Married With Senior

Married With Senior
18. Akrab Kembali



Happy reading :)


Karena teman di saat remaja, akan sulit dilupakan. Jika banyak kenangan dan pengalaman yang di lalui.


•••


Pagi sekali Kenzi sudah siap dengan seragam sekolahnya, ia menuruni anak tangga lalu menuju ke ruang makan. Ia ingin cepat datang ke sekolah dan menemui cewe yang sudah melabrak Naya. Hanya Naya yang bisa membuatnya seperti ini, marah kepada orang yang telah menganggu miliknya. Ya miliknya walaupun belum pasti, yang penting ia akan berusaha untuk membuat Naya jatuh hati kepadanya.


Setelah sarapan, ia langsung mengendarai motor sportnya di jalan raya yang cukup ramai karena pagi ini semua orang akan memulai aktifitasnya.


Sampai di sekolah, ia tak langsung meletakkan tasnya malahan ia langsung menuju kelas XI IPA 4, kelas cewe yang telah membuat Naya merasa menjadi rendah.


Ia langsung saja masuk ke kelas tersebut dan berteriak memanggil Tiwi, semuanya merasa takut melihat kemarahan yang Kenzi tunjukkan. Tak ada satupun yang menjawab, mereka semua merasa tuli seperti tak mendengar ucapan dari Kenzi tadi semakin membuat Kenzi marah berkali lipat. Ia memukul papan tulis hingga terdengar suara keras yang menghantam.


Kenzi menunjuk cowo yang duduk di meja guru, ia bertanya dimana keberadaan murid yang bernama Tiwi. Si cowo tersebut menjawab tidak tau dengan keberadaan Tiwi, sepertinya Tiwi belum datang ke sekolah.


Kenzi keluar, berdiri di depan pintu kelas XI IPA 4. Ia bertanya nama murid yang baru tiba dan akan masuk ke kelas tersebut. Saat orang yang ia cari tiba, ia langsung saja bertanya kepada cewe tersebut maksud dari dia melabrak Naya.


"Heh maksud lo labrak Naya apa?" tanya Kenzi kepada intinya.


"Gue gak ada labrak dia, jangan asal nuduh," jawab Tiwi sedikit takut melihat kemarahan Kenzi.


"Lo mau gue bikin malu atau lo mau jujur sebelum diri lo sendiri yang nanggung semuanya."


"Gue gak ada labrak dia," tegas Tiwi agak membentak.


"Oke lo mau gue bikin malu." Kenzi mengeluarkan gunting dari tasnya, dan langsung melihatkannya kepada Tiwi membuat Tiwi sedikit mundur karena takut.


"Lo masih gak mau ngaku?" Kenzi menyodorkan gunting tersebut di rambut Tiwi yang sebahu, membuat Tiwi ingin marah.


"Dia jadi cewe centil banget, gak ada harga dirinya pandainya cari muka. Benci gue liat dia," terang Tiwi sambil menangkis tangan Kenzi dari rambutnya.


"Dia atau lo yang cari muka?" tanya Kenzi kembali menyodorkan gunting ke rambut Tiwi. Semua orang melihat kelakuan Kenzi, tak ada yang berani menagahi ataupun menolong karena takut kena imbasnya apalagi Kenzi menggunakan benda tajam.


"Dia."


"Jadi apa kabar dengan lo yang labrak orang? mau cari tenar atau mau cari perhatian, *******!" ucap Kenzi menggebu gebu karena marah yang ia tahan, ia tak akan melukai wanita walaupun wanita itu menyakiti ia, gunting ini hanya sebagai pegangan saja agar lawan takut kepadanya.


"Lo iri sama dia? karena lo gak bisa jadi dia? kasihan banget hidup lo. Mati aja lo!" ucap Kenzi sambil menunjuk nunjuk wajah Tiwi, Tiwi hampir menangis dibuatnya baru pertama kali ia dibikin malu di depan teman - temannya.


"Oh ya satu lagi, siapa nama teman lo yang barengan labrak Naya?"


"Indri," balas Tiwi sambil sesanggukan karena menahan tangis.


"Lo sama teman lo, kalau berani labrak Naya atau bilang Naya yang jelek - jelek. Awas aja lo, gue gak segan - segan untuk lukai lo." Kenzi pergi begitu saja sambil memegang gunting yang tadi ia sodorkan kepada rambut Tiwi, semua orang masih terpaku atas kejadian yang baru mereka tonton. Tiwi berjalan masuk ke kelas sambil menangis, semua orang prihatin kepadanya.


•••


"Hai, bos. Baru datang tuh muka kayak kaset rusak aja," sapa Prima sambil memperhatikan wajah Kenzi yang kusut.


"Eh ***** lo ngapain bawa gunting, lo gak habis bunuh orang kan?" tanya Kenan yang melihat Kenzi membawa gunting di tangan kanannya.


"Gue mau bolos nih, lo pada mau ikut gak?" tanya Kenzi setelah meletakkan tasnya di laci meja, agar tidak diketahui oleh guru kalau sebenarnya ia hadir tapi tidak masuk kelas. Ia berjalan keluar kelas menuju lantai atas sekolah.


