
Dari posisi nya Ria melihat seorang Wanita yang cantik dengan pakaian yang elegan, menggunakan dress pendek di bawah lutut berwarna biru navy membuat aura nya seperti seorang ratu.
Ria merasa seperti abg yang terpergok sedang berbuat hal yang negatif dengan kekasihnya itu menunduk malu, sedangkan Dafa malah merasa kesal karena baru saja istri nya itu mau disentuh begitu intim oleh nya setelah lama merajuk, mama Maya malah hadir mengganggu.
Ya, Wanita itu adalah mama Maya. Saat berada di dalam kamar seorang maid memberi tahu nya bahwa Dafa sudah sampai di rumah utama, dia pun langsung bergegas turun untuk menemui Dafa.
Namun yang dia lihat malah adegan romantis, lama mama Maya menatap mereka yang sedang berpelukan dengan tatapan bahagia tak ingin mengganggu niatnya, tapi ia kemudian mulai bosan dia tidak sabar untuk bertemu dengan menantu nya itu.
Dia ingin melihat dan menilai sendiri, bagaimana perempuan pilihan anak nya.
“Kalau mau bermesraan itu liat tempat dan waktu, jangan main gabres aja.” Ucap Wanita itu membuat Ria semakin merasa malu dan takut.
“Apasih mah, ganggu aja. Kalau iri mama bisa minta di peluk sama papa.” Jawab Dafa.
Ria melihat ke arah suami nya itu, dia merasa bingung dan terkejut mendengar ucapan sang suami yang menyebut Wanita di hadapan nya dengan sebutan “mama”.
Dia bingung karena Dafa membawanya bertemu dengan orang tua nya itu, bukankah sang suami berkata dia hanya istri rahasia nya? memang sebelum nya Dafa pernah berkata untuk memulai semua dari awal dan menjalani pernikahan yang sebenarnya, tapi Ria setelah membentengi hati nya mulai melupakan kalimat itu, menganggapnya itu hanya kalimat semu yang diberikan Dafa.
“Mama?” Tanya Ria kepada Dafa dia mengkonfirmasi panggilan sang suami kepada Wanita di hadapan mereka saat ini.
“Emh? Oh iya Ria, kenalkan dia mama ku yang paling cerewet.” Ucap Dafa yang tahu bahwa istri nya sedang terkejut akan pertemuannya dengan orang tua nya.
Mama Maya yang mendengar kalimat Dafa yang memperkenalkan nya sebagai mama yang cerewet, langsung membulatkan matanya menatap tajam ke arah Dafa, dia mengucap kalimat sabar dalam hatinya, ada waktu nya untuk membalas ucapan putra nya itu.
“Kamu yang bernama Ria sayang? Ya Tuhan, kamu masih begitu muda. Kenapa kamu mau diajak menikah sama aki-aki bangkotan itu.” Ucap Mama Maya yang berjalan menghampiri Ria, dia merentangkan tangan nya lalu memeluk tubuh Ria.
Ria yang masih dalam keadaan terkejut itu, diam tak merespon pelukan mertua nya, pikiran nya masih terasa penuh dengan apa yang baru saja terjadi.
“Kamu pasti masih kaget ya? Ayo masuk sayang, kamu ternyata cantik juga ya.” Ucap Mama Maya melepaskan pelukan nya pada Ria, dia membelai rambut Ria. Akhir nya Ria menjawab ucapan mama Maya dengan sebuah senyuman canggung.
Maya memang tak mampu membohongi diri nya, sejak dahulu dia selalu menginginkan seorang putri, namun Tuhan berkata lain, sampai Dafa dewasa mereka tidak dikaruniai anak lagi.
Bukan tidak pernah melakukan berbagai program hamil, Maya dan Lukaz pernah melakukan program hamil tapi tetap saja tidak berhasil. Itulah alasan mengapa mama Maya selalu menyuruh Dafa untuk segera menikah, dia kadang merasa bosan di rumah hanya menjadi perempuan satu-satu nya.
Dia ingin merasakan memiliki seorang putri, pergi berbelanja, ke salon, mengecat kuku bersama, menghabiskan waktu bersama dengan seorang putri dalam bayangan nya seperti sangat menyenangkan.
Sekarang Dafa pulang membawa seorang istri, Maya merasa seperti memiliki seorang putri. Dia akan menyayangi menantu nya itu. Terlebih dalam satu pandangan pertama Maya yakin Ria adalah perempuan baik-baik.
Maya membawa Ria masuk ke dalam rumah nya, dia ingin menunjukan pada sang suami tentang istri dari anak mereka.
“Papa! Paaa.. papaa. Coba lihat siapa yang datang!” Maya mengeraskan suaranya memanggil sang suami.
“Ada apa sih ma? Mengapa berteriak seperti ini.” Tanya Lukaz yang baru saja keluar dari ruang kerja nya.
“Lihat siapa yang datang.” Maya tersenyum dengan tangan nya yang merangkul seorang perempuan disamping nya.
Lukaz tersenyum hangat menyambut Ria dan Dafa, dia bergegas dari posisi nya untuk menghampiri istri, anak dan anak menantu nya.
“Kalian sudah sampai? Kamu pasti yang bernama Ria? Dafa memang pintar memilih istri, terbukti kamu memang cantik dan manis.” Puji Lukaz melihat Ria.
“Jangan memuji istri ku berlebihan, pa!” Ucap Dafa tak rela ada yang memuji istri nya walau itu papa nya sendiri.
“Ekh-ekhem, jangan kurang ajar kamu ya!” Jawab Lukaz menampangkan wajah tegas nya kembali saat melihat Dafa, menampilkan sisi dirinya yang lain saat berhadapan dengan anak dan anak menantu nya.
