Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Kembali Tak Sadarkan Diri



Suasana dalam ruangan itu berubah menjadi canggung, Ria sungguh tak ingin egois jika sang anak menginginkan kasih sayang dari ayahnya.


Tapi dia juga belum bisa untuk memaafkan suaminya itu, sedangkan Dafa sendiri entah mengapa rasa nya begitu nyaman dengan posisi nya saat ini yang sedang mengelus perut sang istri.


Mungkin ikatan bathin antara ayah dan anak sudah terhubung, walaupun anak mereka belum lahir ke dunia.


Mereka merindukan sentuhan satu sama lain, namun karena pertengkaran kemarin mereka sama-sama memberikan jarak bagi tubuh mereka berdua.


Sang anak yang belum lahir di dunia itu seolah tak mau kedua orang tua nya dalam suasana yang panas, sebenarnya semua yang terjadi ini hanya karena Dafa yang terlalu mencintai Ria, dia tak ingin sesuatu membuat istri nya itu meninggalkan nya.


Perasaan cinta nya itu membuat nya ingin mengekang pergerakan sang istri, rasa cinta yang Dafa tunjukan pada Ria dengan cara yang berlebihan ternyata membuat sang istri tersakiti.


Dan Ria sendiri, dia membenci Dafa dan caranya mengekang dirinya, apalagi ketika suami nya itu sudah di landa rasa marah nya yang tak segan melukai hati dan fisik Ria.


Entah mengapa saat bersama Dafa dia justru merasakan, Cinta dan Benci dalam waktu yang bersamaan.


Ria sendiri bingung, apa yang sebenarnya membuatnya meragu untuk meninggalkan Dafa.


Sebelum kabar sang ayah yang kembali sakit, seharusnya Ria sudah mengajukan perpisahan itu dengan suami nya kala rasa benci pada suami nya itu memuncak.


Namun Ria seolah tak mampu, dulu saat operasi ginjal beberapa hari tak melihat suami nya itu saja dia sudah merasa kehilangan, bagaimana bila dia berpisah selamanya dengan sang suami? Ria sungguh benci dengan diri nya sendiri yang seolah takut berpisah.


Dan anak yang dikandungnya.. bagaimana nasib nya nanti jika Ria pergi menghilang dari Dafa? dia akan kehilangan sosok seorang ayah dan Ria tak menginginkan itu.


Masih dalam suasana haru dan penuh kehangatan, saat tangan Dafa masih menyentuh perut milik Ria akhirnya sebuah pertanyaan terlontar mengisi suara dalam ruangan itu.


Kapan kau akan hadir disini? Mungkin saat kau hadir Ria takan pernah berpikir untuk pergi dariku. Batin Dafa


“Mas..” panggil Ria, Dafa pun segera melihat ke arah sang istri.


“Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” Tanya Dafa, Ria terlihar ragu mengucapkan sesuatu.


“Ada apa sayang?” Dafa kembali bertanya.


“Emh, di-dimana ayah ku di rawat mas? Dan bagaimana keadaannya sekarang?” mata nya menatap Dafa dengan tatapan yang menyedihkan, dia sungguh tak menyangka bahwa sang ayah akan kembali sakit.


“Ayahmu di rawat di rumah sakit Wijaya, keadaannya sudah lebih baik kau tenang saja.” Ucap Dafa memberikan sedikit ketenangan. “Maafkan aku Ria, aku mohon jangan tinggalkan aku. Kau mau bertemu dengan ayahmu?” tanya Dafa kembali.


“Apa boleh aku pulang bertemu ayahku?.” Ria menjadi semangat mendengar ucapan sang suami, secercah harapan timbul di hati nya.


“Kalau begitu kamu harus sehat dulu sayang, aku akan membawamu ke tempat ayah.” Ucap Dafa dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Entah apa yang sedang Dafa pikirkan, Ria tak peduli saat ini dia begitu semangat untuk cepat sehat agar bisa bertemu dengan sang ayah.


“Apa yang sedang kamu pikirkan mas?” Tanya Ria saat melihat sang suami yang sedari tadi hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu, dia penasaran dengan isi pikiran suami nya itu.


Flashback on


Dafa merasa frustasi selama Ria berada di rumah sakit, dia sama sekali tak ingin di temui oleh nya.


