
Ria yang masih di landa ketakutan itu, dalam dirinya sedang mengontrol agar dirinya bisa lebih tenang, kembali dalam pikirannya dia tidak ingin sesuatu nanti terjadi pada kandungan nya.
Ria mengatur pernafasan nya, dia mencoba merilekskan dirinya di hadapan sang suami.
“Ti-tidak mas, to-tolong biarkan aku sendiri dulu.” Ucap Ria dengan pandangan yang menunduk.
Ria bahkan tak sanggup dan tak mau menatap mata suaminya, dia merasa takut jika emosi Dafa kembali hadir membahayakan nya.
Dafa sendiri mengerti Ria pasti sedang takut kepadanya, perbuatan nya kepada Ria memang sudah keterlaluan dia akan memberikan waktu untuk Ria, dia akan membuktikan keseriusan nya, dia menyesal sudah melukai Ria kemarin.
“Baiklah, tapi Ria… satu yang harus kamu tahu bahwa aku benar-benar menyesal. Aku tahu ini tak mudah untuk membuat kamu percaya kembali, tapi aku akan membuktikan nya, aku mencintaimu Ria, sangat!” Dafa menatap dalam wajah istri nya, dia mengatakan nya dengan tulus dan penuh keseriusan.
Ria yang masih berdiri di posisi nya, kini mengangkat kepala nya. Dia mulai mencoba berani menatap ke arah mata suami nya, memang tidak bisa dia menemukan kebohongan dari mata sang suami setiap dia mengucapkan kalimat cinta.
Namun sikap arogan Dafa terkadang membuatnya merasa muak terus di lukai.
“Tidak perlu kebawah kamu istirahat saja disini, biar aku yang ke bawah.” Lanjut Dafa, dia akan membiarkan Ria beristirahat di kamar.
************
Setelah mengatakan permohonan maaf dan juga ketulusan nya mencintai Ria, tidak terasa hari berganti hari kini sudah seminggu sejak Dafa berbicara kepada Ria.
Sejak hari itu Dafa memberikan jarak dengan sang istri, Dafa terkadang sengaja pulang kerja larut malam, dia juga kini sudah mulai terjun mengurus perusahaan dan rumah sakit.
Lukaz memberikan syarat akan membantu Dafa dengan syarat Dafa mau terjun membantu bisnis nya, Dafa yang berpikir panjang akhirnya setuju dengan syarat yang di ajukan oleh papa nya.
Dia dan juga Ria masih tinggal di rumah utama, karena Dafa melihat Ria masih sering kali lemas dan asam lambung nya sering kumat.
Dafa selalu menyembunyikan rasa perhatian nya, dia selalu meminta mama nya ataupun maid yang bekerja dirumah untuk membantu dan memperhatikan Ria.
Karena jika Dafa yang melakukan Ria akan menolak dan memancing perdebatan di antara mereka, Dafa tidak mau Ria semakin trauma jika berdekatan dengan Dafa.
Tanpa Dafa ketahui sikap nya yang seperti itu membuat Ria semakin terluka, Ria merasa apa yang di ucapkan Dafa tidak sungguh, bahkan kini mereka sangat jarang berinteraksi.
Kadang Ria menyadari Dafa yang sengaja pulang larut untuk menghindari nya, karena pernah suatu malam Ria yang merasa haus pergi ke dapur untuk mengambil minum melihat Dafa yang sedang duduk di sofa dengan mengadahkan kepala nya ke atas sambil mata nya terpejam.
“Jika Mas Dafa lelah mengapa dia tidak beristirahat di kamar? Apa dia memang menghindariku? Apa begitu caranya membuktikan rasa cintanya?” Ucap Ria dengan bulir bening yang mengalir di pipi nya.
Malam itu Ria semakin terluka, hormon kehamilan benar-benar membuat mood nya tak tentu. Kadang dia benci melihat Dafa, kadang dia juga terluka kala melihat Dafa menghindari nya.
