Love The Way You Lie

Love The Way You Lie
Tak Sadarkan Diri



Beberapa pesan sudah Ria kirimkan kepada Dafa, dia selalu mengabari suaminya itu namun tak satupun pesan di balasnya.


“Menginaplah nak, kamu bisa izin barang sehari kepada bos mu itu.” Ucap sang ibu memecah lamunan Ria yang sedang menatap ponselnya.


“Hem, Ria juga ingin nya begitu. Tapi tadi Ria hanya izin untuk pulang sebentar bu.. lain kali Ria akan izin untuk menginap” ucap Ria kepada ibu nya.


“Sebenarnya apa saja pekerjaan mu di rumah Pak Dafa?” Tanya sang ibu yang mulai penasaran dengan pekerjaan sang anak, karena anaknya tidak pernah pulang ke rumah setelah bekerja dengan Dafa.


“Ria menjadi asisten nya Pak Dafa bu, Ria membantu beberapa pekerjaan Pak Dafa dan orang tua nya.” Jawab Ria yang di angguki oleh sang ibu.


“Kalau begitu, cepatlah kembali. Tak enak jika kau pulang kesana terlalu larut lagian ayah dan Rio juga sudah tertidur.” Ucap sang ibu


“Hem, baiklah bu. Kalau begitu Ria pamit ya, Assalamualaikum.” Ria pamit mencium tangan sang ibu


“Waalaikumsalam, hati-hati ya sayang.”


Ria pun bergegas pulang ke apartement Dafa, kali ini dia pulang menggunakan Bus kota dia ingin bernostalgia dengan kebiasaannya dahulu. Ingin sedikit berpuas diri mumpung dia di izinkan pergi oleh Dafa.


Saat sampai ke apartement dia tidak menemukan suami nya, dia masuk ke kamar mereka namun lagi-lagi dia tak menemukan suaminya.


Dia beranjak ke ruang kerja sang suami, mengetuknya perlahan.


Dia ingin memberi tahu suami nya kalau dia sudah pulang, dan ingin menanyakan mengapa suami nya tak membalas pesan nya sama sekali.


Tok. Tok.


“Mas, kau di dalam?” Tanya Ria berharap ada jawaban dari dalam sana, Ria tak berani nyelonong masuk ke ruang kerja Dafa karena sebelumnya Dafa sudah memperingati nya.


Namun karena tak ada jawaban Ria mencoba membuka pintu ruang kerja Dafa itu.


Ria masuk kedalam sana, dia memperhatikan sekitar ruang kerja suami nya itu, tak ada tanda-tanda suami nya habis dari dalam sana yang bertanda bahwa suami nya itu belum pulang.


Ria merasa memiliki kesempatan untuk melihat-lihat ruangan kerja suami nya itu, tempat di mana Dafa memeriksa tugas mahasiswa.


Ria mulai mendudukan dirinya di kursi kerja suami nya itu, melihat-lihat beberapa berkas, nampaknya rasa penasaran Ria tak berhenti sampai di situ.


Kini Ria mulai memeriksa isi meja kerja suami nya itu, membuka laci-laci kecil meja kerja suami nya sampai pandangan Ria terpaku pada amplop coklat yang tersimpan paling atas di dalam laci.


Amplop coklat itu bertuliskan Rumah Sakit Wijaya, Ria yang penasaran dengan isi amplop itu segera mengambilnya dia ingin melihat, mungkin itu berkas operasi nya kemarin.


Deg.


Mata Ria membulat Ketika sudah berhasil membuka amplop tersebut, disana tertulis jelas nama nya dengan diagnosa hasil lab.


Ria terkejut bukan main, diri nya seketika merasa kecewa. Dia merasa di tipu habis-habisan oleh Dafa dan Dokter yang memeriksa nya.


Apa-apaan ini, mengapa semua nya yang tertulis disini jauh berbeda dengan yang dia jalani.


Seketika Ria meraba perutnya, dia meraba bekas luka operasi nya. Mata nya mengembun, hati nya terasa tertusuk sebilah pedang.


Sakit. Batin Ria


Suara pintu yang terbuka menyadarkan Ria, dia segera menghapus air mata nya yang tadi berhasil lolos.


Merapikan kembali surat kepedihan yang tadi sempat dia baca kembali ke tempat asal nya.


