
Hallo pembaca setia Marriage Mr.Mafia balik lagi bersama Author, Dave dan juga Tiara😬
Jangan lupa beri rating 5,4,3 yaa agar Author lebih semangat dalam menulis ceritanya💕
Oh iyaa, maaf ya jika dalam penulisan terdapat typo Author nanti mencoba merevisi ulang.
Happy reading❤
***
Matahari bersinar di ufuk barat, memberi sinar hangatnya kepada dua insan yang sama-sama masih terlelap di ruangan yang berbeda.
Tiara mencoba membuka matanya perlahan, disandarkannya tubuh mungil itu di tepi kasur king size. Setelah merasa siap Tiara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Kegiatan pagi itu ia lakukan selama 20 menit. Selesai dengan kegiatannya Tiara menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Bi Sum." Panggil Tiara di sebrang sana.
"Biar aku yang menyiapkan sarapan ini." Tiara tersenyum dengan sangat manisnya.
"Baiklah Nona jika itu tidak merepotkan Nona." Balas senyuman itu kepada Tiara dan sesekali memandang wajah cantik Tiara.
Kegiatan itu berlangsung hampir satu jam, kali ini Tiara menyiapkan makanan spesial untuk Dave.
Pukul 07.30 Dave keluar dan menuruni anak tangga dengan perlahan, ditatapnya meja makan yang penuh dengan aneka hidangan yang menarik.
Tidak ada perbincangan kala itu, namun dengan gelisahnya Tiara mencoba memberanikan diri.
"Aku sudah memikirkannya." Tiara mencoba untuk tidak menatap bola mata hitam pekat itu.
Seketika Dave berhenti dari kegiatannya. Ditatapnya Tiara dengan sangat intens, diambilnya satu gelas air putih dan kemudian diteguknya perlahan.
"Apa kau sudah yakin?." Tatapannya datar.
"Aku sudah yakin dengan keputusanku, tapi ada beberapa syarat yang harus kau penuhi selama aku menjadi istrimu." Akhirnya Tiara mencoba memberanikan diri menatap bola mata yang hitam pekat itu.
"Katakanlah." Dave menautkan kedua ibu jarinya dan meletakkannya persis di depan dagunya.
Dave memincangkan sebelah alisnya karna Tiara menghentikan ucapanya.
"Kegita aku mau melakukan kewajibanku sebagai seorang istri jika aku sudah mulai jatuh cinta kepadamu." Tiara menundukan kepalanya, ia merasa malu saat berbicara seperti itu kepada Dave.
Dave hanya terdiam, mencerna segala ucapan yang dilontarkan oleh Tiara.
"Baiklah, aku setuju dengan syarat yang kau ajukan."
"Criss." Panggil Dave kepada asisten pribadinya itu.
"Ya, tuan." Criss dengan sigapnya menghampiri Dave dan membungkukkan sedikit tubuhnya kepada tuannya itu.
"Beri dia sejumlah uang yang telah ia minta, selanjutnya kau urus segala sesuatu yang menyangkut dengan pernikahanku."
Criss hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Tunggu tuan satu lagi, saat ini aku tidak ingin pernikahan kita diketahui oleh siapapun kecuali keluarga kita." Keputusan Tiara ini membuat Dave berfikir heran, bukankah setiap wanita ingin memiliki pernikahan yang megah saat ia menikah.
"Baiklah terserah kau saja." Ucap Dave dengan melenggang pergi meninggalkan Tiara di meja makan.
***
Disebarang sana seorang laki-laki sedang mengetuk-ngetuk meja dengan jari tangannya. Sesekali ia tersenyum tipis menatap orang tua paruh baya yang sudah lagi tidak berdaya.
"Nyonya Laras kita lihat saja apakah putrimu tercinta itu akan datang kepadaku atau mungkin?." Perkataannya seolah-olah sedang mengancam nyonya Laras dan Tiara.
Wanita paruh baya itu tidak mampu untuk berbuat apa-apa, jangankan membantu Tiara hanya sekedar berdiri saja dirinya sudah tidak sanggup.
Ditatapnya pintu itu dengan penuh harap cemas, batinnya terus bergejolak akankah Tiara sanggup untuk menebus dirinya.
"Jika kau tak bisapun, jangan kau paksakan nak. Sungguh mama sudah tidak sanggup lagi menjalani hidup ini." Batin nyonya Laras.
Buliran air mata yang sesekali jatuh di kedua belah pipinya itu menandakan bahwa ia sudah tak mampu lagi sudah banyak sekali penderitaan yang telah ia lewati bersama putri tercintanya.
***