Married With Senior

Married With Senior
21. Awal Keburukan



Happy reading :)


Ini aku. Seperti ini lah diriku. Biarkan nakal yang penting aku gak mencoba untuk menjadi orang lain agar disenangi.


-Kenzi


•••


Paginya Kenzi dan sahabatnya sudah berada di kantin, walaupun jam masuk akan berbunyi lima menit lagi. Tapi mereka tetap tidak mau bergerak ke kelas, biarkan terlambat ke kelas yang penting setelah beberapa jam baru mereka masuk ke kelas untuk membuat kekacauan. Karena untuk masuk ke kelas dengan membuat kekacauan adalah hal yang luar biasa bahagianya.


Mereka sedang menyantap sarapan, sambil sesekali menggoda adek kelas cewe yang masih berada di kantin dan lalu lalang untuk membeli sarapan.


Terdengar bunyi notif hp yang muncul dari hp miliknya Kenan. Kenan berhenti makan dan mengecek hp nya tersebut, Kenan terdiam setelah membaca isi pesan tersebut.


"Roy ngajak tawuran." Semuanya juga terdiam setelah mendengar ucapan Kenan.


"Si banci mau ngajak tawuran? gak takut dia nanti mati di tempat, cuih," ucap Axel sambil membuang air ludah tapi mengenai seragam belakang Prima.


"Brengsek, jangan sok lo kalau buang air ludah aja gak becus. Gimana nih baju gue, ******* lo. Lo cuciin nih seragam gue sampai bersih *****, kalau gak lo yang mati di tempat." kesal Prima sambil melemparkan seragamnya ke depan wajah Axel, Prima hanya memakai kaos warna army, membuat cewe yang masih berada di kantin berteriak histeris seperti kerasukan.


"Berisik lo semua, gue tau gue ganteng, jadi lo yang jelek diam aja. Gak akan suka gue sama lo semua." Prima berucap sambil mengibaskan rambut belakangnya dengan tangan, membuat cewe yang sempat berteriak histeris tadi terkesima. Tapi langsung kesal karena dianggap jelek walaupun kenyataannya emang jelek sih.


"Iya yang ganteng mah bebas," ucap Nizar yang merupakan adek kelas mereka sambil menatap tajam ke arah mereka.


"Itu lo tau, cukup sadar diri juga lo." Prima juga menatap tajam ke Nizar, Nizar memang cukup sadar diri dengan dirinya yang jauh dari kata ganteng karena Nizar memiliki badan yang besar sebesar lebar pintu kantin, juga memiliki kulit hitam dan juga pendek tapi mulutnya sangat pedas. Jika ada yang mencacinya tak segan ia balas dengan kata kata pedas andalannya. Sampai membuat orang tersebut bisa menangis karena ucapan yang menusuk hati.


"Gimana mau terima tantangannya?" tanya Kenan.


"Gimana bosque?" tanya Axel kepada Kenzi, Axel masih santai walaupun Prima sudah menatapnya tajam karena belum juga mencucikan baju Prima yang terkena air ludah Axel.


"Ya terima lah, emangnya gue banci sama kayak dia yang ngajak tapi kalah terus, cemen. Gaya sok selangit padahal mental rempeyek, kampret." Kenzi menggempalkan tangannya karena marah dengan Roy yang sok jagoan.


"Kampret."


"Kampret."


"Kampret."


Axel, Prima dan Kenan juga mengulang kata dari Kenzi tadi. Lalu tertawa karena ke gajean mereka yang receh.


"Jam berapa si Roy ajak tawuran dan di mana?" tanya Kenzi.


"Di hatimu bosque," jawab Prima sambil membentuk simbol love dengan tangannya.


"Abang di mana tak pulang - pulang, abang cepat abang pulang." Axel menyanyikan lagu sambil goyang  drible, memang seperti banci yang ada di jalanan. Membuat semua temannya tertawa.


"Nanti pulang sekolah, mereka yang akan ke sini," jawab Prima.


"Ya udah, kita ke kelas udah jam berapa nih," ajak Kenzi sambil berjalan ke arah luar pintu kantin.


"Masih ingat kelas juga ternyata lo!" teriak Prima.


