
“Karena aku mencintaimu.” Ria terkejut mendengar jawaban dari mulut Dafa. Semudah itu ? pasti tidak mungkin kan, dia tak mudah percaya.
Dia yakin Dafa mengucapkan itu untuk membuat hati dan pikirannya tidak setres menjelang operasi.
Dia merasa Dafa masih menyembunyikan sesuatu, baginya dua orang yang awalnya tidak saling mengenal mana mau menolong sampai sebegitunya.
Dan mana mungkin dua orang yang baru saja mengenal selama sebulan kurang sudah merasakan cinta. Mustahil.
Padahal tanpa Ria sadari rasa cinta itu sendiri sudah mulai tumbuh di hatinya.
Berkembang seperti si rawat dengan baik oleh seseorang.
Tak lama seorang perawat kembali datang membawa dua nampan berisi makanan untuk Ria dan Dafa.
“Silahkan dimakan Tuan dan Nona, karena mulai nanti malam kalian harus berpuasa untuk proses operasi besok pagi.” Ucap perawat yang sedang menaruh makanan di meja yang berada dekat berangkar Ria dan Dafa, lalu dia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
“Lebih baik kita makan dulu.” Ucap Dafa sambil menggeser meja mendekat ke arah berangkar Ria. Mereka makan sambil berbincang dan tertawa. Entahlah pembicaraan apa yang membuat mereka terlihat begitu seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta.
“Ngomong-ngomong Mas, aku seperti tidak merasakan memiliki penyakit yang cukup parah kecuali dengan seringnya aku pingsan.” Dafa yang sedang memasukan makanannya kedalam mulut hampir tersedak mendengar ucapan Ria.
Istrinya itu terlihat lebih bawel dan ceria dari sebelumnya. Dan soal pertanyaan Ria, Dafa hanya bisa terdiam menatapnya.
“Kadang aku berpikir, mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk memikirkan kondisi ayah. Tapi setelah kondisi ayah membaik, aku masih tetap tidak merasa memiliki gejala penyakit yang mematikan seperti ini. Hem, miris bukan? Tubuh ku bahkan seolah terbiasa hehe” ucap Ria sambil tersenyum seolah sedang memuji dirinya sendiri.
“Ya, mungkin Tuhan menciptakan mu untuk menjadi Wanita yang kuat.” Ucap Dafa yang berbicara sambil menatap makanannya.
Semoga kamu pun kuat dan mampu untuk menerima kebohonganku nanti dan bertahan di samping ku. Batin Dafa
Langit mulai menggelap, sepasang suami istri itu mulai berbaring di tempatnya masing-masing menatap ke atas. Mereka di penuhi dengan pikirannya masing-masing.
“Mas, terima kasih banyak sudah berkorban banyak untuk ku.” Kembali, Ria mengucap terima kasih atas perjuangan suaminya itu sambil tetap menatap ke atas.
“Ya, semoga kau mendapatkan bahagia mu setelah sembuh sepenuhnya.” Dafa menjawab sesuai isi hatinya dengan posisi yang sama dengan Ria.
Ria menengokan kepalanya menghadap ke arah suaminya setelah mendengar jawaban ambigu sang suami.
Sepasang suami isteri itu pun kembali menatap ke arah yang sama dengan pikirannya masing-masing dan kemudian keduanya terlelap.
Apa, setelah aku sembuh Mas Dafa akan meninggalkanku dan melepaskanku? Batin Ria
Semoga kau mau memaafkan ku setelah mengetahui apa yang terjadi dalam hidupmu. Batin Dafa
Keesokan harinya Ria dan Dafa sama-sama memasuki ruang operasi dengan keadaan tertidur di berangkar masing-masing.
Keduanya saling menatap dan menguatkan, selang oksigen dan kabel-kabel mulai terpasang di tubuh mereka berdua.
Tak lama kemudian mata keduanya terpejam tanda obat bius sudah bekerja.
Lampu di pintu ruang operasi mulai menyala, tanda operasi sedang berlangsung di dalam sana.
