Merger Of Love

Merger Of Love
Terjebak



"Kenapa teriak-teriak... kayak lihat hantu saja," mama masuk ke kamar Elma dengan tergesa-gesa karena mendengar terikan Elma.


"Mama, apa maksud semua ini?" Elma menunjuk hiasan tulisan yang terpampang jelas di tembok kamar.


"Ya kan kamu bisa baca, kenapa tanya lagi," mama tersenyum penuh kemenangan.


"Please Ma, jangan seperti ini.. Ini hidup Elma, mama tidak bisa mengatur seperti ini," wajah Elma terlihat begitu kesal dan emosi.


"Apa pernah mama mengatur hidup kamu selama ini?" mama menatap Elma dengan wajah serius, "Selama ini mama dan papa terlalu memberikan kebebasan pada kalian berdua, hingga mama sadar ternyata terlalu memberi kebebasan dan kepercayaan tanpa pengawasan membawa keburukan bagi kamu,"


"Apa maksud mama?" Elma seakan tidak terima masa lalunya diungkit kembali, dia mengambil duduk di sofa, tubuhnya terasa lemas jika ada yang mengungkit kesalahannya dimasa lalu.


"Mama sadar mama bukan mama yang sempurna, bahkan mama jauh dari predikat ibu yang baik buat kalian berdua.. Mama tau separo hidup kamu penuh luka, meskipun kamu tidak pernah bercerita pada mama tapi mama tau pernikahan kamu dan Kevin penuh luka, untuk itu mama biarkan kamu mengambil keputusan untuk ke luar negeri dan meninggalkan anakmu, mama berharap luka kamu bisa terobati dan kamu bahagia, tapi ternyata kamu tetap tidak menemukan kebahagian disana,"


Elma menitikan air matanya, apa yang diungkapkan mamanya benar adanya, meskipun di luar negeri dia melakukan apa yang dia inginkan namun hatinya seakan belum menemukan kebahagian, dan dia baru sadar kebahagiaan sesungguhnya baginya adalah dekat dengan anaknya, "Tapi Elma tidak ingin gagal untuk kedua kalinya, sekarang tujuan hidup Elma hanya Zi,"


"Mama tau, kamu sudah mulai banyak berubah, kamu pasti tidak ingin Zi mengulang kesalahan yang pernah kamu lakukan, tapi kamu terlalu muda untuk menanggung beban sendiri membesarkan Zi," mama ikut duduk disebelah Elma, mengusap punggung putrinya dengan lembut, hal yang hampir tidak pernah dia lakukan.


"Tapi Ma, Elma sanggup membesarkan Zi sendiri, justru jika Elma menikah Elma takut tidak bisa fokus pada Zi," Elma mencoba meyakinkan mamanya.


"El, kamu ingin membawa Zi dalam kebaikan kan?" mama melihat Elma mengangguk pelan dengan mengusap airmatanya.


"Untuk berlayar menuju kebaikan kamu perlu nahkoda yang akan menunjukan jalan yang benar, dan mama yakin Alex bisa jadi nahkoda yang membawamu dan Zi berlayar dalam kebaikan,"


Elma hanya menunduk terdiam, kali ini lidahnya seakan keluh tidak sanggup untuk membantah semua yang dikatakan mamanya sampai akhirnya dia berani menatap mamanya.


"Tapi aku tidak pernah pernah mencintai laki-laki itu Ma," kali ini ucapan Elma sedikit keras pada mamanya.


"Bukankah kamu dulu menikah dengan Kevin atas dasar cinta, tapi apa yang kamu dapatkan?"


"Itu beda Ma..."


"Bedanya dimana, coba katakan sama mama bedanya dimana?" mama menatap Elma dengan tatapan tajam.


"Waktu itu kami masih sangat muda, sekarang aku sudah sangat dewasa sudah bisa membuat keputusan yang tepat tanpa mama perlu repot-repot ikut campur,"


"Sekalipun kamu nanti tua kamu tetap anak mama dan selama mama masih ada di dunia ini mama tetap akan ikut memikirkan kehidupan kamu,"


"Memikirkan bukan berarti mama ikut menentukan apa yang harus Elma lakukan, mama cukup mendoakan saja,"


"El, mama sadar selama ini kita tidak pernah satu pikiran dalam hal apa pun, tapi percayalah mama selalu mendoakan kamu dan pernikahan ini salah satu wujud doa mama,"


"Apakah Om Alex yang meminta pernikahan ini?" Elma yakin laki-laki itu pasti menggunakan mama untuk melancarkan keinginannya.


