
Pagi
Jane terbangun dari tidurnya. Ia mengingat seluruh pembicaraan nya dengan pria itu. Tapi tidak dengan saat dia kembali.
Jane memikirkan bagaimana bisa dia terbangun dikamar tidurnya. Sedangkan semalam dia berada di ruangan kaca bersama seorang pria.
Ah, sudahlah. Jane tidak ingin memusingkan nya. Ia beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Jane melakukan ritual mandinya selama 15 menit.
Saat Jane turun ke lantai satu. Ia melihat Alice dan Ferra yang tengah sibuk di dapur. Jane berjalan kemeja makan tanpa niat untuk membantu mereka berdua.
Setelah selesai masak, mereka semua keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri meja makan. Mereka makan dengan anggun. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar
Selesai makan, Miko dan Kaylee membereskan meja makan. Sedangkan Natalie dan Reana mencuci piring.
Kenapa tidak pakai pembantu? Itu karena Jane mencari orang yang tepat untuk bekerja dimansionnya.
Lalu kenapa Jane tidak ikut membantu? Ya itu karena Jane memang tidak suka melakukan nya.
Selama dua bulan terakhir, tidak ada gangguan sama sekali yang muncul. Mafia nya berkembang dengan pesat, dan dikenal oleh penjuru dunia.
Black Rose dikenal dengan kekuatannya. Tidak pernah ada yang mengetahui wajah asli dari Queen dan mafioso Black Rose. Mafia Jane hanya dikenal dari lambang naga dan burung cendrawasih nya.
Tapi beberpaa hari belakangan ini, Jane seperti tidak istirahat, hampir setiap hari markasnya diserang. Dan musuhnya sangat pintar. Mereka membagi waktu yang sama ditempat yang berbeda.Yang membuat Jane sedikit kewalahan karena musuh yang ia hadapi cukup kuat.
Jane sengaja tidak memberitahukan nya kepada Mommy dan Daddy nya. Begitupula dengan Miko dkk. Karena mereka tidak ingin membuat Mommy dan Daddy khawatir.
•Calling On
"Leon, ke Negara F sekarang."
"Nggak." bantah Leon dari sebrang telepon.
"Leon-"
"JaneQueen ku sayang. Kamu inget minggu ini Leon keluar negri berapa kali." ucapnya lembut namun penuh penekanan.
"Nggak." jawab Jane ketus.
"Tau ah."
"Kesini sekarang. Atau gaji lu gua potong. BYE."
"JA-"
Tutt.. tuutt..
"DE BOSE!!" teriak Leon kesal dan mengacak-ngacak rambutnya.
Sedangkan disisi Jane, ia keluar kamar dengan pelan agar orang rumah tak terbangun. Suasana rumah yang gelap dan sepi membuat Jane menjadi lebih tenang. Walaupun dibagian depan mansion masih terdapat banyak mafioso yang berjaga.
Jane berjalan keluar mansion dan memanggil beberapa mafioso untuk mendekat.
"Nanti ada helikopter, dari perusahaan." ucap Jane pelan. Mafioso membalasnya dengan anggukan.
Kenapa Jane harus melapor? Bukankah dia pemilik mansionnya? Itu karena, takutnya saat helikopter Leon dateng, para mafioso langsung berlari kerooftop dan menargetkan Leon sebagai penyusup terang-terangan.
Beberapa jam berlalu, helikopter Leon mendarat dengan mulus di rooftop mansion. Suara helikopter tersebut sangat halus dan tidak terlalu besar.
Jane berjalan menghampiri Leon dan berdiri dihadapannya.
"Ikut aku." ucap Jane dan melangkahkan kakinya pergi. Sedangkan Leon membalasnya dengan anggukan malas.
Kalau dibandingkan dengan yang lainnya, Leon lah yang paling dekat dengan Jane. Bukan hanya dekat, Leon juga yang paling berani membantah perkataan Jane.
Mereka berjalan memasuki ruang kaca. Ruang kaca yang penuh dengan kegelapan yang saat itu pernah didatangi Jane tanpa sengaja.
Leon menatap heran keruangan itu. Karena selama ia mencari informasi dan data tentang mansion Jane. Ia tak mendapatkan apapun mengenai ruangan tersebut.
Jane mencoba melakukan hal yang sama seperti pria waktu itu. Ia berhasil menampilkan pemandangan yang sangat indah. Bahkan lebih indah daripada saat bersama pria misterius itu.
Leon menatap kagum kearah pemandangan itu. Ia langsung berbaring di kasur yang terdapat diruangan itu. Jane berjalan menghampiri Leon dan duduk ditepi kasur.
"Bangunlah. Aku ingin membuat sebuah rencana." ucap Jane dan menarik-narik kaki Leon.
"Ntar dulu. Capek." ucap Leon dan memejamkan matanya.
"Gaji turun." balas Jane datar.
Dengan cepat Leon langsung duduk dihadapan Jane dan memasang senyum kesalnya.
"Apa cepetan!" ucapnya ketus.
