Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Sorry To Love You



Praaannnkkk


“Aku bilang aku tidak mau. Pergi! Aku bilang pergi! Jangan tunjukan wajahmu lagi dihadapanku.” Kali ini Ria mulai meninggi kan suaranya, mendorong keras tubuh Dafa sampai hampir tersungkur jatuh ke lantai.


Entah pergi kemana kebisuan Ria yang melekat di dirinya seminggu ini, Ria seolah menunjukan kemarahannya di hadapan Dafa.


“Pergi dari sini br***sek!” Ucap Ria dengan berteriak dan melemparkan bantal ke tubuh Dafa.


Tatapan Ria begitu tajam, dan penuh kemarahan. Bagaikan seekor induk singa yang kehilangan anak nya, kali ini Ria memunculkan taringnya.


Dia tidak ingin terus di dominasi oleh sikap egois Dafa, dia akan melawan dan dia akan segera memikirkan cara untuk pergi dari rumah itu.


Ria benar-benar merasa frustasi kehilangan anak nya, dilukai oleh seseorang yang dia cintai, jauh dari kedua orang tua nya benar-benar membuat Ria semakin terpuruk.


Ria menggigit bibir bawahnya, dia memejamkan matanya dia kali ini Ria beranjak turun dari atas tempat tidur nya.


Ria tidak bisa hanya duduk di atas tempat tidur dengan keadaan gelisah, dia menggerakan tubuh nya yang sudah berdiri di samping tempat tidur kesana kemari.


Tanpa mempedulikan kakinya yang terluka karena pecahan beling yang dia injak, rasanya luka di kaki nya tak sebanding dengan luka di hati nya.


Ria menggigit kuku jarinya, dia menangis berteriak lalu kemudian tertawa. Dia menertawakan kehidupan nya yang menyedihkan, Ria melompat-lompat seperti seorang anak yang bahagia karena diberikan permen, dalam sejenak kemudian dia kembali menjambak dengan keras rambut panjang miliknya.


Tubuhnya Ria merosot kebawah, Ria menyandarkan tubuhnya ke tembok, menekuk kakinya kemudian kembali menangis.


Dafa yang sudah berada di luar hanya bisa berdiam diri menyandarkan tubuhnya berduduk di pintu kamar, dia bahkan mendengar dari luar suara tangis dan tawa istrinya.


Dafa paham betul, dia bukan orang bodoh yang tidak mengetahui kondisi istrinya itu, Dafa pun ikut menangis melihat kondisi Ria yang sangat memprihatinkan.


“Maafkan aku sayang, aku benar-benar menyesal.” Ucap Dafa sambil menangis, kedua tangannya terangkat meremas rambutnya dia benar-benar merasa sakit melihat kondisi Ria.


Tak lama Maya dan Lukaz datang ke lantai dua, berniat untuk melihat kondisi Ria mereka malah dibuat terkejut melihat putranya sedang menangis di depan kamar nya.


“Dafa apa yang kamu lakukan? Bagaimana kondisi Ria?” Tanya mama Maya.


“Maaa..” Ucap Dafa dengan wajah nya yang menyedihkan, seolah ia benar-benar tak mampu menjelaskan kondisi istrinya. Dafa hanya sanggup menangis menatap kedua orang tua nya.


“Bangun Daf, jangan begini kamu harus kuat. Semua ini terjadi juga karena ulahmu.” Ucap mama Maya dia mencoba membantu putranya untuk bangkit dari posisi nya.


Namun sepertinya Dafa tidak memiliki tenaga untuk sekedar bangun dari duduknya.


“Dafa benar-benar menyesal, Dafa salah mah” Ucap Dafa yang malah semakin larut dalam tangisnya bahkan kini Dafa menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya dan menutupi nya dengan kedua tangan nya yang melipat sempurna.


“jangan seperti ini, kamu adalah seorang suami. Ria pasti sedang terpuruk kamu tidak bisa memaksakan kehendak disaat begini.” Ucap mama Maya yang kini memeluk Dafa yang masih dalam kondisi terduduk dilantai.


“Dafa bodoh ma, Dafa melukai Ria berkali-kali. Demi apapun Dafa benar mencintai Ria Dafa tidak berbohong.” Ucap Dafa di sela tangisannya yang berada dipelukan ibu nya itu.


“Iya nak, mama mengerti. Mama tahu itu. Saat ini yang dibutuhkan Ria hanya sebuah ketenangan kamu yang harus sabar.” Ucap mama Maya sambil mengelus lembut kepala putra nya itu.


