
×Pagi
Jane membangunkan mereka semua dipagi hari. Sedangkan dirinya sendiri tidur lebih akhir dan lebih larut. Jane menyuruh mereka semua untuk berkumpul di ruang tamu dan menunggu nya disofa.
Ruang Tamu
Jane menatap datar kearah Miko dan Joy dkk yang masih menutup matanya walau dalam keadaan duduk.
Jane mengeluarkan beberapa barang yang tadi malam ia beli dan meletakkan nya diatas meja. Ia duduk bersender disofa dan melipat tangan di dadanya. Dan terus menatap kearah Miko dan Joy dkk.
Perlahan Miko mulai membuka matanya. Tanpa sengaja Miko melihat keatas meja dan membuka matanya lebar.
"WAAHH!!" teriak Miko kagum yang membuat Reana dan yang lainnya terbangun dan langsung menatap kearah meja.
"JANE!!!" teriak mereka serempak.
Untungnya Jane sudah menutup telinga nya terlebih dahulu.
"Ini beneran kamu yang beli Jane?" tanya Alice bersemangat dan menunjuk kearah meja.
"Kita beneran mau mulai hari ini." ucap Ferra yang masih menatap tak percaya.
Jane mengangguk dan tersenyum manis. Senyuman Jane membuat mereka semua terdiam. Miko dkk saling menatap dan membalas senyuman Jane.
Aku hanya berharap bahwa senyuman ini tidak akan pernah pudar pada wajahmu Jane. Pikir Natalie penuh pengharapan.
Jane berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang. "Ganti baju kalian sekarang."
"OKE!!" jawab mereka dan memberi hormat pada Jane. Mereka berlari kekamar masing-masing dengan perasaan yang senang.
Setelah berganti baju dengan dominan warna hitam dari atas kepala sampai bawah kaki. Mereka berkumpul kembali diruang tamu dan duduk disofa tempat mereka tadi duduk. Mereka kaget saat melihat penampilan Jane dan tengah duduk disofa dengan posisi kaki kiri yang menindih kaki kanan.
"Jane, kamu kapan ganti bajunya?" tanya Joy bingung.
"Ambil senjata yang kalian mau, mobilnya udah Jane siapin didepan." ucap Jane dan mengambil salah satu senapan dan dua pistol.
Jane mengarahkan senapan itu keatas dan mengelapnya dengan teliti. Setelah selesai dengan urusan senjata. Jane berdiri dari duduknya dan menyimpan kedua pistol di pinggang nya. Ia mengambil satu senapan lagi dan menyimpan keduanya dibelakang punggung nya dengan posisi yang menyilang.
"Pakai ini." ucap Jane dan melempar beberapa topeng keatas meja.
Mereka mengambil topeng tersebut yang berbentuk setengah wajah. Mereka memakainya dan berjalan keluar mansion. Beberapa mobil berbaris rapi di hadapan mereka.
"Dua orang satu mobil. Pilih yang kalian suka." ucap Jane dan masuk kedalam mobil yang dia pilih diikuti oleh Joy.
"Let's play the game." ucap Jane tersenyum smrik dan melirik sekilas kearah Joy yang ikut tersenyum.
Mereka melajukan mobilnya kencang ke markas mafia Lion King.
Di Depan Gerbang Lion King
Beberapa mafionso menghadang mobil Jane dkk. Jane membuka kacanya setengah dan melirik sekilas kearah mafionso tersebut.
"Siapa kalian?" tanya salah satu mafionso dan menodongkan pistolnya.
"Kami hanya ingin menyewa beberapa pembunuh bayaran." jawab Joy sembari menunjukkan isi koper yang berupa uang banyak.
Mafionso tersebut saling menatap dengan yang lainnya dan mengangguk setuju. Mereka membuka pintu gerbang perlahan dan membiarkan Jane dkk masuk.
"Miko, selesai?" tanya Jane dari alat komunikasi ditelinganya.
"Yap."
Mereka semua memakai alat komunikasi agar tetap saling terhubung satu sama lain.
