Merger Of Love

Merger Of Love
Belajar Bersabar



"aduh... sakit om" Zi menangis ketika papa Alex mengobati akibat gigitan kalajengking, Zi tipe anak yang tidak dapat menahan rasa sakit.


"apa Zi tidak apa-apa pa?" Zahra yang duduk disebelah Zi merasa cemas.


Papa Alex dan om Aldo sempat mengambil kalajengking yang menyengat Zi, ukurannya tidak terlalu besar dan dikategorikan kalajengking yang tidak berbahaya, namun mereka tetap mengobati luka pada tangan Zi.


"insyaallah enggak apa-apa, kalajengkingnya bukan tipe yang beracun, tapi sengatannya ini akan sedikit terasa tidak nyaman di kulit Zi, ini udah papa kasih cream untuk ngurangi efek gigitannya" papa Alex membereskan kotak obat yang selesai dipakai.


"kalajengking yang ada di Indonesia rata-rata tidak berbahaya, cuman kita tetap harus hati-hati jika berada di alam bebas seperti ini.. Papa kamu dulu pernah disengat kalajengking yang lebih berbahaya waktu kita lagi cari tanaman di Amerika Serikat, disana kalajengkingnya mantab besar dan lumayan beracun" Om Aldo bercerita dengan antusias membuat Zi melupakan rasa sakitnya.


"lalu papa gimana om waktu di gigit?" Zahra mengerutkan dahinya membayangkan papanya dalam bahaya.


"ya kita langsung kasih penawar racun dan segera pergi ke rumah sakit, alhamdulillah papa kamu sehat sampai sekarang"


"makanya kalian mesti waspada jika ditempat terbuka seperti ini, nanti kalau mau masuk tenda untuk tidur diperiksa dulu apakah ada hewan yang berbahaya, kan sunah nabi juga kalau sebelum tidur kita harus membersihkan tempat yang akan kita pakai buat tidur agar bersih dan terhindar dari hewan yang berbahaya macam kalajengking seperti ini" papa Alex menjelaskan pada dua gadis ABG yang sudah nampak tenang.


"Zi merasa mual?" om Aldo bertanya pada Zi.


"enggak om, cuman Zi merasa lapar" dengan sedikit malu-malu Zi menjawab.


mendengar jawab Zi semua tertawa.


"bukan kamu aja Zi yang lapar, om juga lapar" Om Aldo mengacak-ngacak pucuk kepala Zi.


Mereka berempat makan bersama masakan hasil karya Zahra dan Zi, walaupun rasanya belum bisa disesuaikan dengan lidah tapi papa Alex memujinya.


Hari kedua mereka berkemah, mereka bangun ketika waktu menunjukan mereka harus sholat subuh, hawa dingin sungguh memilukan tulang, suasana gelap dan suara hewan-hewan hutan membuat suasana dari semalam cukup membuat yang tidak terbiasa seperti Zi dan Zahra merasa ketakutan.


Ketika matahari mulai hadir berbagi sinarnya, dua gadis cantik itu sedikit merasa lega, setelah sarapan dengan makanan instan yang dimasak om Aldo mereka menyusuri hutan mencari beberapa tanaman yang menjadi incaran papa Alex.


Siang ini mereka sudah berkemas untuk kembali pulang. Om Aldo mengantarkan mereka kepelabuhan.


"terima kasih ya untuk semua bantuan kamu" papa Alex menjabat tangan sahabatnya itu sebelum naik ke kapal yang menjemput mereka.


"sama-sama, sering-seringlah kemari" Om Aldo tinggal disana dengan beberapa orang pegawainya, Om Aldo sendiri memiliki usaha pengembangan tanaman langkah dipulau itu, keluarga om Aldo tinggal di ibu kota, sebulan sekali om Aldo mengunjungi mereka.


Setelah dua jam perjalanan yang mereka lalui, akhirnya Zi sampai dirumah hampir menjelang magrib. Zi segera membersihkan diri karena selama di hutan dia tidak bisa mandi dengan bersih, setelah sholat magrib dia merebahkan tubuhnya di kasur yang begitu terasa nyaman dan memainkan ponselnya yang selama di hutan tidak tersentuh olehnya.


Tok


Tok


Suara pintu kamarnya diketuk lalu dibuka, "boleh mami masuk?" suara Elma terdengar begitu lembut.


Zi melihat maminya yang membuka pintu, hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan memainkan ponselnya, Elma hanya berdiri di depan pintu kamar,


"Jika ingin mengajak berdebat atau memberi ceramah maaf saya lagi capek" Zi berkata tanpa melihat ke arah Elma.


"mami hanya ingin menanyakan kabar kamu aja, bagaimana acara campingmu?" Elma berusaha berbicara pada putrinya itu dengan stok sabar yang sudah diajarkan mbak Ratih.


"menyenangkan" jawab Zi singkat tanpa melihat ke arah Elma sama sekali.


"ya sudah, kamu jangan lupa makan malam", Elma yang berkata dari pintu kamar Zi itu akhirnya berlalu dan menutup lagi pintu kamar Zi.


Zi memandang ke arah pintu kamarnya, ada perasaan senang karena Elma sedikit mulai perhatian padanya namun perasaan benci terhadap Elma masih mendominasi dihatinya.


"pagi ma, pagi pa" Zi mencium pipi mama dan papa sebelum duduk dimeja makan dan mulai untuk sarapan.


