Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Meminta Melepaskan Putriku



Sesampai nya di rumah sakit, Matien segera di tangani oleh dokter.


Dafa sedikit merasa lega saat mendengar kondisi ayah mertua nya itu berangsur membaik. Sampai dia melihat Inka melangkah mendekat ke arahnya.


“Boleh kita bicara?” Tanya Inka kepada Dafa yang kini sedang menatapnya.


Dafa mengangguk tanda setuju dengan permintaan ibu mertua nya itu.


“Ada apa bu?” Tanya Dafa kepada Inka.


Inka meneguk saliva nya kasar, tangan nya mengepal, dia menarik nafas kasar kemudian mengatakan sesuatu kepada Dafa.


“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena anda sudah menolong suami saya” Inka mengatur nafasnya kemudian berkata kembali.


“Tapi maaf, bisakah anda melepaskan putriku? Kami.. terutama ayah Ria tidak ingin menggadaikan kebahagiaan Ria, kami akan mengganti semua uang yang telah anda berikan untuk pengobatan suami saya.” Tanya Inka dengan wajah yang sedih.


Ya, setelah Inka berpikir ini tak adil bagi Ria.


Dafa yang mendengar ucapan seorang wanita yang kini menjadi mertua nya itu terkejut, maksud kedatangannya ke rumah orang tua Ria adalah untuk mempertahankan rumah tangga nya.


Tapi mengapa sekarang mertua nya malah menyuruhnya melepaskan Ria.


Wajah Dafa berubah menjadi pucat pasi mendengar ucapan ibu Inka, tangan nya mengepal kuat menahan rasa emosi nya. dia tidak mau berpisah dengan istri nya, tidak bisa, Dafa akan menolak mertua nya untuk kali ini.


“Tidak, tolong jangan katakan itu. Saya serius ketika menikahi Ria, saya mencintai nya. Awalnya memang kami menikah karena ingin membantu perawatan Pak Matien, tapi sejak awal begitu mencintai Ria. Bahkan saya sendiri tidak mengerti mengapa dalam waktu singkat saya bisa jatuh begitu dalam pada Ria.”


Dafa berusaha meyakinkan ibu mertua nya itu, dia tidak ingin melepaskan Ria, dia menemui mereka untuk mendapatkan restu bukan permintaan untuk melepaskan nya.


“Tapi bagaimana dengan putriku? Dia sudah terlalu banyak tersiksa selama hidupnya, dari kecil dia sudah kehilangan ibu kandung nya, dan sekarang dia harus menggadaikan kebahagiaannya demi ayah nya. saya mohon, mengertilah.” Ucap Inka, dia tidak mau sampai Ria kembali terluka dalam hidupnya.


“Saya tidak tahu apakah rasa cinta itu sudah hadir atau belum dalam diri Ria, tapi saya akan mencintai dan menyayangi nya saya janji. Saya datang menemui ibu dan bapak untuk meminta restu, saya ingin melegalkan pernikahan kami yang memang belum saya daftarkan.” Ungkap Dafa, mata nya menampilkan kesedihan dan keseriusan.


Bahkan dia kini menekuk kaki nya, dia berlutut di hadapan ibu mertua nya itu.


“Tolong jangan begini, bangunlah! Jangan membuat kami semakin berhutang dan merasa bersalah padamu.” Ucap Inka saat melihat Dafa yang berlutut dihadapan nya.


“Saya mohon, maafkan saya karena melewati kalian untuk menikahi Ria tapi saat memutuskan menikah tak sedikitpun dalam niat saya untuk mempermainkan pernikahan kami. Saya mohon restui pernikahan kami.” Ungkap Dafa dalam posisi berlutut.


“Lalu dimana putriku? Mengapa dia tak ikut pulang kerumah? Mengapa anda hanya datang seorang diri?” Tanya Inka yang merasa heran karena Dafa meminta restu hanya seorang diri.


“Dia.. Dia sedang di rawat di rumah sakit. Tubuhnya demam karena merindukan ayah nya makanya saya datang untuk memperjelas hubungan kami.” Ucap Dafa berbohong, dia tidak mungkin mengatakan jika Ria sedang berada di rumah sakit karena perlakuan kasar nya.


Inka sendiri merasa bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini, yang di lakukan putri nya itu salah, amat salah.


Kalau dia mau menikah asalkan calon suaminya adalah pria baik-baik dia tidak akan melarangnya, tapi Ria malah memilih menikah diam-diam.


“Ba-bangunlah dulu, saya tidak mau berbicara dengan anda kalau anda masih dalam posisi berlutut seperti ini.” Inka mengalah, dia meraih Pundak Dafa membantu nya untuk bangkit dari posisi nya yang sedang berlutut.


Kedatangan Dafa hari ini sungguh di luar dugaan nya, Dafa hadir dengan kejutan yang memukul hatinya terutama sang suami.


Matien pasti sangat kecewa dengan putri nya, dia bahkan sampai kembali jatuh sakit mendengar putri nya sudah menikah tanpa sepengetahuannya.


Nasi sudah menjadi bubur, Ria dan Dafa sudah menikah, dia tidak mungkin membiarkan putri nya hidup berumah tangga tanpa restu.


Akan berat kehidupan seorang anak yang menikah tanpa restu orang tua nya.


Untuk kali ini dia membutuhkan waktu, dia ingin mengutamakan Kesehatan suami nya terlebih dahulu.


“Saya ingin berbicara dulu dengan Ria. Lebih baik sekarang anda pulang dulu dan saya minta tolong jangan memperburuk kondisi ayah Ria dulu.” Inka mengalah, dia akan bertanya dulu kepada putri nya itu apakah benar yang di katakan oleh Dafa.


