Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Kehilangan



“Bagaimana menurut pemeriksaan anakku baik-baik saja kan?” Tanya Dafa dengan wajah yang sekarang di penuhi rasa khawatir dan amarah.


“Maaf bro, kita harus menunggu sampai nanti pagi. Apabila Ria masih mengalami pendarahan terpaksa kami harus melakukan kuret pada kandungan Ria.” Ucap Bimo dengan helaan nafas.


Kali ini Dafa tidak memberikan respon apapun pandangan nya menatap Ria dengan tatapan yang suklit di artikan, jujur dia merasakan kesal yang mendalam setelah tahu bahwa Ria tengah mengandung dan malah memenuhi pikiran nya dengan hal negatif sehingga membahayakan kandungan nya.


Apalagi setelah mendengar penjelasan Bimo, yang berkata jika sampai pagi Ria masih mengalami pendarahan terpaksa calon bayi itu harus dikeluarkan dan tidak bisa diselamatkan karena sifat bodoh istri nya itu.


******


Pagi ini Dafa terpaksa menandatangani selembar berkas yang begitu membakar hatinya, setelah berjuang semalaman ternyata kandungan Ria tidak dapat diselamatkan, akhir nya tindakan kuret pun dilakukan pihak rumah sakit atas seizin Dafa.


Kali ini di dalam sebuah ruangan rawat inap dengan keadaan Ria yang masih belum sadarkan diri, Dafa duduk seorang diri dengan pikiran yang kosong menatap ke arah berangkar di mana istri nya itu berada.


Suara pintu yang terbuka dan Langkah kaki seseorang menyadarkan Dafa, ia melihat mama dan papa nya telah sampai di rumah sakit setelah mendapat kabar Ria yang masuk rumah sakit semalam tanpa diketahui oleh kedua orang tua Dafa.


“Assalamualaikum, ya Allah Ria.. gimana keadaan nya? apa yang sebenarnya terjadi mengapa Ria bisa tiba-tiba masuk rumah sakit lagi Daf?” Mama Maya bertanya tanpa henti karena khawatir dengan keadaan Ria.


Sementara Dafa tidak menjawab pertanyaan ibu nya itu, dia kembali hanya menatap ke arah berangkar sang istri.


Sementara papa Lukaz yang mengerti kondisi putra nya berjalan mendekat ke tempat Dafa, dia menepuk pundak Dafa mencoba menenangkan putra nya lewat tatapan mata nya.


“Ada apa Daf? Apa semua nya baik-baik saja?” Tanya papa Lukaz.


Perlahan Ria membuka matanya, kembali ke kesadaran nya dia menatap sekitar dan seketika terkejut karena dia kembali terbarin di rumah sakit. Ria mulai dihinggapi rasa cemas karena dia ingat, semalam setelah berdebat dengan Dafa seketika perut nya merasa sakit.


Ria mulai meraba perutnya yang memang masih rata, seketika Ria tahu ada sesuatu yang tidak beres mengenai kandungan nya. Ria mulai dihinggapi rasa panik dan ketakutan, dia takut kandungan nya kenapa-kenapa.


“Maaa… a-anakku di-dia?” Tanya Ria kepada mama Maya yang berada disamping nya.


Sementara mama Maya yang belum mengetahui tentang kondisi Ria yang tengah mengandung, merasa bingung ketika Ria menanyakan keadaan anak nya.


“Maksud kamu sayang?” mama Maya bertanya kembali kepada Ria


Dafa yang melihat interaksi antara Ria dan mama nya semakin merasa geram, dia segera melangkahkan kaki nya mendekat ke arah berangkar istri nya.


“Ternyata kamu sudah tahu ya bahwa kamu tengah mengandung? Kamu sengaja melakukan ini Ria?” Tanya Dafa yang kini menatap sinis kepada istri nya.


“Maksud kamu apa Dafa? Ria hamil? Ya Allah alhamdulillah, lalu bagaimana kandungannya sekarang?” Tanya mama Maya yang merasa senang akan kabar kehamilan Ria.


Dafa hanya diam tak menjawab pertanyaan mama nya itu, dan dia terus menatap ke arah Ria dengan tatapan yang dingin, Ria yang melihat tatapan suami nya merasa terluka, dia tentu sudah tau apa jawaban dari pertanyaan mama mertua nya itu lewat tatapan sang suami.


Seketika bulir bening menumpuk di mata Ria, dalam satu tetesan bulir bening itu seolah dapat menggambarkan kesedihan yang Ria rasakan.


Harapan nya sirna, kini Ria seolah kehilangan arah dan tujuan untuk hidup, bathin nya pedih merasakan pilu dia merasakan hancur. Hati calon ibu mana yang tidak terluka ketika anak yang dikandung tidak dapat diselamatkan?


“Tak usah berpura-pura bersedih, semua ini karena mu. Sudah aku katakan untuk tenangkan dirimu, sekarang apa yang terjadi hari ini adalah kesalahan mu sendiri yang tidak bisa menjaga anakku didalam kandunganmu.” Pedih, ucapan menohok dari sang suami benar-benar menyayat sampai ulu hati Ria.