Perasaan kalut mengantarkan nya ke depan pintu rumah orang tua sang istri, setelah mencari tahu alamat lengkap sang istri karena biasa nya dia hanya mengantarkan istri nya itu di depan gang saja.


“Assalamualaikum, permisi.” Dafa mengucap salam saat berada di depan pintu.


“Waalaikumsalam, tunggu sebentar.” Terdengar jawaban sang pemilik rumah dari dalam. “Maaf, cari siapa ya?” Tanya Inka saat melihat seorang pria berdiri di hadapannya.


“Apa benar ini rumah Maria?” Dafa kembali bertanya pada Wanita di depan nya.


“Iya, ada keperluan apa ya? Em, tapi maaf Ria sedang tidak di rumah.” Ucap Inka kembali


“Tidak, saya ingin bertemu dengan orang tua Ria.” Dafa menjawab mengkonfirmasi kedatangan nya.


“Saya ibu nya, mari masuk kita bicara di dalam saja. Tapi maaf, rumah kami tidak memiliki tempat duduk yang layak karena biasanya kami jarang menerima tamu.” Inka berkata sambil mempersilahkan tamu nya untuk masuk.


Saat masuk ke dalam rumah Ria, Dafa di persilahkan duduk di atas karpet yang tidak terlalu bagus, terlihat lusuh tapi cukup bersih.


Inka yang saat masuk langsung berjalan kearah dapur, kini sudah kembali membawa segelas air putih di tangan nya.


Dan Dafa sendiri dari tempat nya sekarang Dafa bisa melihat ayah Ria yang sedang terbaring di atas tempat tidur, karena pintu kamar yang tidak di tutup itu.


“Maaf, suami saya sedang sakit jadi dia hanya bisa terbaring disana.” Ucap Inka saat dia melihat tatapan Dafa yang mengarah ke posisi sang suami.


“Tidak apa-apa saya tahu.” Ucap Dafa.


“Sebelum nya, anda siapa ya? Dan ada keperluan apa mencari saya?” Tanya Inka kepada sosok pria yang belum dia ketahui identitas nya.


“Ohh, Dafa. Ternyata anda masih muda ya, Ria sempat bercerita bahwa sekarang dia bekerja dengan anda. Apa Ria melakukan kesalahan sampai anda datang kemari?” tanya Inka yang merasa khawatir ketika Dosen dan bos dari anak nya datang menemui nya.


“Tidak ada, saya sebenarnya datang kemari ingin meminta izin dan restu dari kalian..” Ucap Dafa sambil menatap kearah Ibu Inka bergantian dengan kearah ayah Matien.


Inka yang mendengar penuturan dari orang yang ada di hadapan nya itu penarasan, Izin? Restu? Untuk apa?


“Saya ingin meminta maaf karena saya dan Ria sudah menikah sebulan lalu tanpa sepengetahuan kalian. Memang terlambat, tapi saya ingin meminta restu dari kalian. ” Ucapan Dafa seperti sambaran petir bagi Inka dan Matien yang mendengar dari dalam kamar.


Dadanya terasa sakit, dia merasa kecewa kepada anaknya, mengapa bisa Ria menikah tanpa sepengetahuan nya sebagai seorang ayah?


Sedangkan Inka dia terkejut bukan main, mendengar ucapan dari Dafa kemarahan dan kekecewaan hinggap di dirinya.


“Apa maksud anda?” Tanya Inka memastikan kembali pendengaran nya.


“Saya menikahi Ria saat ayah nya Ria kritis, saya mencintai Ria dan saya ingin membantu Ria menolong ayah nya yang sedang kritis.” Ya, Dafa kini sudah dapat memastikan perasaan nya kepada Ria. Dia mencintai nya, sangat mencintai nya.


“Anda jangan kurang ajar ya, mana mungkin anak kami menikah tanpa sepengetahuan kami?” Inka kini sudah begitu emosi setelah mendengar ucapan Dafa.


“Itu memang kenyataannya, saya kemari ingin meminta maaf dan tolong restui pernikahan kami. Ini photo pernikahan kami sebagai bukti.” Dafa berucap sambil memberikan bukti photo yang di ambil oleh pengurus masjid saat mereka menikah.


Inka mengambil bukti photo itu, tangan nya bergetar dia marah sangat marah. Karena putri nya yang dia asuh sejak kecil menikah tanpa sepengetahuan nya.


