
Saat memasuki ruang rawat inap Ria, ternyata Ria sudah sadar melihat Dafa yang memasuki ruangan nya dia langsung membuang muka saat bertatapan dengan Dafa.
Hatinya masih terluka dengan perlakuan Dafa, di tambah Dafa hampir membunuh buah hati nya. Ria merasa tidak ingin melihat wajah suami nya itu.
Dafa yang melihat Ria membuang muka saat melihat nya, melangkah kan kaki nya ragu ke arah berangkar sang istri.
“Ria..” panggil Dafa yang kini sudah duduk di bangku yang tersedia di samping berangkar rumah sakit.
Ria tak berniat menjawab panggilan dari suami nya, bahkan kini untuk mendengar suara sang suami dia merasa kesal.
Siap yang tak kesal dan kecewa? Diperlakukan buruk oleh sumi nya sendiri.
“Sayang, maafkan Mas. Mas lepas kontrol, Mas terlalu cemburu melihatmu bersama seorang pria masuk ke dalam kafe.” Ria melihat wajah suami nya yang kini menunduk menyesali perbuatan nya.
Ria masih diam membeku, dia akhirnya mengetahui mengapa sang suami begitu marah hingga berbuat kasar kepada nya. Ria membenci perlakuan Dafa yang cemburu buta, tanpa bertanya terlebih dahulu kepada nya.
Pertemuan nya dengan Rendy yang berakhir dengan mereka ngobrol di suatu kafe bagi Ria hanyalah sebuah kebetulan, seharusnya sang suami bertanya terlebih dahulu kepada nya.
“Ria.. Sayang, tatap mataku.. Aku benar-benar menyesal” Dafa bangkit dari posisi nya bergerak mendekati sang istri, dia menyentuh dagu milik istri nya menggerakan nya untuk menatap mata nya.
Saat wajah mereka bertemu, Dafa terkejut melihat di sudut bibir sang istri terdapat luka yang sudah pasti dia ketahui bekas tamparan nya yang begitu kuat. Dafa meringis mengingat seberapa kuat dia menampar istri nya itu, hingga membuatnya terluka.
Padahal jika Dafa tahu seluruh tubuh Ria hampir terluka karena ulah nya.
Dafa kini benar-benar takut Ria tak mau memaafkan nya, dia takut Ria akan pergi meninggalkan nya yang telah melukai hati dan fisik nya.
“Ria, tolong jangan diam saja! Bicaralah! Maki aku sayang, aku mohon maafkan aku.” Dafa kembali berkata saat dia melihat Ria yang masih terdiam.
Ria menatap Dafa dengan tatapan yang penuh luka, diri nya merasa bahwa semua yang terjadi kepadanya begitu melukai hati nya.
Dafa menariknya ke meja akad menjadikan nya seorang istri untuk melunasi hutang nya, awal pernikahan mereka Dafa melukai nya, dia merebut paksa yang Ria miliki satu-satu nya, sekarang? Dafa kembali melukai nya, dia bahkan hampir membuat buah hati mereka tak selamat.
“Apa kamu puas Mas? Apa sekarang aku masih berhutang kepadamu?” tanya Ria kepada sang suami masih dengan tatapan terluka, dia akhirnya bersuara setelah lama terdiam.
Setelah kejadian tadi Ria sadar pernikahan ini adalah bayaran untuk hutangnya kepada Dafa. Kalimat yang di lontarkan Ria seperti menjadi batu panas yang dilempari ke hati Dafa. Dia terluka melihat istri nya yang bertanya seperti itu.
“Luka ini mungkin akan menghilang dan tak membekas, tapi apa kamu tahu, Mas? Hatiku tak mungkin sembuh secepat itu!”
Dafa menatap wajah istri nya itu dengan tatapan menyesal, dia mulai meneteskan air mata nya. Sungguh andai bisa mengulang waktu, Dafa tak ingin menyakiti Ria seperti itu.
“Aku tanya Mas! Apa kau sekarang sudah puas?” Tanya Ria dengan sedikit berteriak, dia menahan suara nya yang penuh amarah.
