
Semakin lama tangisan nya semakin menjadi, ditambah rasa sakit diperut nya yang semakin tidak bisa dia tahan.
Ria berusaha menggapai gelas yang sempat dia siapkan di meja nakas samping tempat tidurnya, dia merasa kerongkongan nya terasa kering namun tubuh nya seolah kaku menahan rasa sakit di perut nya, dia tak mampu menggerakan tubuhnya kecuali memeluk perut nya sendiri.
Hari ini pekerjaan Dafa memang terlalu berat baginya, tender perusahaan yang dia ajukan mengalami kendala karena ada seseorang di perusahaan nya yang menjual data perusahaan ke perusahaan lawan, Dafa yang memang tidak terbiasa menghandle perusahaan itu pun sedikit mengalami kesulitan.
Tenaga dan pikiran nya Dafa habiskan untuk mengurus perusahaan yang baru dia pegang itu, tanpa dia sadari ada seorang istri di rumah nya yang menunggu perhatian dan kasih sayang Dafa.
“M-mas to-tolong.” Ria berkata sambil menatap ke arah pintu kamar berharap sang suami mendengar dan menolongnya.
Namun ternyata dugaan Ria salah, setelah keluar dari kamar Dafa segera melangkahkan kaki nya ke dapur. Dia mengambil minuman dingin di kulkas, Dafa berharap air yang dingin dapat mendinginkan kepala nya yang terasa panas.
Dafa memilih untuk meninggalkan Ria, membiarkan istri nya itu untuk tenang dulu sebelum akhir nya berbicara kembali.
Dafa sendiri merasa heran dengan perilaku istri nya seminggu terakhir ini, setelah tinggal di rumah utama Ria sering sekali mengungkit perjodohan nya dengan Thannia, bukan sekali Dafa menjelaskan kepada Ria tentang perjodohan itu, namun Ria seolah tak peduli dan terus memojokan nya.
Dafa juga merasa gamang satu sisi Ria akan terlihat tidak suka jika Dafa berada di dekatnya sedang kan di sisi lain Ria akan marah jika dia pulang larut malam, dia selalu menuduh Dafa dengan tuduhan yang nyeleneh.
Setelah mengambil minum Dafa mendudukan diri nya di sofa, dia menyalakan tv kemudian menonton siaran bola, tanpa Dafa sadari Ria tengah menahan kesakitan di dalam kamar.
Setelah lama menonton Tv Dafa merasakan kantuk yang luar biasa, dia mulai melangkahkan kaki nya ke kamar berharap kembali sang istri sudah tertidur sehingga dia bisa beristirahat dengan nyaman.
Saat memasuki kamar dia melihat Ria sudah terpejam, dia berpikir Ria sudah tertidur akhirnya Dafa merebahkan tubuhnya disamping tubuh Ria.
Dafa tidak mampu seperti suami lain, yang meninggalkan sang istri lama sampai berpisah tempat tidur.
Walau dalam keadaan bertengkar Dafa akan selalu tidur di tempat yang sama dengan sang istri, namun Dafa terkejut saat akan menyelimuti tubuh sang istri dia melihat bagian kasur yang terlihat basah dalam cahaya remang, Dafa merasa bingung mengapa bagian kasur sang istri terlihat basah.
Dafa menepuk-nepukan pipi istrinya berharap dapat membangunkan Ria, namun ternyata Ria bukanlah tertidur melain kan tak sadarkan diri karena pingsan.
Dafa meraih tubuh Ria agar berada dalam pangkuan nya, seketika Dafa bertambah panik ternyata kasur yang basah itu karena darah yang mengalir dari pangkal paha istri nya. Dengan kepanikan Dafa segera mengangkat tubuh istri nya dan berlari keluar dari rumah.
Dafa berteriak memanggil Pak Yanto, supir yang memang selalu stand by dan biasa nya setiap malam dia akan menemani Pak Mus satpam rumah Dafa di pos satpam yang berada di bagian depan rumah.
“Pak Yanto! Pak…. Tolong keluarkan mobil pak, cepat!” Teriak Dafa keluar dari rumah utama sambil berlari menggendong tubuh Ria.
