
Ria merasa ini semua tak adil bagaimana mungkin dia menikahi seseorang yang tidak dia kenal, dan jika membayar pinjaman biaya rumah sakit uang darimana, kalaupun Ria punya uang akan dia berikan kepada ayahnya yang sakit untuk pergi berobat.
“Ria kamu disini dari tadi kita cariin kamu.” Suara nyaring yang berasal dari Marsha memecah lamunan Ria, dia melihat ke arah suara dimana dua temannya sedang berjalan menghampirinya.
“Ada apa? Kenapa kalian tidak ke kelas bukannya sebentar lagi kita ada kelas?” tanya Ria yang terheran, melihat kedua temannya berada di Gedung Dosen sementara kelasnya berada jauh dari Gedung ini.
“Pak Santoso tidak masuk karena ada seminar di Gedung pasca sarjana, makanya kelas diliburkan. Tapi kita diberikan tugas, tentu saja tidak mungkin dia lupa memberikan tugas hahaha” ucap Akila memberikan informasi dan sedikit bercerita, barangkali Ria lupa jika Pak Santoso adalah dosen yang tidak pernah absen dalam memberikan tugas.
Ria menghela nafas syukur, setidaknya dia bisa sedikit mengistirahatkan tubuhnya yang lemas dan kepalanya yang pusing barang sebentar sebelum Kembali melanjutkan rutinitasnya.
Sampai suara dering telepon yang berasal dari tas Ria terdengar nyaring, saat Ria mengangkat telepon matanya seketika membulat, dia bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat.
Berlari secepat mungkin, berharap dia bisa sesegera mungkin sampai ke rumah sakit melupakan sakit dikepala nya.
Ya, tadi adalah telepon dari Ibu yang mengabarkan ayahnya yang anfal baru saja dilarikan ke rumah sakit, mereka dibantu oleh para tetangga yang memiliki kendaraan.
Sesampainya di rumah sakit, Ria mengatur nafasnya berusaha tetap tenang melihat ibu dan Rio yang sedang berpelukan sambil menangis.
Langkahnya seakan berat, takut kabar buruk menghadapinya, dia berusaha untuk berpikiran positif bahwa ayahnya baik-baik saja.
“Ibu…” Inka menoleh kepada Ria yang terlihat berantakan,
Dia cukup tahu bahwa anaknya pasti berlari terburu-buru setelah mendengar kabar ayahnya yang mendadak anfal. Inka pun tak cukup kuat, untuk sekedar meyakinkan anak-anaknya bahwa sang ayah baik baik saja.
Dia hanya bisa menangis menatap kedatangan putrinya itu.
“Tenang bu, ayah pasti kuat ayah pasti sanggup bertahan.” Ria mencoba meyakinkan ibu, adiknya dan tentu saja dirinya sendiri bahwa ayahnya akan selamat.
Dokter terlihat keluar dari ruangan dimana ayah Ria berada, “Keluarga Pak Matien.”
Ria bergegas menghampiri dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruangan dimana ayahnya berada.
“kami dok, bagaimana keadaan ayah ?” jawab Ria tak sabar mendapat kabar baik dari dokter yang menangani ayahnya.
“Kami berhasil menyelamatkannya, beruntung pak Matien segera dibawa kerumah sakit. Namun, saya ingin memberitahukan bahwa pak Matien harus segera di operasi ada pembengkakan pada jantungnya itu akan sangat berbahaya bagi kesehatan nya.”
Ucap dokter Panjang lebar menjelaskan kondisi sang ayah yang membuat tubuh Ria melemas, benar-benar seolah Tuhan begitu senang mengujinya.
Didepan meja kasir Ria Kembali melamun dan merenung bersedih. Bagaimana tidak, tagihan biaya Rumah sakit yang harus dibayarkan untuk ayahnya operasi begitu besar, belumlah selesai masalahnya dengan sang dosen kini Kembali hadir masalah biaya rumah sakit ayahnya.
Seorang perawat berlari ke arah Ria dia seakan ingin segera menyampaikan informasi penting.
“Ada apa sus?” tanya Ria yang penasaran.
“Mbak, dokter menyuruh saya menyampaikan untuk mempercepat administrasi operasi pak Matien keadaan pasien dikhawatirkan semakin membu-“
Belum selesai suster itu berkata Ria sudah lari pergi keluar dari rumah sakit, langkahnya seolah tau kemana dia harus melangkah tanpa berpikir.
TBC🌝