
Di ruang kerjanya Dafa dan Bimo sedang berbicara. Dafa menceritakan kepada Bimo bagaimana awal mula semua ini terjadi. Dia menceritakan semua yang dia rasakan kepada sahabatnya itu.
“Dafa kau terlalu naif untuk mengakui bahwa kau mencintainya. Kalau begini terus, kau akan terjebak dengan ambisi mu!” ucap Bimo,
Dia harap dengan berbicara baik-baik Dafa dapat mengakui kesalahannya kepada Ria dan memulainya dari awal bersama Ria yang dia ketahui sudah dinikahi oleh sahabatnya itu.
“Kau tidak memikirkan rasa putus asanya? Keluarganya? Bahkan tante Maya dan om Lukaz akan sangat marah padamu jika mengetahui ini. Oh God! Aku tak bisa membayangkan amukan tante Maya dan om Lukaz.” Bimo berigidik ngeri mengingat bagaimana Maya dan Lukaz sering menghukum mereka sewaktu remaja karna kenakalannya.
“Aku sarankan kau segera jujur kepadanya, sebelum dia mengetahui sendiri dan pergi dari hidupmu.”
Kalimat terakhir Bimo membuat Dafa mendadak pening, tentu Dafa tak mau sampai Ria kabur dan pergi dari hidupnya.
Tapi kalaupun Dafa jujur apa bisa Ria menerima kebenaran yang Dafa berikan dan tidak meninggalkannya?
Flashback Off
Dafa menyelipkan sebelah tangannya ke belakang kepala Ria, merangkul istrinya yang masih terpejam agar berada dalam dekapannya.
Omongan Bimo membuatnya merasa takut jika Ria pergi meninggalkannya.
Walaupun Dafa tak yakin yang dia rasakan saat ini adalah perasaan Cinta.
Pagi menyapa kedua insan yang masih terlelap, sang Mentari tak mau kesiangan melakukan tugasnya memberi cahaya kepada dunia.
Ria mengerjapkan matanya tubuhnya berangsur membaik, tadi malam Bimo sempat menyuntikan vitamin ke tubuh Ria.
Tubuhnya merasa berat, sesaat dia melihat ada tangan kekar yang mendekapnya erat. Dia tersadar semalam dia setelah Dafa keluar berbicara dengan seorang dokter dia kembali pura-pura memejamkan matanya.
Dafa merawatnya sepanjang malam, sampai akhirnya mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan. Ada rasa hangat dalam tubuh Ria saat Dafa memeluknya, membuat rasa nyaman dan kantuk datang bersamaan.
Melupakan perdebatan yang sebelumnya terjadi di antara mereka, melupakan rasa sakit yang di terimanya dari sosok yang memeluknya tadi malam.
Perlahan Ria melepaskan tangan Dafa dari pelukannya, sepelan mungkin agar sang pemilik tak terusik dari tidurnya.
Sebentar saja, Ria memandang kembali wajah suaminya, mengapa Ria begitu penasaran dengan takdir Tuhan yang mempertemukannya dengan sosok yang sedang tertidur ini.
Karena merasa sudah mendingan Ria berencana untuk berangkat kuliah dan ke Rumah Sakit dia ingin menjenguk ayahnya sepulang dari kuliah.
Ria beranjak dari tempat tidurnya secara perlahan, agar Dafa tak terusik dengan pergerakan Ria.
Dia memasuki kamar mandi, rasanya berendam air hangat akan lebih memberikan tenaga kepadanya di pagi ini.
Selesai dengan ritual mandi dan berendamnya, Ria yang melihat Dafa masih tertidur pulas seperti kelelahan setelah mengurusnya semalaman, pergi keluar kamar berencana membuat sarapan sebelum berangkat kuliah.
Namun langkahnya dikejutkan saat dia menemukan sosok Wanita seusia ibunya sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ria melangkah ragu, namun Wanita itu sadar akan kehadiran Ria kemudian menyapanya.
“Selamat pagi Nona, perkenalkan saya Mbok Darmi. Saya yang bekerja membereskan dan memasak di apartement den Dafa. Non pasti yang Bernama Ria kan? Kemarin Den Dafa sudah berpesan kepada saya untuk melayani dan membantu kebutuhan Non.” Ucap Mbok Darmi dengan senyuman sebagai tanda perkenalan yang dibalas senyuman juga oleh Ria.
“Maaf Mbok, saya tidak tahu karena saat kemarin kemari saya tidak melihat Mbok.” Ria mengkonfirmasi keterkejutan nya kepada Mbok Darmi.
“Kemarin saya di liburkan oleh Den Dafa Non, Katanya dia ingin menikmati waktu berdua bersama isterinya.” Mbok Darmi tersenyum kembali “Non mau sarapan apa? Saya tadi baru buatkan roti bakar karena Den Dafa kalau pagi hari jarang sarapan dengan nasi.”
Dafa tentu saja sudah mengkondisikan Mbok Darmi, agar dia bisa menutup mulutnya tentang pernikahannya dengan Ria agar tidak sampai ke Rumah Utama.
Mbok Darmi yang sudah mengasuh Dafa sejak kecil tentu lah tau apa pun yang di lakukan oleh Dafa tak pernah menyalahi norma dan agama.
Sehingga dia percaya kepada Dafa bila waktunya tiba Dafa akan memboyong isterinya itu ke Rumah Utama.
Mbok Darmi tidak tahu saja kejahatan apa yang sudah Dafa perbuat kepada isterinya itu, terakhir kali saja Ria sampai sakit karena disik*sa oleh Dafa di atas ranjang.