Pak Yanto dan Pak Mus yang mendengar teriakan majikan nya itu berlari keluar dari pos satpam dan menghampiri majikan nya, Pak Yanto segera membantu Dafa untuk masuk kedalam mobil bersama tubuh Ria yang masih dalam pangkuan nya dan segera menyalakan mobil.
Sedangkan pak Mus segera membuka pintu gerbang.
“Ke rumah sakit pak cepat!”
“Baik Tuan.” Ucap Pak Yanto yang segera memacu kendaraan yang membawa Dafa dan Ria.
“sayang, sayang bangung sayang, sabar sayang kita ke rumah sakit.”
Pak Yanto yang khawatir dengan majikan nya mengemudikan kendaraan dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit Wijaya.
Tak lama Dafa dan Ria pun sampai di rumah sakit yang kini menjadi miliknya, dia segera berlari meminta pertolongan kepada dokter dan perawat, pikiran nya seolah buntu bukan dia merasa seperti dejavu dengan kondisi Ria kali ini.
Bimo yang saat itu sedang berjaga malam, terkejut saat melihat sahabatnya itu berlari menuju ke ruang Gawat Darurat dia segera menghampiri sahabat nya itu yang sedang risau di depan ruangan.
“Dafa? Ada apa? Siapa yang sakit?” Tanya Bimo kepada Dafa.
Dafa menyentuh kepala nya, kali ini dia benar-benar merasa takut, bukan sekali pertengkaran nya dengan Ria berakhir di rumah sakit.
“Bim! Tolongin gue bim, Ria…”
“Ria tidak sadarkan diri lagi, dia.. diaa.. dia didalam” Dafa rasa nya tak mampu menjelaskan apapun lagi kepada sahabatnya itu.
“Aiishhh kau ini, kali ini apa lagi yang kau lakukan Da?” Tanya Bimo yang kesal dengan sahabatnya itu, karena bukan sekali dia melihat kondisi Ria yang dalam bahaya karena Dafa.
“Tunggu disini, biar aku yang periksa ke dalam.” Bimo benar-benar tak habis pikir dengan hubungan sahabat nya itu, berkali-kali Dafa melukai Ria sampai Ria tak sadarkan diri.
Dia mulai berpikir apa sebenarnya yang terjadi di hubungan sahabat nya itu, mengapa Dafa selalu melukai Ria? Mengapa dalam waktu 2 bulan Bimo selalu menemukan Ria dalam keadaan tak sadarkan diri? Mengapa sahabatnya bisa begitu gila dan melakukan hal yang tidak baik kepada perempuan itu?
Bimo segera masuk ke dalam ruang Gawat Darurat meninggalkan Dafa seorang diri dengan rasa bersalah nya, dia benar-benar kembali di hantui rasa bersalah dan menyesal membiarkan perdebatan dengan sang istri, meninggalkan sang istri seorang diri setelah berdebat dengan nya.
Dafa tidak menyangka, keputusan nya yang ingin membiarkan sang istri menenangkan pikiran malah berakhir dengan keadaan yang buruk. Dafa pikir setelah meninggalkan Ria seorang diri, mereka bisa sama-sama intropeksi diri dan menenangkan diri, namun dugaannya salah.
Tubuh Dafa merosot kebawah kedua tangan nya menjadi tumpuan bagi kepalanya, dia seolah tak memiliki kekuatan untuk berdiri, seharian ini tubuh nya cukup lelah dengan pekerjaan nya, ditambah saat pulang terjadi perdebatan yang berakhir dengan Ria yang masuk ke rumah sakit.
Dia merasa bingung dengan keadaan yang terjadi, selama seminggu setelah kepulangan Ria dari rumah sakit Dafa sengaja memberikan waktu dan jarak agar istri nya itu tidak kembali sakit, namun yang di khawatirkan nya terjadi kala sang istri memancing keributan dengan nya.
Baru saja, baru saja Ria sembuh kini dia sudah harus masuk lagi ke rumah sakit.
