MaTa ISTiMeWa

MaTa ISTiMeWa
•EPS10•GEGABAH•



Zreeett


Alarm ditangan Jane bukan berupa bunyi yang keras ataupun suara. Melainkan sambaran listrik bertenaga kecil yang merambat ke tubuh sang pengguna.


Jane terbangun dari tidurnya dan mengucek matanya yang masih mengantuk. Jane mengedarkan pandangannya dan berjalan menuju Leon yang tertidur pulas di sofa.


Jane menarik telinga Leon agar cepat terbangun.


"Sakitt woy!!" ketus Leon menghempaskan tangan Jane dan mengusap-usap telinganya.


"Ayo berangkat." ucap Jane datar.


\= \= \= ¶3R4N9 \= \= \=


Jane berdiri tepat didepan markas King Tiger. Ia membawa lumayan banyak mafioso untuk menghancurkan markas KT.


Jane membalikkan badannya menghadap keseluruh mafioso.


"Kalau kalian mendapat getaran listrik ditangan kalian, maka pergilah. Itu perintah."


Mereka semua memakai jubah hitam panjang dengan lambang milik Black Rose dibelakang nya. Tak lupa dengan aksesoris yang mereka gunakan. Sebagai tanda bahwa mereka adalah anggota mafia Black Rose.


"Apa maksud anda, Quenny?" tanya salah satu mafioso.


Jane mengangkat kedua bahunya. "Sebenarnya aku tidak terlalu yakin, jadi jangan lukai diri kalian hanya untuk melindungiku."


"Kalian harus ingat bahwa kalian masih memiliki keluarga, mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang memiliki buah hati." sambung Jane lembut.


"Tapi kami ada untuk melindungimu, Queenny."


"Ikuti perintahku." ucap Jane dengan senyum tulusnya.


Walau dibalik topeng, tapi mereka yakin bahwa Queen yang ada dihadapan mereka itu tersenyum. Mereka melihat dari mata Jane yang sedikit menyipit.


Seluruh mafioso mengangguk ragu.


"Kalau kau tidak yakin, kita bisa kembali Jane." sahut Leon.


"Aku tidak akan kembali. Aku harus membalas perbuatan mereka terhadap Samuel."


"Tapi aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu." ucap Leon gelisah.


"Kita harus cepat."


Mereka menyebar keseluruh bagian markas. Ada beberapa yang berada diatas pohon untuk berjaga-jaga.


Boom


Salah satu mafioso Jane melemparkan bom kecil. Mereka masuk setelah diberi aba-aba oleh Jane. Peperangan antara Black Rose dan KT dimulai. Mungkin ini tidak terlalu sengit.


Keluarga Alensia menyadari bahwa markas mereka diserang. Mereka berdiri dibalkon lantai dua dan memperhatikan setiap pergerakan anggota Black Rose.


Sedangkan Jane tidak ikut berperang. Ia menunggu gilirannya untuk menyerang Keluarga Alensia.


Kekuatan mereka sangat stabil. Tidak banyak dari KT yang tumbang. Hanya sekitar seperempat dari anggota KT nya. Sedangkan anggota Black Rose tidak ada yang tumbang sama sekali.


Selang beberapa menit, Keluarga Alensia turun kelantai bawah dan melewati mafioso nya yang sedang bertarung tanpa rasa peduli.


"Bawa mereka pergi." ucap Jane pada mafionso nya.


Mafioso Jane membawa mafioso KT pergi keluar markas. Mereka tidak membunuh mafioso KT, tapi mereka hanya membuat mereka lumpuh dalam waktu yang lama dan sebentar.


Jane berada dalam markas bersama dengan Leon dan keluarga Alensia.


Jujur, walau kini Jane sudah besar. Tapi rasa takut dalam dirinya masih berbekas. Ia masih sedikit gemetar untuk menghadapi Keluarga Alensia yang kini berada dihadapannya.


"Aku tidak percaya kau sendiri yang akan kembali ketangan kami." ucap Nyonya Alensia.


"Aku tidak kembali untuk disiksa. Tapi aku kembali untuk menyiksa." balas Jane datar.


"Benarkah?" tanya Nyonya Alensia seakan mengejek.


Jane mengayunkan pedangnya ke leher Kaila.


"Bisa kita mulai?"


Kaila tersenyum miring dan mengambil belati yang ia sembunyikan. Tingkat kelihaian Jane dan Kaila hampir sama. Bahkan Kaila lebih hebat. Tapi karena kecerdasan ajne yang lebih dari Kaila. Ia dapat membuat strategi yang matang dalam waktu singkat.


Kaila dan Jane terus bertarung. Tubuh Kaila penuh dengan setiap goresan dan sayatan pedang Jane.


