Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Takut



“Bertemu orang tuaku?” Tanya Ria yang bingung, bagaimana jika nanti orang tua Dafa datang menemui ayah dan ibu nya.


Tidak, Ria tidak ingin orang tua nya terkejut apalagi sampai mengganggu Kesehatan ayah nya. Padahal tanpa Ria ketahui Dafa sudah lebih dulu bertemu ayah dan ibu nya, bahkan membuat sang ayah kembali masuk rumah sakit.


Bagaimana ini? Aku tak mau membuat ayah kecewa. Ucap Ria dalam hati


“Iya sayang, kamu tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja, percayakan pada suamimu sayang.


Sekarang kamu istirahat ya, mama keluar dulu menyiapkan makan siang.” Jawab mama Maya.


“Emh, M-ma..” Panggil Ria ragu.


“Iya sayang?” Jawab Maya yang berbalik saat dipanggil oleh Ria.


“Te-terima kasih, maaf Ria belum bisa..” Ucap Ria terpotong


“Tidak apa-apa, mama mengerti kamu baru pulang dari rumah sakit.” Maya tersenyum kemudian berlalu pergi dari kamar anak nya.


Setelah Maya meninggalkan Ria seorang diri di kamar milik Dafa, Ria menatap sekitar kemudian mencoba merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia mulai memikirkan bagaimana jika orang tua nya tahu pernikahan nya dengan Dafa?


Apa ini saatnya? Ria juga tidak mungkin terus membohongi orang tua nya, sekarang dia sedang hamil lama kelamaan perutnya akan membesar, kepala Ria mendadak menjadi pusing karena memikirkan begitu banyak hal, dia kemudian mulai memejamkan mata nya karena rasa pusing yang mendadak menghampiri nya.


Sementara di ruangan lain Dafa dan papa Lukaz sedang berbicara serius empat mata.


“Kita harus segera menemui orang tua Ria, dan menyelenggarakan pesta pernikahan kalian.” Ucap Lukaz kepada Dafa.


“Tidak pa, jangan sekarang. Ayah Matien masih sakit karena mendengar pernikahan ku dengan Ria aku tidak mau membuat parah keadaannya.” Jawab Dafa ragu akan ajakan sang ayah.


“Benar juga, baiklah kita akan menunggu Pak Matien pulang dari rumah sakit dan berbicara dengan nya. kita harus meminta Ria dengan benar dan baik, kecuali kamu mau mereka membawa kembali putri nya darimu.” Ucap Papa Lukaz menakut-nakuti Dafa.


“PA! jangan bicara sembarangan, aku sekarang sedang mengkhawatirkan itu semua. Tolong bantu aku pa.” Jawab Dafa yang kesal dengan perbuatan nya dulu, mengapa dia menikahi Ria dengan cara yang salah.


“Itu salah mu sendiri, waktu menikahi Ria kamu bahkan tidak bicara pada papa. Sekarang? Kamu malah meminta bantuan papa! Dasar! Pikirkan sendiri jalan keluar nya.” Ucap Papa Lukaz menyindir sang putra dia akan berpura-pura membiarkan sang putra menyelesaikan masalah nya sendiri.


“Pa.. Aku mohon bantu aku kali ini pa..” Dafa memohon pada papa nya.


Tanpa sepengelihatan Dafa, Lukaz tersenyum samar inilah yang dia harapkan putra nya berharap bantuan dari nya, sejak kecil Dafa selalu melakukan semua nya sendiri, dia selalu terlihat dewasa terkadang perilaku Dafa yang dewasa sebelum waktu nya membuat hati Lukaz terasa pedih.


Disaat anak seusia nya dulu mengandalkan ayah nya, berbeda dengan Dafa. Walaupun Lukaz terkadang sibuk dengan pekerjaan nya dia berharap dapat berguna bagi anak dan istri nya, disisi lain dia begitu cuek dan dingin tapi dalam hati nya dia adalah family man.


“Baiklah, tapi tentu saja itu tidak gratis.” Jawab papa Lukaz dengan senyum smirk nya.


“Oh God! Memang dasarnya pebisnis tidak mau rugi walaupun untuk anak sendiri.” Ucap Dafa mata nya melengos sebal dengan sang ayah.


Dafa segera bangkit dari duduk nya, dia akan pergi keluar meninggalkan ruangan kerja Lukaz menghentikan Langkah nya, Dafa berbalik kembali berbicara pada papa nya.


“Dan jangan lupa, batalkan perjodohan ku dengan Thannia!” Ucapan Dafa penuh penekanan pada ayah nya, dia tidak ingin menimbulkan masalah baru karena orang tua nya belum membatalkan perjodohan nya dengan Thannia.


Tanpa sepengetahuan Dafa, setelah dia pulang dari rumah utama pada hari itu Lukaz segera menghubungi Tody dan juga Vera meminta waktu untuk bertemu, disana Lukaz dan juga Maya mengungkapkan yang sebenarnya terjadi, dan juga mengucapkan permohonan maaf karena harus membatalkan perjodohan Dafa dan Thannia.


Sedangkan Thannia yang saat itu sedang berada dirumah tidak sengaja mendengar pembicaraan orang tua nya dengan orang tua Dafa merasa kecewa, ternyata cinta nya bertepuk sebelah tangan.


Dafa meninggalkan ruangan papa Lukaz wajah nya tegas, dia menghela nafasnya bergegas menuju kamar nya untuk mencari Ria. Papa Lukaz yang melihat kepergian putranya itu tersenyum bangga, dia merasa tidak salah mendidik anak nya itu dia seperti melihat saat dia dulu begitu mencintai Maya.