“Saya akan membawa Ria nanti jika dia sudah sehat.” Dafa mengangguk setuju, padahal dalam hati nya dia ragu, karena saat ini Ria masih tidak mau ditemui oleh Dafa.


Inka kemudian melangkah meninggalkan Dafa yang masih berdiam diri di tempat nya. Namun dia kembali membalikan tubuh nya dan menatap pria yang kini menjadi menantu nya itu.


“Nak Dafa.” Kali ini Inka menggunakan panggilan anak kepada Dafa.


“Tolong jangan sakiti Ria, kami sangat menyayanginya.” Ucap Inka lalu berlalu pergi meninggalkan Dafa yang tersenyum mendengar ucapan dari ibu mertua nya.


“Pasti.” Ucap Dafa pelan dengan senyuman yang masih mengembang di wajah nya.


Seolah mendapatkan nyawa baru, Dafa begitu bersemangat kali ini.


Dia ingin membuktikan keseriusan nya dalam berumah tangga dengan Ria, dia hanya tinggal memikirkan bagaimana cara berbicara dengan orang tua nya.


Bak lengan bersambut, saat Dafa hendak meninggalkan rumah sakit seseorang menghampiri nya. Dengan pakaian formal dan wajah yang tegas pria itu menunduk memberi hormat kepada Dafa.


“Selamat siang Tuan, saya di perintahkan Nyonya untuk menjemput anda kembali ke rumah utama.”


Dia adalah Reza asisten pribadi yang di persiapkan untuk Dafa ketika sudah mau memimpin perusahaan atau rumah sakit milik Lukaz.


“Ada apa mama memanggilku?” Tanya Dafa heran, dia memang sudah lama tidak kembali ke rumah utama.


Tapi dia sedang tidak ingin pulang ke rumah utama, dia lebih ingin menemani sang istri yang berada di rumah sakit walaupun hanya dari luar ruangan nya.


“Anda bisa tanyakan itu kepada Ibu anda Tuan.” Jawab Reza.


Tanpa menjawab Dafa yang di persilahkan oleh Reza untuk memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh nya, Dafa pun menuruti ucapan asisten pribadi nya itu. Dia memasuki mobil dan bergegas pergi ke rumah utama.


“Reza, apa mama dan papa saya sehat?” Tanya Dafa penasaran mengapa dia di panggil ke rumah utama, apakah orang tua nya sedang sakit?


“Iya Tuan, orang tua anda sehat.” Jawab Reza.


“Syukurlah, lalu mengapa mereka memanggilku? Dan hey, kau tidak perlu formal jika sedang berdua denganku kita berteman sejak kecil.” Ucap Dafa protes karena Reza selalu memanggilnya dengan sebutan “Tuan”.


Dafa dan Reza memang sudah berteman sejak kecil, ayah Reza bernama Khairul adalah asisten pribadi Papa Lukaz.


Terkadang Reza yang ikut ke rumah utama akan bermain dengan Dafa, menghabiskan masa kecil mereka bersama.


Setelah Paman Khairul pensiun, Reza berniat untuk meneruskan peran ayah nya itu membantu keluarga Morrone dengan menjadi asisten pribadi Dafa.


“Sudah kewajiban saya Tuan, saat ini saya sedang ditugaskan oleh Nyonya besar maka saya akan memanggil anda dengan sebutan Tuan.” Ucap Reza yang sedang sibuk dengan kemudi nya, dia sesekali tersenyum dan bangga melihat sahabatnya itu.


Reza mengingat masa kecilnya jika sedang bermain dengan Dafa, dia dulu sangat kagum dengan sosok Dafa yang pintar namun entah mengapa teman masa kecil nya ini memilih untuk tidak meneruskan perjuangan ayahnya seperti dia.


Saat sampai di rumah utama Dafa yang baru turun dari mobil itu menghentikan Langkah nya di samping Reza.


“Kau tidak memberikan informasi apapun tentangku kepada mama kan?” Tanya Dafa dengan wajah meneliti.


“Saya hanya menjalankan tugas saja Tuan.” Jawab Reza.


Ya.. dia hanya akan memberikan informasi kepada Maya apabila Maya bertanya padanya, Walaupun dia selalu mengetahui informasi mengenai Dafa tapi tidak semua informasi tentang Dafa dia sampaikan kepada Maya jika tidak ditanyakan.


“Si*lan, awas kalau sampai kau berbicara soal Ria! Aku tahu kau pasti sudah mengetahuinya.” Dafa memukul udara saat berbicara dengan Reza.


Dan Reza sendiri? Dia hanya menghadiahi perilaku Dafa itu dengan senyuman.


Di hadapan nya, Dafa memang tak menutupi diri nya, perilaku nya yang asli dan kebiasaannya akan ia tunjukan pada Reza.


Bahkan dia lebih memperlihatkan diri nya yang asli kepada Reza di bandingkan ketiga sahabat nya itu walaupun dia jarang berkomunikasi dengan Reza.


“Ohh ya, aku hampir lupa. Tolong utus seseorang untuk menjaga Ria di rumah sakit.” Dafa yang tahu bahwa Reza pasti sudah mengetahui pernikahan nya, takan segan meminta tolong kepada Reza untuk melindungi istri nya.


Baginya untuk apa menyembunyikan kebohongan kepada seorang Reza yang notabene adalah stalker handal.


“Anda memerintah saya Tuan Dafa? Berarti anda sudah setuju untuk bekerja di perusahaan atau rumah sakit?” Tanya Reza mengejek ke arah bos nya itu.


“Si*alan kau!” Dafa yang kesal berlalu pergi masuk kedalam rumah untuk menemui orang tua nya.


TBC