“Dafa tidak mau kehilangan Ria ma, Dafa tidak mau. Ria meminta berpisah dari Dafa ma, Dafa tidak mau.” Dafa menggeleng cepat dia menolak pikiran Ria yang meminta berpisah darinya.


“Sudah sudah.. kamu sekarang bangun dulu, lebih baik sekarang kamu tenangkan pikiranmu dulu. Biar mama yang melihat keadaan Ria.” Ucap mama Maya.


“Benar yang mama katakan, ayo sekarang lebih baik ikut papa kita bicara di ruang keluarga. Biarkan mama yang menenangkan Ria.” Sambung papa Lukaz.


Dafa mengangguk setuju dengan ucapan kedua orang tuanya, dia segera bangkit dari posisi nya dan mengikuti langkah papa Lukaz.


Sedangkan mama Maya mulai memasuki kamar Ria, mama Maya terkejut dan prihatin dengan kondisi menantu nya itu yang dilihat sedang meringkuk di lantai menutup mata dan telinganya.


Mama Maya melihat ada da**h di telapak kaki Ria yang keluar dari luka akibat menginjak pecahan beling, mama Maya ikut terluka melihat kondisi Ria biarpun Ria baru beberapan bulan menjadi menantunya, dan juga baru satu bulan bertemu dengannya.


Tapi bagi mama Maya Ria sama berartinya seperti Dafa.


“Ria sayang, ini mama nak.. ayo bangun sayang.” Ucap mama Maya sambil memapah tubuh Ria agar terbangun dari posisi nya.


“Tidak, tidak tolong lepaskan semua jahat kepadaku. Pergi!” ucap Ria dengan sedikit berteriak, dia menepis tangan mama Maya sampai mama Maya sedikit terdorong menjauh dari tubuh Ria.


“Ria, sabar sayang.. istigfar nak.. ayo mama bantu, kita obati dulu kaki kamu.. mama tidak akan mengecewakan Ria. Ria percaya sama mama kan?” ucap mama Maya sambil menangkup wajah Ria dengan kedua tangan nya.


Ria sedikit lebih tenang setelah mendengar suara mertuanya, dia perlahan menatap wajah mama Maya air mata nya Kembali tumpah.


“Mama, Ria Lelah. Ria hancur maaaa.. Ria ingin pergi, izinkan Ria pergi dari mas Dafa.” Ucap Ria kepada mama Maya.


Mama Maya yang melihat wajah Ria yang penuh luka, ikut merasakan pedih yang sama. Mama Maya merasa gamang harus menahan Ria demi putra nya atau membantu Ria pergi dari Dafa agar kembali Bahagia.


“Apa kamu ingin pergi menjauh dari Dafa nak?” Tanya mama Maya


Keduanya masih sama-sama duduk di atas lantai, kali ini mama Maya akan mencoba mendengarkan apa yang di inginkan oleh Ria.


Semua ini demi Kesehatan mental Ria, dia hanya berdoa semoga Tuhan menuliskan garis takdir agar Ria tetap menjadi menantunya.


Ria yang mendengar pertanyaan mama Maya, mengangguk pelan. Sebenarnya Ria sendiri masih ragu dalam hatinya, hanya saja saat ini Ria merasa sangat membenci suami nya itu, Ria benar-benar merasa Dafa lah yang membuatnya seperti ini.


Memang di usia nya yang baru menginjak 19 tahun, terkadang pikiran nya masih labil kadang dia sendiri bingung bila harus memilih sesuatu.


“Apa kamu tidak mencintai suamimu nak?” tanya mama Maya yang kini mulai menyentuh pergelangan tangan Ria.


“Riaa.. Ria mencintai mas Dafa, tapi Ria merasa ini begitu menyakitkan.” Ucap Ria dengan menundukan kepala nya, kembali air mata jatuh itu terjatuh di sudut matanya.


Mama Maya mengangguk pelan, dia kini paham apa yang sedang dirasakan oleh Ria. Sehingga kali ini mama Maya akan mengambil sebuah keputusan untuk hubungan Ria dan Dafa, berharap keputusan nya ini adalah keputusan yang paling tepat.


“Jika kamu berat disini, bagaimana kalau kamu menenangkan diri di villa milik keluarga mama? Dafa tidak akan mama biarkan menemui kamu disana. Kamu tidak mungkin pulang kerumah tuamu dalam keadaan seperti ini, biar nanti mama minta tolong mbok Darmi menemani kamu disana. Mau?” mama Maya memberikan sebuah saran, dia berpikir ini baik untuk Ria memiliki waktu untuk menenangkan hati dan pikiran nya.


