Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Hampir Kehilangan



Dafa segera memakai pakaiannya, dia memakaikan pakaian seadanya pada tubuh Ria dan menggendong nya keluar dari apartement.


Dafa berlari ke arah parkiran mobil, dia menaruh tubuh Ria di kursi penumpang belakang secara perlahan kemudian bergegas mengendarai mobilnya itu.


“Ria, bertahanlah tolong bertahan Ria!” Sesekali Dafa masih terus mencoba memanggil kesadaran Ria, dia memang sudah keterlaluan kepada istrinya itu sampai menyebabkan Ria jatuh pingsan.


Dia memukul kemudi nya, merasa kesal terhadap diri nya sendiri, dia menyesal, sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan kepada istri nya itu.


Rasa cemburu menguasai diri nya, menutup pintu hati untuk sekedar menyadarkan nya agar tidak melakukan kekerasan pada istri nya itu.


Dafa begitu emosi ketika melihat Ria bersama pria lain, dia tak rela jika Ria dekat dengan Pria lain, bahkan Dafa tak rela ada pria yang menatap ke arah Ria sekalipun.


Baginya Ria hanya milik nya, istri nya itu hanya milik nya, rasanya dia bahkan ingin mengurung Ria di dalam rumah saja.


******


Sesampai nya di Rumah Sakit Dafa berteriak seperti orang gila, memohon pertolongan kepada Dokter dan Perawat yang berjaga.


Beberapa perawat berlarian menghampiri dan membantu Dafa membaringkan tubuh Ria di berangkar yang berada di Ruang Gawat Darurat.


“Tolong, tolong selamatkan istri saya!” Ucap Dafa Ketika para Perawat dan Dokter mulai memeriksa keadaan Ria.


“Bapak tolong tenang, silahkan tunggu di luar, dan selesaikan dulu administrasi istri bapak.” Ucap salah seorang perawat mencoba menenangkan Dafa yang begitu kalut melihat kondisi istri nya itu.


“Selamatkan dia saya mohon!” Dafa menyentuh bahu sang perawat berusaha untuk menuntut jawaban dari sang perawat bahwa istri nya akan baik-baik saja.


“Kami akan usahakan pak, sekarang silahkan bapak tunggu di luar.” Akhirnya Dafa menurut dia segera menunggu di luar ruangan.


Dafa mencoba untuk menenangkan diri nya, tapi rasa bersalah itu terus bersarang dalam hati nya memanggil rasa kecemasan dan khawatir di waktu yang bersamaan.


Di tengah rasa kalut nya, Dafa segera membereskan administrasi Ria, agar Ria segera di tangani.


Dia menggerutu kesal seandainya dia membawa Ria ke Rumah Sakit nya takan serumit ini proses pemeriksaan istri nya itu.


Tapi seandainya Dafa membawa Ria ke Rumah Sakit miliknya dengan kondisi yang begitu akan menimbulkan scandal, bagaimana bisa anak dari pemilik Rumah Sakit membawa seorang perempuan dengan tubuh yang penuh bekas luka dan bersimbah dar*h.


Dafa masih punya akal dan pikiran, dia tak ingin menambah masalah semakin runyam dan mempersulit diri nya sendiri.


Sedangkan di dalam sana Dokter dan perawat yang memeriksa tubuh Ria merasa terkejut, mendapati tubuh Ria yang begitu mengerikan, ujung bibir Wanita itu terluka dengan dar*ah yang sudah mengering, jahitan pasca operasi nya kembali terluka, tubuhnya banyak lebam biru dan tanda kepemilikan, dan di pangkal pahanya masih mengalir da*ah.


“Dok, apa dia korban kekerasan? Seperti nya dia sedang mengandung dan mengalami pendarahan, Dok.” Ucap salah seorang perawat kepada sang Dokter yang sedang memeriksa denyut nadi Ria.


“Lebih baik bersihkan tubuh pasien terlebih dahulu, hentikan pendarahan pasien dan lakukan pemeriksaan melalui USG pastikan apa benar dia sedang mengandung. Pastikan dulu sebelum memberinya suntikan obat.” Ucap sang Dokter yang memeriksa tubuh Ria.


Sementara Ria mulai membuka mata nya, dia melihat beberapa orang tengah mengelilingi nya. Dari aromanya dia tahu kini dia sedang berada di rumah sakit, dia ingat kejadian sebelum dirinya jatuh pingsan, Dafa menyiksa nya.


Dia bahkan tak mengerti mengapa Dafa begitu marah dan melakukan nya secara brutal.


“Bu, ibu bisa dengar saya?” Tanya seorang perawat memastikan kesadaran Ria.


Ria dengan tubuh nya yang masih lemah itu mencoba menjaga kesadaran nya, dengan menahan sakit di kepala dan sekujur tubuh nya dia menganggukan kepala nya mencoba merespon ucapan sang perawat.


“Apa ibu tahu sedang mengandung?” Tanya lagi seorang perawat memastikan, dia bertanya apakah Ria tahu sedang mengandung.