Dafa bahkan jarang sekali menyapa nya, saat pagi hari Ria akan bangun dengan Dafa yang sudah tidak ada di kamar nya, ketika waktu sarapan lah mereka akan bertemu, itu pun Dafa jarang berbicara dengan nya, dia akan fokus dengan sarapan nya kemudian setelah itu dia akan pergi berangkat kerja, walaupun saat akan berangkat Dafa sering mengecup ujung kepala nya namun Dafa tidak mengucapkan apapun.
Ria merasa tersiksa dan terluka, dia merasa merindukan suami nya. Padahal apa yang di lakukan oleh Dafa adalah permintaan Ria sendiri, Ria yang meminta kepada Dafa untuk memberikan waktu sendiri agar Dafa tidak mengganggunya tapi malah dia yang kecewa akan permintaannya sendiri.
Tanpa Ria ketahui, Dafa juga sama terluka nya, dia merasa sakit yang sama dengan Ria karena menahan rasa rindu nya, Dafa terpaksa memberikan jarak dan waktu untuk sang istri dia tidak mau Ria yang luka nya belum pulih sepenuh nya merasa terluka kembali.
Dafa menghabiskan waktu nya dengan bekerja agar pikiran dan hati nya tidak selalu menuntut nya untuk memeluk sang istri.
Seperti saat ini, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dafa baru saja memasuki rumah utama, dia masuk ke dalam kamarnya karena dia mengira Ria sudah tertidur, saat itu lah dia akan meleburkan rasa rindu nya pada sang istri dengan menatap wajah sang istri sampai dia terlelap.
Namun Dafa di kejutkan ketika dia memasuki kamar ternyata lampu kamar belum di padamkan dan Ria masih duduk di ranjang melamun, lamunan Ria buyar kala melihat Dafa masuk ke dalam kamar.
“Kau belum tidur?” Tanya Dafa yang kemudian sibuk melepaskan jas sambil menaruh tas kerja nya di meja yang berada di kamar nya.
Dafa kemudian berjalan ke walk in closet dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya, saat selesai dengan kegiatan membersihkan diri nya Dafa kembali dikejutkan dengan Ria yang masih setia dengan posisi nya itu.
“Tidurlah, ini sudah larut.” Ucap Dafa dengan mengehal nafasnya dan memalingkan pandangan nya, Ria yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Dafa kembali terluka, Dafa yang biasa nya selalu menatap nya ketika berbicara kini tak lagi menatap nya.
Dafa sendiri merasa tak nyaman dengan kondisi kamar saat ini, dia memilih untuk membuka laptop nya membuat waktu nya tersita sambil menunggu rasa kantuk menghampiri sang istri.
Dafa tak punya banyak keberanian merebahkan tubuhnya ketika sang istri masih terjaga, dia seolah memiliki rasa takut Ria akan menolaknya atau dia takut Ria terluka lagi karena nya.
Dia juga takut tidak bisa mengontrol emosi nya karena hari ini dia merasa lelah, mengurus tiga pekerjaan sekaligus tubuh sekuat Dafa pun ternyata merasakan lelah.
“Apa begitu caramu membuktikan?” Ria yang sudah tidak bisa menahan diri, apalagi rasanya kehamilan ini membuatnya tersiksa berjauhan dengan sang suami. Akhir nya bertanya kepada Dafa.
Dafa yang merasa Ria bertanya kepada nya segera melihat ke arah Ria, dia merasa heran dengan pertanyaan istri nya itu. Apalagi yang salah sekarang? Dia sedang menuruti permintaan nya?
Dafa merasa dia sedang tidak siap untuk berbicara dengan istri nya itu, pekerjaan nya hari ini menguras tenaga, pikiran dan kesabaran nya.
Dia benar-benar berharap saat pulang sang istri sedang tertidur dan dia menikmati wajah istri nya, memberi supply enegergi ke tubuhnya dengan teduh nya wajah sang istri.
