Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Membentengi Diri



...Sampai saat ini tak terpikir olehku...


...Aku pernah beri rasa pada orang sepertimu...


...Seandainya sejak awal tak kuyakinkan diriku...


...Tutur kata yang sempurna, tak sebaik yang kukira...


...Andai ku tahu semua akan sia-sia...


...Takkan kut'rima cinta sesaatmu – Sial’Mahalini...


Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Ria bukan nya tidak tahu bahwa sang suami dengan rela tidur di luar ruangan nya.


Dafa bahkan sampai meminta pada perawat untuk meminjamkan nya sebuah bangku, agar dia bisa duduk dan mengistirahatkan tubuh nya sambil menjaga sang istri dari luar sana.


Seandainya apa yang di lakukan oleh Dafa adalah tulus dari hatinya, tentu Ria akan sangat bahagia melihat sang suami yang begitu menjaga nya. Namun setelah kejadian kemarin saat Dafa yang marah secara tiba-tiba padanya, saat itu Ria menyadari pernyataan cinta nya Dafa adalah semu untuk Ria.


Begitulah rasa cinta Dafa kepada Ria, sangat diluar dari nalar dan logika manusia biasa memang. Sesaat dia akan terlihat mencintai Ria, namun saat itu juga dia akan meruntuhkan segala rasa bahagia Ria yang merasa di cintai, dengan sikap Dafa yang menunjukan rasa cinta nya dengan cara yang malah melukai hati Ria.


Ria merasa hancur dan kecewa dengan sang suami, yang tidak percaya padanya bahkan dengan tega menyamakan nya dengan para ja*lang diluaran sana.


Apalagi saat ini hormon kehamilan membuatnya mood swinger kadang dia ingin berdekatan dengan suami kadang dia menangis setiap mengingat kalimat Dafa hati nya selalu terasa ngilu, orang pertama yang menyentuhnya dengan brutal adalah Dafa, orang pertama yang dia cintai adalah Dafa, tapi mengapa Dafa malah menuduhnya seperti itu.


Tak terpikirkah oleh Dafa akan ucapannya yang begitu melukai Ria? didalam ruangan nya setiap malam dengan segenap usaha Ria selalu menahan air matanya agar tidak luruh, namun perkataan Dafa nampaknya benar-benar menggores hati Ria, dia tidak bisa melupakan nya, dia tidak mampu untuk tidak memikirkan kalimat Dafa yang begitu menyat hati.


Sebelumnya Ria yang pernah terbuai dengan kebahagiaan semu yang Dafa berikan mulai menaruh hati kepada setiap yang di lakukan suaminya itu, semua yang dilakukan Ria dengan Dafa dia menaruh hati nya disana.


Namun bukan nya menjaga hatinya, Dafa malah membuatnya terluka, menangis kembali teringat akan trauma nya tentang rasa kecewa saat berharap pada seseorang.


Dia tidak ingin kembali terbuai dengan tutur kata Dafa yang manis, dia akan membentengi hati nya untuk tak kembali jatuh kedalam rayuan Dafa. Dia akan bertahan, demi anaknya! Hanya anak nya kini yang membuat dia tidak bisa pergi jauh dari Dafa.


Setelah menjalani perawatan yang cukup lama akhirnya Ria di izinkan untuk pulang, Dafa membantu Ria berjalan secara perlahan walaupun terkadang Ria masih menolak bersentuhan dengan Dafa, namun Dafa akan memaksa membantunya karena tidak mau terjadi apa-apa pada istri nya lagi.


Saat perjalanan pulang Ria heran jalan yang dilewati bukan jalanan yang biasa dia lalui untuk sampai ke apartement.


“Kita kemana? Mengapa lewat jalan ini?” Tanya Ria.


Ria sendiri memang masih bersikap sedikit ketus kepada suami nya, dia benar-benar membangun benteng agar tidak terluka kembali oleh sikap Dafa yang kasar dan semena-mena.


“Kau akan tahu nanti.” Jawab Dafa dengan pandangan yang fokus ke jalan.


“Aku lelah, aku tidak mau mampir kemana-mana.” Ria menolak secara halus, dia begitu malas jika harus berada di luar ruangan dalam waktu yang lama.


Hormon kehamilan nya begitu parah, Ria yang memang diminta untuk bedrest itu seolah sesuai dengan mood nya yang hanya senang rebahan dan bersantai.


Dia seolah malas jika harus pergi keluar dari rumah. Ria sendiri begitu kesulitan menyeimbangin hormon kehamilan nya, kadang dia merasa bahagia, kadang dia merasa sedih, kadang dia ingin berdekatan dengan Dafa, kadang dia begitu marah saat melihat wajah Dafa.


“Kau tidak akan kelelahan nanti, aku janji.” Jawab Dafa.


Tak lama mobil Dafa memasuki Kawasan perumahan elit, rumah-rumah mewah berbaris dengan rapih di sana. Bahkan Ria tidak melihat pedagang asongan atau sekelas orang biasa yang lalu lalang berjalan di area komplek itu, disana begitu sepi hanya ada beberapa mobil yang berpapasan dengan nya.