"Zi, nanti pulang sekolah kamu minta tolong Zahra antara kamu pulang ya, pak Tono mau antar mama ke luar kota"


"biar saya yang jemput Zi" Elma dengan penuh harap berkata sambil menatap Zi.


"tidak perlu, aku bisa pulang dengan Zahra" Zi menjawab dengan ketus sambil memasukan nasi goreng ke mulutnya.


"menurut papa apa salahnya kamu dijemput mami kamu, tidak enak juga jika harus merepoti Zahra, rumah dia kan lumayan jauh dari sini" papa ikut berkomentar.


"Zi pulang sama Zahra saja, Zi merasa lebih nyaman bersama dia"


Elma mencoba menambah level kesabarannya, memang tidak mudah untuk mengambil hati anaknya, dia sadar semua butuh waktu dan tidak bisa instant.


"ya kalau Zi merasa lebih nyaman dengan Zahra mami enggak apa-apa yang penting Zi aman sampai rumah" Elma mencoba bersikap lebih dewasa.


Semua yang dimeja makan terkejut dengan jawaban Elma, namun setidaknya jawaban Elma membuat suasana di meja makan tenang tidak ada pertengkaran seperti sebelumnya.


****


Lima hari sudah Elma bekerja di butik tante Weni, dia mulai banyak belajar, untuk ilmu mendesign baju mungkin Elma sudah mendapat banyak dan lebih bagus ketika belajar di Paris, namun ilmu membentuk karakter yang baik itu lah yang banyak dia pelajari dari tante Weni.


Hubungan Zi dan Elma bisa dikatakan jalan ditempat, mereka hanya saling bertemu di meja makan dan tanpa perbincangan layaknya ibu dan anak.


Sabtu pagi ini Elma kembali akan menemui mbak Ratih untuk terapi lanjutan, berpenampilan layaknya gadis yang masih SMA Elma nampak cantik.


"papa pikir papa punya cucu yang lain, ternyata ini anak papa" papa menggoda Elma yang akan duduk di meja makan.


"mbak Elma cantik, kayak masih SMA aja" Bik Rum yang menaruh nasi goreng di meja makan ikut berkomentar sambil tersenyum.


Mama dan Zi hanya menatap Elma dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"makasi Bik" Elma tersenyum pada Bik Rum.


"El, kalau kamu tidak ada kegiatan kamu bantu papa dikantor aja" papa mengatakan sambil menatap Elma.


"Elma ada kerjaan dengan teman pa, lagian Elma merasa tidak tertarik untuk menggeluti bisnis papa"


Papa memiliki bisnis dibilang distributor alat-alat kesehatan, usaha yang merupakan warisan dari kakek Elma itu memang lumayan besar dan sejak dipegang papa semakin berkembang.


"Jika tidak ada yang mau belajar membantu papa bagaimana, papa tidak mungkin selamanya bekerja, ada masa papa harus pensiun"


"mungkin Alma lebih cocok untuk mengelola bisnis papa" Elma mengatakan dengan sedikit menunduk.


"bilang saja kamu malas bekerja, maunya terima duitnya saja" mama mengomentari dengan nada ketus.


"bukan begitu ma, Elma senang jika bisa membantu papa namun Elma merasa tidak punya keahlian mengelola bisnis papa" Elma membela dirinya.


"emang kamu punya keahlian apa selain menghabiskan uang mama dan papa, dari dulu kamu tidak pernah bisa membuat bangga mama dan papa" nada bicara mama semakin mengandung emosi.


Elma berusaha menekan tingkat emosinya sampai ke titik paling rendah, hatinya sebenarnya merasa sakit, kata-kata mamanya yang selalu menyudutkannya seakan mengungkit semua luka lamanya, tapi dia harus bertahan untuk tidak emosi ada Zi didepannya, dia tidak ingin Zi melihatnya menjadi anak durhaka dengan melawan mamanya.


"sudahlah ma, mungkin Elma benar, jika kita merasa tidak memiliki keahlian disuatu bidang memang tidak bisa dipaksakan" papa mencoba membela Elma.


"sekarang mama tanya pada dia, apa keahlian dia, disekolahkan jauh-jauh di luar negeri, disana malah memilih berhura-hura tidak jelas"


Elma masih berusaha diam, dia melirik kearah Zi, dilihatnya anak itu nampak diam, raut wajahnya terlihat sedih, entah apa yang dipikirannya.


"saya akan tunjukan pada mama dan papa serta pada anak saya kalau saya punya keahlian yang akan bisa membuat semua bangga"


"oiya...baguslah kalau kamu merasa punya keahlian selain menghabiskan uang mama dan papa... mama ingin liat apa yang bisa kamu hasilkan" mama berdiri dari duduknya dan meninggalkan meja makan.


Entah apa yang membuat mama dari dulu tidak pernah bisa menerima Elma dengan baik, terkadang Elma merasa perlakuan mama padanya dan Alma sungguh berbeda.


"Elma berangkat ya pa, ada janji dengan teman" Elma pun mengakhiri makannya, mendekat pada papanya dan mencium pipi papanya.


"hati-hati ya" papa menggenggam tangan Elma seakan mencoba memberikan kekuatan pada anaknya itu.


"mami pergi dulu ya Zi" Elma mendekati Zi lalu mencium pipi anaknya itu, setelah sepuluh tahun baru kali ini Zi merasakan pipinya dicium Elma, Zi hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata, Elma meneteskan airmatanya merasakan kebahagian bisa mencium putrinya tanpa penolakan.


...***kesabaran adalah obat dari segala kesulitan***...


...*****...