Sedangkan Ria? Dia hanya terdiam sejak tadi, sesekali dia menampilkan senyum manis nya namun dia masih bingung dengan suasana kali ini, yang ada dalam pikiran nya ketika bertemu orang tua Dafa dia akan di usir karena tidak satu kasta dengan mereka.
“Ria kenalkan, ini papa ku dan tadi kamu sudah tahu kan yang ini mama ku.” Ucap Dafa mengenalkan papa dan mama nya kepada Ria.
Ria tersenyum dia kemudian mengulurkan tangan nya kepada Maya dan Lukaz dia mencium tangan kedua orang tua suami nya itu, dia teringat sakit terkejutnya dia sampai lupa memberikan salam kepada kedua mertua nya itu.
“Setidaknya mereka akan menyayangimu nak, dan kamu tidak akan hidup kekurangan.” Ucap Ria dalam hatinya.
Bukan Ria matre, tapi dia cukup tenang saat ini setidak nya nanti anak nya tidak akan hidup kekurangan, apalagi orang tua Dafa terlihat sangat penyayang. Dia bersyukur sang anak kelak tidak akan sesulit diri nya.
“Kamu istirahat dulu yuk sayang, biar mama antar ke kamar Dafa. Kamu masih harus banyak istirahat kalau baru pulang dari rumah sakit.” Ucap mama Maya sambil mengelus puncak kepala Ria.
Ria pun mengangguk dan tersenyum ke arah mama mertua nya itu, tanda ia setuju dengan ajakan mama Maya.
Dafa melihat istrinya dengan mama nya itu dengan tatapan hangat, setidaknya prediksi Dafa benar Ria tidak akan stress saat di rumah utama, sesekali dia mendapatkan wajah Ria sedang tersenyum kala mendengar ucapan orang tua nya. Dafa bersyukur, dia bisa melihat lagi senyuman itu.
Sedangkan papa Lukaz menepuk pundak sang putra, dari tatapan nya seolah mengisyaratkan Dafa untuk merasa tenang saat istri nya sedang bersama mama nya, Lukaz tersenyum ke arah putra nya itu.
“Kamu ikut papa ke ruang kerja, biarkan para Wanita berbicara dan berkenalan lebih jauh.” Ucap Papa Lukaz yang kini sudah merangkul anaknya, membimbing Langkah Dafa memasuki ruang kerja nya.
Ria dan mama Maya melangkahkan kaki nya ke lantai 2 menuju ke kamar dafa. Ria benar-benar merasa seperti bersama ibu nya sendiri, diperlakukan secara lembut oleh mama Maya membuat nya terharu.
“Mengapa mama maya begitu lembut dan baik hati, berbeda sekali dengan mas Dafa yang selalu mengucapkan kalimat jahat dan berlaku kasar. Sebenarnya anak siapa dia?” Ucap Ria dalam hati nya melihat perbedaan sikap ibu, ayah dan anak itu.
Dia merasa terharu ketika mama mertua nya itu memegang tangan dan bahu nya ketika menaiki tangga, mama Maya begitu menjaga nya, menyayangi nya dengan kelembutan seperti ibu Inka.
“Ahh ibu, aku merindukan ibu!” seketika Ria merindukan ibu nya itu, sudah lama dia tidak bertemu dengan sang ibu.
“Sayang, ayo masuk. Nah ini adalah kamar dafa, yang berati sekarang adalah kamarmu juga. Karena kamu sudah menjadi istri Dafa.” Ucap Maya tersenyum kea rah Ria.
“Terima kasih nyonya.” Ucap Ria sambil duduk di ujung tempat tidur bersama dengan mama Maya.
Mata Ria meneliti sekitar kamar Dafa, suami nya itu memang menyukai nuansa minimalis. Dia tidak suka banyak barang didalam kamar nya kecuali buku-buku.
“Jangan panggil nyonya, kamu sekarang adalah anakku juga panggil mama ya sayang.” Jawab Maya.
”Te-terima ka-sih, M-ma.” Ucap Ria terbata karena merasa canggung.
“Tidak apa-apa, nanti juga terbiasa.” Ucap Maya dengan senyum hangat di wajah nya. “Ria..” Panggil mama Maya dengan suara yang lembut.
Ria menatap wajah mama Maya saat namanya dipanggil dengan lembut.
“Iya ma?” Jawa Ria tak kalah lembut dari suara Maya, kedua perempuan itu akan mulai berbicara dari hati mereka dengan kelembutan.
“Mama sudah tahu semua nya dari Dafa, mama tahu mungkin sering kali Dafa menyakitimu dengan kalimatnya, mama tidak bisa memaksa tapi kalau boleh mama minta maafkan. Dia memang anak yang dingin dan kaku, terkadang dia mengungkapkan segala sesuatu dengan kasar. Dan maaf karena Dafa membawa mu kedalam pernikahan yang sederhana, nanti setelah menemui orang tua mu kita alan adakan pesta yang mewah untuk kalian.” Lanjut Maya dia sangat tahu pasti saat ini Ria masih marah dan kecewa terhadap putra nya, setelah Dafa menceritakan semua kepada nya Maya akan membantu Dafa untuk meluluhkan kembali hati Ria.
Maya mengelus lembut rambut Ria yang Panjang, dia memberikan kasih sayang yang tulus agar Ria merasa nyaman dan aman, Maya begitu menyukai menantu nya itu, saat pandangan pertama Maya yakin Ria adalah perempuan yang baik apalagi dia rela menikah dengan Dafa demi menyelamatkan sang ayah.
Ria bukan perempuan yang mau diajak menikah oleh putranya karena harta bukan hati nya.
Hati Maya sangat senang hari ini, dia akan memasak berbagai macam masakan spesial bersama para maid di dapur.
TBC🌝