu sebelumnya dia membuka jasnya dan meletakan di kursi.


"Kenapa Om ada disini?" suara Elma mengagetkan Alex yang baru selesai sholat dan melipat sajadahnya.


"Sholat," Alex menjawab singkat dengan melihat sekilas ke arah Elma.


"Saya tau Om sholat, yang menjadi pertanyaan saya kenapa harus masuk ke kamar saya?" dengan muka kesal Elma berdiri dari duduknya.


"Saya sebenarnya juga enggak mau masuk kamar ini, tapi Zahra dan mama kamu yang memaksa saya masuk ke sini," setelah mengambil jasnya Alex bergerak ke arah pintu bermaksud keluar dari kamar itu, namun ketika akan membuka pintu dia terkejut karena pintu tidak bisa dibuka.


"Apakah kamu menyimpan kunci pintu ini?" Alex menatap tajam pada Elma.


"Om pikir saya sengaja mengunci pintu?"


"Bukan begitu, saya tau sepertinya kita berdua dikerjain.. jadi maksud saya mungkin kamu menyimpan kunci cadangannya,"


"Enggak," jawab Elma dengan ketus.


Alex mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu berusaha menghubungi Zahra, namun ponsel anaknya itu tidak aktiv, begitu juga ketika dia menghubungi Mama Rita, ponsel sahabatnya itu juga tidak aktiv, "Apakah kamu bisa menghubungi Zi, karena aku hubungi Zahra dan Mama kamu dua-duanya tidak aktiv,"


Elma dengan menahan rasa kesal mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zi, namun setali tiga uang ponsel Zi pun tidak aktiv, begitu juga ponsel Papanya tidak aktiv ketika coba dihubunginya.


"Sepertinya mereka emang benar-benar ngerjain kita," Elma menghempaskan tubuhnya duduk di tepi ranjang, sementara Alex masih terdiam mematung di depan pintu.


Suasana hening menyelimuti kamar yang seharusnya menjadi kamar penuh kebahagiaan, Alex duduk di sofa sibuk memainkan ponselnya, mencoba menghubungi sopirnya pun ponselnya tidak aktif, akhirnya hanya bisa terdiam menunggu keajaiban. Sementara Elma duduk bersandar di ranjang dengan memainkan ponselnya juga, disaat seperti ini hanya ponsel teman setia dan terpercaya untuk menghibur hati.


"Apakah pintu balkon itu bisa dibuka," Alex menatap ke arah pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon.


"Bisa mungkin, coba saja," Elma menjawab sambil tetap menatap ponselnya.


"Enggak punya," kembali Elma menjawab dengan ketus.


Dua manusia yang saling berdiam tanpa ada yg bersuara satu sama lain, bahkan saat sholat ashar pun Alex menawari Elma untuk berjamaah namun tanpa jawaban Elma justru keluar menuju balkon. Elma memang belum sepenuhnya menjalankan ibadah sholat, sepertinya hidayah belum sepenuhnya dia dapatkan.


Pintu kamar diketuk menjelang magrib, Alex bergegas menuju pintu, terdengar pintu dibuka dari luar.


"Maaf Pak," Bu Etik istri penjaga villa yang juga bekerja di villa membuka pintu.


"Saya tadi barusan ditelpon nyonya untuk membuka pintu kamar ini, saya pikir semua sudah pulang karena sudah tidak ada mobil, ternyata masih ada Bapak dan Mbak Elma,"


"Berarti semua sudah pada pulang?" Elma tiba-tiba sudah berada disamping Alex.


"Iya Mbak, sudah pulang semua,"


"Disini ada enggak bu yang bisa disewa mobilnya buat ngantar kami pulang?" Alex berusaha mencari alternatif untuk dapat meninggalkan villa.


"Susah pak, disini jarang ada yang menyewakan mobil... Kalau mau berangkat tengah malam bareng kendaraan yang membawa sayuran ke kota,"


"Bisa minta kontak orang yang punya kendaraan pengantar sayur bu,"


"Saya tanyakan suami saya ya Pak,"


"Saya enggak mau naik mobil campur sayuran, kalau Om mau silakan, saya nunggu sopir papa aja yang jemput," Elma masih merasa papanya akan kasihan padanya.


"Terserah kalau kamu mau disini lebih lama, saya banyak urusan yang harus saya selesaikan, berdiam disini hanya membuang uang dan waktu saya,"


"Saya pamit dulu ya Pak," Bu Etik bergegas pergi dari hadapan dua pasangan pengantin baru namun rasa musuh bebuyutan.


Alex keluar kamar turun ke bawah dan mengambil duduk di ruang keluarga, mengutak-atik ponselnya berusaha mencari bantuan rekannya mungkin ada yang bisa mengirim mobil untuknya, namun sial semua temannya tidak ada yang bisa membantunya. Terdengar sayup sayup suara adzan magrib dari kejauhan, Alex segera menghampiri Bu Etik yang seperti sedang sibuk menyiapkan sesuatu di dapur.


"Maaf, apa masjidnya jauh ya dari sini?" suara Alex yang tiba-tiba berdiri dibelakang Bu Etik membuat perempuan paru baya itu terkejut.


