
Hati Ria yang rapuh dihancurkan begitu saja oleh sifat dingin dan egois suami nya.
Ria merasa bersyukur dia memiliki mama mertua yang baik hati dan menganggapnya seperti anak nya sendiri.
Setelah mendengar ucapan mama Maya, Ria mencoba membalikan tubuhnya, kini ia menghadap mama Maya yang masih menatap nya. Ria menatap mama Maya dengan tatapan yang pilu, mama Maya yang mengerti kondisi Ria kemudian mencoba memberikan kekuatan lewat tatapan dan kasih sayang yang dia berikan.
“Ma..” Kali ini Ria mulai mengeluarkan suara nya.
“Iya sayang” Jawab mama Maya
“Apa aku tidak pantas menja-di seorang i-bu? Me.. mengapa Tuhan te-ga ma mengambil dia dari hidupku?” Dengan suara yang bergetar menahan tangisan nya yang mulai pecah Ria menumpahkan kesedihan nya kepada mama mertua nya itu.
“Ssshh, gak boleh bilang gitu. Tuhan pasti tahu, mungkin kali ini Ria dan Dafa belum siap untuk memiliki anak. Mungkin, Tuhan sedang menyiapkan hal terbaik untuk Ria, contohnya mungkin Tuhan ingin Ria lulus kuliah dulu dan usaha Dafa sukses dulu supaya nanti kalian bisa memberikan yang terbaik pada titipan yang Tuhan berikan.” Ucap mama Maya yang berbicara dengan senyuman hangat, tangan nya sesekali membelai anak rambut Ria yang terlihat berantakan.
“Ingat, semua yang kita miliki di dunia adalah titipan juga. Jadi kapanpun Tuhan menginginkan nya kembali, saat itu kamu harus siap kehilangan dan berdo’a semoga nanti dipertemukan kembali.”
Ria hanya terisak dalam tangisan nya yang mendalam, dia benar-benar tidak mampu mengucapkan apapun lagi karena hati nya pilu.
Ria hanya memejamkan mata nya menahan pedih hatinya, sesekali telapak tangan nya mengusap air mata yang kian membanjiri wajah cantiknya.
Maya yang ikut merasakan kepedihan hati Ria, menarik tubuh Ria dalam pelukan nya. Kali ini dalam pelukan mama Maya, tangisan Ria semakin pecah seolah Ria mempunyai pundak untuk nya menumpahkan tangisan nya.
Maya yang mendengar suara tangisan Ria, bulir bening ikut mengalir di pipi nya. Jujur Maya pun merasakan sedih dan kecewa, dia harus merasakan kehilangan calon cucu pertama nya yang dia idam-idamkan.
“Sabar sayang, sabar. Kamu boleh menangis tapi tidak boleh terus larut dalam kesedihan.” Ucap Maya sambil mengelus punggung Ria.
Lambat laun Ria yang menangis dalam pelukan mama Maya tertidur dalam tangisan nya, setelah membaringkan kembali tubuh Ria, Maya mengambil ponsel nya dia akan mencoba menghubungi Dafa yang sejak semalam tidak dapat di hubungi.
Namun kembali tidak ada jawaban dari Dafa, Maya menghela nafasnya pelan dia merasa Dafa terlalu kelewatan meninggalkan Ria yang sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit sendirian. Maya melihat kea rah Ria yang kini sedang tertidur, bekas air mata di pipi nya masih nampak terlihat.
Mama Maya
(Dimana kamu? Segera datang ke rumah sakit.)
Lama menunggu balasan, namun mama Maya masih tak mendapatkan balasan dari putra nya itu.
Sedangkan di tempat lain, Dafa yang baru saja terbangun dari tidur nya melihat ke arah ponsel nya yang sedari tadi berbunyi.
Dafa melihat banyak panggilan dan pesan dari papa dan mama nya, yang meminta Dafa untuk segera datang ke rumah sakit untuk menemani Ria.
Dafa merasa masih enggan menjawab atau melangkahkan kaki nya ke rumah sakit. Tak lama suara bel apartement Dafa berbunyi, dengan langkah perlahan dan rasa malas Dafa membuka pintu apartement nya.
“Selamat siang tuan.” Ucap Reza yang ternyata kini sudah berada di depan Dafa ketika membuka pintu.
Reza memperhatikan penampilan Dafa yang terlihat sangat berantakan, pakaian yang Dafa kenakan masih sama dengan pakaian yang kemarin dikenakan oleh Dafa.
Yang berarti, Dafa bahkan tidak mengganti pakaian nya sejak kemarin. Rambut nya nampak berantakan, wajah Dafa terlihat kusut menampilkan sosok seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.