“Apa maksud mu sayang?” Tanya Dafa, nada nya masih lembut dia akan berbicara baik-baik agar Ria bisa segera tertidur dan dia pun segera tertidur, Dafa merasa benar-benar lelah hari ini.
“Apa begitu cara mas membuktikan keseriusan mas? Dengan menjadikan aku boneka pajangan di rumah ini?” Tanya Ria yang mulai memancing kesabaran Dafa.
“Aku sungguh tidak mengerti, lebih baik kamu istirahat ini sudah malam.” Ucap Dafa dia tidak mau perbincangan malam ini berakhir dengan perdebatan, tubuh dan pikiran nya benar-benar sedang lelah.
“Sekarang aku benar-benar tahu, semua yang kamu ucapkan adalah dusta.” Dafa terkejut kala mendengar ucapan sang istri, dia benar-benar tidak percaya semua yang dia lakukan untuk Ria dianggap sebuah dusta.
“Aku mohon Ria, aku sedang tidak ingin berdebat dan menyakitimu. Aku sedang lelah.” Ucap Dafa yang masih mengontrol kesabaran nya, dia akan membujuk Ria dengan sisa kesabaran yang dia miliki.
Namun ternyata perempuan sulit di mengerti, permohonan nya yang sedang merasa lelah seolah menggambarkan Dafa tidak berkaca, bagi Ria dia yang lelah hidup dengan tuntutan yang diberikan oleh Dafa dengan harus selalu bersama nya.
“Mas pikir aku tidak lelah? Aku rasa harusnya aku yang berkata seperti itu. Mas harusnya berkaca selama ini hidup aku lelah bersama mas!” Ucap Ria yang memang sudah emosi sedari awal kepulangan Dafa, Ria memang sudah berniat untuk berbicara dengan Dafa karena dia tidak bisa melihat Dafa yang menghindari nya.
“RIA! Aku mohon malam ini saja jangan kekanakan, aku sedang lelah dengan pekerjaan ku, dan aku juga tidak akan mengganggu mu.”
Pedih, Dafa mengatakan Ria kekanakan? Tanpa Dafa ketahui perjuangan nya selama ini yang dituntut untuk dewasa, bahkan dia merasa tidak pernah dia menjadi putri kecil yang manja.
Di usia nya yang baru 19 tahun itu pun dia rela kuliah sambil bekerja demi sang ayah, dia bahkan menikah disaat gadis seumuran nya menghabiskan waktu dengan bermain.
“Ya! Aku memang kekanakan, kalau Mas merasa lelah dengan anak kecil ini lebih baik mas lepaskan aku dan nikahi saja sahabat Mas yang dewasa itu.”
Ya, selama seminggu ini Ria mengetahui Dafa sempat akan di jodohkan oleh kedua orang tua nya dengan Thannia sahabat Dafa yang merupakan dokter di rumah sakit Wijaya, dan Ria merasa perubahan Dafa di mulai saat dia mengurus rumah sakit itu karena mulai tertarik kepada Thannia karena selalu bertemu di rumah sakit.
“Kau ini apa-apaan sih Ria? Ya, teruslah tenggelam dalam pikiran mu.” Dafa segera bangkit dari posisi nya, dia keluar dari kamar dan membanting pintu kamar.
Ria terkejut kala mendengar dentuman suara pintu yang di banting oleh Dafa, dia merasa sesak melanda. Bukan nya membujuk nya yang sedang merajuk, sang suami malah memilih untuk meninggalkan nya seorang diri.
Bulir bening mulai membasahi pipi nya, Ria tidak bisa lagi menahan tangisan nya. Dia benci, dia merasa kesal mengapa juga dia harus berada di posisi saat ini, tak lama perut nya terasa keram.
Dalam tangisan nya Ria meringkuk kesakitan, dia memang tidak boleh banyak pikiran dalam kehamilan di usia muda sangat rentan.
TBC🌝