Dokter Bimo dan beberapa perawat mulai bersiap, menggoreskan pisau bedah ke tubuh mereka berdua.
Selanjutnya hanya Dokter Bimo, para perawat dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi di ruangan itu.
.
Ria mulai membuka matanya perlahan setelah lama matanya terpejam, cahaya buram yang mulai masuk mengisi rongga matanya mulai membawanya ke dalam kesadaran.
Selang oksigen masih terpasang di hidungnya, tangannya masih ter**suk jarum infus.
Ria mengedipkan matanya untuk menetralkan pandangannya, dia berusaha menengok ke arah samping untuk melihat kondisi suaminya.
Namun tak nampak suaminya di sana, bahkan tempat tidur yang semalam tersedia kini hilang lenyap entah dimana.
Pikiran Ria menerawang kemana-mana, dia benar-benar takut hal yang selama ini dia bayangkan menjadi nyata, Dafa meninggalkannya, atau sesuatu yang buruk terjadi pada Dafa saat operasi.
Dia mencoba untuk bangun dari posisi nya, namun perutnya terasa sakit, mungkin bekas sayatan pasca operasi mulai terasa setelah obat bius menghilang seiring dengan kesadaran Ria.
Dia mencoba mengatur nafasnya, berusaha untuk tetap tenang sambil menunggu seseorang datang ke dalam ruangannya.
Pintu ruangan Ria terbuka, menampilkan Dokter Bimo yang datang dengan beberapa perawat yang mendampingi nya.
“Kau sudah sadar Ria? Bagaimana kondisimu? Apa yang sekarang di rasa?” pertanyaan itu sudah pasti terlontar dari mulut seorang Dokter yang sedang memeriksa pasiennya.
“Baik, dok. Tapi luka di perut ku terasa sakit, dan sedikit mual.” Ucap Ria dengan suara lemasnya.
“Tak apa, itu hal yang normal bagi pasien yang habis melakukan operasi. Istirahatkan badan mu dan jangan banyak bergerak sampai luka nya mengering.” Ucap Dokter Bimo sambil tersenyum kepada Ria.
“Ehm, Dok. Dimana Mas Dafa? Kenapa dia tak ada disini?” Tanya Ria penasaran kenapa suami nya tak ada saat dia membuka mata.
“Tuan Dafa berada di ruangan berbeda, kami sengaja memisahkan ruangan kalian agar proses pemulihan kalian cepat.” Dokter Bimo menjawab keresahan hati Ria.
“Tak usah khawatir, dia sama seperti mu. Baik-baik saja.” Tambah Dokter Bimo agar Ria kembali tenang dan fokus pada kesembuhannya.
Setelah Dokter Bimo keluar dari ruangan Ria, selama dua hari Ria melakukan beberapa pemeriksaan pasca operasi besar.
Suaminya masih belum nampak di hadapan nya, dan Ria pun hanya mengetahui kabar Dafa melalui Perawat atau Dokter Bimo.
Hari ini Kondisi Ria mulai membaik, dia sudah mulai bisa bangun dari posisi tidurnya. Tapi tentu saja dia belum boleh banyak bergerak, Ria hanya akan bergerak Ketika dia ingin buang air kecil atau sekedar membersihkan diri.
Saat Ria selesai membersihkan diri di kamar mandi yang berada di ruangannya dia terkejut melihat seseorang yang sedang duduk di kursi roda dengan posisi membelakanginya.
Dari belakang Ria seolah mengenali bahwa itu adalah Dafa, suaminya.
“Mas Dafa?” panggil Ria dari arah belakang seseorang yang sedang duduk di kursi roda itu.
Dafa menengok ke belakang, dia melihat isterinya berjalan secara perlahan ke arahnya.
“Kemarilah secara perlahan, apa kau merindukan ku hem?” Tanya Dafa mengangkat kedua tangannya seolah menyambut kedatangan Ria yang sedang berjalan ke arahnya.
Ria mengangguk penuh semangat dan senyuman, dia memang merasa harinya menjadi sunyi setelah dua hari tak bertemu Dafa.