Jane dkk mengendap masuk kedalam dan membuat keributan dengan senjatanya.
dor
dor
dor
"BERSIAP!!" teriak para mafionso serempak. Mereka mengambil senapan dan mulai menembaki Jane dkk.
Boom
Asap bersebaran dimana-mana. Jane dkk berjalan mengendap kelantai atas menuju ruangan aang ketua.
Kriieett
Mereka mengepung sang ketua. Jane mengarahkan pistolnya keleher belakang sang ketua.
"How are you, baby?" tanya Jane dengan seringai liciknya.
Ketua mafia tersebut terkejut dan menoleh ke belakang. Pistol Jane berada tepat di hadapan mata sang ketua.
"Hello, baby."
"Si-siapa kau?" tanya sang ketua gugup.
"Aku hanya ingin bermain sebentar denganmu. Kau sering membunuh orang yang tak bersalah." jawab Jane sambil berjalan berputar dimeja ketua Lion King.
"Kau hanya sendiri dan kau ingin membunuhku?" tanya ketua dengan senyum smrik nya.
Keadaan ruangan tersebut sangat gelap gulita. Dan sang ketua tak menyadari bahwa diruangan tersebut terdapat sekitar 8 orang yang hendak membunuhnya.
Bruukk
Dua wakil ketua membanting pintu keras dan menondongkan pistol kepada Jane.
"Letakkan senjatamu atau kau akan mati." ucap salah satu dari mereka.
Miko dkk berjalan mundur ketempat yang lumayan gelap. Mereka berjalan mengendap kebelakang 2 orang tersebut dan menutup pintu kasar.
ceklek
Suara pistol Reana yang tepat berada di sebelah telinga orang tersebut.
"Kau mengancam orang yang salah, honey." bisik Reana dengan nada yang mencekam.
Pikiran mereka teralihkan kepada Reana. Dan mereka malah melupakan keadaan ketuanya.
"A-"
Dor
"Uppss." gumam Jane pelan.
Dua orang tersebut langsung menoleh kearah ketuanya yang sudah tergeletak mati dengan tembakan tepat dikepalanya.
"KAU!!"
Jane menodongkan pistolnya dan menyuruh mereka untuk berbalik. Saat mereka berbalik badan, mereka dikejutkan oleh Miko dkk yang keluar dari tempat gelap dengan senapan yang mengarah ke mereka.
Dua orang tersebut menjatuhkan senjatanya dan mengangkat kedua tangannya. Mereka keluar dari ruangan sang ketua yang sudah mati dengan senjata yang terus mengarah kepada dua orang tersebut.
"Kalian ingin dia mati?" tanya Natalie dengan jari yang ingin menarik pelatuknya.
"Aku tidak perduli dengan mereka. Keluar dari sini sekarang dan bawa mereka pergi." ucap salah satu mafionso.
Dua orang tersebut terkejut dengan ucapan mafionso.
"Apa maksudmu?! Setelah kematian ketua, akulah yang berhak memimpin Lion King."
Dor
Orang tersebut menembak kaca tepat disebelah Jane.
"AKU BILANG!! BAWA MEREKA PERGI DARI SINI!!" teriaknya pada Jane.
Jleebb
Jane menusuk belati pada orang tersebut dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Aku sangat tidak suka diteriaki." bisik Jane penuh penekanan.
Mafionso yang lainnya terkejut dengan kecepatan Jane yang tak dapat dilihat.
Ia mencabut belatinya dan mendorong tubuh mafionso tersebut sehingga jatuh kelantai bawah. Jane berjalan mendekat kearah dua orang tadi.
"Kau dengar sendiri bukan. Mereka bahkan tak menganggap mu."
Kedua orang tersebut menunduk dengan emosi yang meluap.
"Ikutlah dengan kami." ajak Jane dan menjulurkan tangannya.
"Aku tidak bisa mempercayai mu begitu saja."
Jane membalik badannya dan menatap tajam seluruh mafionso.
"Berkumpul dibawah." ucapnya dingin.