“Hem, ada apa?” Tanya Dafa malas.
“Anda tentu tahu mengapa saya sampai datang kemari tuan.” Jawab Reza.
“Jika kau kemari karena ingin menyuruhku untuk datang ke rumah sakit, itu arti nya usaha mu sia-sia.” Ucap Dafa.
“Saya tidak akan memaksa, tapi perusahaan masih membutuhkan anda untuk datang ke kantor. Dan lagi, saya rasa anda tidak mau menyesal jika nanti nona Ria pergi meninggalkan anda.” Reza seolah mengingatkan Dafa agar mau berpikir jernih.
“Untuk apa aku memperkerjakan kamu, kalau masalah perusahaan saja aku masih harus datang ke sana.” Ucap Dafa acuh menanggapi ucapan Reza.
“Ya, benar soal perusahaan bisa saya handle. Tapi tidak dengan urusan nona Ria, Tuan.” Jawab Reza
Kali ini Dafa mulai terdiam, dia menghela nafasnya.
Dia seketika teringat akan kejadian kemarin malam, saat dia mengetahui kandungan Ria yang tidak bisa dipertahankan. Dafa berdecih, dia seolah ingat rasa sakit karena kecewa ketika Ria tidak jujur pada Dafa tentang kehamilan nya.
“Jika kau mau, kau saja yang menemani Ria di rumah sakit. Aku sedang tidak ingin di ganggu!” Ucap Dafa yang kemudian akan menutup pintu.
Reza yang melihat dan mendengar semua jawaban Dafa tersenyum, dia tahu saat ini Dafa sedang dilanda rasa egois yang tinggi. Antara Dafa dan Ria kedua nya sama-sama sedang merasakan terluka karena tragedi kemarin.
“Baiklah tuan, tapi saya harap anda pertimbangkan kembali untuk datang ke rumah sakit. Saya akan menunggu di luar, kali saja anda berubah pikiran.” Jawab Reza
“Tunggu lah disana sampai kau menua.” Ucap Dafa tak lama pintu apartement itu pun tertutup.
Reza yang ternyata tidak dapat membujuk Dafa untuk datang ke rumah sakit, segera mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang. Dia mengirimkan pesan kepada Lukaz dan Maya, mengabarkan jika Dafa berada di apartement nya yang biasa ditempati oleh Ria dan Dafa. Dia juga memberikan kabar, bahwa Dafa masih belum mau menemui Ria di rumah sakit.
Sedangkan Dafa di balik pintu yang baru di tutupnya, dia menyenderkan tubuhnya menatap ke atas. Sesekali Dafa mengusap wajah nya, dia sebenarnya merasa kasihan dan tidak tega dengan keadaan Ria.
Tapi kali ini rasa marah memupuk egois nya tumbuh membesar, Dafa tidak mau bertemu atau menemui Ria dulu karena dia masih merasa kecewa kehilangan calon anak nya.
Dia membenci ketika Ria menggunakan rasa tidak percaya nya kepada Dafa sehingga tidak jujur soal kehamilan nya, sampai mengakibatkan kandungan Ria yang memang lemah tak terselamatkan.
Seandainya Ria memberitahukan perihal kehamilan nya, tentu Dafa akan sangat bahagia. Dafa akan menjaga dan melimpahkan kasih sayang untuk Ria dan calon anak nya, dan mungkin juga Dafa bisa menahan rasa emosi nya ketika merasa cemburu.
“Biar saja dia merasakan kepedihan yang sama denganku.” Ucap Dafa.
********
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari ini tepat satu bulan setelah Ria mengalami keguguran. Dan jangan ditanya bagaimana kondisi hubungan Ria dan Dafa saat ini, Dafa masih tenggelam dengan kebodohan nya.
Sejak hari itu Dafa sama sekali tidak pernah mengunjungi Ria, dia tidak pernah berniat menemui istri nya itu.
Dia hanya akan bertanya sesekali melalui Reza, mau tak mau Reza selalu memberikan informasi mengenai Ria kepada Dafa.
Kondisi Ria sejak hari itu memburuk, Ria selalu berdiam diri, tidak pernah berbicara bahkan tubuhnya terlihat sangat kurus.
Tanda hitam tercetak jelas di kelopak mata nya, hari ini mama Maya dan juga papa Lukaz berniat untuk membawa ibu Inka datang ke rumah utama.
Karena kondisi ayah Matien yang baru sehat, mama Maya berniat untuk meminta waktu ibu Inka sebentar menjenguk kondisi Ria.
