Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Raganya Hidup, Jiwanya Mati



Ibu Inka dan mama Maya menemani Ria dari pagi sampai sore, mereka bertiga bercerita tentang masa kecil Ria yang periang dan menceritakan berbagai hal agar Ria tidak merasa sendiri.


Sampai tiba lah waktu nya, ibu Inka harus kembali pulang. Karena ibu Inka sendiri tidak berbicara jujur kepada ayah Matien tentang kepergian nya yang menjenguk Ria, ibu Inka menitipkan ayah Matien kepada seseorang yang ditugaskan oleh mama Maya untuk membantu ibu Inka di rumah nya untuk mengurus ayah Matien dan segala keperluan nya.


“Ria, ibu pamit pulang dulu ya.. kasihan ayah di rumah, kamu tahu kan ayah tidak bisa hidup tanpa ibu.” Ucap ibu Inka seolah menggoda Ria.


Setelah mengecup kening putri nya, ibu Inka berniat keluar dari kamar Ria sampai suara dari seseorang yang begitu di rindukan terdengar.


“Ibu, aku ingin pulang.” Ucap Ria dengan mata yang sudah mengembun.


Inka dan Maya yang mendengar suara Ria begitu senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan.


Inka sebenarnya ingin membawa pulang Ria, tapi dia tidak mungkin membiarkan suami nya tahu kondisi anak nya, dia juga merasa bingung harus bagaimana memilih.


“Nanti Ria bisa ikut pulang sama ibu setelah sembuh ya..” ucap ibu Inka lembut dia menarik nafas nya dalam, menetralisir rasa sedih nya.


“Sekarang Ria harus fokus sembuh dulu, harus mau makan yang banyak dan minum obat. Ria tidak mau kan ayah semakin sedih dan kembali sakit melihat kondisi putri kesayangan nya yang seperti ini.” Lanjut Inka


“Tapi Ria tidak mau disini bu, Ria ingin pulang.. Ma, Tolong ijinkan Ria ikut bersama ibu.” Ucap Ria kepada Maya dan Inka.


“Ria, bersabarlah sebentar lagi.. sampai kamu sembuh ya.. Ria sayang ibu dan ayah kan?” Tanya Inka.


Ria menjawab dengan menganggukan kepala nya perlahan.


“Kalau begitu Ria harus nurut sama ibu, Ria harus sehat.” Ucap Inka.


Akhir nya ibu Inka pulang tanpa membawa Ria, Inka sebenarnya sangat ingin membawa Ria. Ibu Inka merasa khawatir dan takut jika Ria kembali disakiti, tapi ibu Inka tidak punya pilihan lain suami nya masih belum stabil dia takut ayah Matien kembali masuk rumah sakit setelah melihat kondisi putri nya.


Saat di dalam mobil yang mengantarkan nya pulang, barulah air mata Inka tumpah. Hati seorang ibu mana yang tidak terluka, melihat putri satu-satu nya yang begitu hancur raga nya mungkin masih hidup tapi jiwa Ria seolah mati.


Bahkan Dafa seorang suami yang di harapkan bisa menjaga putri nya itu, tidak pernah mengunjungi Ria sama sekali.


Setelah kepulangan ibu Inka, mama Maya segera pergi keluar. Dia berniat menghampiri Dafa di apartement nya, dia akan mencoba lagi menyadarkan putra nya.


Mama Maya tahu saat ini Dafa sudah pulang dari kantor nya, dia akan menghampiri Dafa sebelum semua nya terlambat.


Mendengar ucapan Ria yang ingin pulang bersama ibu nya, membuat Maya khawatir akan nasib pernikahan anak nya. Dia tidak mau pernikahan sang putra hancur, dan dia juga tidak mau Dafa baru menyesal setelah kehilangan Ria.


Ting.Tong


Suara bel mengganggu keheningan yang Dafa ciptakan, biasanya Dafa akan pulang larut malam. Namun kali ini pekerjaan nya selesai lebih cepat, dan biasa nya jika seperti itu Dafa akan menciptakan kesunyian di dalam apartement nya.


Dia akan melanjutkan pekerjaan nya atau jika tidak dia hanya akan berdiam diri merenung.


Saat mendengar suara bel berbunyi, Dafa tidak langsung membuka kan pintu nya.


Dia seolah sedang malas untuk bertemu seseorang, semenjak kejadian di rumah sakit sikap Dafa semakin dingin dan tak terjangkau.