“Akhhh sial! Mengapa harus serumit ini Tuhan.” Ucap Dafa sambil memukul ke sembarang, dia merasa kesal dengan kejadian hari ini.
Lamunan Dafa buyar saat melihat Bimo keluar dari ruang Gawat Darurat, Dafa yang tak memiliki kekuatan itu membiarkan Bimo yang berjalan ke arah nya. Bimo menekukkan kaki nya mensejajarkan tubuhnya dengan sahabat nya itu.
“Bagaimana Bim? Tolong berikan kabar baik.” Ucap Dafa dengan nada yang lemah.
Bimo menghembuskan nafasnya kasar, dia benar-benar tidak menyangka Dafa bisa membuat Ria yang sedang mengandung itu dalam kondisi yang berbahaya.
Ya, tadi saat memeriksa kondisi Ria akhirnya Bimo mengetahui bahwa Ria sedang mengandung dan sekarang kandungan nya sudah memasuki bulan kedua, namun yang dia khawatirkan jika pendarahan yang terjadi pada Ria tidak berhenti sampai nanti pagi terpaksa janin yang di kandung Ria harus dikeluarkan.
“Daf?”
“Hem? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Ria selalu begitu?” Tanya Dafa kepada Bimo, dia penasaran mengapa setiap keributan yang terjadi antara dia dan Ria, berakhir dengan Ria yang mengeluarkan darah dari pangkal paha dan tak sadarkan diri.
“Kau ini dokter dengan lulusan terbaik, apa kau tak sadar jika istrimu sedang mengandung?” pertanyaan Bimo bagaikan boomerang bagi Dafa.
“Apa maksudmu brengsek? Kalau mau bercanda lihat kondisi!” Ucap Dafa yang tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bimo.
“Kalau kau tidak percaya periksa saja sendiri istri mu, bukankah kau seorang dokter juga?” Bimo yang memang sudah kesal dengan sikap Dafa, yang selalu semena-mena kepada istri nya bangkit dari posisi nya mengulurkan tangan nya untuk membantu sahabatnya bangkit juga dari posisi nya.
Dafa menatap uluran tangan sahabat nya itu, kemudian dia menerima tangan Bimo dan segera bangkit dari posisi nya.
“Lagi pula kau adalah dokter dan pemilik rumah sakit disini, mengapa juga harus menunggu diluar?” Pertanyaan dari Bimo menyadarkan kebodohan Dafa yang sedang dilanda kepanikan, kenapa juga dia malah berdiam diri di luar ruangan dan tidak mendampingi istri nya didalam, siapa juga yang berani melarang nya?
Saat masuk ke dalam ruangan Dafa melihat Ria yang masih tak sadarkan diri, selang infus sudah terpasang di tangan nya, saat telah sampai dihadapan tubuh sang istri Bimo memberikan stetoskop kepada Dafa.
“Nih, periksa dan dengarkan sendiri.” Ucap Bimo, dia mengangkat kedua alis nya seolah menyadarkan Dafa untuk segera memeriksakan keadaan istrinya sendiri.
Dafa segera duduk disamping brangkar istri nya itu, dia menatap wajah istri nya yang masih terpejam kemudian beralih menatap sahabatnya yang masih setia mendampingi nya.
Bimo mengangkat dagu nya, seolah memberikan arahan kepada Dafa untuk mengecek sendiri kondisi istri nya.
Dafa segera mengaitkan stetoskop di kedua kupingnya, kemudian menggerakan benda yang berbentuk bulat itu di sekitar tubuh Ria, saat stetoskop itu berada di tubuh Ria Dafa merasakan sesuatu yang aneh, dia segera menyentuh pergelangan tangan Ria, mengecek denyut nadi istri nya.
Seketika tubuh Dafa melemas, dia memang tidak pernah terpikirkan bahwa Ria sedang mengandung karena hubungan nya dengan Ria akhir-akhir ini begitu rumit, kali ini Dafa merasa kesal dengan sifat istri nya yang kekanakan sehingga membahayakan anak mereka.
TBC🌝