Marriage Mr.Mafia

Marriage Mr.Mafia
Pertemuan



Di sebuah restoran cepat saji Tiara tergesa-gesa mencari seseorang yang sampai saat ini menjadi harapannya untuk bertahan hidup. Ditatapnya laki-laki itu dengan penuh pengharapan.


“Pak Doni, maap saya terlambat.” Di gigit nya bibir bawah Tiara agar air matanya tak jatuh lagi.


Bukannya marah laki-laki paruh baya itu hanya tersenyum.


“Tidak apa-apa Tiara segeralah ganti pakaianmu dan pergi layani tamu-tamu yang ingin memesan makanan.” Tiara hanya tersenyum ia tau bahwa laki-laki itu tidak akan pernah kesal terhadapnya mengingat baru kali ini Tiara datang terlambat.


“Siap laksanakan Pak.” Tiara memutar badannya dan melenggang pergi.


"Gadis itu memang tidak pernah berubah, meskipun aku tau bahwa begitu banyak beban yang dipikulnya."


***


"Criss, siapkan mobil untuk makan siang." perintahnya.


"Baik tuan" Criss melenggang pergi.


Sungguh hari ini perasaan Dave tidak karuan, hatinya kembali sesak mengingat lima tahun lalu. Ya, kejadian yang tidak akan pernah Dave lupakan yang membuat hidupnya kembali tidak berwarna. Bahkan sejak kejadian itu Dave sering sekali pergi ke markas besarnya untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya.


Langkah kakinya berhenti di sebuah restoran cepat saji ketika Dave melihat sosok perempuan yang dilihatnya malam itu.


"Criss, bukankah dia perempuan saat kejadian malam itu?." Matanya tak henti memandang sosok yang terlihat sendu itu.


"Benar Tuan, sepertinya Nona tersebut bekerja di restoran ini."


"Hmm, menarik." sebuah senyuman menakutkan tersungging dibibirnya.


Dengan perlahan Tiara menghampiri kedua laki-laki yang tengah duduk di hadapannya.


Semua sorot mata tertuju pada araha Dave dan Criss mengagumi ketampanan keduanya.


"Permisi tuan, silahkan pilih menunya." Tiara menyodorkan sebuah kertas. Di tatapnya dengan intens kedua laki-laki itu.


Deg


"Bukankah kedua laki-laki ini yang aku lihat kemarin malam? Mmhh, bagaimana bisa aku bertemu dengannya lagi?." Batin Tiara.


Wajahnya mulai pucat, hatinya merasa tidak tenang.


"Apa kau akan terus memandangi kami?." tatapan Criss seolah membunuh.


"Ma..maaf Tuan" ucap Tiara segera pergi ketika Criss memberikan pesanan yang telah ia terima.


***


Di rumah utama Alexander nampak orang tua paruh baya menghampiri Dave ketika melihat anak semata wayangnya pulang.


"Sayang, sudahkah kau lupa pada orang tua mu ini" Nyonya Ivanka menatap sendu.


"Maaf Mom aku sedang banyak pekerjaan sehingga belum sempat untuk menemui Mommy dan Daddy." Sebuah senyum yang tulus ia lontarkan (Hanya pada Mommy dan Daddynya).


"Baiklah Son, apakah sebuah kesibukan kau jadikan alasan untuk tidak mengunjungi orang tua paruh baya ini" Lagi-lagi Tuan David protes pada alasan yang dilontarkan anak semata wayangnya itu.


"Oke-oke aku salah, maafkan anakmu yang tampan ini" Dave tersenyum.


Suasana di rumah Alexander malam itu sedikit berbeda, meski Dave hanya anak tunggal namun ketika Dave kembali semua terasa hangat. Sesekali terdengar suara canda dan tawa di rumah yang mewah itu.


Namun lagi-lagi nyonya Ivanka menunjukkan raut wajah yang sendu. Ditatapnya wajah Dave dengan sangat intens.


"Sayang, sudah saatnya kau mengakhiri dunia gelap ini" Perkataan nyonya Ivanka lembut.


Deg


Dave hanya terdiam mematung.


"Maaf Mom, belum saatnya" Dave menatap nyonya Ivanka.


"Sampai kapan kamu akan mengingat masa lalu yang seharusnya kau kubur Dave? Sudah saatnya kamu merelakan hal yang tidak akan pernah kembali." Sungguh Nonya Ivanka sudah tidak tahan melihat keadaan Dave saat ini yang terlibat dalam dunia gelap.


Mendengar kata-kata ini rahang Dave mengeras bola matanya membulat sempurna, tangannya terkepal kuat menandakan emosinya yang meluap-luap tak lagi bisa Dave kontrol ketika membahas masa lalunya.


"Sampai kapanpun, akan aku kejar Mom" Jawabnya datar "Orang-orang yang sudah merebut kebahagiaanku, yang telah membuat keadaanku seperti ini harus aku bunuh dengan tanganku sendiri." Dave melenggang pergi meninggalkan Tuan David dan Nyonya Laras.


Daddy dan Mommy nya hanya bisa menatap sendu kepergian anak tercintanya tersebut.


"Sudahlah Mom, bahkan kita tau bagaimana putra kita menghadapi para musuhnya".


" Ta-pi Dad." Protes Nyonya Ivanka yang mendapati suaminya menyetujui perkataan Dave.


"Apa harus ku ulangi perkataanku Mom?" tatapannya datar.


"Mungkin saat Dave menemukan kebahagiaannya lagi, semua akan jauh lebih baik." Ditatapnya kedua bola mata istrinya untuk meyakinkan perkataannya.


***


"Kumohon Tuan lepaskan tanganku, sungguh akan aku bayar berapapun sisa hutang Ayahku asal jangan bawa Mamaku pergi." Isaknya dengan penuh haru.


"Kau tau harga yang harus kau bayar jika berani membantahku Tiara?." Bentaknya.


Tiara hanya bisa menangis sejadi-jadinya, mengingat hal yang ia takutkan akhirnya terjadi.


"Dasar wanita J*l*ng, sudah kuberi kau kesempatan untuk menikah denganku tapi kau malah memilih kabur". Tuan Sam murka dengan melihat perlakuan Tiara yang menolak untuk menikah dengannya.


Plak


Ditamparnya pipi mulus Tiara sehingga mengeluarkan darah disudut bibirnya. Lagi-lagi tiara hanya bisa menangis dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang ia rasakan.


Digigitnya tangan pria itu hingga ia melepaskan cengkramannya pada Tiara. Sehingga dengan mudahnya Tiara melarikan diri.


"Sialan, berani sekali wanita itu bermain-main denganku." Umpat Tuan Sam. "Kejar perempuan itu dan bawa kehadapanku." Perintahnya.


Tiara hanya mampu berlari sekencang-kencangnya, air mata yang tidak pernah henti menghujam pipinya yang sudah mulai terlihat membiru akibat tamparan yang ia terima.


"Maafkan aku Bu, aku pasti kembali untuk menyelamatkanmu. Bertahanlah".


***