Love Story Sheila And Vero

Love Story Sheila And Vero
Episode 9



Jam pembelajaran sekolah pun sudah selesai. Vero dan Mauren sudah bersiap untuk pulang. Ia berjalan menuju tempat sepeda-nya yang diparkir di lapangan. Namun, setibanya di sana. Ia tak melihat sepeda-nya, Vero mulai panik karena sepeda itu merupakan pemberian dari ibunya pada saat ia ulang tahun. Vero dan Mauren pun segera mencarinya. Mereka menyebar agar langsung ketemu. Hingga pada akhirnya, mereka berdua gagal menemukan sepeda berharga Vero. Selayak-nya anak kecil umur 7 tahun yang kehilangan sesuatu, ia pun menangis terduduk di sebuah teras sekolah. Melihat hal itu, Mauren pun segera menenangkan kakak-nya.


“Kak, jangan nangis. Nanti kita cari lagi ya, pasti deh ketemu. Kakak inget pesan ibu. Jangan mudah putus asa kalau gagal!”.


Mendengar nasihat dari Mauren, Vero pun kembali bangkit berdiri dan mengusap air mata di kedua mata-nya. Ia menggandeng Mauren bersama-nya untuk mencari sepeda berharga tersebut.


Setelah beberapa jam mencari. Akhirnya sepeda itu pun berhasil ditemukan. Sepeda itu berada di saluran air pembuangan dekat sekolah. Entah siapa yang membuang-nya tapi, Vero tetap bersyukur sebab sepeda-nya berhasil ditemukan dan tidak ada kerusakan apapun.


...****...


Ditengah perjalanan Mauren merasa lapar. Ia melihat ada pohon mangga yang banyak buahnya. Ia pun meminta sang kakak (Vero) untuk memetiknya dari pohon itu. Vero akhirnya menyanggupi permintaan adiknya tersebut. Karena ia diajari sopan santun, maka ia terlebih dahulu untuk meminta izin dari yang punya pohon tersebut.


“Permisi!” ucap Vero.


Kemudian datanglah anak yang punya rumah. Ia terlihat lebih tua beberapa tahun dari Vero. Ia pun meminta buah mangga itu kepada-nya.


“Kak, saya boleh ambil buah mangga-nya?”.


Anak tersebut langsung menjawab-nya,


“Silahkan kalau bisa naik!”.


“Terimakasih ya kak!” ucap Vero.


Karena sudah meminta izin, Vero langsung mendekati pohon mangga itu dan langsung memanjat-nya. Ia memetik sekitar 2 bauh mangga saja. Buah itu ia akan berikan untuk Mauren dan ibunya. Tiba-tiba datanglah ibu-ibu pemilik mangga tersebut.


“Hey, kamu maling mangga saya!” ujar Ibu Pemilik mangga sambil berjalan menuju ke pohon itu.


Vero pun turun dari pohon mangga itu sembari menenteng dua buah mangga yang tadi di petiknya.


“Enggak bu, tadi saya sudah izin ke anak ibu!” sahut Vero membela diri.


Kemudian datanglah si anak ibu tersebut. kemudian ia berkata,


“Enggak bu, dia enggak izin ke aku. Dia bohong, dia pasti maling mangga kita bu. Itu buktinya dua mangga ada ditangan-nya!”.


“Kok kamu gitu sih, tadi kan aku sudah minta izin ke kamu. Kok jadi fitnah aku mencuri mangga ini?” tanya Vero.


“Kamu nuduh aku fitnah?” tanya balik anak ibu tersebut.


“Aku enggak fitnah memang itu kenyataannyakan?” tanya lagi Vero menyudutkan anak yang memfitnahnya.


“Benar kata kakak aku, dia sudah minta izin ke akan ibu!” ujar Mauren membela.


Ibu tersebut membawa Mauren dan Vero ke RT setempat untuk diadili. Pak RT pun merasa bingung.


“Kenapa anak-anak mencuri mangga saja pakai diributkan, kasih saja kasihan mereka. Mereka enggak tahu apa-apa, mereka masih anak-anak. Jadi wajar saja dia seperti itu!” Ujar Pak RT.


“Tapi pak, itu mangga milik saya, berada di tanah saya. Mangga itu saya tanam dari biji-nya langsung. Saya rawat hingga pada akhirnya berbuah. Jadi saya enggak teriama ada orang yang mencuri mangga saya!” ujar ibu tersebut.


“Lalu saya harus apa. Mereka berdua kan masih anak-anak. Kalau saya hukum dia, saya bisa ditangkap polisi karena melakukan kekerasan pada anak. Ibu mau tanggung jawab?” tanya Pak RT pada ibu pemilik mangga.


“Itu sih derita pak RT, yang saya mau. Bapak harus hukum anak dua ini!” pinta ibu itu.


“Yasudah kalau begitu. Saya akan hukum mereka berdua membersihkan pos yandu yang akan digunakan besok, Itu masih kotor!” ujar Pak RT.


“Nah gitu dong kan jadinya saya tenang. Itu juga buat kebaikan mereka biar nanti besar enggak jadi malinggg!” sindir ibu pemilik mangga.


Vero dan Mauren diperintahkan oleh pak RT membersihkan pos yandu. Dengan berat hati mereka menerima hukuman itu. Tapi, mereka siap menjalani-nya tanpa pamrih. Untung-untung untuk mencari pahala karena membantu orang membersihkan pos yandu.


...****...


Mauren yang sedang menyapu teras depan dengan gigih tanpa mengeluh. Ia memasukan sampah dan kotoran di lantai ke tong sampah. Tiba-tiba tong sampah tersebut di tumpahkan oleh anak ibu pemilik mangga tersebut. Mauren pun merasa kesal dan memukul anak itu. Namun dengan cepat menangkis-nya setelah itu ia mendorong Mauren hingga terjatuh. Melihat keadaan adik-nya yang disakiti orang lain, Vero pun langsung datang dan membela Mauren. Ia membantu Mauren untuk berdiri.


“Kamu jangan gitu dong sama perempuan. Kamu enggak dia ajarkan untuk berlaku lemah lembut dengan perempuan?” tanya Vero sambil menunjuk anak itu.


“Jangan banyak omong lu. Kalau mau kita ribut aja di sini!” ajak anak itu.


“Maaf disini kami bersih-bersih bukan untuk berantem!” tolak Vero atas ajakan anak itu.


Kemudian Vero menggandeng Mauren untuk masuk ke dalam membersihkan tempat yang masih kotor.


Setelah didalam, anak itu kembali bertingkah. Kali ini ia mengunci Vero dan Mauren di pos yandu. Disana tidak ada siapa-siapa, keadaan pun sangat sepi. Anak itupun pergi meninggalkan Vero dan Mauren yang sedang terkunci.


Melihat suasana seperti itu membuat Mauren takut. Ia tak henti-hentinya menangis. Vero mencoba untuk menenangkan adiknya tersebut sembari mencoba meminta pertolongan dari orang lain yang berada diluar ruangan.


“Tolong-tolong-tolong kita di dalam, tolong keluarkan aku dan adikku!” kata Vero berteriak.


...****...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


...Hello!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request. Terimakasih 🙏🙏🙏...