Semua temannya saling melirik merasa heran dengan tingkah Kenzi, lalu mereka semua mengangguk dan menyusul Kenzi.


Mereka berada di lantai atas, tepatnya di sebuah gudang, disini berisi bangku dan meja yang tidak terpakai. Mereka menjadikan benda tersebut sebagai tempat tiduran.


Sedang asiknya tidur, terdengar suara perut Kenzi yang berbunyi untuk diisi. Axel yang sedang memainkan PUBG pun, melihat ke arah Kenzi.


"Xel lo beli makanan di kantin, ini gue kasih uangnya. Beliin juga buat mereka, hati - hati jangan sampai ketahuan guru kalau kita bolos." Kenzi menyodorkan uang berwarna biru ke Axel, Axel yang senang mendapat gratis langsung tancap gas menuju kantin.


Sedang asik - asiknya berjalan di koridor sambil main ponsel, Axel dikejutkan dengan salah satu guru yang sedang berjalan bersisian dengannya.


"Mau kemana kamu Axel?" tanya sang guru sambil berdiri berpengang pinggang.


"Aaaaaaaa," teriak Axel seperti kesetanan.


Axel langsung saja berlari terbirit - birit membuat sebelah sepatunya lepas, sang guru juga berlari mengejar Axel. Ia sudah pasti, kalau Axel sedang bolos.


Axel tetap berlari menuju gudang, sekali - kali ia menoleh kepada guru yang juga mengejarnya dengan lari yang sangat kencang. Ia membiarkan sepatunya yang terlepas tadi, masa bodoh dengan sepatunya daripada ia dihukum sendiri.


Setibanya di gudang, Axel langsung saja memukul meja yang ada di samping pintu. Membuat Prima kaget.


"Eh telur gue pecah, dor!" kaget Prima sambil terengah - engah dari tidurnya. Axel masih sempat tertawa karena melihat ekspresi lucu dari Prima tadi.


"Emang lo punya telur?" tanya Axel yang lupa dengan maksud tujuannya kesini ingin memberi tahu bahwa mereka dalam musibah.


"Telur emak gue."


"Axel jangan coba lari kamu, awas kamu ya." suara guru tersebut begitu dekat dengannya, semuanya melihat kepada Axel yang sedang cengar - cengir tak jelas. Semuanya menatap Axel tajam.


"Kalian ini, ini jam pelajaran tapi membolos. Saya hukum kalian, cepat ke lapangan. Berdiri sama hormat di depan tiang bendera."


"Jangan jadi guru jahat dong pak, saya belum sarapan nih. Masa iya disuruh panas - panasan kalau saya pingsan bapak mau tanggung jawab?" tanya Kenzi sambil memelas


"Saya gak hamilin kamu, jadi saya gak akan tanggung jawab. Sana kalian ke lapangan, Cepat!" bentak sang guru disulut marah.


Semuanya menatap Axel yang hanya diam, mereka berjalan menuruni tangga menuju lapangan dan langsung hormat di depan tiang bendera di siang hari yang panas ini.


•••


Yasmin yang baru balik dari toilet, langsung berteriak histeris di depan sahabatnya. Kebetulan guru yang mengajar di kelas mereka sedang pup, jadi Yasmin bebas untuk berteriak sekeras apapun.


"Eh Nay, Kak Ken sama sahabatnya lagi dihukum di tengah lapangan disuruh hormat. Kasihan gue apalagi sekarang cuaca lagi panas," cerocos Yasmin yang tak ada henti, padahal dia habis berlari dan berteriak tapi napasnya bisa sangat panjang.


"Serius?" tanya Alexa. Yasmin menganggukkan kepalanya.


"Kenapa bisa dihukum?" tanya Naya yang penasaran.


"Gue ngak tau," jawab Yasmin sambil menggelengkan kepalanya.


"Pasti kasihan ya, panas gini dapat hukuman. Eh Nay lo kasih air mineral gitu sama Kak Ken," suruh Alexa kepada Naya.


"Ngapain gue?"


"Terus siapa, gue atau lo Yasmin?" tanya Alexa sambil menunjuk Yasmin.


"Lo gimana sih Nay, yang dekat sama Kak Ken lo bukan kita, jadi lo yang kasih dia air," balas Yasmin.


"Masa gue aja yang ngasih air, lo gak ngasih?"


"Masa kita bertiga ngasih air ke Kenzi, enakan di Kenzi dong," cetus Alexa.


"Kan gue gak ada bilang suruh ngasih ke Kenzi, lo ngasih ke Axel dan Yasmin ngasih ke Prima."


"Okeh, ini kebetulan gak ada guru. Ayok lah ke kantin beli air." Alexa menarik Naya dan Yasmin, Naya mencoba melepaskan karena ini masih jam pelajaran, tapi Yasmin juga menariknya membuat dia pasrah saja.


Bersambung ...


Suka gak nih sama cerita aku yang gak jelas ini?


Iya


Enggak


Thanks yang udah baca❤


Pembaca baik jangan lupa tinggalkan vote n komen 💕💕


Salam Manis


      Dari,


GeminiGirl❤