
Happy reading :)
Part terpanjang uhuyyy
Kadang, kita hanya memikirkan bagaimana caranya membuat orang lain bahagia. Sampai lupa, bahwa diri kita sendiri harus bahagia juga.
Pukul masih menunjukkan jam 6 pagi, dan itu waktunya untuk bersiap siap dengan seragam sekolah. Tapi berbeda dengan Kenzi yang masih nyaman dengan bantal gulingnya. Mengabaikan suara pintu yang digedor dan juga suara cempreng khas mamanya.
"Kenzi!!" teriak Ratna memanggil nama anaknya. Sudah lima menit lamanya dia meneriaki nama Kenzi tapi gak ada sahutan apa pun.
"Papa, kesini buruan!" teriak Ratna memanggil suaminya.
"Apaan teriak-teriak, masih pagi juga." Diego melihat heran kepada istrinya ini.
"Ini anak kamu, dipanggil dari tadi gak sahut sahut. Masih napas gak dia?"
"Masa iya dia gak napas, ya udah berarti udah innanillahi," ucap Diego sambil bersedih hati.
"Ih anak sendiri didoain meninggal, buruan sana di cek!" suruh Ratna sambil menyuruh Diego memanggil Kenzi.
"Anak Papsquee bangun!! Udah jam 6 ini!! Kenzi bangun!!" teriak Diego sambil menggedor gedor pintu kamar Kenzi.
"Kan gak disahut, apa benaran meninggal ya pa?"
"Mungkin iya."
"Apaan sih doain anak nya meninggal, masih pagi udah teriak-teriak aja. Ada apa sih? Ada yang nyuri ****** Papa?" tanya Kenzi yang keluar membuka pintu dengan tampang kusut.
"Iya mama kamu yang nyuri! Masa dijadikan pajangan di ruang tamu, kan papa jadi malu ntar dilihat tamu lagi," ucap Diego sambil menunjuk ke ruang tamu yang berada di bawah.
"Astaga mama, malu atuh sama tamu masa yang dilihat ****** papa nanti salah fokus lagi." Kenzi berdecak sambil geleng-geleng kepala.
"Bapak sama anak sama aja, udah sinting!" Ratna mencubit perut Diego dan Kenzi membuat mereka mengaduh kesakitan.
"Apaan sih ma, sakit tau! Kalau mau pajangin ****** papa pajangin aja di kamar jangan di ruang tamu bikin malu aja! Aku mau tidur dulu, masih pagi gini udah dibangunin karena hal yang memalukan. Dasar orang tua zaman now!" Kenzi berniat menutup pintu kamar tapi tak jadi karena mamanya memilin telinganya.
"Udah jam 6 ini! Masih pagi dibilang? Sana jadi gelandangan aja!" ujar Ratna sambil memilin telinga Kenzi sampai merah.
"Apa?! Udah jam 6?! Kenapa gak dibangunin sih?! Orang tua macam apa kalian ini, tak patut tak patut," ucap Kenzi sambil berdecak.
"Mau Papa gantungin ****** kamu di rumah tetangga ha?!" tanya Diego sambil ingin masuk ke kamar Kenzi, berencana mengambil ****** Kenzi.
"Astaga, maluin astaga, orang tua siapa sih."
"Apa kamu bilang?!" Diego menarik telinga sebelah kiri Kenzi dan Ratna menarik telinga kanan Kenzi sampai membuat Kenzi kesakitan. Sungguh orang tua yang kompak.
"Hehe maaf aduh, maaf papsquee sayang maaf mamsquee sayang, lepasin dong." mohon Kenzi. Setelah beberapa menit, baru lah orangtuanya melepaskan tangannya dari telinga Kenzi.
"Sana buruan mandi!" suruh Ratna kepada Kenzi. Kenzi lalu mengangguk dan berniat menutup pintu, tapi papanya menahan pintu tersebut.
"Kenapa?" tanya Kenzi yang heran.
"Papa mau ikut," ucap Diego sambil mengerlingkan matanya.
"Astagfirullah papsque aman kan?mamsque gak kasih jatah ya ke papsque sampai papsque belok gini?" tanya Kenzi alay dramatis.
"Papa aman kan?" tanya Ratna sambil mengecek dahi suaminya yang tak panas.
"Papa mau ikut karena mau ambil ****** kamu buat digantungin di rumah tetangga, awas sana!" Diego berjalan masuk ke kamar Kenzi. Kenzi langsung mengejar papanya yang sibuk membuka lemari pakaiannya. Kalau benar papanya gantungin sempaknya di rumah tetangga, nekat sekali papanya ini dan yang pasti harga diri seorang Kenzi bisa turun begitu saja.