“Apa ini? Bagaimana mungkin anda menikahi anak perempuan orang tanpa izin dulu kepada ayah dan ibunya? Dan ayah Ria masih hidup! Pernikahan kalian tidak sah!” Ucap Inka menggebu-gebu kepada Dafa.


“Pernikahan kami sah, karena saat kami menikah Pak Matien sedang dalam keadaan koma setelah kritis. Tentu saja pak Matien tak bisa menikahkan putrinya.” Ucap Dafa dia cukup terlihat santai dalam keadaan menemui mertua nya itu.


Plak.


“Anda jangan kurang ajar, suami saya masih hidup! Ayah Ria masih hidup! Dia masih bisa menikahi anaknya!” Inka menampar pipi Dafa rasanya ia ingin memaki pria di hadapannya ini.


“Tentu saja Pak Matien masih hidup, tapi kami menikah saat Pak Matien tidak sadar. Dan tentu nya berkat pernikahan kami Pak Matien bisa kembali sembuh, saya menikahi Ria karena mencintai nya, saya ingin membantu pengobatan Pak Matien.” Dafa menjelaskan semua nya kepada Inka dengan menahan rasa panas di pipinya karena tamparan ibu mertua nya itu, dia tidak ingin menyembunyikan apapun kepada mertua nya itu.


Dia ingin memulai semua dari awal bersama Ria dengan restu dari orang tua mereka.


Pilu, itu yang di rasakan Matien saat mendengar penuturan Dafa, putri nya itu menikah untuk menyelamatkan nya, karena mereka membutuhkan uang, begitu malang putri nya itu.


Tanpa terasa air mata Matien mengalir, dia tak mampu menahan kesedihannya, menyalahkan dirinya, karena diri nya sang anak harus rela menggadaikan kehidupannya.


Dada Matien terasa sesak dia merasa hancur dan merasa bersalah, seketika nafasnya tercekat dia segera memanggil istrinya itu dengan nafas yang tersengal.


“Inkaaaaaa…I-inka to-tolong” Ucap Matien dari dalam kamar.


Seketika Inka langsung berlari ke arah kamar mereka, Dafa yang terkejut diam membeku melihat ulah nya ayah Ria kini kondisinya kembali tak stabil.


“Ayah! Ya Allah ayah, tenang yah istigfar. Di atur nafasnya yah!” Ucap Inka sambil menangis terdengar sampai keluar kamar.


“A-anakku Inka, kare-na ku Ria menderita.” Setelah mengucapkan kalimat itu sambil terbata Matien akhir nya tak sadarkan diri.


“Ayyyyaaahhh! Tolong .. tolong suamiku.” Inka berteriak setelah melihat suami nya tak sadarkan diri.


Dafa yang dari tadi diam membeku di tempatnya segera berlari ke kamar Inka dan Matien setelah mendengar suara teriakan Inka.


“Biar saya bantu, kita harus segera membawa nya ke rumah sakit.”


Dafa melihat Matien sudah tak sadarkan diri itu kemudian mencoba membantu mengangkat tubuh Matien, dia membawa Matien ke dalam mobil di ikuti oleh Inka yang berlari di belakang nya menyeimbangi Langkah Dafa yang lebar.


Di dalam mobil Inka terus memanggil kesadaran sang suami, air mata nya luruh tak terbendung.


Suami nya baru saja sehat pasca operasi kini kondisinya kembali memburuk setelah Dafa datang memberikan kabar mengejutkan bagi mereka.


“Ayah, aku mohon bertahan demi anak-anak kita. Demi aku yah!” Ucap Inka yang kini sedang memeluk bagian kepala sang suami.


Dia tak bisa membayangkan, berkali-kali dia di pertemukan dengan kondisi suami nya yang skarat.


Istri mana yang siap dan sanggup ditinggalkan suami nya pergi untuk selamanya? Takan ada. Dan Inka tak menginginkan itu terjadi padanya, dia sungguh takut kehilangan suaminya itu.


Mobil dafa melesat dengan kecepatan penuh membelah jalanan, dia pun merasa terkejut ternyata yang dia lakukan untuk mempertahankan istrinya malah mengantarkan sang mertua ke kondisi yang berbahaya.


Dafa memejamkan matanya seraya menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tak habis pikir kenapa dia bisa sebodoh ini karena cinta.


TBC