“Emh, tidak Mbok saya akan sarapan di kampus saja takut terlambat saya ada kuliah pagi ini.” Ucap Ria cepat, dia ingin segera pergi ke kampus sebelum Dafa bangun dari tidurnya.
Dia tidak ingin merusak mood nya di pagi hari karena bagi Ria Ketika Dafa sudah bangun dari tidurnya dia seperti sudah dapat menebak aka nada luka yang dia dapatkan.
“Kau akan pergi bersama saya.” Kalimat yang terdengar oleh telinga Ria dan Mbok Darmi
Ria menghentikan langkahnya ketika akan keluar dari apartement menatap Dafa yang baru saja keluar dari kamar dengan rambut yang masih berantakan dan juga muka bantalnya.
Sebenarnya dia sangat tampan walaupun baru bangun tidur. Kau ini apa sih Ria.
“Tidak perlu, Pak. Saya sedang terburu-buru bapak juga belum sarapan.” Ucap Ria berharap Dafa melepaskannya kali ini.
Tapi ada seseorang yang terkejut mendengar jawaban dari Ria, dia adalah Mbok Darmi.
Dia heran mengapa Ria memanggil suaminya Bapak? Padahal biasanya pasangan muda yang baru saja menikah bagaikan kue cucur yang baru matang, Manis dan hangat.
Dafa melihat ke arah Mbok Darmi yang juga sedang menatapnya bingung.
Dia langsung merubah bahasanya dengan Ria di hadapan Mbok Darmi.
“Sayang, kamu baru saja sembuh. Kemarin pasti kamu kecapekan sehingga malam demam. Jadi sekarang kamu nurut sama Mas ya, kita sarapan dulu lalu kamu Mas antar ke kampus.” Ria melongo mendengar ucapan Dafa.
Sayang? Mas? Apa ini.
Dia berigidik ngeri melihat akting Dafa di hadapan Mbok Darmi, Dafa melangkah menghampiri isterinya yang masih setia di tempatnya saat ini.
Dia segera merangkul dan sedikit memaksakan Ria untuk melangkahkan kakinya ke meja makan.
“Kau sarapan lah dulu, aku akan mandi dan bersiap.” Ucap Dafa begitu manis sambil menggeser kursi untuk Ria duduki.
“Kau harus menungguku.” Dafa menunduk sambil berbisik di telinga Ria dan tangannya yang berada di bahu Ria mencengkramnya dengan keras sehingga Ria meringis sakit.
“Akhh” tapi Ria menahan suaranya tak mau sampai Mbok Darmi yang masih satu ruangan dengan mereka mendengarnya.
Ria terdiam kemudian menatap kepergian suaminya yang mulai memasuki kamar nya kembali untuk bersiap.
Ya, pagi ini Dafa kembali menorehkan luka kepada Ria setelah semalam dia bersikap manis dengan menjaganya Ketika dia sakit.
Ria menatap sarapannya malas rasanya semenjak bertemu dengan Dafa selera makannya menghilang.
“Kau sudah selesai sarapan?” pertanyaan Dafa menyadarkan Ria dari lamunannya wangi maskulin yang hadir bersamaan kehadiran Dafa membuatnya terkesima.
Seandainya saja lelaki di hadapannya ini bersikap lebih lembut dan mereka menikah karena cinta mungkin Ria sangat bersyukur memiliki suami yang tampan.
“Ehhmm” Ria mengangguk menjawab pertanyaan Dafa.
Mereka pun keluar bersama menuju ketempat mobil Dafa di parkir, di dalam mobil Dafa memberikan dua buah kartu kepada Ria.
“Ini untuk mu, setelah menikah kau tidak perlu bekerja lagi di kafe. Yang gold untuk pengobatan ayahmu dan yang hitam untuk kebutuhanmu.” Ucap Dafa menjelaskan kartu yang baru saja diberikannya kepada Ria.
Ria menatap ke arah kartu yang diberikan Dafa.
“Ta-pi ini berlebihan, Pak. Saya cuman butuh untuk biaya pengobatan ayah, dan kalau saya tidak bekerja bagaimana saya membiayai ibu dan adik saya.” Ria memberanikan menatap ke arah suaminya, dia berharap suaminya memberikannya izin untuk tetap bekerja di kafe milik Rendy.
“Tidak bisa kau harus berhenti bekerja, fokus pada kuliahmu dan yang paling wajib kau harus fokus terhadap pengobatanmu. Aku tidak mau memiliki isteri yang penyakitan.” Ungkap Dafa secara kejam menusuk hati Ria, kalimat terakhir Dafa begitu menyakiti hatinya.
“Saya tidak bermaksud membuat Bapak mempunyai isteri yang penyakitan. Bapak sendiri yang meminta saya yang penyakitan ini, menjadi isteri Bapak.” Ria memberanikan diri menjawab semua yang Dafa ucapkan kepadanya.
Dafa yang tersadar dengan ucapannya itu seakan menolak untuk mengalah dari perdebatan di pagi ini menatap Ria dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Ria.
“Oleh sebab itu segera jalani pengobatanmu sebelum penyakitmu semakin parah, kau tidak lupa kan aku menikahimu untuk membantu kehidupan mu dan melunasi hutangmu terhadapku.” Ya, Dafa selalu mempunyai cara untuk membolak balikan ke adaan.
TBC🌝
Apakah hubungan Dafa dan Ria akan membaik?