Ria menyambut tangan Dafa, keduanya kini saling berpegangan, Dafa membantu Ria dari tempatnya untuk duduk di tempat tidur yang berada tepat di hadapannya.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya Dafa kepada isterinya yang dijawab dengan Ria menggeleng pelan.
“E-em, bukan aku yang harusnya di tanya. Tapi Mas Dafa! Apa Mas Dafa baik-baik saja? Maaf sudah membuat Mas kesusahan karena membantu ku.”
Ucap Ria dengan tatapan yang sedih ke arah suaminya itu, setelah dua hari tak bertemu Ria merasa bersalah karena telah membuat su aminya kesusahan dan kesakitan.
“Aku baik-baik saja, sayang. Berbahagialah mulai saat ini.” Ucap Dafa menggenggam tangan Ria.
“Bukan, Mas. Tapi mari kita berbahagia bersama.” Koreksi Ria terhadap ucapan suami nya dengan senyum hangat yang menghiasi wajahnya.
Apakah dengan keberhasilan operasi Ria dan Dafa akan menjadi langkah yang baik bagi hubungan mereka, tak ada yang tahu apa yang akan tangan Tuhan dan tentu nya tangan Author tuliskan untuk kehidupan mereka.
Setelah melalu serangkaian medical check up dan perawatan selama seminggu penuh, akhir nya Ria dan Dafa bisa pulang dari Rumah Sakit.
Ya, untuk memastikan tidak ada masalah pasca operasi Ria dan Dafa ternyata harus menambah waktu mereka bermalam di Rumah Sakit yang awalnya hanya tiga hari menjadi seminggu.
Rasanya Ria sudah tidak sabar untuk melanjutkan hidup nya, kembali melanjutkan kuliah seperti sebelumnya.
Seperti pagi ini Ria sudah siap dengan pakaian nya yang rapih untuk berangkat ke kampus nya.
Dan kini dia tengah merias diri di depan meja rias nya, Ria begitu bersemangat sampai tak sadar bahwa lelaki yang tengah berbaring di belakang nya itu tengah menatap nya.
Sampai Ria menangkap wajah Dafa yang sedang menatap nya dari pantulan cermin.
“Mas sudah bangun?” Tanya Ria sambil membalikan tubuh nya menghadap ke arah suaminya yang kini mulai terduduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajah nya.
“Hem, mau kemana kamu sudah rapih begitu?” Tanya Dafa penasaran melihat istri nya yang sudah terlihat cantik itu.
Ria membalikan kembali tubuh nya untuk membereskan meja rias yang habis dia gunakan itu.
“Aku, Aku berencana untuk pergi ke kampus. Aku mulai banyak ketinggalan pelajaran Mas.” Ucap Ria kepada suami nya yang kini sedang berjalan ke arah nya.
Dafa menyentuh Pundak Ria, dia membungkuk kan tubuhnya kemudian menaruh dagu nya di bahu tubuh istri nya itu.
“Apa kau berniat menggoda para pemuda di kampus, hingga berdandan secantik ini, hem?” Tanya Dafa sambil menghirup aroma tubuh Ria yang kini membuat nya menggila setiap mencium nya.
Ria menggerakkan bahu nya tanda dia mulai terganggu oleh rasa geli yang hinggap karena ulah suami nya itu, pipi Ria memerah rasa malu mulai merasuki kalbu nya.
Di perlakukan begitu manis oleh suami sendiri siapa yang tidak menyukai nya.
“Tentu saja tidak, Mas. Lagi pula aku hanya menggunakan liptint dan bedak tipis saja.” Ria tersenyum ke arah cermin menatap suami nya yang masih betah di posisi nya saat ini.
“Hhmmhh, apa tidak sebaik nya kamu beristirahat lagi? Atau perlu aku buatkan surat cuti kuliah?” Dafa menghela nafas Panjang, seakan tak rela melihat istri nya itu akan kembali pergi berkuliah bertemu dengan ratusan pasang mata predator yang siap memakan nya.