Merelakan berpindah negara, melepaskan semua yang dia miliki di negara asal nya. Pesona Maya mampu membuat Dafa merelakan semua nya, dia begitu jatuh hati pada sosok Maya yang kini sudah dinikahi nya hampir menginjak usia pernikahan setengah abad itu.


Dia tidak pernah ingin melihat sang istri bersedih, perjalanan hidupnya bersama sang istri tidak selalu mulus, Lukaz menikahi Maya dengan tangan kosong, memulai usaha nya dari nol dan tentu saja itu tidak mudah, beberapa kali usaha Lukaz jatuh bangkrut, hingga kini setelah penuh dengan perjuangan akhir nya usaha yang dimiliki Lukaz berjalan stabil.


Dia sungguh bahagia dalam pasang surut hidupnya Maya selalu ada di sampingnya, menemaninya, memaafkan semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada sang istri.


Ah, rasanya saat ini Lukaz ingin menghampiri sang istri, memeluknya dengan rasa haru dan bangga akan perjuangan istri nya mendampingi hidup nya.


Dafa membuka ruangan kamar nya, dia melihat Ria sedang tertidur, wajahnya masih terlihat pucat, namun tetap terlihat cantik bagi Dafa. Bibir Ria yang mungil dan berwarna merah selalu menghipnotis Dafa untuk menyentuhnya, dia menunduk mendekatkan tubuhnya, perlahan Dafa mengecup bibir manis milik Ria.


Dafa seolah candu dengan bibir manis Ria perlahan kecupan itu menjadi *******, Dafa seolah tak peduli jika nanti Ria bangun dia akan kena makian karena Ria masih marah pada nya.


Saat ini dia hanya ingin menuntaskan rasa rindu nya untuk mencium bibir Ria dengan kehangatan, rasa cinta dan rasa sayang yang menggebu dalam hatinya.


Ria yang merasa sesuatu mengusik tidur nya segera membuka matanya perlahan, saat mata nya terbuka pandangan nya terkunci dengan mata Dafa yang sedang menatapnya tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Ria.


Dafa yang melihat Ria diam saja seolah mendapatkan kesempatan yang sangat baik dia memperdalam ciuman nya kepada Ria, sedangkan Ria yang memang merindukan suami nya itu seolah terbuai dengan ciuman sang suami namun tak lama dia tersadar, Ria mendorong tubuh Dafa menjauh dari tubuhnya.


Ria sendiri terkejut karena dia sempat menikmati ciuman sang suami, hormon kehamilan terkadang membuat nya seperti tidak memiliki pendirian, namun sekuat hati Ria menjaga gengsi nya.


“Apa yang kamu lakukan mas?” Tanya Ria.


membulatkan matanya menatap sang suami.


“Ma-maaf, aku mengganggu tidur mu.” Ucap Dafa tergagap karena dorongan yang cukup kuat dari Ria.


Ria mengatur nafasnya, dia mengendalikan lagi tubuh dan pikiran nya agar tidak terbuai dalam sentuhan Dafa. Dia tak ingin kembali kecewa setelah tertipu tutur dan cara Dafa yang seolah mencintai nya, setelah kejadian kemarin Ria tahu Dafa tidak mencintai nya, Dafa hanya menginginkan tubuh nya, dia memanfaatkan Ria yang entah untuk apa dia sendiri belum menumakan jawaban nya.


Ria tidak ingin melukai diri nya sendiri, yang akan berdampak untuk kesehatan kandungan nya. Dia akan mulai mempersiapkan diri nya untuk kelahiran anak nya, dan mengurus anak nya tanpa mengharapkan bantuan dari siapapun lagi. Dia terlalu kecewa untuk beraharap lagi kepada seseorang.


Dulu Ria pernah berharap ibu kandung nya akan datang menghampiri nya untuk sekedar memeluknya dengan hangat, namun sampai detik ini dia tak pernah merasakan pelukan itu.


Dan kemarin Ria berharap Dafa yang hadir dalam hidupnya dengan tiba-tiba kemudian Dafa menawarkan pernikahan yang sesungguhnya, memulai semua nya dari awal namun akhir nya Ria kembali kecewa pada suami nya itu.


“A-aku akan turun kebawah membantu menyiapkan makan siang.” Ucap Ria beranjak dari ranjang.


Dafa menahan tangan Ria, dia menatap Ria dengan pandangan yang sama terluka nya, Dafa terluka karena Ria masih memberi jarak dengan nya, dia benar-benar tidak mampu untuk terus berjauhan dengan sang istri.


“Lepaskan Mas.” Ucap Ria, dia mulai takut Dafa melakukan kekerasan kembali kepada nya dan membahayakan keselamatan anak nya lagi. Tubuhnya seketika gemetar, dia mengingat setiap suami nya menahan tangan nya, menyentuh tangan nya ketika sang suami marah.


Bayang-bayang Dafa yang melukai diri nya dan hampir membunuh calon anak mereka, membuat Ria merasa takut hingga gemetar, Ria memundurkan tubuhnya menjauh dari Dafa. Rasa takutnya dulu saat Dafa yang dengan dipenuhi rasa emosi memperkosanya, telah kembali hadir saat Dafa kembali melukai Ria, ketika dia terbakar api cemburu.


Dafa yang melihat ekspresi dari istri nya itu terkejut, Ria seperti trauma dengan dirinya. Dafa merasa sedih, mengapa harus seperti ini? Dia segera melepaskan tangannya yang sedang menyentuh tangan Ria.


“Sayang? Kenapa?” Tanya Dafa dia bahkan bingung harus bicara apa dengan istri nya itu.


TBC🌝