Disaat terakhir, Jane menendang tengkuk leher Kaila dan itu membuat Kaila jatuh pingsan. Tuan Alensia yang melihat hal itu semakin tak terima. Ia mengambil pedang yang ada didekatnya dan menyerang Jane.


"Aku tidak akan pernah mengampuni seseorang yang telah membunuh orang yang kusayangi." ucap Jane dengan sorot mata yang mulai memanas.


Tuan Alensia tidak selihai itu untuk mengalahkan Jane.


Kini Jane berhadapan dengan Nyonya Alensia. Sungguh menyakitkan untuknya, memori kenangan Jane bersama Samuel terlintas. Air mata Jane tidak dapat terbendhng lagi. Tetesan demu tetesan keluar.


Leon begitu terkejut, ia tak menyangka bahwa Queenny nya akan menangis disaat seperti ini. Leon memang tidak mengetahui masa lalu dan masalah yang menimpa Jane.


"Aku tidak yakin kau akan menang." ucap Nyonya Alensia sinis.


"Tidak perlu memprovokasi ku. Karna aku memang tidak yakin."


Sreett..


"Tapi bukan berarti, aku yakin kau yang akan menang."


Nyonya Alnesia melirik sekilas ke lengannya yang terus mengalir darah.


"Kau membuat membuang darah yang berharga." ucap nyonya Alensia yang berjalan memutari Jane. Ia berjalan kearah Kaila dan memgambil belatinya.


Sriing...


Taakk...


Nyonya Alensia menahan pedang Jane dengan belati yang ia pegang.


Sedangkan disisi para mafioso. Mereka menatap khawatir dari luar markas. Suara pedang dan belati yang beradu terdengar nyaring dan keras.


Kali ini berbeda, Jane semakin gegabah untuk menghabisi nyonya Alensia. Dan Leon semakin khawatir dengan pergerakam Jane yang mulai melemas.


Sreett..


"Aku memang tidak pernah salah dalam memilih. Darahmu adalah yang terbaik."


Jane memegang lengannya dan berdecak kesal.


"Jangan harap kau-"


"Kau melupakan seseorang, Kayra."


Jane semakin menghajar Nyonya Alensia habis-habisan. Dirasa sudah selesai. Jane mengatur nafasnya dan membalikkan badannya sambil melangkahkan kakinya pergi.


"Leon, keluar."


hening...


Tidak aja jawaban sama sekali yang dilontarkan Leon. Jane merasa kalau ruangan itu semakin terasa sepi dan sunyi. Jane memberhentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


Sreett..


"Bukankah sudah dibilang kau melupakan seseorang."


Leher Jane berhadapan dengan sebuah belati. Leher Jane dan belati itu hanya berjarak satu centi.


"Kau terlalu bodoh, Jane."


- \= - \= - \= - \= -


Ruangan yang gelap dan sunyi. Jane tersadar dan menatap ke sekeliling ruangan. Jane terus memberontak dan mengumpat.


"Kau sudah sadar?" tanya Nyonya Alensia.


Jane menoleh ke asal suara dan memicingkan matanya.


Cteekk..


Lampu menyala dengan terang. Tidak, tapi antara terang dan gelap yang berpaduan. Jane menatap ke sekelilimg ruangan dan terbelalak kaget.


"LEPASIN LEON!!" teriak Jane kencang.


Ia ingat bahwa saat tadi ia membalikkan badannya, Nyonya Alensia berdiri dibelakang Leon dan membiusnya.


Kini Leon dirantai dihadapan Jane. Begitu pula dengan Jane.


"Jane, kau tidak sadar dengan kehadiranku." ucap seorang pria dari belakang Jane.


Buughh


Pris tersebut memukul Jane dengan sebuah balok.


"Kau terlalu gegabah untuk melawan kami."


Buughh


"Kau terlalu bodoh untuk menjadi lawan kami, Jane."


Bugghh


"Tapi mungkin sudah takdir, untuk kita bertemu dan bermusuhan."


Pria tersebut menampilkan wajahnya dihadapan Jane dengan mendadak.


Jane terkejut dengan wajah pria tersebut dan memejamkan matanya ketakutan.


"Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu Jane." ucap pria tersebut dengan suara yang sangat menyeramkan.


"PERGII!!" teriak Jane kencang.


Pria tersebut adalah Voldemort. Ia mencekik leher Jane kuat.


"Membuatmu menunggu ratusan tahun pun, tidak akan membuat mu bisa mengalahkan ku."


Voldemort menghempaskan wajah Jane kasar.


"Aku tidak yakin kau akan pulang kerumah dengan selamat."


Bye Byee. See You next Time. Jangan Lupa Like Komen Rate dan Vote sebanyak banyaknya. Maaf Lama Up. Author masih ada susulan ujian. Sama tugas-tugas yang belum dikumpulkan.