Mama Maya juga berniat memberikan pelajaran untuk Dafa, agar putra nya itu tidak gegabah dalam melakukan Tindakan. Mama Maya akan mengirim Ria ke villa milik keluarganya, membuat kedua insan yang saling mencintai dengan cara yang salah itu sedikit berjarak.


Ria terdiam memikirkan saran dari mama Maya, Ria memang tidak mau bertemu dengan Dafa. Tapi dia juga dilanda kebingungan kemana dia harus pergi menjauh, sedangkan untuk kembali ke rumah orang tua nya Ria begitu takut dengan emosi nya yang belum stabil, dapat membuat kondisi ayah nya semakin parah.


Perlahan Ria mengangguk setuju, Ria akan menerima tawaran dari mama Maya. Dia akan menenangkan diri kemudian menggunakan waktu sebaik mungkin untuk memikirkan hidupnya kedepan nanti.


“Kalau begitu mama akan mengurus semuanya, besok kamu akan pergi ke villa itu. Buat malam ini tolong kamu tenangkan diri, jangan melukai diri kamu sendiri.” Ucap mama Maya menggenggam erat tangan Ria kemudian menghampus air mata di wajah Ria.


“Sekarang kita bersihkan dan obati dulu luka dikaki kamu, ini akan infeksi sayang bila dibiarkan.” Kali ini Ria menurut, membiarkan mama Maya membimbing tubuhnya untuk berbaring di tempat tidur dan mama Maya mengobati luka nya itu.


Setelah berhasil menenangkan Ria yang kini sedang tertidur, mama Maya keluar dari kamar. Saat menuju ke dapur untuk membuang sisa pecahan beling di kamar Ria, mama Maya melewati papa Lukaz dan juga Dafa yang sedang duduk di ruang keluarga.


Dafa yang saat itu sedang memijat kepala nya sendiri yang terasa pusing oleh keadaan, seketika menatap wajah mama nya berharap ada kabar baik dari kondisi istri nya.


Mama Maya menghela nafasnya yang terasa berat saat melihat Dafa, bagaimana pun ini posisi yang sulit bagi mama Maya. Akhirnya mama Maya menceritakan tentang keputusan nya bersama Ria saat berada di kamar, Dafa memang merasa berat tapi dia merasa ini lebih baik hanya satu hal yang mengganjal di hatinya.


Dafa takut Ria pergi tidak untuk kembali, namun akhirnya kini dia akan berjuang dengan takdir, dia tidak ingin kembali egois.


“Kamu tenang saja, mama akan rutin menjenguk Ria disana. Lebih baik kamu banyak berdoa, bertaubatlah nak. Berdoa kepada Tuhan semoga Ria mau memaafkan kesalahan kamu.” Ucap mama Maya


“Aku hanya takut, Ria pergi bukan untuk kembali padaku. Tapi aku akan berjuang merelakan Ria ma, yang penting Ria sehat.” Jawab Dafa dengan pandangan yang menunduk kebawah, Dafa benar-benar kehilangan rasa percaya diri nya.


Saat ini disini lah Dafa, berada di depan pintu kamar nya dengan Ria dengan terduduk di atas lantai, Dafa menyelipkan sebuah surat melalui celah bawah pintu. Dafa tidak ingin mengganggu ketenang Ria yang akan menghambat proses kesembuhan istri nya.


Ria yang sedang melamun merasa sesuatu mengusik nya, Ria melihat ke arah pintu kamar. Disana Ria melihat ada sebuah kertas yang terselip dibawah pintu.


Ria beranjak turun dari tempat tidur nya melangkah mendekat kea rah pintu kamar, Ria kemudian membungkukkan tubuh nya dia mengambil selembar kertas yang membuat nya penasaran kemudian Ria membaca apa yang tertulis disana.


...Aku tahu begitu besar kesalahan yang aku perbuat untuk kamu istriku, ...


...Terkadang Tuhan menitipkan sesuatu untuk kita jaga agar kita belajar untuk mengerti semesta. ...


...Aku yang salah dan belum mengerti tentang arti sebuah pernikahan harus menahan rasa egois, begitu lantang meneriakan kalimat-kalimat yang melukai hatimu. ...


...Aku tidak mengerti apa maksud dunia membuat kita seperti ini, aku hanya berharap di ujung kisah kita akan bersama selamanya. ...


...Aku akan mencoba memberi kesempatan kepada waktu untuk membuat luka itu menghilang, aku titipkan rasa cintaku kepada mu agar tidak dilupakan. ...


...Aku mencintai mu, sangat. Sampai rasanya aku menjadi bodoh. ...


...I’m Sorry and I Love You....


TBC🌝