"Bukan," Mama menjawab dengan tegas, "Bahkan Alex juga tidak tau pernikahan ini akan digelar hari ini,"


"Maksud mama, kami berdua dijebak dalam pernikahan ini?" Elma menampilkan raut muka kesal pada mamanya.


"Zi dan Zahra yang menginginkan semua ini," mama tersenyum lemah.


"Sudahlah lebih baik sekarang kamu segera bersiap, sebentar lagi MUA yang mama sewa segera datang,"


Ketika mama akan meninggalkan kamar Elma, terdengar suara pintu di ketuk, mama membuka pintu kamar Elma, dua wanita cantik berdiri di depan mama sambil tersenyum.


"Selamat pagi bu, saya tadi diminta ke kamar ini,"


"Iya mbak, silakan masuk," mama mempersilakan dua MUA itu masuk ke dalam kamar, nampak sang penghuni kamar sedang duduk melamun.


"El, ini Mbak Siska yang akan merias kamu," suara mama membuat Elma menatap ke arah mama dan dua MUA yang berdiri disamping mama.


"Selamat pagi mbak," mbak Siska tersenyum memberi salam pada Elma.


Elma hanya membalas dengan tersenyum, lalu berdiri dari duduknya.


"Saya tinggal ke bawah dulu ya mbak," mama berpamitan pada mbak Siska dan keluar dari kamar Elma.


"Iya Tante," Mbak Siska dan asistennya lalu meletakan semua peralatan di meja dan mulai menyiapkan peralatan yang akan di pakai.


"Apa bisa dimulai sekarang mbak?"


"Saya mau ke kamar mandi dulu," Elma lalu bergegas masuk kamar mandi, rasanya dia ingin menangis sejadi-jafinya, tak ada seorang pun yang berpihak padanya semua seakan ingin mendorongnya ke dalam jurang pernikahan yang begitu mengerikan baginya.


Sekeras apapun dia mencoba melawan Elma yakin pernikahan ini pasti akan tetap terjadi, apalagi pernikahan ini keinginan Zi, enggak mungkin dia akan melukai hati anaknya untuk kedua kalinya jika dia harus melarikan diri pernikahan ini, dan setelah merenung cukup lama dalam kamar mandi akhrinya Elma keluar dengan menguatkan hati dan pikirannya untuk menerima ini semua.


"Kita bisa mulai sekarang mbak," Elma menatap mbak Siska dengan tatapan datar tanpa ada aura kebahagian sama sekali.


****


"Emang kita mau kemana?" Alex yang merasa bingung karena selepas sholat subuh Zahra memaksanya untuk pergi.


Alex mencoba mengikuti keinginan Zahra, sebenarnya tubuhnya sangatlah lelah, hampir seminggu ini dia bergadang untuk menyelesaikan proyek penelitian kliennya dari luar negeri, hingga dia seakan tidak punya tenaga untuk berdebat dengan anaknya. Kelelahan yang mendera membuat Alex akhirnya tertidur dalam perjalanan, dan baru membuka matanya saat jalan yang dilalui mulai sedikit berkelok-kelok.


"Wah Papa tertidur lama ya?" sambil mencoba membuka matanya Alex menatap kesekelilingnya.


"Enggak juga, baru akan dua jam," Zahra tersenyum pada papanya, anak itu terlihat bahagia sejak tadi.


"Emang kita mau kemana, kita mau berkemah?" Alex melihat jalanan yang dilalui seperti menuju puncak perbukitan.


"Udahlah Pa, sekarang Papa duduk manis aja, nanti Papa akan tau kita akan kemana,"


Setelah beberapa menit, mobil memasuki Villa yang cukup besar, Alex mencoba mengingat rasanya dia pernah ketempat ini.


"Ayo Pa turun, kita sudah sampai," Zahra membuka pintu mobil setelah Mas Udin memarkirkan mobil tepat di dekat mobil lain.


"Ini bukannya villa Omanya Zi ya?" Alex seketika ingat itu villa Rita, beberapa kali dia pernah kesini bersama teman-temannya.


"Iya.... Ayo Pa buruan," Zahra sudah keluar dari mobilnya.