"Papa jangan bikin malu deh! Masa anak sendiri dipermalukan sih! Aku gak mau ya kalau papa giniin aku! Aku males lihat papa!" ucap Kenzi alay banget. Ratna hanya geleng-geleng kepala melihat suami dengan anak yang sintingnya ini. Labih baik dia turun saja ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Diego melihat tampang Kenzi yang memelas, supaya papanya gak melakukan hal yang membuat dia malu.
"Hahahahaha sumpah itu wajah nahan boker ya? Lucu banget. Hahaha." Diego tertawa ngakak sambil memegangi perutnya.
"Wahahaha mau aja dikerjain, sana mandi!" lanjutnya sambil berjalan keluar dari kamar Kenzi.
Papa jahat. batin Kenzi.
Kenzi langsung mengunci pintu kamarnya, takut papanya nanti masuk di saat dia mandi dan mencuri ****** Kenzi.
¤¤¤
"Pagi-pagi bukannya disayang tapi dikerjain." Kenzi menyampaikan kekesalan yang terpendam saat sudah berada di ruang makan tepatnya di depan orangtuanya yang lagi sarapan pagi.
"Buruan makan, ngomel-ngomel gak faedah gak akan kami dengar," ucap Diego menyuruh Kenzi untuk makan.
"Ya Allah jangan sampai aku kalau udah jadi orangtua kayak mereka yang gak sayang sama anaknya Ya Allah, jangan sampai." Doa Kenzi sambil mengadahkan tangannya bentuk berdoa.
"Anak durhaka kamu, gak usah sarapan. Sana berangkat ke sekolah!" Ratna mengambil serapan Kenzi sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Ya Allah Kenzi ingin nangis, tapi malu nangis di depan orang tua karena Kenzi bukan anak kecil lagi," ucap Kenzi sambil menunduk.
"Ya Allah, Kenzi janji gak akan jadi anak durhaka lagi. Kasihlah Kenzi sarapan pagi ini Ya Allah." Kenzi melirik ke mamanya berharap akan dikasih sarapan pagi ini.
"Pa, ada yang ngomong ya?" tanya Ratna sambil melihat Diego yang tersenyum geli.
"Iya nih ma, papa dengar suara tapi gak nampak wujudnya. Itu manusia atau apa ya ma? Papa jadi takut nih."
"Mama jadi takut nih pa, gimana kita pindah aja dari rumah ini pa. Tinggalin aja makhluk yang gak ada baiknya sama orang tua itu pa," ajak Ratna sambil melirik ke arah Kenzi yang tengah melongo melihat orangtuanya.
"Aku pamit dulu, assalamualaikum." pamit Kenzi sambil berjalan keluar rumah.
"Ih papa, karena papa nih. Kenzi pergi, susulin sono!" tuduh Ratna sambil berjalan menyusul Kenzi. Yang disuruh untuk menyusul Diego tapi malah dia sendiri yang menyusul Kenzi.
"Kenzi, jangan baper jadi anak. Kita orangtua cuman bercanda kok. Yuk sarapan," ucap Ratna mengajak Kenzi balik untuk sarapan sambil menampilkan senyum yang menawan.
"Udah gak laper."
"Jangan gitu, buruan sarapan nanti kamu sakit perut loh," ajak Ratna sambil menarik tangan Kenzi.
"Gak laper."
"Buruan lah."
Diego hanya menyaksikan keduanya di ambang pintu sambil tersenyum melihat anaknya yang murah baper plus ngambek juga.
"Aku gak mau ya, aku lagi ngambek nih," ucap Kenzi sambil bersiap-siap menaiki motornya.
"Jangan ngambek dong, mama sama papa bercanda kok. Nanti mama sedih kalau kamu ngambek nih."
"Sedih aja."
Ratna benar-benar mengeluarkan air matanya membuat Kenzi panik takut ketahuan oleh papanya. Diego yang melihat Ratna menangis langsung saja menghampiri mereka.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Diego sambil melihat wajah istrinya.
"Anak kamu ngambek!" Diego melihat ke Kenzi, yang merasa bersalah. Diego menyuruh Kenzi untuk minta maaf.
"Maaf ma, maaf juga Kenzi pa. Aku juga cuman bercanda juga kok ngambeknya," ucap Kenzi sambil tersenyum menampilkan giginya.
"Yeyy mama juga bercanda kok nangisnya. Ayo sarapan!" Ratna tersenyum geli melihat Kenzi yang menampilkan wajah malas setelah mendengar penuturan mamanya tadi.