Dadanya begitu sesak, dia kesal dan marah pada suami nya itu. Dia ingin mengamuk, tapi dia ingat ada sang buah hati yang sedang berkembang dalam tubuhnya dan dia tak boleh setres karena akan berpengaruh untuk kehamilan nya.
Ria mengatur nafasnya, dia mencoba mengatur emosi nya saat berbicara dengan suami nya itu walaupun sulit. Rasanya saat ini Ria ingin lari dari hadapan suami nya.
“Maaf! Aku tak pernah bermaksud me-“ ucapan Dafa terhenti kala tangan sang istri terangkat tanda menyuruh nya untuk tak melanjutkan ucapan nya.
“Maafkan aku, aku khilaf.. aku tak mengerti mengapa aku begitu marah dan cemburu, aku terlalu takut kamu berpaling dariku sayang!” Dafa ingin meraih tangan istri nya itu, namun Ria menyanggah dia menjauhkan tangan nya agar tak tergapai oleh Dafa.
Ria kembali memalingkan tatapan nya, dia mengatur nafas nya yang tak beraturan karena menahan rasa marah nya kepada sang suami.
“Aku ingin sendiri Mas, biarkan aku istirahat!” Ucap Ria, dia ingin mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sakit semua.
Dan lagi, dia sedang tak ingin melihat Dafa. Dia merasa emosi nya menggunung saat bertatapan dengan suami nya itu.
“Tidak sayang, aku akan tetap disini. Aku takan meninggalkanmu!” Dafa menolak permintaan istri nya itu, dia tak mau berpisah jauh dari istri nya itu.
“Maass! Hhh- tolong, aku ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku, aku mohon.” Ria melembut dia akan berbicara baik-baik agar suami nya itu mau membiarkan nya sendirian untuk saat ini, ya dia akan mengalah demi kehamilan nya.
Ria sendiri belum mau mengatakan tentang kehamilan nya kepada Dafa, dia masih ingin memastikan sesuatu dulu yang ingin dia ketahui.
“Hem, baiklah. Istirahat lah dulu, tapi aku takan kemana-mana. Aku akan menunggu di luar.” Dafa mengalah, dia mengingat ucapan sang Dokter yang meminta agar istri nya itu tidak di buat setres.
Setelah Dafa keluar meninggalkan ruangan dimana Ria di rawat, Ria menutup wajah nya dengan tangan nya. Dia menahan suara tangis nya agar tak terdengar siapapun, sungguh saat ini Ria ingin menangis memeluk sang ayah.
Namun dia sadar dia tak mungkin bertemu sang ayah dengan kondisi nya saat ini, apalagi sang ayah tak pernah tahu bahwa Ria sudah menikah.
“Mengapa sakit sekali, Tuhan” Ria terisak dalam tangis nya, kini yang mampu membuat nya bertahan hanya karena anak nya.
“Maafkan bunda sayang, bunda membuat kamu bersedih ya? Bunda akan berusaha untuk tak menangis lagi sayang.” Tangan nya bergerak menyentuh perut nya yang masih rata, dia tersenyum dalam tangis nya.
“Walaupun bunda tak mengira kau datang secepat ini, tapi bunda sangat menyayangimu.” ucap Ria yang sedang berbicara dengan sang anak yang masih di dalam perut nya.
Diluar ruangan, Dafa mendudukan dirinya. Dia merasa menyesal dan kesal karena tak bisa berada di sisi istri nya itu.
Sekelebat bayangan saat dirinya menyiksa Ria di atas ranjang terlintas di ingatan nya, jeritan Ria memohon untuk berhenti, suara tangisan nya yang memenuhi ruangan kamar nya terdengar memilukan.
“Mas, hentikan!”
“Ah, sakit! Lepaskan Mas!”
“Berhenti mas tolong.”
“Masss, to-long hentikan, ini sakit Mas. Tolong keluarkan!”
Dafa menatap kedua telapak tangan nya, menggukanan tangan itu dia menyiksa dan menampas istri nya. Dia mengepalkan kedua telapak tangannya, dia mengusap wajah nya kasar meremas rambut nya.
“Maafkan aku Ria!”
TBC🌝