"Astagfirullah," Bu Etik segera berbalik menghadap Alex, "Maaf pak, saya kaget... saya pikir tidak ada orang, masjidnya jauh pak, di bawah sana... kalau bapak mau sholat bisa di kamar depan itu rasanya ada sajadahnya," Bu Etik menunjuk kamar yang tadi di pakai Zi dan Zahra.


"Apa tidak dikunci?"


"Tidak Pak, kalau semua sudah pulang kamarnya tidak dikunci,"


"Baik terima kasih," Alex membalikan badannya hendak menuju kamar yang ditunjuk Bu Etik.


"Maaf Pak," suara Bu Etik membuat Alex menghentikan langkahnya.


"Iya?"


"Saya dan suami saya mau ijin pergi ke acara nikahan saudara di bawah, tapi nanti malam kami sudah kembali... untuk makan malam sudah saya siapkan,"


"Ya sudah, tapi nanti tolong Bu Etik bilang ke pemilik mobil yang angkut sayur saya numpang mereka ke kota,"


"Baik Pak, ini nanti sekalian saya bilang ke pemilik kendaraannya,"


"Terima kasih ya,"


"Iya Pak, saya permisi dulu," Bu Etik bergegas pergi keluar.


Hujan gerimis mulai turun, terdengar gemuruh dan petir mulai ikut menghiasi hujan. Elma turun dan menuju dapur bermaksud untuk membuat teh hangat. Sibuk mencari cangkir, tiba-tiba kilatan petir begitu terang disertai gemuruh yang keras, dan seketika ruangan semua menjadi gelap.


Pyar, terdengar suara cangkir yang dipegang Elma jatuh.


"Papa.. Papa...Papa...."Elma berteriak sambil menangis layaknya anak kecil,


Alex yang sudah selesai sholat, segera mengambil ponselnya dan menyalakan senter ponselnya, berusaha menuju suara Elma yang berteriak histeris terus menerus.


"Kamu enggak apa-apa?" Alex mengarahkan senternya ke arah Elma yang duduk dilantai sambil ketakutan.


" Papa.....Elma takut,"


Alex ingat jika Elma phobia gelap, sikap keras Mama Rita yang sering menghukum Elma dan Alma di dalam gudang gelap sejak mereka kecil membuat Elma mengalami trauma akan tempat gelap, bahkan jika menonton bioskop Elma selalu menyalakan ponselnya.


Alex mendekati Elma dengan hati-hati karena dilihatnya banyak pecahan cangkir disekitar Elma, "Sudah enggak apa-apa, kamu jangan takut," Elma seketika memeluk Alex ketika laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu mendekat padanya.


"Papa.... Elma takut.. Jangan tinggalkan Elma.. hikhikhik," seperti Anak kecil Elma menangis sambil memeluk Erat tubuh Alex.


"Sudah jangan takut, saya enggak akan ninggalin kamu," Alex mengusap rambut Elma dengan lembut. Setelah membuat Elma cukup tenang Alex mengajak Elma berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.


"Kamu duduk disini dulu ya, saya mau bersihkan pecahan cangkirnya," Alex berusaha melepaskan pelukan Elma tapi gadis itu justru semakin erat memeluk Alex.


"Saya cuma mau bersihkan lantainya, bahaya nanti kalau kena kaki, ok?" Alex berusaha membujuk Elma.


"Papa jangan tinggalkan aku," Elma justru kembali menangis dan memeluk tubuh Alex dengan erat.


"Elma dengar saya..... Saya tidak akan meninggalkan kamu, saya cuma mau bersihkan lantai sebentar," Alex berjongkok didepan Elma, memaksa Elma untuk menatapnya.


"Enggak, nanti Papa enggak kembali," Elma menggeleng, bayangan masa dimana papanya yang seakan berusaha menolongnya ketika mamanya menghukumnya, namun selalu berakhir dengan ketidaksanggupan papanya melawan keinginan mamanya.


"Elma takut Pa...." Elma menangis dan memeluk Alex kembali, "Papa janji jangan tinggalkan Elma,"


Alex mengusap lembut rambut Elma, hatinya merasa iba mendengar tangisan Elma, Alex berusaha menenangkannya, "Saya janji tidak akan meninggalkan kamu,"


"Janji ya Pa"


"Iya, saya janji,"


...***Kita tidak boleh menjanjikan apa yang tidak seharusnya kita lakukan agar kita tidak dipanggil untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan ***...


.


.


.


.


Apakah cerita ini masih ada yang menunggu kelanjutannya?😊


Maafkan saya yang lama tidak aktiv menulis, ternyata penulis receh seperti saya susah untuk bisa membagi waktu dan sering hilang mood.


Semoga masih ada yang mau membaca tulisan ini, maaf masih jauh dari kata bagus. Mari berhalu bersama dengan pernikahan Elma dan Alex yang akan banyak pernak perniknya, akankah pernikahan tanpa cinta mereka akan bertahan?


Menjelang Ramadhan saya mengucapkan mohon maaf jika selama ini sering ada kesalahan dan khilaf, semoga ibadah puasa kita tahun ini lancar dan mendapat keberkahan.