
“Ya! Aku memang melakukan nya, tahukah kamu mengapa aku melakukan itu? Agar aku punya alasan memilikimu! Dan kau dengan tidak tahu diri nya berusaha menyembunyikan anakku dan membunuhnya! Kau bahkan tak pantas menjadi seorang ibu karena keegoisan mu.”
Dafa berbicara dengan emosi yang meledak-ledak, dia bahkan tak menggunakan hati dan pikiran nya saat mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan.
Pembunuh? Bukankah itu terlalu kejam untuk menuduh Ria sebagai pembunuh anak nya sendiri? Siapa yang menginginkan kehilangan anak nya. Tidak ada satupun orang tua yang mau kehilangan anaknya.
“Ya Allah, Sudah-sudah Dafa.. Ria.. kalian lebih baik tenangkan diri dulu, ini semua takdir Tuhan nak.” Ucap papa Lukaz berusaha menenangkan anak dan menantunya.
Dafa yang menatap Ria dengan tajam akhirnya pergi meninggalkan Ria dan kedua orang tua nya, sementara Ria semakin merasa terluka. Dia merasa kehilangan semangat hidupnya, sakit.. tak sanggup hatinya terlalu hancur untuk saat ini. Kehilangan anak nya, suaminya menyalahkan nya dan pergi begitu saja.
Dia ingin bertanya mengapa Tuhan kembali memberikan ujian jika kemarin dia memberikan Pelangi setelah hujan? Apa ini memang jalan hidup nya yang memang harus selalu terluka ? baru saja, baru saja dia merasakan getaran dari dalam perut nya, menandakan sebuah kehidupan telah tumbuh disana.
Sekarang dia harus menelan pil pahit, kebahagian nya harus sirna tak bertahan lama.
“Ya Tuhan, sakit. Aku tak sanggup, baru saja aku merasakan kehadiran nya kini aku harus kehilangan nya.” Ria menangis meraung dia merasa benar-benar terluka.
Ria terus menangis, berteriak histeris sampai akhirnya dokter menyuntikan kembali obat penenang ke tubuh nya.
Matanya kembali terpejam, mama Maya dengan setia menunggu dan mengurus menantu nya itu memberikan perhatian karena mama Maya adalah seorang perempuan dan seorang ibu dia tentu tahu bagaimana rasanya kehilangan anak nya yang bahkan belum sempat terlahir ke dunia.
“Sayang, kamu harus sabar.. percayalah Tuhan sedang menjadikan anak kalian sebagai kunci pintu surga nanti untuk kalian.” Ucap mama Maya sambil membelai kepala Ria, walaupun Ria tidak sadar Maya memberikan doktrin dia yakin anak menantu nya itu dapat mendengar dalam alam bawah sadar nya.
Sementara setelah keluar dari ruangan Ria, sampai larut malam Dafa belum juga kembali untuk melihat keadaan istri nya. Dafa memilih untuk menenangkan dirinya, Dafa memilih untuk datang ke sebuah danau, untuk meluapkan rasa kecewa nya atas takdir yang diberikan oleh Tuhan.
“Aaahhhhh!” Dafa berteriak seolah teriakan nya mampu menghabisi rasa kecewa dalam hati nya.
Dafa begitu kecewa kepada takdir yang seperti ini, Dafa begitu kecewa kepada Ria yang tidak memberitahukan kehamilan nya karena tak percaya pada nya, Dafa begitu kecewa pada diri nya sendiri karena pernah melakukan hal bodoh untuk memiliki Ria hingga melukai Ria.
Dafa akui dirinya salah, dia teramat salah telah melukai Ria dengan rasa cinta nya. Tapi mengapa di saat dia ingin merubah diri, seolah takdir tak memberikan kesempatan.
Dafa mengusap wajah nya, dia terduduk dengan menekuk kaki nya, sejenak Dafa pandangi air danau yang tenang dengan sedikit cahaya yang di berikan oleh bulan. Air mata nya luruh, dia mulai terisak, kalau bicara soal hati lelaki manapun takan sanggup menahan air mata nya.
Sampai dini hari Dafa masih setia dengan posisi nya, dia seolah tak mampu untuk pulang saking terluka hati nya, Dafa merenungi segalanya penyesalannya, kebodohannya dan keegoisannya.
Waktu menunjukan pukul 4.15 saat Dafa baru beranjak dari tempat nya, dia tidak kembali ke rumah sakit, Dafa memilih untuk pulang ke apartement, Dafa memilih untuk mengistirahatkan diri nya.
Dafa membaringkan tubuh nya di kamar setelah samapai di apartement, dia memejamkan matanya perlahan nafas nya mulai beraturan pertanda Dafa sudah memasuki alam mimpi.
Pagi hari setelah melewati malam yang menyakitkan, Ria kini sedang berbaring dengan posisi yang miring, tubuhnya menghadap ke arah jendela dimana langit begitu gelap seolah dunia ikut merasakan kesakitan nya.
Rintik air hujan yang turun, seirama dengan air mata Ria yang juga mengalir tanpa diketahui siapapun, Maya yang tidak pulang untuk menjaga menantu nya itu sedang terlelap di sofa sebuah kasur kecil yang berada di ruangan Ria.
Ria sedang menyelami lautan kepedihan, saat terbangun dari tidur panjang nya Ria sadar yang dia alami kemarin malam bukanlah sebuah mimpi.
Tubuhnya menjadi kaku merenungi nasib nya, bahkan disaat dia bangun Ria tidak melihat Dafa sang suami berada di sisinya, di saat istri lain nya akan di temani suami ketika sedang berduka, Dafa seperti nya tidak ingin Ria merasakan itu.