"Zahra...." suara Zi yang berteriak sambil mendekati Zahra membuat Zahra seketika menatap ke arah sahabatnya itu.


"Selamat pagi Om," Zi menyapa Alex yang masih ada di dalam mobil.


"Pagi Zi.... emang ada acara apa sampai Om diundang kemari?" Alex akhirnya keluar dari mobil.


"Acaranya Om," Zi menjawab dengan tersenyum.


"Maksudnya?" Alex semakin binging dengan jawaban Zi, sepertinya dua gadis ABG itu akan mengerjainya, Alex melihat keduanya saling berbisik dan tertawa lirih.


"Udahlah Pa, ayo kita masuk," Zahra lalu menggandeng tangan papanya menyeretnya masuk ke dalam villa.


Sampai di dalam villa Alex semakin bingung karena nampak kesibukan seperti akan ada hajatan.


"Wah yang punya hajat sudah datang," Mama Rita menyambut Alex yang masih terlihat kebingungan.


"Emang ada acara apa?" Alex mencoba mencari jawaban pada sahabatnya itu.


"Acara istimewa tentunya," mama Rita tertawa lirih diikuti Zi dan Zahra yang juga ikut tertawa.


"Zi, antar Om Alex dan Zahra ke kamar tamu,"


"Siap Ma.... ayo Zahra," Zi lalu menyeret Zahra dan Alex.


Alex hanya bisa pasrah mencoba mengikuti keinginan Zi dan Zahra, walaupun sebenarnya dia masih ingin banyak bertanya pada Rita untuk menjawab sejuta rasa penasarannya.


"Selamat pagi," seorang wanita cantik yang sudah berada di dalam kamar menyapa Alex ketika mereka bertiga memasuki kamar.


"Pagi," Alex mencoba tersenyum ramah pada wanita itu.


"Lama sekali kalian," seorang wanita sepuh yang masih terlihat cantik duduk di sofa.


"Mama...." Alex seakan mendapat kejutan kembali melihat mamanya juga ternyata ada disini.


"Mama kenapa ada disini juga?" Alex mendekati dan duduk disamping mamanya lalu mengambil punggung tangan mamanya dan dicium.


"Ya menghadiri acara anak mama yang paling ganteng inilah," eyang mengusap lembut kepala Alex.


"Acara apa?" Alex semakin bingung dengan jawaban mamanya.


"Bisa kalian tinggalkan eyang bicara berdua," semua mengangguk lalu meninggalkan eyang berdua dengan Alex.


"Lex, mama sudah sangat tua, meskipun mama terlihat sehat tapi umur mama sudah lebih dari cukup untuk sewaktu-waktu dipanggil yang memberi kehidupan pada mama," eyang diam sejenak sebelum memulai bicara kembali, "Mama ingin melihat kamu bahagia sebelum mama pergi,"


"Mama ngomong apa sih, lagian saya sekarang sudah bahagia, mama tidak perlu selalu mencemaskan saya dan Zahra," Alex mengusap lembut tangan mamanya yang masih dia genggam.


"Mama tau kamu belum seutuhnya bahagia... Kamu laki-laki pasti butuh seorang pendamping untuk menemani kamu,"


"Mama, saya sudah memiliki Zahra bagi saya itu sudah lebih dari cukup,"


"Mama yakin kamu butuh orang untuk kamu ajak berbagi... tidak hanya berbagi kebahagian tapi juga berbagi keluh kesahmu.. Lex, mama harap kali ini kamu seperti biasanya menjadi putra mama yang selalu mau menuruti apa yang mama minta, mama yakin ini baik untuk kamu dan Zahra,"


"Mama ingin apa dari Alex?" bagi Alex mama segalanya, membesarkan dirinya seorang diri sejak papanya meninggal ketika umurnya baru tujuh tahun membuat dia sangat menyayangi mamanya, tak pernah sekalipun dia membantah keinginan mamanya, prinsipnya jika ingin sukses maka dia harus memperlakukan mamanya bagai raja. Namun mamanya sosok yang mandiri, memiliki usaha konveksi pakaian membuatnya tidak mau menjadi beban anaknya dan memilih tinggal sendiri.


"Menikahlah dengan Elma," mama menatap Alex dengan tatapan penuh harap.


...***Kebahagian seorang ibu melihat anaknya bahagia, begitu juga sebaliknya ***...