Merger Of Love

Merger Of Love
Terkejut



"Sepertinya misi cinta kita bakalan enggak berjalan mulus deh Zi," berdua mereka duduk di taman sekolah sambil menikmati makaroni schotel yang dibawa Zi.


"Kenapa bisa begitu?" Zivana menggigit sedikit makaroni schotel yang ada ditangannya.


"Papa mau mengenalkan aku dengan seseorang, Papa ingin tau pendapatku tentang orang itu,"


"Orang siapa?"


"Entahlah, kenalan Papa katanya, sepertinya Papa naksir dia," Zahra mengatakan dengan cemberut.


"Apa dia cantik?"


"Entalah Zi, aku kan belum bertemu dengannya,"


"Kali aja Papa kamu sudah nunjukin fotonya,"


"Belum sih... Kenapa macaroni schotel ini rasanya asin banget ya," Zahra mengunyah dengan sedikit menahan rasa asin.


"Ini Mami aku yang bikin, harap maklum masih belajaran, aku sebenarnya juga kurang cocok dengan rasanya tapi.... ,"


"Mami kamu tumben bikin bekal makanan buat kamu,"


"Sepertinya Mami mulai ingin jadi Mami yang baik buat aku,"


"Sayang misi kita gagal, seandainya misi kita berhasil pasti rasanya menyenangkan kita jadi keluarga yang lengkap punya mama dan papa," Zahra seperti merasakan kecewa, tapi demi kebahagiaan papanya dia harus menerima siapapun yang dicintai papanya.


"Lalu rencana kita selanjutnya gimana?" Zi menutup kotak makannya, tidak melanjutkan memakan macaroni schotel yang rasanya sudah tidak bisa diterima lagi dimulutnya dan Zahra.


"Ya aku akan mengikuti apa yang diminta Papa," raut muka Zahra terlihat kecewa.


"Misal ternyata wanita yang dipilih Papa kamu itu jahat ama kamu gimana? kan biasanya ibu tiri itu suka kejam ama anak tirinya,"


"Iya ya... Gimana dong Zi aku jadi takut," Zahra memegang erat lengan Zivana.


"Bagaimana kalau kamu bikin wanita itu tidak suka ama Papa kamu?"


"Caranya?"


"Aduh... Kenapa kamu jadi lemot gini, kamua biasanya paling banyak akal," Zivana merasa kesal dengan Zahra.


"Maaf.... Aku beneran enggak bisa berfikir,"


"Waktu Papa kamu ngajak ketemuan sama wanita itu, kamu beri kesan yang buruk... kamu berdandan kayak anak brandalan yang susah diatur,"


"Emang gimana dandanan anak yang susah diatur," Zahra bingung dengan ide yang dibetikan Zi.


"Gimana ya," Zi nampak berfikir, "Aku sendiri juga enggak tau," gadis berponi itu malah tertawa lirih.


"Kamu yang kasih ide tapi enggak tau," Zahra semakin cemberut.


"Coba kita cari di internet," Zi mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu, "Seperti ini cocok bikin wanita itu shock," Zi menunjukan gambar seorang dengan pakaian celana jeans sobek-sobek hingga bagian paha, baju atasan yang tidak terkancing sempurna, dengan model rambut acak-acakan dan banyak aksesori yang menempel di badannya.


"Wah terlihat menyeramkan, seperti bukan aku banget," Zahra membayangkan papanya akan terkena serangan jantung melihat dia berpenampilan seperti itu, "Enggak ah, nanti bukan wanita itu yang shock tapi Papa aku yang kena serangan jantung,"


"Terus gimana dong," Zivana nampak putus asa.


Terdengar bel tanda waktu istirahat telah habis, mereka berdua berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kelas.


****


"Zahra enggak usah ikut ya pa," Zahra masih menggulung dirinya dibalik selimut ketika papanya masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu kan udah janji sama Papa mau kenalan ama teman Papa ini," Alex membuka selimut yang dipakai Zahra.


"Papa suka sama dia?"


"Suka,"


"Apa yang bikin Papa suka ama dia... bukannya Papa selama ini susah untuk suka sama wanita?" meskipun umur Zahra belum dewasa namun Alex sudah membiasakan untuk mengajak Zahra berdiskusi dalam mengambil keputusan, sehingga Zahra selalu tau apa yang dirasakan Papanya.


"Karena Papa merasa dia bisa cocok dengan kamu,"


"Kalau misal Zahra enggak suka ama dia gimana?"


"Ya Papa enggak lanjutin, buat Papa putri cantik ini segalanya," Alex memeluk Zahra, "Sekarang cepat mandi, kita segera berangkat,"


"Siap boss," Zahra segera turun dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi, hatinya bahagia setidaknya papanya berjanji tidak memaksanya menerima wanita itu jika dia tidak suka.


****


"Mami mau kemana?" Zivana melihat Elma duduk di depan meja rias bersiap dengan dandanan yang cantik.


"Mau ketemu klien Mami, Zi mau ikut?" Elma memoleskan lipstik.


"Enggak ah...." Zi nampak cemberut lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur Elma.


