Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Hasil Dari Kesabaran



“APAAAA? Jadi kamu sudah menikah? Dan suami kamu………?” Tanya Marsha dan Akila yang terkejut setelah mendengarkan cerita Ria,


Mereka sampai tak bisa mengendalikan suara nya yang begitu keras sehingga memanggil perhatian beberapa mahasiswa lain yang berada di kantin.


“Sssttt, pelankan suara kalian. Kalian bisa menimbulkan keributan dengan gosip yang bukan-bukan” Ria mulai panik melihat keadaan sekitar kantin yang mulai memperhatikan mereka bertiga.


“Upss, Sorry. Aku kaget banget lho dengar kabar kamu menikah dengan Pak Dafa yang tampan itu.” Ucap Akila yang kini mulai menurunkan suaranya seperti berbisik.


“Ya gak sekecil itu juga kila. Kamu malah seperti sedang komat-komit.” Ucap Ria, ada rasa menggelitik Bahagia saat bersama sahabat-sahabat nya itu.


Bagi Ria, saat bersama mereka dia bisa sedikit melupakan beban nya sedikit saja.


Setelah selesai dengan kegiatannya di kampus Ria merogoh tas nya mengambil Ponsel milik nya untuk mengirim pesan kepada Dafa.


Dia akan meminta izin untuk pulang ke rumah nya, dia merasa merindukan keluarga nya.


Ria


(Mas, aku akan pulang ke rumah ya.. aku merindukan ayah dan ibu)


Mas Dafa


(Hem, biar aku antar setelah rapat bersama para dekan)


Ria


(Tidak perlu Mas, aku bisa naik bus kota. Aku tidak mau mengganggu, nanti saja kalau kamu sudah selesai dengan kegiatan mu baru jemput aku di tempat biasa ya Hubby)


Dafa yang membaca pesan dari Ria seketika tersenyum, “Hubby” manis sekali panggilan Ria kepada nya. Dia segera menekan tombol hijau untuk menghubungi istri nya


(Kau sedang merayu ku ya? Jangan harap kamu bisa tidur nyenyak nanti malam)


dari sebrang sana suara Dafa seperti sedang menggoda Ria setelah mengangkat telepon dari suami nya itu.


(Tidak Mas, ehm.. apa aku boleh pergi ke rumah ibu dan ayah) Tanya Ria berusaha mengalihkan pembicaraan.


(Hem, Hati-hati di jalan sayang, jangan lupa mengabariku! Nanti pulang aku jemput.) Dafa yang mengizinkan Ria untuk pulang ke rumah orang tua nya membuat hati nya menjadi senang.


(Terima kasih, Mas.)


Tak lama telepon pun terputus setelah Ria mengucapkan terimakasih kepada suami nya karena sudah mengizinkan istri nya itu untuk menengok ayah, ibu dan adiknya.


Sebelum ke rumah orang tua nya Ria mampir menuju ke mini market, kali ini dia akan menggunakan sedikit uang yang Dafa berikan untuk membelikan keperluan di rumah orang tua nya.


Saat sedang mengambil beberapa makanan dan cemilan untuk sang adik Ria terkejut karena lengan nya di tarik pelan oleh seseorang, setelah pandangan nya bertemu Ria semakin terkejut ternyata itu adalah Rendy.


“Ria? Kau kemana saja? Bagaimana kabar mu?” Tanya Rendy yang penasaran dengan kabar Ria.


Yang dia tahu setelah kejadian ayah nya yang anfal dan di bawa ke rumah sakit, Ria tak pernah lagi datang ke kafe, dan kemudian dia hanya menerima sebuah surat pengunduran diri dari Ria.


“Ehm, Rendy.. maaf aku tidak sempat mengabarimu..” Ria sendiri bingung harus bicara apa kepada Rendy, setelah semua yang terjadi pada nya dia lupa untuk memberikan kabar kepada atasan nya di kafe itu.


“Sudah.. lebih baik kita bicara di kafe depan mini market sambil meminum kopi bagaimana?” Ria yang merasa tak enak hati karena tak memberikan kabar mengenai pengunduran dirinya yang secara mendadak mau tak mau menuruti permintaan Rendy.


Setelah selesai berbelanja Ria dan Rendy segera menuju ke kafe di seberang mini market, Rendy memanggil waiters untuk menulis pesanan mereka.


“Kau ingin memesan apa Ria?” Tanya Rendy pada Ria yang duduk di seberang nya.


“Ehm, aku pesan Greentea bobba saja.” Ucap Ria


“Baiklah, Greentea Bobba dan Kopi Hitam satu ya..” Ucap Rendy kepada waiters yang segera menulis pesanan mereka dan berlalu pergi.


“Jadi apa yang akan kau ceritakan kepadaku perihal pengunduran diri mu?” Tanya Rendy kepada Ria yang kini menundukan kepala nya, dia merasa tak enak pada Rendy, dia banyak membantu Ria saat dia kesusahan dengan biaya pengobatan sang ayah, Rendy datang menawarkan pekerjaan padanya.


