
Melihat kedua insan yang kelelahan sehabis menangis mama Maya menutup pintu kamar, tubuh nya juga merasa lelah beberapa hari ini memikirkan kondisi Ria yang memburuk.
Reza sendiri turun ke lantai bawah, biasa nya kalau sudah tidak ada pekerjaan di rumah utama dia suka menghabiskan waktu nya untuk meminum kopi di gazebo belakang rumah tempat para pekerja lain nya juga berkumpul.
Papa Lukaz masuk ke dalam kamar saat mama Maya baru selesai membersihkan diri, tatapan mata mereka bertemu, mama Maya seolah berbicara lewat tatapan dan papa Lukaz yang paham perasaan istri nya itu segera menghampiri dan memeluk nya.
“Istirahat lah sayang, kamu sudah berjuang banyak untuk mereka.” Ucap papa Lukaz yang berjalan mendekat menghamipiri istrinya itu.
Saat papa Lukaz sudah berada di dekat istrinya itu segera memeluk mama Maya dengan hangat, dia tahu istrinya sedang bersedih memikirkan nasib pernikahan putra nya.
“Aku sungguh tidak tega melihat kondisi mereka, aku paham keduanya sama-sama terluka tapi bisakah Dafa tidak melakukan kebodohan sampai menyebabkan Ria depresi?” mama Maya menangis dalam pelukan suami nya itu dia merasa menemukan bahu yang pas untuk berbagi cerita.
“Sudah, nanti cream malam nya luntur. Lebih baik kita istirahat, urusan Ria dan Dafa kali ini biarkan Dafa belajar menyelesaikan nya.” ucap papa Lukaz sambil membelai punggung mama Maya.
Malam itu keadaan rumah utama begitu tenang, sepertinya semua orang yang berada di dalam sana tertidur dengan nyaman.
********
Sampai pagi menjelang, Dafa yang semalam menemukan tempat ternyaman nya tertidur dengan pulas, setelah sebulan lama nya Dafa tidak pernah merasakan tidur dengan nyaman.
Saat membuka mata nya Dafa terkejut, ternyata Ria sudah terbangun dari tidur nya dan sedak duduk bersandar di ranjang. Dafa melihat istri nya itu dengan sangat dalam, dia melihat Ria masih saja berdiam diri. Perlahan Dafa bangkit dari tidur nya, sambil sebelah tangannya mengusap kedua mata nya.
“Sayang kamu sudah bangun?” Tanya Dafa.
Ria tidak merespon pertanyaan yang dilontarkan Dafa, namun Dafa tahu bahwa Ria mendengar suara nya hal itu dia lihat dari gerakan mata Ria.
“Apa ada yang di rasa? Apa ada yang sakit?” Dafa sebenarnya merasa canggung dan malu terhadap Ria, namun sebisa mungkin Dafa mencurahkan perhatian nya kepada Ria.
Tanpa Dafa sadar, apa yang saat ini Dafa perbuat rasanya sudah terlambat bagi Ria yang sudah terlanjur kecewa dengan Dafa.
Ria masih enggan menjawab pertanyaan suami nya itu yang terlihat seperti tidak ada masalah, bahkan kini Dafa sudah tidak berbicara apapun, dia hanya bisa memandangi wajah Ria yang terlihat penuh luka.
Sampai akhirnya Ria mengucapkan sebuah kalimat untuk pertama kali nya di hadapan Dafa, kalimat yang benar-benar memukul rasa percaya diri nya selama sebulan ini.
“Mari kita berpisah.”
Hening, rasanya kalimat yang di ucapkan oleh Ria menjadi tamparan yang sangat dahsyat bagi Dafa.
Nafas nya tercekat mendengar kalimat berpisah yang di ucapkan oleh Ria, sebelumnya saat melihat kondisi Ria yang seperti ini Dafa sudah mempunyai rasa takut jika Ria meminta berpisah kepadanya.
Namun tak bisakah untuk hal itu tidak terjadi, Dafa benar-benar tak punya kekuatan dan rasa pede dari dirinya untuk menolak permintaan istri nya itu.
“Sayang, aku tahu ini berat bagi kita terutama kamu. Tapi aku mohon, jangan berbicara seperti itu.” Mohon Dafa, dia akan mencoba menenangkan pikiran Ria agar tidak meminta untuk berpisah darinya.
Dafa kini mencoba meraih tangan Ria, dia menggenggam tangan sang istri dengan erat. Mengarahkan tangan nya yang menggenggam tangan Ria ke arah bibirnya, kemudian dia mencium tangan Ria, dia akan memohon sebisa nya.
“Kita hanya saling melukai. Tolong lepaskan aku.” Jawab Ria yang kini menatap mata Dafa. Masih dengan tatapan terluka, Ria mencoba memberanikan diri untuk meminta pisah dari suami nya itu.
“Sayang.. aku..”
“Berhenti memanggilku sayang, b****sek! Apa kamu tidak sadar? Apa yang kita alami selama 3 bulan bersama?” Ucap Ria yang semakin frustasi dengan keadaan ini, dia masih belum memiliki tenaga untuk berdebat dengan Dafa.
Ria menghempaskan genggaman tangan Dafa, dia hanya ingin berpisah tanpa proses debat yang panjang dan lama, dia sungguh lelah, dia sungguh ingin pergi dari Dafa.
“Kita hanya membangun luka selama ini, aku mohon sudah tidak ada lagi alasan kita untuk bersama.”
Kali ini Dafa tak mampu untuk menatap wajah istri nya, dia menunduk merasa bingung dia tidak ingin berpisah dengan Ria, namun dia sadar apa yang dilakukan nya begitu keterlaluan.