Karena sudah beberapa hari Ria tidak makan sama sekali, dia hanya akan meminum air putih. Kondisi nya memburuk ditambah penyakit asam lambung yang dimiliki oleh Ria selama ini.
Selama beberapa hari ini juga komunikasi mama Maya dan ibu Inka berjalan lancar, saat Ria masih berada di rumah sakit mama Maya dan papa Lukaz mendatangi ibu Inka.
Mereka meminta maaf secara langsung, dan mengabari tentang kondisi Ria, namun saat itu kondisi ayah Matien yang belum stabil membuat ibu Inka belum bisa menjenguk Ria.
Ya, Ria memang tidak memiliki penyakit gagal ginjal. Tapi Ria memiliki penyakit asam lambung yang sudah parah, ditambah beberapa hari ini Ria selalu melewatkan jam makan nya.
“Selamat datang mba Inka, terima kasih karena sudah datang.” Sapa mama Maya yang kini melihat kedatangan ibu Inka di rumah utama.
“sama-sama nyonya, sudah kewajiban saya sebagai ibu nya Ria untuk mengunjungi anak saya.” Jawab ibu Inka.
“Panggil Maya saja, lagian kita adalah besan.” Ucap Maya sambil tersenyum.
“Baiklah, mba Maya. Dimana Ria? Bagaimana kondisinya?” Tanya Inka
“Dia berada di kamar, seperti yang sudah aku ceritakan. Kondisi Ria semakin parah, aku sangat khawatir karena sejak kemarin dia tidak makan sama sekali.” Ucap Maya dengan wajah sendu
“Ya Tuhan,.” Ucap Inka sedih mendengarkan kabar putri nya itu.
“sebaiknya kita segera melihat keadaan nya, siapa tahu setelah bertemu ibu nya Ria menemukan semangat nya.” Maya merangkul bahu Inka mengajak nya segera ke kamar Ria.
Saat pintu terbuka, mata Inka seketika mengembun dia tidak sanggup melihat putri nya yang terlihat seperti orang depresi. Selama ini, jika sedang ada masalah Ria selalu memaksakan diri nya untuk tersenyum, tapi sekarang Inka bahkan tidak melihat itu.
“Ria… ibu datang nak.” Hati Inka berdesir kala
menyapa putri nya yang sedang berdiam diri menatap lurus sambil berselonjor di atas tempat tidur.
Ria bahkan tidak berniat melihat ke arah suara yang menyapa nya, seolah mata dan telinga nya mati bersama rasa bahagia nya.
“Sayang, ini ibu masak ayam kecap kesukaan kamu nak. Ibu sengaja datang menjenguk putri ibu.” Ucap Inka yang kini duduk di bibir tempat tidur.
Ria masih belum mau merespon ucapan ibu nya itu. Inka menguatkan hati nya, dia tidak mampu melihat kondisi anak nya yang seperti ini.
Maya yang melihat semua berusaha menguatkan Inka, dia menyentuh bahu Inka seolah memberikan kekuatan agar Inka tidak menangis di hadapan Ria.
“Ria sayang, lihat ibu datang nak. Sekarang ada mama juga ada ibu.” Ucap Maya yang mencoba memancing Ria untuk merespon.
Namun rasanya usaha Maya dan Inka sia-sia, Ria masih setia dengan kebisuan nya.
“Sayang, maafkan ibu baru sempat datang. Ayah baru saja sembuh, dia sudah kembali ke rumah lagi.” Saat Inka mengucapkan kata ayah barulah mata Ria mengerjap.
Maya dan Inka yang melihat respon positif dari Ria setelah mendengar kabar tentang ayahnya, merasa senang.
“Kamu mau bertemu ayah?” Tanya ibu Inka lagi untuk memancing respon Ria.
Ria yang mendengar ucapan sang ibu akhir nya merespon dengan sangat baik, Ria kini menatap ibu nya itu walaupun masih belum ada kalimat yang terucap dari mulut nya.
“Kalau kamu mau ketemu ayah, kamu harus terlihat sehat. Kamu harus makan, kamu gamau kan ayah sakit lagi karena melihat kondisi mu yang seperti ini.” Ucap ibu Inka, dia kemudian menyentuh tangan putri nya itu.
Inka berusaha memberikan kekuatan lewat sentuhan tangan nya. Walau belum sepenuhnya membaik, namun sedikit respon yang diberikan oleh Ria membuat hati mama Maya dan Ibu Inka sedikit lega.
Ria bahkan sudah mau memasukan beberapa sendok makanan yang dimasakan oleh ibu nya itu, walaupun memang tidak sampai habis.
TBC🌝