Dafa semakin ganas dalam pekerjaan nya, selama sebulan ini Dafa bahkan berhasil menumbangkan beberapa perusahaan besar yang bersaing dengan perusahaan Wijaya.


Dafa yang sedang memejamkan matanya, terkejut kala mendengar suara password apartement nya berbunyi. Tak lama pintu terbuka, menampakan mama Maya yang di ikuti oleh Reza di belakangnya.


Entah darimana mama Maya dan Reza tahu password pintu apartementnya, dia semakin malas setelah melihat kehadiran mama dan asissten nya itu. Dafa yang sedang duduk di sofa itu memejamkan matanya, dia seolah menghindari mama nya dengan pura-pura tertidur.


“Tidak usah berpura-pura tertidur! Mama tahu kamu tidak sedang tertidur!” Ucap mama Maya saat sudah berada di hadapan putra nya itu.


Namun Dafa yang mendengar ucapan mama nya itu, seolah tak terusik sama sekali. Seketika mama Maya mengambil bantal sofa dan melemparkan nya ke wajah Dafa.


Dafa yang terkejut mendapat lemparan bantal di wajah nya, mengaduh kesakitan.


“mama apaan sih, kenapa mama lempar Dafa pake bantal.” Ucap Dafa kesal.


“Masih mending mama lempar pake bantal, belum kamu mama lempar ke api neraka!.” Jawab mama Maya tak kalah kesal dengan ucapan Dafa.


“Dasar suami tidak bertanggung jawab! Kamu itu harus segera bertaubat sebelum di laknat Tuhan Dafa.” Ucap mama Maya


“Kalau mama kesini mau ceramah, Dafa sedang lelah lebih baik lain kali saja.” Ucap Dafa bergegas bangkit dari posisi nya.


“Yaaaaaa, lakukanlah Dafa! Puas-puasin kamu hidup dengan semaumu, jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan dua orang sekaligus.” Ucap mama Maya dengan berteriak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.


Dafa yang mendengar ucapan mama nya itu menghentikan langkahnya, kehilangan dua orang? Apa yang mama nya maksud itu.


“Apa maksud mama?” Tanya Dafa.


Dafa yang masih merasa kesal karena mama nya, mengambil tab yang berada di tangan mama nya itu. Dia membuka tab itu, terlihat sebuah rekaman cctv yang telah dipasang oleh mama Maya di dalam kamar Dafa.


Dari sana Dafa bisa melihat keadaan istri nya itu, Ria tengah berdiam diri menyandarkan tubuhnya di tempat tidur, tubuhnya terlihat kurus dan menyedihkan.


Lama Dafa memperhatikan rekaman cctv itu, tidak sama sekali menampilkan Ria melakukan kegiatan, Ria setia dengan posisi dan pandangan nya.


“Ria tersiksa Dafa, dia kehilangan semangat nya, dia seperti orang mati. Apa kau tahu bahkan Ria tidak bisa memakan makanan nya, dia menjadi bisu dan tuli tenggelam dengan kesedihan nya.” Ucap mama Maya yang kini sudah berlinang air mata.


Mama Maya berharap setelah berbicara dan memperlihatkan kondisi Ria, pintu hati Dafa akan terketuk mau menemui dan meminta maaf kepada Ria.


Kening Dafa menyatu, dia memang jarang menanyakan kabar Ria kepada Reza walaupun berkali-kali Reza berusaha memberitahu tentang keadaan istrinya itu tapi Dafa akan menolak membahas Ria.


Namun Dafa tidak mengira Ria akan seperti ini, Dafa pikir selama Ria berada di rumah utama dia akan baik-baik saja.


Dafa segera berlari keluar apartement, meninggalkan mama Maya dan Reza. Dia benar-benar tidak menyangka Ria bisa kehilangan hidupnya, Dafa lupa apa yang dirasakan nya sama dengan yang di rasakan oleh Ria bahkan lebih parah.


Kini Dafa melajukan kendaraan nya menuju ke rumah utama, dia akan segera menemui istri nya itu. Seketika rasa bersalah tumbuh di hati nya, dia memang terlalu egois meninggalkan istri nya itu seorang diri setelah kehilangan calon anak nya.


Ketika sampai di rumah utama, Dafa segera bergegas menuju ke lantai dua dimana kamar nya berada. Di depan pintu kamar Dafa menetral kan nafas nya, dia menguatkan diri nya untuk bertemu dengan Ria.


Saat membuka pintu kamar, Dafa merasa ada sebuah belati yang menusuk hati nya kala melihat Ria yang sama sekali tidak merespon kedatangan seseorang di dalam kamar nya. Benar kata mama Maya, Ria seolah menjadi tuli dan bisu, dia hanya berdiam diri menatap kosong.