Setibanya di sekolah, Kenzi langsung menuju ke kelasnya. Berjalan di koridor sambil bersiul, sebagian murid menyapa Kenzi tapi Kenzi hanya membalas dengan senyuman tipis karena senyum tulusnya hanya diberikan ke orang yang penting dalam hidupnya.
Sebelum ke kelas, Kenzi terlebih dahulu ke wc karena ingin boker. Kenzi berjalan cepat, ia menahan sesuatu yang ingin keluar.
"Astaga kaget gue!" teriak Kenan sambil mengusap dadanya.
"Awas, gue mau boker!" usir Kenzi kepada Kenan yang menghalangi pintu.
"Bau banget kentut lo Ken," ucap Kenan sambil menutup hidungnya.
"Lo bilang kentut lo bau? Jujur banget lo, senang gue temanan sama lo." Kenzi masih menahan bokernya dengan memegang dinding samping pintu masuk, Kenan masih belum beranjak dari sana membuat Kenzi ingin mencakarnya saja.
"Kentut lo yang bau, sembarangan aja bilang kentut gue bau. Gini \- gini kentut gue bau parfum Paris tau. Emang lo yang bau kentut kayak ****** basah!" Kenan menggeserkan tubuhnya agar Kenzi dapat masuk, dia sudah kasihan melihat Kenzi dengan wajah merah dan gelisah.
"Awas ah lo, ini pegang tas gue kalau guru udah masuk bilang aja gue lagi boker ya!" Kenzi lari terbirit birit memasuki wc yang masih kosong dengan bunyi kentut yang sambung menyambung. Membuat Kenan tersiksa dengan baunya.
"Parah lo Ken, lo habis makan apa sih, kentut lo bau banget. Abis makan bangke ya lo!" teriak Kenan yang menahan tawa tapi juga menahan napas karena masih ada aroma kentut Kenzi yang masih tersebar.
"Diam lo Kenan! Kentut gue seharum bunga bangke asal lo tau. Jadi jangan bacot lagi!"
Plung plung
"Itu bunyi apa woi, gak kena kan ke ****** lo?"
"Lo kenapa masih di sini sih! Buruan sana pergi!" usir Kenzi yang sudah teriak seperti orang gila.
"Gue lagi ngerekam lo boker nih!" teriak Kenan sambil tertawa.
"Eh woi jangan aneh deh lo, berani aja lo rekam, hp lo gue bunting!"
"Banting maksudnya ***, Kenan lo jangan aneh deh."
"Gue kirim rekaman nya ke Naya ya. Sudah terkirim, gue ke kelas dulu ya Ken." Kenan pura-pura berjalan keluar, padahal dia hanya bercanda ingin mengerjai Kenzi.
"Kurang ajar lo Kenan, mau apa lo ha?!" teriak Kenzi yang masih boker tak tenang.
"Canda elah, lo seriusan banget sih. Tapi seriusin si Naya nya belum."
"Mau lo apa?!"
"Traktir dong!" seru Kenan yang senyum senyum bahagia.
"Baru kemarin ditraktir, sekarang minta traktiran lagi, hidup lo penuh dengan traktiran aja, pantesan aja lo kaya!"
"Iya dong, motto hidup itu kalau ada uang teman kenapa memakai uang sendiri! Hidup harus licik selagi hemat untuk masa depan!"
"Eh lo ngomong pas boker, napas lo gak bau boker juga nanti?" lanjut Kenan sambil bertanya kepada Kenzi, Kenan sudah tertawa terpingkal-pingkal.
"Awas ya lo Kenan!" terdengar suara air, sepertinya Kenzi sudah selesai dengan ritual bokernya. Kenan buru buru keluar ngendap di samping dinding bertujuan untuk mengejutkan Kenzi.
"Kenan di mana lo?!" teriak Kenzi yang lagi membasuh tangannya dengan sabun yang sudah disediakan sekolah. Entah benar sabun itu digunakan untuk membasuh tangan, atau untuk melakukan hal yang lain, kan bisa bahaya.
Kenzi berjalan keluar dari wc, saat di pintu, ia terkejut dengan Kenan yang muncul seperti orang gila yang senyum sendiri.
"Udah gila lo?!" ucap Kenzi sambil melintirkan kepala Kenan di ketiaknya.
"Ayo lah, ke kantin sebelum gue kirim rekaman tadi!" ajak Kenan sambil menggandeng tangan Kenzi. Kenzi melihat tangannya yang digandeng langsung menghempaskannya.
"Hehe iya," ucap Kenan cengengesan.