Jane memutar bola matanya malas dan membenarkan posisi duduknya.
"Kita kemarkas KT sekarang." ujar Jane serius.
Mata Leon terbelalak kaget. "Lu gila Jane. Lu udah tau kan KT itu kayak apa."
"Tau kok."
"Maka dari itu Jane mau nyerang KT sekarang. Jane nggak mau ada korban selanjutnya."
"Kasih alasan kenapa kita harus nyerang KT." ucap Leon datar.
Jane menghembuskan nafasnya kasar. "Mereka sering memanfaatkan Fuerza untuk kekayaan."
"Dan korbannya nggak sedikit. Ada banyak anak yang mati di tangan mereka." jawab Jane kesal.
"Apa hubungannya Fuerza sama kekayaan?" tanya Leon datar.
Leon menghembuskan nafasnya kasar dan memegang kedua pundak Jane.
"Kita nggak boleh gegabah Jane. Kita butuh rencana. Sebagaimana pun juga, KT itu punya keluarga Alensia. Mereka pintar dan licik."
Jane menatap dalam mata Leon.
"Pokoknya kita harus nyerang KT malem ini juga. Dan inget, jangan sampe mereka tau." ucap Jane serius dan menghempaskan tangan Leon.
Note : Mereka itu maksudnya Miko dan Joy dkk ya.
"Udah yakin kita bakal menang?"
"Jane selalu yakin. Yang benar akan menang, dan yang salah harus kalah."
"Bukannya katanya mereka punya orang dalam." timpal Leon.
Jane mengangkat kedua bahunya. "Jane nggak pernah salah informasi." ucapnya percaya diri.
Jane merangkak menaiki kasur.
"Sana tidur disofa." usir Jane dan mengibaskan kakinya.
"Katanya mau nyerang KT." ucap Leon kesal.
"Emang nggak capek? Nggak mau istirahat dulu?"
"Oh iya."
Leon melangkahkan kakinya kesofa dan berbaring sambil terus menatap langit. Ia mulai tertidur dengan nyenyak. Dengan ukuran sofa yang besar, tak memungkin Leon untuk jatuh. Tapi masih ada kemungkinan.
Sedangkan Jane merentangkan tangannya di kasur dan terus menatap langit. Setelah merasa Leon sudah tertidur, Jane melangkahkan kakinya keluar ruangan dan menuju ruangan lainnya.
Jane sudah beberapa kali mendatangi tempat tersebut dan mencari tahu kegunaannya. Jane memasuki ruangan dengan lapisan kaca yang gelap.
Ia duduk dikursi yang besar dengan sebuah meja panjang dihadapannya. Jane melipat tangannya dimeja dan menatap kelayar dihadapannya.
"Cari tau lebih tentang keluarga Alensia."
Sedang memproses
Keluarga Alensia merupakan keluarga terkaya urut-
"Stop. Lainnya."
Keluarga Alensia sangat pintar dan licik. Mereka dapat mengelabui musuh dengan cepat dan tepat.
Menurut informasi yang didapatkan, Keluarga Alensia memiliki komplotan yang mendekati derajatnya.
Mereka memiliki orang dalam yang membuat keluarga mereka kuat dan bertahan sampai selama ini.
"Apa mereka tidak saling menyerang?"
Tidak. Mereka memiliki tujuan yang hampir sama. Dan saling menguntungkan satu sama lain.
"Beri aku kabar Samuel."
Tidak ada Informasi terbaru. Tidak ada kabar. Dan tidak ada catatan keluarga.
"Laporan perusahaan."
Menurun satu persen. Tingkat penurunan sangat mempengaruhi dalam perusahaan. Karyawan melakukan yang terbaik untuk mengatasinya.
"Apa ada karyawan bermarga?"
Sesuai yang diselidiki. Ada.
"Apa nama marganya."
Ditutup rapat. Membutuhkan beberapa hari untuk membukanya.
"Tingkat keamanannya?"
duabelas persen dari tingkat keamanan Queenny. Orang terlatih yang pintar.
Jane mengangguk. "Cukup besar."
"Tingkat kelihaian dan kecerdasan."
Memiliki limabelas persen masing-masing kelihaian dan kecerdasan dari Nona Natalie.
Loading..
Menurut informasi yang baru didapatkan, karyawan bermarga terdapat sekitar tiga orang. Dua perempuan dan satu pria.
"Terus selidiki. Kirimkan laporan mengenai markas KT dalam 15 menit."
Baik Queenny. Tugas diterima dan sedang diproses**.
Jane bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke tempat Leon tidur. Ia menyenderkan kepalanya dikasur dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Alasan. Akibat. Dan penyebab."
Jane mengatur waktu di jam tangannya sepuluh menit dari sekarang. Ia tertidur masih dengan posisi yang menyandar.
MAAF LAMA UP. JANGAN LUPA MAMPIR DI A MISSION. DILIKE KOMEN RATE LIMANYA DAN VOTE SEBANYAK BANYAKNYA. BYE BYE SEE YOU NEXT TIME.