
_Skip_
"Bang Rey mana , kok gk masuk?" Tanya Kayra kepada temannya.
"Nggak tau dah. Kay kok lu manggilnya Bang?" Tanya balik Nana kepada Kayra.
"Karena dia Abang gua." Jawab Kayra santai.
" _Whatt??_ sejak kapan lu punya Abang."Teriak Nana antusias.
"Semenjak gua ketemu sama pria bertopeng." Balas Kayra tanpa sadar.
Mereka terdiam cukup lama. Kayra yang menyadari apa yang ia katakan, spontan menutup mulutnya rapat.
Kenapa kita sama Batin Nana penasaran.
**Disisi Lain
Pasukan orang orang berjubah yang sedang menyiapkan alat alat tempurnya. Menyusun rencana dan meracik sebuah racun.
"Nyonya menyuruh kita melakukan nya malam ini. Siapkan semuanya dengan benar." Perintah sang ketua pasukan.
"Kita memang hanya menculik seorang anak kecil. Tapi ingat , disekitar nya terdapat orang orang Agensi. PAHAM?!" Ucapan peringatan sang ketua kepada pasukannya.
"PAHAM KAPTEN." Jawab mereka serempak.
***
Tanpa orang rumah sadari. Kayra berjalan keluar dengan mengendap ngendap. Tas ransel besar berisi baju baju. Perpaduan pakaian dan topi hitam yang Kayra kenakan.
Kayra berjalan ke sebuah taman yang berada lumayan jauh dari tempat tinggal nya. Ia duduk di sebuah tempat di pinggir danau. Menikmati sejuknya angin malam. Dan menikmati pemandangan bunga yang dihiasi lampu taman.
Seorang pria duduk diseblah Kayra dan memulai pembicaraan.
" Apakah ini keputusan mu? Pergi dari rumah dan berlari tanpa arah?" Tanya prua tersebut yang membuyarkan lamunan Kayra.
Dengan cepat Kayra memeluk pria tersebut dan menangis sekencang kencangnya. Kayra melepaskan pelukannya , menghapus air matanya dan mendongak kan wajahnya , menatap lekat topeng pria yang berada di hadapannya.
Pria tersebut yang mengerti arti dari tatapan Kayra , dengan cepat melepaskan topeng nya dan menjulurkan tangannya.
" Zero. Umur kita cuman beda lima tahun kok." Jelas Zero memperkenalkan dirinya.
"Kayra. " Jawab Kayra sembari menerima uluran tangan Zero
" Lalu , apa pilihanmu?" Tanya Zero.
" Pilihan mu hanya dua. Kekuatan atau Keluarga? Pikirkan dengan benar. Setiap pilihan akan ada konsekuensi yg besar." Lanjut Zero menjelaskan.
Zero adalah orang kepercayaan Agency. Diumurnya yang ke-13 Tahun , ia mempertaruhkan nyawanya untuk membantu dan melindungi setiap anak pemilik kekuatan atau Mata Istimewa. Orang tuanya dibunuh karena berusaha melindungi dirinya. Ia diselamatkan oleh pihak Agency dan membawanya ke Hidden Agency. Zero tak ingin setiap anak pemilik kekuatan bernasib sama seperti dirinya. Ia ingin mereka menentukan takdir mereka masing masing.
Ia berharap Kayra tak salah pilih. Karna Dia tau bahwa kekuatan Kayra tidak sama dengan yang lainnya. Ia bersumpah akan selalu menjaga Kayra dari kejauhan dan melindungi nya apa pun yang terjadi.
Kayra terdiam. Ia masih merenungkan pilihannya. Kayra tak ingin memilih pilihan yang salah. Kayra ingin memilih pilihan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.
" Apa kau sudh menentukan pilihan mu?" Tanya Zero pelan.
Kayra masih terdiam. Ia bergulad dengan pikirannya. Sampai pada Akhirnya.
" Aku memilih " Jawab Kayra menggantung.
Zero dengan cepat menoleh ke arah Kayra dan menunggu jawaban selanjutnya Kayra.
Kayra menghembuskan nafasnya kasar.
" Kekuatan. Aku akan memilih kekuatan."
Ucap Kayra melanjutkan jawabannya.
Zero menatap Kayra dengan tatapan sendu.
" Apa kau yakin dengan pilihan mu? Apa alasan mu memilih kekuatan dari pada keluarga? Setiap anak yang kutemui , mereka lebih memilih keluarga. Dan bernasib buruk." Lirih Zero pelan di kalimat akhirnya.
" Aku yakin. Aku berpikir , kalau aku memilih keluarga itu hanya akan membahayakan nyawa mereka " Jawab Kayra.