“Maafkan aku, Ren. Aku tidak memberitahukan kepadamu sebelumnya soal pengunduran diriku, setelah ayah masuk Rumah Sakit dosen di kampus ku menawarkan pekerjaan kepadaku untuk menjadi asisten di rumah nya. Dan karena gaji disana lebih besa raku memilih pekerjaan itu” Ucap Ria berbohong,


Karena memang itu yang semua orang tahu kecuali dirinya, Dafa, Mbok Darmi dan kedua sahabatnya itu.


“Tapi mengapa kau tak menemuiku dulu? Kalau kau membutuhkan uang aku bisa menaikan gaji mu.” Ucap Rendy menyesal karena tak tahu pengunduran diri Ria karena membutuhkan uang.


“Tidak apa-apa Rendy, sebelumnya aku mau berterima kasih, kau sudah cukup membantuku selama ini. Aku malah merasa tidak tahu diri sudah banyak di bantu malah pergi begitu saja.” Ucap Ria merasa sungkan kepada Rendy.


“Apakah dosen itu lelaki yang pernah datang ke kafe?” Tanya Rendy penasaran, apakah dosen yang memberikan Ria pekerjaan adalah lelaki yang pernah menyeret Ria keluar dari kafe.


“Iya, dia Pak Dafa…” Jawab Ria dengan pelan karena merasa tak enak kepada Rendy.


“Apa kalian ada hubungan lain? Apa dosen itu kekasihmu?” Lagi, Rendy bertanya penasaran kepada Ria.


Ada hubungan apa antara dirinya dengan dosen itu sampai sang dosen pernah menarik nya keluar dari kafe dengan kemarahan.


“Kau ini bicara apa, hubungan kami ya hanya sebatas Dosen dengan murid nya. Kebetulan pak Dafa membutuhkan seorang asisten di rumahnya, kalau soal pak Dafa yang pernah membuat keributan di kafe aku minta maaf. Mungkin saat itu dia kesal karena sebelumnya yang dia tahu aku sedang sakit.” Rendy berusaha mempercayai ucapan Ria.


Sebenarnya Rendy memang tertarik kepada Ria, dia merasa Ria adalah Wanita yang Tangguh, dia Wanita yang tidak manja di usia nya yang sangat muda.


Melihat kegigihan Ria dalam bekerja membuat benih-benih rasa suka itu muncul di hati nya.


Sedangkan dari sebrang sana ada sepasang mata yang menatap mereka tajam, tangan nya mencengkram kencang ke setir mobilnya.


Namun saat sudah akan tiba di gang dimana dia dulu menurunkan Ria, dia melihat Ria menyebrangi jalan bersama seorang pria yang pernah dia lihat saat menemui Ria di kafe.


Dafa yang merasa penasaran kemana istri nya itu akan pergi bersama pria yang bersama nya, kemudian melihat Ria memasuki sebuah kafe dengan pria itu.


Dafa melihat Ria yang berbincang sambil sesekali tersenyum kepada pria itu menyulut amarah Dafa, rasa cemburu nya membucah di dalam hati nya.


Akhir nya Dafa memutuskan memutar balik kan kendaraan nya, ia membatalkan niat nya yang ingin menyusul Ria ke rumah orang tua nya.


Dia merasa marah karena merasa di bohongi oleh istri nya itu yang izin untuk mengunjungi orang tua nya, tapi malah di temukan berada di sebuah kafe dengan seorang pria, dia merasa di khianati oleh Ria.


Sedangkan Ria setelah berbincang sebentar dengan Rendy mengklarifikasi pengunduran dirinya dari kafe segera menuju ke rumah orang tua nya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga nya.


“Assalamualaikum, Ibu.. Rio.. Ria pulang” Ucap Ria yang memasuki rumah nya itu.


Ibu yang sedang menyuapi ayah nya makan di kamar dan Rio yang sedang menggambar di ruangan yang sama itu segera tersenyum, Rio berlari menuju ke luar kamar menyambut kedatangan sang kaka yang lama tak ia lihat.


“Kaka pulang?” Rio tersenyum sambil berlari memeluk kaka nya itu, Ria menekuk tubuhnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang adik.


“Iya sayang, Rio kangen kaka?” tanya Ria menatap wajah sang adik yang usia nya baru 10 tahun itu.


“He’em, kaka kemana saja? Kenapa kaka tidak pernah pulang?” tanya sang adik pada kaka nya itu


“Kaka kan bekerja sayang, lihat kaka bawa apa” Ria menunjukan belanjaannya yang tadi sempat dia beli saat mampir ke mini market.


“Waaahhh coklatttttt, ini untuk Rio ka?” tanya sang adik yang terlihat gembira, selama ini Rio tak pernah menikmati jajanan yang berasal dari mini market.