Dia berpikir bagaimana dia bisa mengandung sedangkan ia sering mengkonsumsi pil kontrasepsi, dan di usia pernikahannya yang baru sebulan lebih, ditambah baru dua minggu lalu dia melakukan operasi hal yang tidak mungkin jika kini sedang berbadan dua.


Walaupun setelah menikah dengan Dafa dia tidak pernah mendapatkan masa periode nya.


Setelah Dokter dan Perawat membersihkan luka di tubuh Ria dan mengecek keadaan tubuh nya, seorang Bidan yang dipanggil oleh sang Dokter kini tengah mengecek Ria dengan alat USG, gel dingin mulai di olesi di perut nya.


“Dok, benar dia sedang mengandung. Detak jantung janinnya sudah terdengar tapi melemah, Dok. Perkiraannya sudah 7 minggu.” Ucap seorang bidan yang bertugas di Rumah Sakit.


“Ba-bagaimana..mungkin, saya baru saja menikah sebulan lalu Dok. Dan lagi saya selalu mengkonsumsi pil kontrasepsi. Saya juga baru saja melakukan operasi pada ginjal saya, mana mungkin saya hamil sudah 7 minggu.” Ucap Ria pelan dengan suara yang lemah, dia mencoba memastikan keadaannya itu.


Walaupun hubungan nya dengan Dafa sudah membaik, tapi Ria memang berniat tetap menunda kehamilan nya, dia ingin memastikan dulu hubungan nya dengan Dafa, dia ingin sehat dulu setelah melakukan operasi di ginjal nya.


“Kita tidak akan bisa menebak kapan Tuhan memberikan kita rezeki bu, walaupun ibu mengkonsumsi pil kontrasepsi tidak menjamin 100% mencegah kehamilan, tapi…” ucapan sang Dokter menggantung saat memikirkan perkataan Ria mengenai operasi ginjalnya.


“Tolong selamatkan bayiku, aku mohon.” Ucap Ria menyentuh tangan sang Bidan yang ada di samping nya.


Ria memang belum menginginkan kehamilan itu, tapi jika sudah ada kehidupan yang tumbuh di tubuh nya, perempuan mana pun takan mampu menolak nya ? Bahkan kini Ria seolah sudah memiliki ikatan batin dengan sesuatu yang berada di perutnya itu.


Sang Dokter menatap Ria dengan tatapan yang sulit di mengerti, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati nya tapi dia akan fokus terlebih dahulu dengan keselamatan Ria dan janin nya.


“Sudah tugas kami bu, ibu harus kuat dan semangat supaya janin tidak ikut setres didalam sana.” Ucap sang Bidan berusaha memberikan kekuatan untuk Ria.


“To-tolong jangan beritahu suami saya dulu. Biarkan saya yang memberitahunya.” Ria kembali mengucapkan kalimat yang pedih dengan tubuh nya yang lemah.


Dokter, Bidan dan perawat yang berada di ruangan itu seketika saling tatap meragu. Mereka bertanya-tanya apakah Ria korban KDRT?


“Aku mohon, suamiku sedang marah, biar aku yang memberitahu nya saat kami sudah berbaikan.” Akhirnya sang Dokter mengangguk setuju. Ya, sang dokter berpikir nama nya Rumah tangga pasti pernah terjadi keributan.


“Asalkan ibu mau berjanji akan menjaga Kesehatan ibu dan janin yang ada di perut ibu sekarang.” Ucap sang Dokter.


“Terimakasih, Dok.” Ria mengangguk memaksakan senyuman nya.


Sedangkan di luar Dafa yang sedari tadi tak bisa tenang, tubuh nya bergerak kesana-kemari di depan ruangan Ria di periksa, sesekali dia mengusap wajah nya kasar.


Kini dia diliputi rasa tak tenang dalam diri nya, dia benar-benar menyesal telah memperlakukan Ria dengan kasar.


Kecemasan Dafa seolah membangkit kala seorang Dokter keluar dari ruangan Ria, Dafa segera berlari ke arahnya. Dalam hati nya dia berharap sang Dokter memberikan kabar baik mengenai istri nya itu.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Dafa kepada sang Dokter yang kini hanya menatapnya.


“Anda suami nya ibu Ria?” Dafa mengangguk tanda membenarkan pertanyaan Dokter tersebut, “Bisa ikut ke ruangan saya?” Dafa kembali mengangguk setuju mengikuti Langkah sang Dokter.


“Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja kan?” tanya Dafa setelah duduk di ruangan Dokter yang memeriksa Ria.


“Istri anda sekarang baik-baik saja, beruntung dia segera di larikan ke rumah sakit kalau tidak saya tidak tahu apakah dia bisa selamat atau tidak.” Ucapan sang Dokter membuat Dafa sedikit bernafas lega.


“Tapi anda harus pastikan istri anda jauh dari setres, dan memakan makanan yang bergizi. Dan satu lagi, anda tidak boleh melakukan hubungan suami istri selama tiga bulan kalau tidak mau hal ini terjadi.”


Setelah mendengar penjelasan Dokter, Dafa mengucap syukur dalam hatinya, dia segera bergegas menghampiri istri nya yang ternyata sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


TBC🌝