" Dan kalau aku memilih kekuatan , kau pasti akan melatihku dan menjadikanku kuat. Dengan begitu aku bisa melindungi keluargaku dari jauh. Tanpa harus membahayakan nyawa mereka." Lanjut Kayra menjelaskan.
Zero menatap Kayra dengan tatapan iba. Ia ingin memberitahukan Kayra, Tapi bibir nya terasa berat untuk berbicara. Ia memberanikan dirinya untuk membuka mulut dan berbicara.
"Kau tau? Kalau kau memilih kekuatan , kau harus dilupakan." Ucap Zero sembari menahan tangisnya.
" Apa maksud mu" Tanya Kayra dengan suaranya yang mulai gemetar.
" Kalau kau memilih Kekuatan , maka seluruh dunia akan di hipnotis. Ingatan mereka tentang dirimu akan hilang , begitu pula dengan keluargamu. Mereka akan melupakanmu. Seluruh ingatan dan barang bukti kalian pernah bersama akan dihilangkan. Orangtua mu hanya akan mengingat bahwa mereka mempunyai dua anak. Teman teman dikelas mu akan melupakan kenangan kalian bersama. Dan kau harus memulai hidup yang baru , dengan latar yang baru." Jelas Zero panjang lebar sembari menunduk dan menangis dalam diam.
Deg
Kayra yang mendengar penjelasan Zero , spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan nya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Kayra menangis sekencang kencang nya dan memukul dadanya berulang kali dengan kencang. Ia terisak. Kayra pikir tak akan semenyakit kan ini mempunyai sebuah kekuatan. Ternyata Kayra salah , Kayra harus dilupakan keluarga dan temannya. Bukan hanya keluarga nya , bahkan dengan seluruh dunia.
" Lalu, Apakah kau akan melupakan ku juga?" Tanya Kayra masih dengan isakan tangisannya.
" Aku tidak akan melupakan mu. Para pemilik kekuatan Tidak akan melupakan mu , begitu juga dengan orang tertentu." Jawab Zero.
"Baiklah. Keputusanku sudah bulat dan aku tak akan merubah atau menggantinya." Ucap Kayra meyakinkan sembari menghapus kasar air matanya.
" Lalu , apa yang harus aku lakukan?" Tanya Kata dengan senyum paksa nya.
Zero tak menjawab pertanyaan Kaya. Ia menarik tangan Kayra kepinggir danau.
" Rentangkan tanganmu. Kosongkan pikiranmu jangan memikirkan apapun. Bayangkan bahwa dunia sedang melihat ke arah mu Dan" Jelas Zero menggantung kan ucapannya.
Zero menghembuskan nafasnya kasar dan mengambil nafas dalam dalam.
" Ucapkan Selamat Tinggal Pada Dunia." Lanjut Zero sembari mengepalkan tangannya.
Kayra melakukan apa yang di ucapkan oleh Zero. Ia merentang kan tangannya. Mengosongkan pikirannya. Berhadapan dengan Dunia. Dengan senyum paksa nya , Kayra mengucapkan Selamat Tinggal Dunia.
Bruk
Badan Kayra terhempas ke tanah dengan kencang.
Dengan cepat , Zero menarik tubuh Kayra dan menahannya.
Kayra menatap Zero dan tersenyum getir. Melihat Zero yang masih mengingat dirinya dan menahan dirinya erat agar tidak terjatuh.
Zero menangis sejadi jadinya. Ia tak tega dengan Kayra yang masih bisa tersenyum menghadapi semuanya.
Zero mengangkat tubuh Kayra ketempat yang tadi mereka duduki , dan mengelus rambut Kayra pelan.
Kayra terbangun dan memeluk Zero erat dan menangis kencang.
"Apa yang Kayra Lakuin udh bener ? Apa mereka benar benar melupakan Kayra? Apa Dunia sudah tidak mengingat Kaya lagi? Apa cuman Kak Zero yang mengingat Kayra?" Isak Kayra menghujani Zero dengan banyak pertanyaan.
Air mata Zero yang sudh terhenti , kini mulai mengalir lebih deras. Zero membalas pelukan Kayra erat. Dan berusaha menyemangati Kayra.
" Tidak semua melupakan Kayra. Kayra masih memiliki Kak Zero kan." Ucap Zero dengan Senyuman tulusnya.
Prok prok prok
" Sungguh drama yang mengharukan. Perlu kah aku memberi kalian penghargaan." Ucap seorang pria berjubah dengan senyum mengejek nya.
*****Hai , Sedih parah pas nulis nya. Author ngebayangin kalau yang di sisi Kayra itu Author.
bantu author dengan cara
Like
Komen
Vote sebanyak banyak nya
dan bagikan pada teman***
**Haruskah aku yang melalui semua ini. Haruskah aku menghilang dari pandangan dunia. Harus kah aku sendiri yang menanggung beban kesedihan.
See You Next Time*.