Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Mediator Bagi Kita



...Kau mungkin bisa merebut senyumku berkali-kali, namun takan lama aku pasti akan tersenyum kembali....


...Kau mungkin bisa meruntuhkan jalanku, namun akan ku temukan jalan yang lain....


...Demi anakku, aku akan kuat menjalani takdir hidup ini. Maria Isnawan...


Selama di rawat di rumah sakit Ria hanya fokus menjaga Kesehatan nya, dia tidak mau terlalu banyak pikiran, setres dan berdampak pada kandungan nya.


Selama Ria berada di rumah sakit, Dafa selalu menunggu nya di luar ruangan.


Dia akan masuk ke dalam ruangan Ria, apabila sang istri sedang tertidur, dia baru berani mendekat ke tubuh sang istri nya.


Sempat Dafa mencoba menghampiri Ria saat dia sedang tidak tertidur yang berakhir dengan Ria yang marah dan bangkit dari tempat tidur nya hendak pergi.


Dafa tak ingin sang istri yang belum sembuh total itu pergi kabur meninggalkan rumah sakit, sehingga kali ini dia mengalah, dia akan bersabar sampai Ria tidak marah kepada nya.


Saat ini Ria sedang berbaring di tempat tidur nya, tadi pagi rasa mual, pusing dan lemas menghampiri nya.


Gejala morning sick ibu hamil di trimester pertama ternyata di alami oleh Ria, dia bahkan tidak bisa memakan sarapan nya karena selera makan nya tiba-tiba saja hilang.


Ria ingin pergi ke kamar mandi, dia merasa ingin buang air kecil tapi kepala nya terasa berat dan membuat nya malas untuk bangkit dari tempat tidur nya. Begitu lah biasanya jika menjadi ibu hamil di trimester pertama rasa malas kerap kali hinggap di tubuh.


Akhir nya setelah mengumpulkan niatnya, Ria mencoba untuk bangkit dari tempat nya walau dengan kepala yang masih terasa berat tapi dia akan sedikit memaksakan tubuh nya itu. Karena rasanya Ria sudah tidak tahan untuk segera membuang air kecil


Saat Ria bangun dari tempatnya, kepala nya terasa semakin berputar. Satu lengan nya berpegang pada tiang infus dan satu tangan nya lagi berpegang kepada meja nakas di samping berangkar nya.


Dia mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang mulai limbung, namun tangan Ria yang berpegang pada meja menyenggol gelas yang tersimpan disana hingga jatuh dan pecah.


Dafa yang mendengar suara pecahan kaca itu pun segera berlari ke ruangan kamar Ria, dia khawatir sesuatu terjadi pada istri nya itu.


Dan benar saja saat dia masuk ke dalam, dia melihat Ria yang sudah terduduk di lantai sambil sebelah tangan nya memegang kepala nya.


“Sayang, ada apa? Kau mau kemana?” Tanya Dafa sambil mencoba membantu Ria untuk bangun dari posisi nya.


Namun ternyata Ria masih kesal dengan Dafa, dia menepis tangan Dafa yang baru saja menyentuh tubuhnya.


Kemarahan Ria ternyata belum berkurang, dia masih tak ingin melihat Dafa.


“Jangan begitu Ria, ayo aku bantu kamu naik ke tempat tidur!” Dafa berkata sambil mencoba kembali menyentuh Ria untuk membantu nya.


Namun Ria kembali menolak bantuan dari Dafa, mata nya terpejam seolah menahan rasa sakit nya.


“Jangan menolakku Ria! Jangan egois! Tubuhmu belum cukup kuat.” Ucapan Dafa membuat Ria semakin merasa kesal, dia menguatkan diri untuk melihat ke arah suami nya dengan tatapan tajam.


Dafa masih memaksakan diri nya, dia kemudian mengangkat tubuh Ria, menggendongnya untuk kembali berbaring di tempat tidur.


“Lepas,Mas! Aku bisa sendiri!” Ria memberontak dalam pangkuan Dafa.


“Diam! Kau terlalu keras kepala.” Ucap Dafa dengan nada yang tegas, dia mulai terpancing emosinya.


Apa salah nya dia membantu Ria, ini juga dia lakukan demi Kesehatan Ria.


“Aku keras kepala? Kamu lebih baik berkaca Mas, siapa yang egois dan keras kepala itu?” Ria terpancing untuk membalas ucapan suami nya itu.


Tatapan mereka bertemu, mereka saling memandang dalam.