Para Mafionso seakan tak bisa membantah. Aura dingin yang dikeluarkan Jane sangat pekat dan membuat mereka ketakutan. Ditambah dengan tatapan Jane yang setajam pisau.
Mereka semua berkumpul dibawah kecuali Miko dkk dan kedua orang tadi.
Sebelum Jane sempat berbicara, salah satu mafionso mengangkat tangannya.
"Bukankah kita musuh. Lalu kenapa kau tidak membunuh kami." tanyanya keheranan.
Jane mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak menganggap kalian sebagai musuh. Aku hanya ingin membunuh ketua kalian. Karena dia telah membunuh banyak orang yang tak bersalah." jawab Jane santai.
Mereka melongo mendengar jawaban Jane. Tidak dianggap musuh?. Pikir mereka.
"Maukah kalian bergabung bersama mafiaku." tanya Jane datar.
"Tapi kita tidak akan membunuh lawan yang tidak bersalah." lanjutnya dengan senyum manisnya.
"Kenapa?" tanya satu orang dibelakang Jane.
"Bukannya sudah jelas. Karena mereka tidak bersalah. Mereka hanya dihasut ketua mereka untuk saling membunuh."
Para Mafionso tertegun dengan ucapan Jane. Mereka ingat saat mereka membunuh banyak orang atas hasutan ketua mereka yang sudah mati.
Setengah dari mereka mengangkat tangannya dengan kepala menunduk.
"Apa?" tanya Jane dan memiringkan kepalanya.
"Aku ikut denganmu." ucap mereka serempak.
"No Problem."
"Apa kau ingin berkhianat pada ketua?!" teriak salah satu mafionso.
"CUKUP!! Aku tak ingin menurutimu lagi. Kau berkata seperti itu hanya karena kau ingin menjadi ketua kan?!"
"Berhenti saling berteriak." sahut Jane datar.
"Aku tidak perduli dengan kalian yang tidak ingin ikut denganku. Aku hanya bertanya siapa yang ingin ikut. Maka angkat tangan kalian."
Hampir keseluruhan mengangkat tangannya, serta kedua orang yang berada di belakang Jane.
"Berikan alasan yang kuat untuk bergabung dimafiaku."
"Aku tidak suka dengan kebohongan dan pengkhianatan." ucapnya datar.
"Pergilah jika kalian mau, aku tidak memaksa, ikutlah jika kalian ingin, dan mati jika kalian berteriak." ucap Jane lembut.
"Boleh aku bertanya, kenapa suara mu sangat lembut disaat terakhir?"
"Bukankah kalian tidak pernah merasakan kelembutan selama disini." jawab Jane santai.
Jane membalik badannya menghadap Miko.
"Berapa lama lagi?"
Miko melihat kearah jam tangannya. "Sekitar dua menit lagi."
Jane mengangguk dan kembali membalik badannya.
"Ingat!! aku tidak perduli dengan kalian yang tidak ingin ikut."
"Dan bagi yang ingin ikut. Ambil seluruh senjata kalian dan kendaraan kalian, kita pergi darisini sebelum dua menit." ucap Jane yang hendak melangkahkan kakinya pergi.
"Siapa nama kalian?" tanya Jane pada dua orang dibelakangnya.
"Aarav."
"Aaron."
Jane mengangguk dan berlari cepat keluar mansion diikuti oleh yang lainnya.
Tanpa ia sadari, ternyata keseluruhan mafionso mengikutinya, mereka mengambil seluruh senjata dan kendaraan.
Mereka semua melajukan mobilnya cepat menjauh dari markas. Saat sudah cukup jauh, Jane memberhentikan mobilnya dan keluar dari dalam mobil sambil menatap kearah markas Lion King.
BOOM
"Pemandangan yang indah."
Miko menaruh boom di setiap sudut markas Lion King. Jane kembali kedalam mobil dan melajukan mobilnya ke mansion miliknya.
MAAF YA KALAU NGGAK JELAS. JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE SEBANYAK BANYAKNYA. SERTA RATE DAN KOMEN.
SEE YOU NEXT TIME