Kalaupun dia pernah memakan sebatang coklat itu jika ada anak tetangga yang berulang tahun, karena sang ibu selalu mengajarkan berhemat pada Rio walaupun sejak kecil Rio tak seperti anak lain nya yang bisa membeli makanan sesuka hati mereka.


“Iya sayang ini semua untuk Rio, jangan lupa untuk menggosok gigi setelah memakan nya ya.” Ucap Ria sambil mengusap kepala sang adik dengan kasih sayang.


“Kau pulang nak?” tanya sang ibu yang muncul setelah membereskan sisa makanan sang ayah.


“Iya bu, Ria pulang sebentar untuk menengok ayah” Ria bangkit kemudian mencium telapak tangan sang ibu.


“Apa kamu sudah makan? Ibu tadi membuatkan tumis kangkong kalau kau mau.” Tanya sang ibu.


“Ehm bu, sebenarnya Ria sudah lama ingin nasi goreng kencur buatan ibu.. rasanya Ria merindukan masakan ibu itu.” Ucap Ria sambil memeluk ibu nya dari belakang tubuh sang ibu.


“ya ampun kamu ini, kalau cuman itu ibu mampu.. sebentar ibu buatkan ya..” ibu tersenyum sambil tangannya terangkat mengelus kepala anak nya yang masih memeluk nya dari belakang.


“Baiklah, Ria akan menunggu di kamar ayah. Ria sangat merindukan ayah.” Ria pun segera berlalu meninggalkan ibu dan adik nya menyusul sang ayah yang ada di kamar.


Saat tiba di kamar sang ayah, Ria melihat ayah nya yang juga sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum


Senyuman itu, aku merindukan senyuman itu.


Ria tersenyum kepada sang ayah, matanya mengembun kala melihat senyuman sang ayah yang sudah lama tak ia lihat kini ia kembali melihatnya. Dia merasa beruntung Tuhan masih mengizinkan nya untuk melihat senyuman itu.


“Ayaahh, Ria datang.” Ria berjalan mendekati tempat tidur ayahnya.


“Kemarilah nak, apa kau tidak merindukan ayah.” Ria menghentikan langkahnya, dia terkejut ayah nya sudah bisa berbicara.


Rasa haru memenuhi ruangan itu, Ria terharu bahagia ayahnya memiliki perkembangan yang pesat dalam Kesehatan nya.


“Ayah? Kau sudah bisa berbicara?” Ria mendekat kepada ayahnya kemudian memeluknya dengan erat.


“Iya nak, apa kau Bahagia?” Ria menatap ke atas, menatap ke wajah sang ayah dia mengangguk sambil tersenyum kemudian kembali membenamkan wajahnya di tubuh sang ayah.


“Ria Bahagia ayah, sangat Bahagia. Terimakasih karena ayah sudah berjuang untuk sembuh.” Ucap Ria.


“Tidak nak, ayah yang berterima kasih karena kamu mau bersabar. Kamu ingat kan, kalau kita bersabar kita pasti Bahagia?” tanya sang Ayah, yang kemudian di angguki oleh Ria.


“Apakah kau sehat? Ayah melihat badan mu sekarang mulai berisi dan semakin cantik.” Ucap sang ayah memastikan kondisi anaknya.


Ria memang merasa akhir-akhir ini nafsu makan nya bertambah. Namun terkadang dia merasa mudah lesu, mungkin faktor pasca operasi masih ada.


“Ria sayang, ayo makan dulu ini nasi goreng nya sudah jadi.” Tak lama sang ibu datang memanggil Ria untuk memakan makanan nya.


“Ayah, Ria makan dulu ya sebentar. Kita akan ngobrol lagi.” Ria berjalan keluar kamar ayah nya.


Ria memakan nasi goreng kencur buatan ibu nya itu dengan sangat lahap, sampai sang ibu terheran melihat nafsu makan sang anak. Tidak biasanya Ria makan begitu lahap nya semenjak kejadian kasus sang ayah.


“Makan nya pelan-pelan sayang, kalau kurang ibu bisa buatkan lagi.” Ungkap sang ibu agar Ria memakan nya secara perlahan.


“Benarkah? Apa aku boleh meminta nya lagi bu?” Tanya Ria dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi.


“Kau ini seperti orang kelaparan saja, nasi di mulutmu saja belum tertelan semua. Sudah meminta nya lagi.” Ucapan Ibu menyadarkan Ria, dia tak biasa nya makan begitu lahap seperti ini.


Tapi Ria pikir ini karena pengaruh vitamin yang diberikan dokter setelah operasi kemarin.


Seharian Ria berbincang, tertawa dan berbahagia menghabiskan waktu nya bersama keluarganya.


Waktu menunjukan waktu pukul 8 malam. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat Ria melihat ponselnya namun tak ada pesan apapun yang masuk, padahal dia menunggu Dafa mengirimkan pesan karena sudah berjanji akan menjemputnya.


TBC🌝