“Itu tidak mungkin, aku akan kehilangan beasiswa ku. Mas tentu tahu bukan aku berkuliah dengan beasiswa?” tanya Ria sambil tersenyum hangat seraya mengingatkan nya tentang status nya sebagai Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa.
“Tidak masalah, kau tinggal melanjutkan perkuliahan secara regular. Aku akan membayar biaya kuliah mu.” Ucap Dafa secara mudah, apa yang sulit bagi seorang Dafa Selome Morrone.
“Em-Em” Ria menggelengkan kepalanya sambil mengecilkan bibir nya “Aku tidak mau, bagiku mendapat beasiswa adalah bukti bahwa aku cukup berprestasi.” Siapa yang tidak ingin mendapatkan beasiswa, mereka berbondong-bondong menjadi murid yang pintar untuk mendapat kan beasiswa.
“Baiklah, tapi setelah kuliah kau harus langsung pulang! Dan tentu nya berangkat dan pulang harus di antar oleh ku !” seolah tak ingin membantah Ria mengangguk.
Akhir nya Ria kembali ke kampus nya, dia menghirup dalam udara di sekitaran kampus nya seolah kerinduan nya bisa menghilang dengan melakukan itu.
Ria segera melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kampus nya, tak lama terlihat lah Marsha dan Akila yang juga terkejut melihat kedatangan Ria setelah lama dia menghilang tanpa kabar.
“MARIAAAAAAA” Teriak mereka secara bersamaan, dan kemudian berlari kea rah sahabat nya itu yang lama menghilang, bahkan pesan juga telepon mereka tak ada yang di jawab oleh Ria.
“Kamu kemana saja Ria? Kamu sudah tak mau berteman dengan kita? Apa kamu sudah menemukan kampus baru? Tapi kalau iya kenapa kamu sekarang kesini?” Akila bertanya seolah kini dia sedang mengintrogasi pelaku kejahatan di ruang introgasi, namun kemudian bingung sendiri dengan pertanyaan nya sendiri.
Marsha yang melihat itu melayangkan pukulan ke bahu Akila yang terlihat bodoh dengan pertanyaan nya.
“Kamu ini kalau bertanya satu-satu.” Kemudian dia melihat ke arah sahabatnya yang lama tak muncul itu “Kamu kemana saja Ria? Kenapa tak ada pesan kami yang kamu balas? Apa kamu marah sama kami? Apa sekarang kamu tidak mau berteman dengan kami?”
Akila membulatkan mata nya mendengar pertanyaan Marsha, dia merasa kesal baru tadi bahu nya di pukul karena memberikan Ria pertanyaan yang banyak, kini Marsha malah melakukan hal yang sama.
Ria yang melihat itu tersenyum manis menunjukan gigi nya yang putih, dia tak mampu menutupi rasa Bahagia nya melihat betapa peduli teman-teman nya itu kepada nya. Dia merasa terharu dan segera merangkul ke dua sahabat nya itu.
“Lebih baik kita bercerita di kantin bagaimana?” tanya Ria sambil menggiring sahabat nya itu ke arah kantin kampus.
Marsha dan Akila tentu saja semakin terheran, dalam pikiran mereka setelah lama menghilang Ria mungkin mengalami amnesia atau hal mengerikan lain nya, karena saat ini Ria yang tidak pernah mau mereka ajak nongkrong di kantin mendadak berubah dan mengajak mereka ke kantin.
Namun Marsha dan Akila yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu pun hanya bisa mengikuti Ria sambil tersenyum riang.
Dari sudut lain tampak sepasang mata yang ternyata sedang memperhatikan gerak-gerik ketiga gadis itu.
Bukan, bukan ketiga gadis tapi kedua gadis dan istri nya. Ya, Dafa sedang memperhatikan Ria dari kejauhan dia ingin melihat, lebih tepat nya memantau keberadaan istri nya setelah lama tak masuk kuliah.
Ternyata yang dia lakukan tak sia-sia, dia dapat melihat sisi Ria yang asli Ketika dia ceria ternyata Ria begitu manis seperti gadis remaja lain nya.
TBC🌝