Tubuhnya kurus tak terurus, kantung mata tercetak jelas di wajah nya. Dafa menelan saliva nya kasar, tangan nya mengepal sempurna dia merasa marah dan kesal dengan diri nya sendiri. Bukankah ini yang dia harapkan? Membiarkan Ria seorang diri meresapi kesedihan nya.


Mengapa kali ini Dafa seolah tak sanggup melihat Ria yang terluka sampai sebegini nya, Dafa menguatkan diri nya, dia melangkah pelan menghampiri istri nya.


Bahkan ketika Dafa berada disamping nya, Ria sama sekali tidak merespon apa pun dia masih setia dengan posisi nya.


Dafa mendudukan diri nya di samping tempat tidur, seperti posisi ibu Inka tadi. Dafa menatap wajah Ria dengan tatapan terluka, bahkan Ria sama sekali tidak merasa terusik dengan kehadiran nya, Dafa mengadahkan kepalanya dia menghirup udara sebanyak-banyak nya.


“Sayang….” Panggil Dafa pelan, Dafa bukan orang pertama yang memanggil Ria dengan bulir bening yang siap luruh di wajah nya.


Dafa melihat Ria sama sekali tidak merespon panggilan nya, pandangan Ria menatap kosong kehancuran benar-benar menghabisi hidup Ria.


“Sayang, a-aku datang. Ma-af aku…” Dafa tak mampu melanjutkan kalimatnya, dia semakin merasa bersalah dan terluka melihat keadaan Ria.


“Sayang..” Dafa mencoba memanggil kembali Ria, kali ini tangan Dafa terulur menggapai tangan Ria dia menggenggam tangan istri nya yang ternyata dia rindukan.


Rasa rindu di hati Dafa tertutup oleh perasaan marah dan egois nya, dia benar-benar salah selalu mengikuti nafsu nya.


“Aku bersalah sayang, hukum saja aku tapi tolong bicaralah Ria…” ucap Dafa dalam tangisan nya.


“aku begitu larut dalam kekecewaan, aku tahu aku bodoh Ria, aku menghancurkan mu terus menerus tolong jangan begini, harus nya kamu memukulku, kamu memaki aku bukan berdiam seperti ini.”


“Maaf karena aku malah menambah luka, aku hancur saat kita kehilangan calon anak kita, aku kecewa karena kamu tidak memberitahu tentang kehamilan mu sayang.”


Entah mengapa saat Dafa mengucapkan kehilangan calon anak kita, seketika tubuh Ria merespon. Dia kembali mengingat kesakitan yang dia rasakan saat calon anak nya tak bisa diselamatkan.


Saat itu juga tiba-tiba tangisan Ria tak terbendung, Ria seolah kembali merasa sakit yang begitu dalam. Dia menarik rambutnya, menekuk kaki nya untuk menyembunyikan wajah nya yang sedang berlinang air mata.


Dafa yang melihat kondisi Ria terkejut, Ria memang merespon tapi bukan seperti ini yang Dafa harapkan. Dafa langsung mencoba menenangkan Ria, dia menarik tubuh Ria dalam pelukan nya, sungguh Dafa juga benar-benar merasa hancur dan terluka melihat kondisi Ria yang seperti ini.


Ria menjerit dalam tangisan nya, Dafa hanya bisa menenangkan Ria melalui pelukan nya. Dafa sendiri bingung harus bagaimana, dia juga kalut melihat kondisi istri nya yang sangat mengkhawatirkan.


“Riaa… sayang.. tenang sayang tenang..”


“Aku disini sayang, maafkan aku,..”


“Maafkan aku..”


“Aku disini, kita lalui bersama.. maafkan aku sayang.”


Hanya itu yang bisa Dafa ucapkan untuk mencoba menenangkan Ria, jika sudah lelah menangis Ria akan berakhir dengan terlelap dalam tangisan nya.


Dafa membenarkan posisi tidur Ria, dia ikut berbaring di samping tubuh istri nya itu Dafa seolah tak ingin melepaskan pelukan nya.


Sementara mama Maya dan Reza yang tadi menyusul kepergian Dafa, mendengar dan melihat apa yang terjadi pada Ria dan Dafa dari celah pintu yang terbuka sedikit.


Mama Maya ikut meneteskan air mata, melihat perjuangan cinta Ria dan Dafa yang terus menerus mengalami ujian karena kebodohan anak nya itu.


TBC🌝