Dia memang terbesit rasa bersalah tak bisa menjaga kandungan nya, tapi bisakah sang suami yang harus nya berperan memberikan rasa semangat dan percaya diri itu tidak memojokan nya? selama ini yang membuat pikiran Ria tidak tenang juga karena Dafa.


“Apa maksud kamu Daf? Cucu mama tidak selamat?” Tanya mama Maya


Sedangkan sedari tadi papa Lukaz memilih untuk berdiam diri, dia tahu kini Dafa sedang diliputi rasa amarah dan kecewa sehingga dia tidak ingin memperburuk keadaan.


“ya, cucu mama.. anakku tidak bisa diselamatkan karena keegoisan nya, dia terus tenggelam dengan pikiran nya yang selalu menuduhku ada main dengan Thannia. Tanpa dia ketahui bagaimana aku menolak Thannia hanya untuk dia seorang, benar-benar tidak dapat dipercaya aku kehilangan anakku karena kebodohannya !” Ucap Dafa dengan menggeram menahan emosi nya.


“Mas?” Tanya Ria tak percaya dengan ucapan sang suami yang bisa-bisanya memojokan Ria terus menerus, dia juga sama terluka nya mengapa jadi seperti ini.


“Apa? Hah! Memang benar kan! Pertama kau menyembunyikan kehamilan mu dariku, yang kedua kau terus tenggelam dengan pikiran yang tidak-tidak mengenai aku dan Thannia. Apa yang ada dalam pikiran mu sampai bisa membuat nyawa anakku tak selamat?” Tanya Dafa yang kini sudah tidak dapat menahan emosinya, bahkan rasa nya dia ingin menghancurkan seisi ruangan itu untuk meluapkan rasa kesal dan kecewa nya.


“Dia juga anakku mas, aku juga menutupi semua karena perlakuan mu padaku.” Ucap Ria yang sudah tidak tahan selalu disalahkan, dia ingin membela diri.


“Cih! Tidak perlu berakting!” Ucap Dafa mencibir Ria.


“Apa yang aku lakukan hah? Asal kau tahu, semua yang aku lakukan, apapun itu, karena aku mencintaimu! Aku begitu mencintaimu, hingga begitu marah dan cemburu, aku yang begitu mencintaimu mana mungkin bermain gila dengan Thannia! Bodoh!” Ucap Dafa yang masih melampiaskan rasa kesalnya,


Mama Maya dan papa Lukaz yang melihat pertengkaran anak dan menantu nya itu, hanya mampu menenangkan kedua nya. mama Maya mengelus tangan Ria agar dia tidak larut dalam kesedihan, sementara papa Lukaz menahan pundak putra nya agar tidak semakin tersulut emosi.


“Sudah Daf sudah, biarkan Ria tenang dulu dia baru saja kehilangan bayinya.” Ucap papa Lukaz


Dafa masih menatap tajam ke arah Ria begitu pun sebaliknya Ria masih menatap Dafa dengan tatapan yang terluka.


“Biarkan pa! Biar dia sadar ibu seperti apa dia yang tega membuat anaknya tak terselamatkan.”


Ria menangis meraung, dia begitu menyesal kehilangan anak nya, sungguh hati Ria terluka. Dia sungguh butuh pelukan hangat dan kekuatan dari orang-orang terdekat namun apa yang dia harapkan sungguh tidak ada.


“Cukup mas! Apa kamu tahu mengapa aku menunda memberitahukan kehamilanku padamu? Seandainya… seandainya saja kamu tidak menyembunyikan penyakit ku yang sesungguhnya. Seandainya kamu tidak menipuku dengan merubah hasil lab ku, seandainya kamu tidak melakukan operasi ginjal bohong itu! aku tidak mungkin ragu akan kata cintamu itu palsu!” Ucap Ria yang kini tak kalah menohok.


“Tapi yang kamu lakukan apa? Sejak awal bertemu dengan mu semua di awali dengan kebohongan! Apa menurutmu aku bisa mempercayaimu? Apa menurut mu aku cukup percaya sedangkan kau berkali-kali menipuku?” Lanjut Ria yang seakan mendapat kesempatan untuk menumpahkan keresahannya selama ini.


Ya jika semua ingat, saat malam Ria masuk kedalam ruang kerja Dafa dia menemukan sebuah kebenaran. Dimana penyakit yang selama ini dia takuti, merusak mentalnya dan menghancurkan hidupnya adalah rekayasa Dafa, semua itu adalah kebohongan yang Dafa lakukan.


Oleh sebab itu Ria ragu, dia takut dan seolah tak mengenal suaminya yang selalu mengagungkan kalimat cinta itu.


Pada saat itu Ria memutuskan untuk tidak memberitahukan Dafa perihal kehamilannya itu, dia takut jika Dafa kembali membohongi nya.


Dia ingin memastikan terlebih dahulu, rasa cinta yang Dafa ucapkan itu benar atau bohong, dia tidak mau kecewa kembali kepada Dafa setelah menaruh hati nya untuk Dafa.


Sementara Dafa yang mendengar ucapan Ria yang sudah mengetahui kebohongan nya, sempat merasa terkejut, namun tak lama rasa amarah nya lebih memenuhi relung hati nya.


Tak sadarkah Ria apa yang di lakukan nya hanya untuk Ria? Kali ini kedua belah insan itu memilih mementingkan egoisnya masing-masing.


TBC🌝