"Masihlah emang lo pada, kelas di otak lo kalian tiadakan. Gak boleh gitu, kita harus mengingat kelas tercinta, karena kalau dilupain sakit. Sama kayak kenangan yang banyak terciptakan tapi dilupakan begitu saja karena hanya menganggap kenangan itu hanya biasa saja."


"Galau bosque?"


"Enggak."


•••


Mereka tengah dihukum berdiri di depan kelas, karena terlambat masuk kelas. Bukannya menjalani hukuman, mereka malahan main ludo king melalui hp. Semuanya hanya geleng - geleng kepala karena sudah biasa melihat kelakuan mereka yang tak wajar. Hanya Kenan yang menjalani hukuman dengan benar, Kenan memang nakal tapi tau sopan santun.


•••


Naya belajar dengan membentuk kelompok, kelompok sudah ditentukan oleh guru yang mengajar, biar adil. Karena jika disuruh memilih sendiri anggota kelompoknya sudah dipastikan, yang hebat dengan orang hebat yang bodoh dengan orang bodoh, dan itu turun temurun gak pernah ada yang merubahnya.


"Cuman teman," jawab Naya.


"Kok dekat banget?"


"Biasa aja."


"Kok biasa aja sih, bahagia dong kan di dekatin kakak kelas ganteng terkenal pula."


"Mungkin itu lo."


"Ih lo gimana sih, kalau gak Kak Ken buat gue aja, gue tikung baru tau rasa lo."


"Eh Mutia lo jangan main tikung aja teman sendiri pula, parah lo. Gimana gak banyak orang benci lihat lo, kelakuan lo aja kayak gini," ucap Farah yang mendengar ucapan Mutia, walaupun tak satu kelompok tapi Farah sangat suka mendengar kata - kata orang dan dia jadikan bahan gosip ntarnya.


"Eh lo gak ngaca, kita sebelas dua belas jadi jangan belagu lo."


"Kembar tikungan diam lo berdua!" teriak ketua kelas, yang sudah jengah melihat Mutia dan Farah yang selalu bertengkar kalau bertemu.


"Diam lo, ketua kelas kok cerewet. Lebih cocokan jadi emak emak lo."


"Eh ***** gue cerewet karena ngatur kelas, gak untuk ngegibah ataupun bicarain keburukan orang lain."


"Iya iya iya."


•••


Batu berhemparan di mana - mana, sudah banyak yang terluka akibat tawuran ini tapi masih saja dilanjutkan. Tak ada yang melerai, semua murid SMA Pelita hanya menonton karena jika mereka melerai bisa - bisa mereka yang kena imbas karena salah sasaran benda yang dilempar.


Semuanya terlihat seperti kehabisan akal, baku hantam terjadi di mana - mana, saling meninju, saling melempar batu, saling memukul dengan kayu. Kenzi sudah terluka, tangannya terdapat goresan panjang dan mengeluarkan darah, Axel terluka di bagian rahangnya, Prima di bagian dahinya dan Kenan di bagian bibirnya.


Sedangkan Roy dan teman temannya terluka lebih parah, rata - rata semua badannya sudah banyak mengeluarkan darah. Tapi masih punya banyak tenaga untuk melawan.


Memang sekarang baru jam pulang, jalan di depan gerbang macet parah. Semua murid tidak dibolehkan keluar, karena jika keluar bisa - bisa mereka yang terluka.


Guru mencoba menghubungi polisi, karena mereka takut untuk turun tangan. Semuanya gak akan berhenti kalau gak ada pihak yang melerai mereka.


Naya yang sudah melihat mobil kakaknya, langsung saja dia naik. Dia terlalu kecewa dengan sifat Kenzi yang terlalu bebas, yang terlalu buruk karena bisa merusak masa depan.


Kenzi juga melihat Naya yang langsung naik mobil, ada perasaan kecewa karena sudah pasti dirinya dianggap buruk oleh Naya. Tapi bagaimana lagi, ini dirinya seperti itulah sifatnya.


Mungkin besok akan ia jelaskan, ini dirinya yang sangat jauh dari kata baik kalau di luar rumah.


•••


Maaf kan pendek partnya:(


Bersambung ...


Aku tau cerita ku ini gak jelas ya


HAHAHA


Tapi makasih buat yang udah baca:)


Salam Kenal


Dari cewe gemini❤


Haiii👋


Selamat hari raya idul fitri :)


Mohon maaf lahir dan bathin🙏