Ria bergegas keluar, dia tidak akan bertanya kepada suami nya itu. Dia akan menunggu Dafa berbicara sendiri kepada nya.


Dafa yang baru sampai di apartement seketika terkejut melihat Ria yang baru saja keluar dari Ruang kerja nya. Mata nya menatap tajam ke arah Ria, aroma kemarahan seketika tercium di ruangan itu.


“Kamu baru pulang, Mas?” Tanya Ria yang kini menghampiri suami nya.


“Ngapain kau dari ruang kerja ku?” Tanya Dafa yang menatap nyalang ke arah Ria.


“Aku baru saja mengecek apakah Mas ada di dalam atau tidak.” Jawab Ria tak sepenuhnya berbohong.


“Alasan! Bukankah sudah ku katakan untuk jangan pernah masuk ke dalam sana?” tanya Dafa dengan nada suara yang mulai meninggi.


Ria sedikit terkejut setelah sebulan lama nya, Dafa kembali berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Ria yang memang sudah kecewa dengan suami nya itu memberanikan diri berbicara menjawab ucapan suami nya.


“Memangnya ada rahasia apa yang kamu sembunyikan dari ku didalam sana sampai aku tak di ijinkan untuk memasuki nya?” Tanya Ria yang sedikit menyindir suami nya itu. Dia memancing barang kali Dafa akan berkata jujur.


“Berani sekali kau menjawab ucapanku, apa setelah menghabiskan waktu bersama pria lain di luar sana kau mulai lupa dengan status mu di sini?” Dafa kembali menyalakan bara api keributan dengan istri nya itu.


“Apa maksud mu, Mas? Bukan kah aku sudah ijin akan menjenguk keluarga ku?” Tanya Ria tak terima dengan tuduhan Dafa yang mengatakan dia telah menghabiskan waktu nya dengan seorang pria.


“Apakah memang begitu sikap mu yang asli? Kau tak pernah puas dengan satu pria? Setelah mendapatkan uang nya kau mencari mangsa yang lain? Apa dia juga menyentuhmu?”


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi Dafa, Ria menampar Dafa.


Dia tak terima akan tuduhan nya, emosi nya memuncak saat Dafa mengatakan hal yang menyakitkan bagi Ria.


Dafa menyentuh pipinya kemudian dia tersenyum dengan wajah yang smirk.


“Ternyata aku salah menilai mu, aku pikir kau Wanita baik-baik dan berbeda dengan para ja*lang diluaran sana, ternyata kau sama saja. Berapa dia membayarmu sampai kau pulang malam kali ini?” Tanya Dafa yang seolah tak puas untuk menghina istri nya itu.


Plak.


Lagi, tamparan Ria bersarang di pipi Dafa. Dia bahkan tak mampu berkata-kata, bagi nya tuduhan Dafa keterlaluan dan tak beralasan padahal Ria selalu mengabari Dafa setiap waktu.


Dan Dafa sendiri yang tidak membalas pesan Ria, jangankan membalas Dafa bahkan tak melihat isi pesan Ria yang bahkan mengirimkan video ayah nya yang sudah memiliki perkembangan.


“Apa sebegitu hina nya diriku dimatamu, mas?” Air mata itu lolos beriringan dengan ucapan Ria, “Aku memang mengandalkan uangmu untuk pengobatan ayah dan diriku. Tapi aku tidak menjual tubuhku ke pria lain seperti tuduhan mu!” Ria mulai meninggikan suaranya, dia tak tahan dengan tuduhan Dafa.


“Berati kau memberi nya dengan Cuma-Cuma? Kau memang murahan!” ucap Dafa kembali menyakiti Ria.


Tangan Ria yang mulai terangkat tiba-tiba tertahan karena kali ini Dafa menahan tangan nya yang sudah bersiap menamparnya.


“Aku tak akan membiarkan kau menamparku untuk yang ketiga kalinya, dengan tangan kotor mu itu!” Ucap Dafa dengan rahangnya yang mengeras.


“sebaiknya kau berkaca,Mas. Yang hina itu aku atau dirimu.”


Ria memberanikan diri membalas ucapan Dafa dia sudah tidak ingin menahan nya, bagi nya sekarang waktu yang tepat untuk membicarakan soal surat keterangan dari Rumah sakit yang dia temukan tadi.