Suara kelakson Dafa menyadarkan Ria dari pandangan nya bahwa mereka sudah berada di depan gerbang yang tinggi dan besar, seorang satpam yang berdiri di luar pos satpam yang menekan sebuah tombol remote yang ada di tangan nya, dan tak lama terbuka lah gerbang yang besar itu dengan sendiri nya, Ria yang melihat itu tak bisa membohongi diri nya yang terpesona dengan kecanggihan gerbang tersebut.


“Tutup mulut mu kalau tak mau lalat masuk kedalam sana.” Ucap Dafa yang menggoda sang istri.


Ria yang menyadari itu, langsung merasa malu karena ketahuan begitu terkesima hingga mulutnya terbuka. Dia kembali mengontrol ekspresinya.


“Jangan asal bicara.” Ucap Ria yang begitu ketus karena malu.


Dafa yang melihat itu tersenyum, mobil nya memasuki halaman rumah yang sangat luas bahkan jika di pikir-pikir oleh Ria luas nya halaman itu seperti nya sama luas nya dengan kampus nya.


Ria berpikir rumah siapa yang mereka datangi ini?


Ya, Dafa memang membawa Ria ke rumah utama untuk bertemu orang tua nya. Dafa berpikir jika berada di rumah utama Ria tidak merasa kesepian saat Dafa tinggal bekerja, disana juga ada mama Maya yang akan merawatnya.


Sambil Dafa memikirkan waktu yang tepat untuk mempertemukan orang tua nya dengan orang tua Ria.


Dafa segera turun dari mobil nya ketika sudah selesai memarkirkan mobilnya, dia melangkah berputar ke arah pintu Ria dan membuka nya. Dia mengulurkan tangan nya membantu sang istri untuk turun dari mobil.


Ria yang memang merasa tubuhnya lemah itu menyambut uluran tangan sang suami, sebelah tangan Dafa merangkul pinggang Ria yang ramping menuntun nya berjalan masuk ke dalam rumah.


Ria menatap pintu Rumah yang besarnya 5x lipat dari tubuhnya itu, pintu berwarna putih itu bak pintu yang berada di surga dalam bayangan nya. Kaki nya melangkah masuk didalam sana justru nuansa rumah itu terlihat seperti istana, beberapa barang antic berwarna emas, dan sofa yang besar tertata rapih.


Ini bahkan lebih mewah dari apartement milik suami nya itu, Ria mulai merasa canggung, seumur hidupnya dia tidak pernah memasuki rumah semewah ini.


Seketika rasa tidak percaya diri berada di dalam sana hinggap dalam diri nya, Ria menghentikan langkahnya menatap ragu ke sekitar. Dafa yang merasakan tubuh Ria berhenti melangkah segera menatap wajah sang istri, dia mengerti Ria pasti merasa canggung berada disini.


“Ada apa, hem?” Tanya Dafa.


“M-mas ini rumah siapa? Aku lebih baik tunggu di mobil saja jika mas ingin bertemu seseorang.” Ucap Ria yang tergagap karena rasa tidak percaya dirinya, tangan nya bergerak melepas rangkulan tangan Dafa yang berada di pinggang nya.


Dafa yang melihat istri nya sedang tidak percaya diri itu pun tersenyum hangat ke arah sang istri, Dafa seketika memeluk tubuh sang istri seolah pelukan nya dapat memberikan energi postif agar sang istri memiliki rasa percaya diri.


Ria yang terkejut saat di peluk secara tiba-tiba oleh sang suami membulatkan mata nya, dia merasa tidak enak jika nanti pemilik rumah melihat tamu nya malah sedang berpelukan dan dia pun masih membentengi hatinya tidak mau bertemu dalam keadaan intim dengan Dafa.


Dia mendorong pelan tubuh suami nya itu agar melepaskan pelukan nya, namun ternyata Dafa malah mengeratkan pelukan nya.


“Jangan berkecil hati, ada aku yang akan berada disampingmu, kamu sekarang adalah istri seorang Dafa Selome Morrone kamu harus percaya diri, karena kamu sekarang adalah bagian dari keluarga Morrone.” Ucap Dafa dalam pelukan nya.


Ria yang mendengar ucapan sang suami tertegun, seberapa keras dia membentengi hati nya tetap saja dia akan termakan dengan tutur kata manis dari Dafa, dan dia sadar memang saat ini dia sudah menikah dengan Dafa, walaupun dia belum tahu banyak tentang suami nya itu.


Yang dia tahu suami nya adalah seorang professor muda, sudah pasti bagi kalangan mahasiswa seperti Ria suami nya adalah idaman untuk di jadikan seorang suami.


Tanpa Ria ketahui bahwa Dafa berasal dari keluarga yang sangat kaya raya, bahkan perusahaan yang sudah memiliki banyak cabang dan juga rumah sakit yang tersebar di berbagai kota sudah menunggu untuk di pimpin oleh suami nya itu.


“Ekhem..” Suara seseorang seolah menyadarkan dan mengejutkan Ria, dia segela mendorong paksa tubuh Dafa menjauhkan tubuh mereka melepaskan pelukan hangat yang sudah lama tidak mereka lakukan.


TBC