Elma mendekati anaknya yang sepertinya dalam mode ngambek, "Zi enggak mau Mami pergi?" duduk ditepi ranjang sambil mengambil tangan putrinya dan diletakan dipangkuannya.


Zi hanya terdiam, lalu menarik tangannya yang dipegang Elma, dan membalik badannya memunggungi Elma.


"Kenapa sih ketemuannya waktu weekend, kenapa enggak pas hari kerja aja?" Zi masih dalam posisi tidak menghadap Elma.


"Karena permintaan klien Mami seperti itu," Elma mencoba mengusap tangan Zi, namun Zi menarik tangannya, "Biasanya kamu kalau weekend juga suka pergi sama Zahra,"


"Zahra hari ini pergi sama papanya,"


"Ya udah Mami pergi sama kamu aja, Mami batalkan pertemuan ama klien Mami,"


"Enggak usah," Zi berbalik menatap Elma, "Entar sore aja kita perginya, tapi janji Mami cepat pulang,"


"Iya sayang, Mami juga pengen deket ama Zi terus," bagi Elma memiliki Zi adalah segalanya, dia tidak ingin menoreh luka kembali di hati anak gadisnya itu, apapun yang diminta Zi sebisa mungkin akan Elma turuti.


****


"Emang janjiannya jam berapa sih Pa?" Zahra merasa bosan karena hampir satu jam wanita itu belum juga datang.


"Jam sembilan, ini juga baru jam sembilan lebih sepuluh menit," Alex melihat jam tangannya.


"Ya ampun Papa, jadi janjiannya jam sembilan? Kenapa tadi kita datang jam delapan?" Zahra merasa kesal dengan Papanya.


"Kan enggak apa-apa, kita bisa sambil sarapan dulu,"


"Tetap aja rasanya aneh kita harus menunggu lama, kesannya Papa ngebet banget ama dia," Zahra menghabiskan jus strawberrynya.


"Selamat pagi," suara seorang wanita menghentikan perdebatan ayah dan anak itu.


"Selamat pagi," Alex berdiri menyambut wanita itu dengan senyum terbaiknya.


Zahra dengan malasnya menoleh ke belakang untuk menyapa wanita itu, begitu mereka sama-sama bertatapan betapa terkejutnya dia, "Tante...,"


"Zahra..." Elma tidak kalah terkejutnya.


"Tante ada acara disini juga?" Zahra berdiri mendekat pada Elma.


"Kalian sudah saling kenal?" Alex pun juga ikut bingung.


"Ini Tante Elma, Maminya Zi," Zahra mencoba menjelaskan pada Papanya yang semakin terkejut mendengar penjelasan Zahra.


"Maminya Zi?" Alex menatap bingung ke arah Zahra.


Zahra mengangguk, "Iya Maminya Zi," wajah Zahra nampak bahagia, sedang Elma dan Alex seketika seperti sama-sama ingin pergi dari tempat itu.


"Ayo Tante duduk sini," Zahra menarik tangan Elma untuk duduk disebelahnya, "Tante mau pesan apa?"


"Minum aja, sama kayak kamu jus strawberry,"


"Kok Tante tau aku minum jus Strawberry?" Zahra melihat ke arah gelas minumnya yang sudah kosong.


"Tuh garnish Strawberrynya masih nempel digelas, lagian kamu kan sama kayak Zi suka pesennya jus Strawberry,"


"Tante memang hebat," Zahra mengacungkan jempolnya pada Elma, sedang Alex memanggil waitress untuk memesan pesanan Elma.


"Enggak pesan makanan?" Alex bertanya pada Elma.


"Enggak Pak, makasi," Elma menjawab sambil tersenyum pada Alex.


Zahra nampak bahagia setelah sadar bahwa wanita yang akan dikenalkan papanya adalah Elma. Mereka berdua asik berbincang tanpa memperdulikan Alex.


"Tau gitu tadi Tante ajak Zi,"


"Tante tolong jangan cerita ama Zi ya kalau Tante ketemu aku dan Papa,"


"Kenapa?" Alex dan Elma bertanya secara bersamaan.


"Wah Papa dan Tante Elma kompak banget," Zahra menahan senyum melihat dua orang yang akhirnya jadi salah tingkah.


"Nanti biar Zahra yang cerita ama Zi, Zahra pengen bikin kejutan buat Zi,"


Hampir satu jam pertemuan yang tidak terduga dan membahagiakan bagi Zahra, namun membuat Alex gelisah itu berakhir, Elma berpamitan karena dia ada janji pada Zi akan mengajal Zi keluar. Dan mereka berpisah di parkiran mobil.


"Enggak nyangka ternyata wanita yang Papa taksir itu Tante Elma," Zahra tersenyum bahagia sambil memeluk boneka teddy bear yang ada di dalam mobil.


"Rasanya Papa enggak jadi naksir, Papa batal menyukainya," Alex menjawab sambil menatap jalanan.


"Apa?" jawaban Alex membuat senyum Zahra seketika lenyap dari wajahnya.


...***Jangan sedih jika harapan tidak sesuai kenyataan, karena siapa tau kenyataan lebih baik dari harapan ***...


.


.


.


.


Maaf baru sempat meneruskan cerita ini, semoga tetap suka dan masih bersedia membacanya.