Ria tahu Dafa juga merasa kehilangan, tapi tak bisa kah Dafa sedikit memberikan rasa empati kepadanya. Ria sadar ketidak jujuran nya perihal kehamilan nya memang lah salah, tapi Ria melakukan itu bukan tanpa alasan yang jelas.
Ria ingin Dafa mengerti alasan Ria menunda memberitahukan perihal kehamilan nya, walaupun harapan nya sirna karna dia harus merasakan kehilangan anak nya.
Ria kembali memejamkan matanya saat mendengar suara pintu terbuka, dia tak mau terlihat sedang menangis dan akan berpura-pura sedang tertidur.
Derap Langkah seseorang yang mendekat ke arah berangkar Ria, ternyata Reza datang membawakan sarapan dan pakaian ganti untuk mama Maya setelah di perintah oleh papa Lukaz.
Maya yang mendengar seseorang masuk ke dalam ruangan, membuka mata nya dan bergegas untuk bangun dari tempat nya.
“Selamat pagi nyonya.” Sapa Reza saat melihat Maya yang sudah sudah duduk di pinggir kasur kecil tempat nya tidur semalam.
“Saya membawakan pesanan tuan Lukaz, ini sarapan dan pakaian ganti untuk anda dan nona Ria, nyonya.”
Reza menaruh paper bag yang berisi sarapan di meja dan tas selempang yang berisi pakaian Maya dan Ria di lemari yang berada di ruangan Ria di rawat.
“Iya Reza, tolong taruh disitu ya.” Jawab mama Maya.
“Apa ada lagi yang bisa saya bantu nyonya?” Tanya Reza.
“Tidak ada Reza, terimakasih kamu bisa kembali bekerja sekarang.” Ucap mama Maya tersenyum ke arah Reza.
“Baik nyonya.” Jawab Reza, dia bergegas untuk keluar ruangan sampai akhirnya Langkah Reza terhenti kala mama Maya memanggil nya kembali.
“Reza, apa kau tahu di mana Dafa sekarang?” Tanya mama Maya.
“Mohon maaf nyonya, saya masih mencari tahu keberadaan tuan muda. Dan juga, semalam tuan muda tidak pulang ke rumah utama.” Jawab Reza sambil menundukan kepala nya tanda menyesali ketidak tahuannya akan keberadaan Dafa.
“Emh, baiklah. Kalau sudah ada kabar soal Dafa tolong suruh dia untuk segera ke rumah sakit.” Ucap Maya.
“Baik nyonya, saya pamit permisi.” Reza kembali membungkukan tubuhnya tanda memberikan hormat kepada mama Maya.
Sementara itu, ada seseorang yang kembali merasakan kepedihan di lubuk hati nya.
Ya, sedari tadi Ria yang sedang berpura-pura tertidur mendengar semua pembicaraan mama Maya dan juga Reza.
Ria merasa kecewa, ternyata suami nya bukan cuman tidak menemani nya di rumah sakit, tapi suami nya itu juga tidak pulang ke rumah utama. Dalam hati Ria kini merasa bahwa Dafa sama sekali tidak mengkhawatirkan nya.
Bulir bening yang sedari tadi Ria tahan, akhir nya mengalir kembali. Dia kembali menangis dalam diam, karena posisi nya yang membelakangin mama Maya dan juga Reza. Seandainya tubuhnya sedang tidak lemah, Ria benar-benar ingin pergi menjauh dari Dafa dan keluarga nya.
Seketika Ria mengingat, apakah ini semua hukuman karena dia dan Dafa menikah tanpa ridho dan restu dari ibu dan ayah nya.
Tapi mengapa Tuhan menghukumnya lewat bayi yang bahkan belum lahir di dunia ini, mengapa Tuhan tak menghukum Ria lewat cara yang lain.
“Ria, sayang kamu sudah bangun nak?” mama Maya akhir nya memanggil menantu nya itu, karena melihat perubahan dari posisi tidur Ria sejak semalam.
Ria hanya terdiam mendengar panggilan mama mertua nya itu, dia bahkan begitu malu dengan keadaanya kali ini.
“Kamu makan dulu yuk, kamu harus punya banyak tenaga sayang.” Ucap mama Maya membujuk Ria untuk bangun dan makan.
Perlahan mama Maya mendudukan dirinya di pinggir berangkar Ria, perlahan mama maya mengelus tubuh Ria dengan kasih sayang. Hal itu semakin membuat hati Ria tercubit begitu perih, mama Maya begitu baik kepada nya, dia begitu tulus menyayangi Ria membuat Ria semakin terisak dalam tangisan nya.
“Ria, kamu menangis nak?” Tanya mama Maya yang mendengar suara isakan dari Ria.
Ria hanya menggelengkan kepala nya pelan, dia masih tidak mau mama Maya mengetahui kondisinya yang saat ini sedang menangis.
Sedangkan, mama Maya yang mengerti hanya tersenyum kecil.
“Ria, dalam hidup manusia pasti pernah mengalami ujian. Semakin kamu sering di uji, semakin Tuhan yakin kamu manusia yang tangguh. Kalau kamu berhasil melewati ujian itu dengan kesabaran, kamu sudah satu level di atas yang lain nya.” Ucap mama Maya yang mencoba menguatkan Ria, dia tahu anak dan menantu nya kini sedang berada di posisi yang sangat bawah.
Ria seketika mengingat ucapan ayah Matien yang pernah berkata, dulu saat Ria menangis merindukan ibu kandung nya.
“Ria harus bersabar dalam ujian yang Tuhan berikan, kalau Ria bersabar insha Allah Ria akan bahagia nak.”
TBC🌝