Ria yang memandang suaminya dengan tatapan marah dan kecewa, dan Dafa memandang Ria dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Suami? Suami seperti apa dulu kamu, Mas! Suami yang selalu menyiksa istri nya?” kali ini Ria semakin berani, dia seolah tak memiliki rasa takut terhadap suami nya itu. Dia tak mau lagi di tindas oleh suaminya.


“Lebih baik kamu kembali istirahat, aku akan berada di luar. Kalau butuh sesuatu, kamu bisa panggil aku!” Dafa mengalah, dia tahu Ria masih marah ditambah kondisi nya belum sepenuhnya pulih.


Dafa menghela nafasnya kemudian berbalik, dia hendak keluar dari ruangan Ria. Sampai kaki nya terhenti kala mendengar ucapan istri nya.


“Aku tak butuh bantuan mu!” Ria seolah tak puas memancing kemarahan Dafa.


Dafa kembali menatap Ria, tangannya sudah mengepal dia tidak suka dengan sikap Ria yang keras kepala seperti ini.


“Jangan memancing kemarahanku Ria, kamu takan mampu menahannya nanti! Dan, ehm ya.. aku lupa, ayah mu masuk kembali ke rumah sakit. Kalau kamu tak ingin pengobatan ayahmu di hentikan, jangan melawanku!”


Mata Ria mengembun, nafasnya tak beraturan kala mendengar kalimat suaminya itu, dia begitu marah karena ketidak mampuan nya melawan sang suami.


Apalagi kini, dia mendengar kabar sang ayah yang kembali masuk ke rumah sakit.


Kenapa? Ada apa dengan sang ayah? Kemarin saat bertemu dengan sang ayah kondisinya sangat baik, kenapa sekarang ayah nya tiba-tiba kembali masuk ke rumah sakit.


Ria ingin menghubungi ibu nya, tapi dia ingat dia tak membawa apapun ke rumah sakit, karena saat di bawa ke rumah sakit dia dalam keadaan jatuh pingsan.


Seketika perut Ria terasa keram, bayi dalam perut nya itu seolah ikut merasakan kegundahan hatinya.


“Ah. “ Ria menjerit terkejut karena rasa sakit di perutnya, dia menyentuh perutnya itu, mencoba mengelusnya dan menenangkan diri nya dengan mengatur nafasnya.


Air mata nya lolos tak kuat menahan sakit yang semula hanya di kepalanya, kini perutnya pun terasa sakit.


Dafa yang melihat itu seketika merubah raut wajahnya, yang tadinya menatap Ria dengan tatapan tajam kini dia menatap istri nya itu dengan tatapan khawatir.


“Ada apa? Yang mana yang sakit sayang?” Tanya Dafa panik saat melihat sang istri merintih kesakitan.


“Pe-perutku Mas, Ahh… sakit sekali!” Dafa yang melihat Ria meremas bagian perutnya itu pun mencoba menenangkan istrinya itu dengan mengelus bagian yang menurut istrinya itu sakit.


Seketika rasa sakit di perut Ria mereda, seperti ikatan batin anak dengan ayah nya. Dia tak ingin melihat orang tua nya bertengkar, dan ia ingin disentuh oleh sang ayah.


“Sebentar biar aku panggilkan dokter.” Ucap Dafa, dia akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi istri nya itu.


“Tidak usah Mas, sakit nya sudah mereda.” Ucap Ria membenarkan posisi nya sambil terus mengatur pernafasannya.


“Apa kau tak ingin melihat bunda dan ayah bertengkar nak? Apa kau ingin di sentuh ayahmu? Maafkan bunda ya sayang.” Ucap Ria dalam hati, sambil tangan nya mengelus bagian perut dimana anaknya berada.


“Kau yakin sudah lebih baik?” tanya Dafa.


“Hem, perutku sudah tidak sakit lagi.” Ria menganggukan kepalanya.


“Apa mau aku elus lagi? Apa boleh?” tanya Dafa ragu, dia takut istri nya tak memberikan izin.


“I-iya Mas.” Ria menjadi kaku kala sang suami bertanya dengan menatap mata nya.


Ria tak mau egois, dia tak ingin sang anak mendapatkan dampak dari pertengkarannya dengan Dafa, anak itu bahkan belum lahir ke dunia.


Akan tidak adil baginya, jika Ria egois dengan menjauhkan nya dari sang ayah. Tidak, Ria takan tega merusak kebahagiaan anak nya.


TBC🌝