“Apa maksudmu?” Dafa mulai merasa kesal, dia menjambak rambut Panjang ria. Di tariknya oleh Dafa menuju ke kamar mereka.


“Lepas Mas! Ini sakit..” Ria memegang tangan suami nya itu, mencoba melepaskan jambakan di rambutnya.


Tapi jambakan yang dilakukan Dafa terlalu kuat, Ria meringis sambil terus mencoba melepas tangan Dafa dari rambut nya.


Dafa menutup pintu kamar dengan kencang, menguncinya, kemudian dia mendorong tubuh Ria ke tempat tidur.


Ria yang terlepas dari Dafa mencoba untuk bangkit dan kabur namun saat dia berhasil membuka kunci kamar, Dafa menahannya dan mendorong tubuh Ria sampai membentur dinding kamar sampai membuat punggung Ria terbentur keras.


Dafa segera mengunci kembali pintu kamarnya dan membuang sembarang kunci itu. Dafa kembali menghampiri Ria, dia mence*ik leher jenjang milik Ria kemudian mencium bibir Ria dengan ciuman yang kasar.


“Apa dia mencium mu juga seperti ini?” Tangan Dafa turun kebawah meraba segala yang ada di sana.


“Apa dia menyentuh mu seperti ini, hah? Jawab!” Rasanya kemarahannya sudah membuat Dafa tak waras, dia kembali melukai istri nya bukan hanya fisik tapi hatinya kembali dia lukai.


Dafa mendorong Ria ke tempat tidur, dia melepaskan pakaiannya dan pakaian Ria.


“Apa aku kurang memuaskanmu?”


Kali ini Dafa akan memaksakan nafsu nya lagi ke istri nya itu. Namun pergerakan nya terhenti kala ia mendengar ucapan sang istri.


“Kau akan membayarku berapa, untuk meniduriku?” Tanya Ria, mata nya menatap pedih suami nya itu.


Bagi nya harga diri nya sudah hilang bersama hinaan dan perlakuan kasar Dafa.


Plak.


Dafa yang merasa benci dengan kata-kata Ria kini melayangkan tangan nya menampar pipi mulus dan putih milik Ria, seketika tanda merah tercipta dari hasil tamparan Dafa.


“Kenapa Mas marah? Bukankah itu yang Mas tuduhkan kepadaku?” Tanya Ria kembali sambil memegang pipi nya yang terasa panas.


“Anggap saja ini bayaran untuk biaya pengobatan ayahmu!” Ucap Dafa tanpa memikirkan perasaan istri nya itu.


Deg.


Jawaban Dafa begitu melukai hati nya, Ria kini menyadari apa yang Dafa ucapkan soal memulai semua nya dari awal, mencintai nya, ingin hidup sampai akhir khayat bersama nya hanyalah kebohongan.


Dafa melanjutkan kegiatannya, dia memaksa tubuh Ria, melakukan penyatuan dengan kasar. Dafa mencengkram apapun yang bisa disentuhnya, dia lupa Ria baru saja melakukan operasi pada tubuh nya.


Luka yang baru saja berangsur kering itu mengeluarkan kembali cairan merah.


Seketika Ria menjerit, dia merasakan sakit di bagian perutnya, dia juga merasakan penuh di bagian bawah perut nya saat Dafa memasukan milik nya pada tubuh Ria.


“Masss, to-long hentikan, ini sakit Mas. Tolong keluarkan!” ucap Ria menjerit.


Namun Dafa yang seolah sedang kerasukan itu tak menggubrisnya, dia terus menggerakan tubuhnya dengan kasar tanpa mempedulikan kondisi Ria.


Sampai akhirnya tubuh Ria terkulai lemah tak sadarkan diri. Seketika raut wajah panik hinggap di dirinya, dia melepaskan penyatuannya itu sambil menepuk-nepuk pipi Ria berharap Ria sedang berpura-pura.


“Ria! Ria! Bangun sayang.” Ucap Dafa sambil terus berusaha menyadarkan istri nya itu.


Seketika Dafa terkejut saat dia melihat cairan merah di perut Ria yang mengalir dari bekas luka jahitan itu, dan Dafa melihat paha Ria yang kini sudah berlumuran dar*h.


“Ria!! Sadar Ria, bertahanlah Ria.”


TBC🌝