Sedangkan Ria yang sedari tadi menahan air mata nya pun, kini sudah tidak dapat menahan tangisnya sama hal nya dengan Dafa, Ria pun merasakan hal yang sama dia merasa bingung.
“Tidak, aku tidak akan bisa. Kau boleh memaki ku, tapi tidak dengan perpisahan. Aku akan berpura-pura tidak mendengar permintaan mu tadi, lebih baik sekarang kamu istirahat, biar aku siapkan sarapan ya..” Dafa menggeleng cepat menolak perpisahan itu, tidak peduli dia di anggap laki-laki yang paling baj***an sekalipun.
Dafa berusaha menggerakan tubuhnya, dia segera bangkit untuk pergi dari kamar nya menyiapkan sarapan untuk Ria. Dia tidak mau terlalu larut dalam pembahasan tentang perpisahan, karena Dafa sadar, sangat sadar bahwa dia tidak memiliki keberanian seperti dahulu.
Di ruang makan sudah ada Lukaz dan juga Maya yang tengah bersiap untuk sarapan, pandangan mereka beralih saat mendengar seseorang datang dan mendekat.
“Kau sudah bangun? Bagaimana Ria?” Tanya papa Lukaz kepada Dafa, sedangkan mama Maya menatapnya sinis.
Mama Maya masih merasa kesal dengan sikap Dafa yang cuek dan egois, sehingga dia enggan menyapa putra nya itu.
“Hem, lebih baik papa dan mama sarapan lebih dulu. Dan Bi susi tolong siapkan aku sarapan untuk Ria.” Ucap Dafa dan perintah nya kepada salah satu maid yang sedang menyiapkan segala kebutuhan di dapur.
“Apa Ria sudah bangun? Apa kalian baik-baik saja?” tanya papa Lukaz
“Paaa.. sudah lanjutkan saja, tidak apa-apa.” Jawab Dafa, dia sedang mencoba menghindar dari pertanyaan tentang hubungan nya dengan Ria.
Dafa tidak mau mengingat ucapan Ria yang meminta perpisahan.
“Jangan di paksakan, burung juga butuh kebebasan. Toh di kandangin juga tidak di rawat dan di jaga dengan baik, lebih baik lepaskan.” Ucap mama Maya dengan sinis, mama Maya seolah tahu apa yang terjadi antara Ria dan Dafa.
“Maa, Dafa mohon jangan bicara seperti itu.” Tak lama setelah menjawab ucapan mama Maya, Bi Susi yang tadi diminta Dafa menyiapkan sarapan untuk Ria datang dengan membawa nampan yang berisi makanan, segelas susu dan air putih.
Dafa menerima nampan dari Bi Susi, dia pergi meninggalkan ruang makan bergegas kembali ke dalam kamar. Kali ini dia akan benar-benar menjaga Ria, dia tidak akan lagi membiarkan Ria sendirian.
Saat masuk ke dalam kamar nya, Dafa melihat Ria masih setia dengan posisi nya dia berjalan perlahan menghampiri Ria.
“Sayang, mas sudah bawa sarapan lebih baik kamu makan dulu ya..” Ucap Dafa.
Lagi dan lagi Ria enggan menjawab ucapan suami nya, dia merasa Dafa benar-benar tidak memahami nya, bagi Ria saat Dafa menolak berpisah dengan nya saat itu pula Ria akan menolak semua yang Dafa berikan.
“Aahhk” Dafa memajukan tangan nya yang sedang memegang sendok yang berisi nasi dan lauk.
Dafa meminta Ria membuka mulutnya, menerima suapan yang dia berikan, namun Ria masih diam dia bahkan tidak melihat ke arah Dafa berada.
“Ayo makan lah terlebih dahulu, setidak nya kamu butuh tenaga untuk memaki ku.” Ucap Dafa masih dengan posisi tangan yang memegang sendok di hadapan bibir istri nya.
Ria yang merasa kesal dengan sikap Dafa, seketika menepis tangan Dafa dan mendorong piring yang berada di sebelah tangan Dafa yang lain. Seketika suara piring yang pecah menggema di seluruh ruangan kamar.
Praaannnggggg
“Aku bilang, aku tidak mau. Pergi! Aku bilang pergi! Jangan perlihatkan wajahmu lagi dihadapanku.” Kali ini Ria mulai meninggi kan suaranya, mendorong keras tubuh Dafa sampai hampir tersungkur jatuh ke lantai.
“Pergi dari sini br***sek!” Ucap Ria dengan berteriak dan melemparkan bantal ke tubuh Dafa.
Tatapan Ria begitu tajam, dan penuh kemarahan. Bagaikan seekor induk singa yang kehilangan anak nya, kali ini Ria memunculkan taringnya. Dia tidak ingin terus di dominasi oleh sikap egois Dafa, dia akan melawan dan dia akan segera memikirkan cara untuk pergi dari rumah itu.
“Aku akan pergi, aku pergi sekarang. Kamu tenangkan diri kamu dulu. Tapi ingat, aku tidak akan pernah setuju mengenai perpisahan itu biarpun kamu memaksa !” Dafa menatap Ria dengan dalam, dia tidak akan mau lagi menyesal karena kebodohan nya kali ini Dafa akan mempertahankan Ria.
“Pergi!” Ria kembali berteriak kepada Dafa.
Dengan keadaan yang berantakan, setelah Dafa pergi keluar dari dalam kamar Ria menjambak rambutnya dia menggerakan kepala nya kesana kemari.
Ria benar-benar merasa frustasi kehilangan anak nya, dilukai oleh seseorang yang dia cintai, jauh dari kedua orang tua nya benar-benar membuat Ria semakin terpuruk.
TBC🌝