Tapi boong. Jawab Kenan dalam hati.
"Udah lo kirim ke Naya?" tanya Kenzi sambil melihat jengkel ke arah Kenan.
"Belum sih."
Ye si Kenzi, mana mungkin gue kirim ke Naya. Rekamannya aja gak ada apalagi nomornya Naya tambah gak ada gue. Mudah dikibulin nih. Kenan cekikikan.
Kenzi yang melihat Kenan seperti orang gila merasa merinding dengan temannya yang satu ini. Kenan tak seperti biasa, sekarang dia lebih banyak bacotnya.
"Nanti aja gue traktir, sekarang udah bunyi bel masuk, belajar dulu biar bisa jadi penerus bangsa," ajak Kenzi.
"Mantap nih, gue suka."
Mereka berjalan menuju kelas untuk melakukan aktifitas yang biasa dilakukan anak sekolahan.
¤¤¤
Lima menit sebelum bel istirahat berbunyi, ada pengumuman bahwa ada lomba menyanyi per grup. Pendaftarannya gratis, tapi hadiah nya berupa uang senilai 2 juta untuk juara satu. Dan ini kesempatan emas bagi Kenzi dan teman-temannya yang memang anak band.
"Kenzi ikutan sono!" teriak Abel yang merupakan teman sekelas Kenzi yang tau Kenzi suka nge band dan sering manggung di cafe yang berisi anak muda.
"Oke," jawab Kenzi sambil menunjukkan jempolnya bertanda setuju.
"Lumayan Ken, yang menang hadiahnya gede," ujar Axel yang sudah bahagia banget.
"Buruan kita daftar Ken, kalau menang kan, uangnya bisa dipakai buat beli ******!" teriak Prima yang berseru.
"Apaan dah, dari tadi pagi gue dengar kata ****** terus. Hari ****** se internasional ya sekarang?" tanya Kenzi yang heran dengan orang yang menyebutkan kata '******'.
Ibu yang mengajar di kelas mereka hanya diam menyaksikan sebelum mengeluarkan jurusan ampuhnya.
"Kok samaan Ken, gue dari tadi pagi dengar kata ****** juga. Masa bokap gue nanyain sempaknya ke gue sih, malah ngucapin ****** hampir lima puluh kali lebih."
"Karena hari ini, hari ****** se internasional. Buruan dah kita gantungin ****** masing-masing di sekeliling sekolah," ajak Axel yang membuat semuanya tertawa tapi tidak dengan guru yang mengajar di kelas mereka yang lagi menahan marah.
"Ayo Axel kita gantungin ****** kita masing-masing," ucap guru tersebut sambil berjalan ke arah Axel. Axel hanya diam membatu merasa hidupnya akan berakhir dengan guru yang di depannya ini yang memiliki badan se gede gajah.
"Ayo Axel," ajak guru tersebut sambil menarik tangan Axel. Tapi Axel langsung menepisnya pelan. Lalu menjawab ucapan guru tersebut.
"Hehe ibu saja ya, saya ngak deh."
Baru guru tersebut ingin menjewer kuping Axel, tapi bel istirahat berbunyi. Membuat Axel yang memiliki kesempatan berlari terbirit birit keluar kelas.
¤¤¤
Kenzi mendapatkan pesan dari Naya.
Naya Alzata
Di mana?
10.14
Lagi di kelas
10.16
Ngak ke kantin?
10.16
Tadi nitip sama Yasmin
10.17
Kenapa ngak ke kantin?
10.17
Lagi ada tugas nih
10.17
Oke, yang rajin ya yang
10.18
Oh iya, lo ikutan lomba yang diumumin tadi?
10.19
Ikut dong :)
10.19
Oh oke
10.19
Siap yang :)
10.19
Read
"Gimana nanti pulang sekolah, kita latihan?" tanya Kenan dan juga mengajak sih.
"Boleh tuh," jawab Kenzi.
"Boljug," jawab Axel.
"Boleh boleh," jawab Prima.
"Nanti pas pulang langsung aja ke tempat biasa, gak usah ganti baju pake baju sekolah nih aja. Biar gak kelamaan." saran Kenan yang diangguki temannya. Mereka sibuk dengan makanan mereka karena yang namanya lapar harus menghayati untuk memakan biar ada rasa.
Bersambung...
Menurut aku ini part yang paling ngakak😂
Atau
Humor ku yang terlalu retjeh ya?
Yang penting ini yang paling ngakak sip :")
Follow my ig @serlyymp_
Jangan lupa kasih Vote dan komen zeyeng :')