Love Story Sheila And Vero

Love Story Sheila And Vero
Episode 18



“Kukuruyuuuuuuuuuk”, bunyi suara ayam berkokok.


Sheila terbangun dari tidurnya dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Selepas itu ia memakai seragam dan memasukan buku-buku yang lupa dimasukan di dalam tas semalam.


Ia kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai dasar bertemu dengan papah dan mamahnya yang sudah menunggu di meja makan. Ia menuruni anak tangga satu persatu, dari kejauhan dia melihat dimeja makan hanya mamahnya saja. Karena penasaran ia pun menghampiri meja makan dan bertanya keberadaan papahnya,


“Mah!, Papah kemana. Enggak biasanya papah pergi duluan?”


“Subuh tadi, papah sudah berangkat. Katanya si ada meating dengan klien penting!” kata Bu Asmita.


“Owh!” sahut Sheila.


“Yasudah silahkan makan, mamah sudah masak makanan kesuakaan kamu. Ayo buruan nanti keburu dingin loh!” ucap Bu Asmita.


“Iya mah”, kata Sheila.


...****...


Kembali pada keluarga Vero.


Mauren melihat Bu Nindi sedang membuat kue, ia pun dengan cekatan membantunya.


“Bu aku bantu ya!” pinta Mauren.


“Enggak usah kamu siap-siap aja untuk berangkat sekolah!” tolak bu Nindi.


“Tidak apa-apa bu, masuk sekolah juga masih lama. Aku bantu yang ini ya!” pinta Mauren sembari menunjuk salah satu wadah yang berisi adonan belum diaduk.


“Yasudah kalau kamu maksa. Aduknya yang benar jangan sampai tidak merata!” perintah Bu Nindi.


“Baik bu!” kata Mauren.


Vero dari kejauhan melihat ibu dan adiknya sedang sibuk. Ia pun segera menghampirinya karena penasaran mereka sedang membuat apa.


“Wih kayaknya seru nih. Bu aku boleh ikutan enggak bantuin!” kata Vero.


“laki-laki diam saja, ini urusan perempuan!” kata Mauren.


“Wush, memasak bukan dilakukan oleh perempuan. Kamu lihat tidak di TV, acara lomba memasak itu. Pesertanya ada juga loh yang laki-laki, jadi jangan anggap remeh juga orang yang memasak!” peringatkan Bu Nindi kepada Mauren.


“Tuh denger Mauren!” kata Vero.


“Iya-iya, sinih katanya mau bantu!” ucap Mauren.


“Siap!” kata Vero.


Mereka bertigapun saling bahu-membahu membuat kue agar cepat jadi. Setelah adonan kue dimasukan ke cetakan, kue tersebut kemudian dimasukan ke oven untuk tahap terakhir. Vero yang melihat ada tepung terigu sisa, ia pun berencana untuk menjahili Mauren. Ia mengambil tepung tersebut dan digenggamnya. Kemudian ia arahkan ke wajah Mauren, kebetulan Mauren sedang melihat ke kanan. Begitu Mauren mengarahkan wajahnya ke Vero. Ia langsung meniupnya hingga membuat wajah Mauren penuh dengan tepung putih.


“Hahahahahahahaha, kamu lucu!” kata Vero.


“Kakakak!” kata Mauren.


Karena tak terima Mauren kemudian mengambil juga segenggam tepung terigu yang dipakai Vero, kemudian memoleskannya di wajah Vero. Vero pun langsung kena balasannya. Dan disitulah mereka saling serang tepung terigu hingga membuat lantai menjadi licin. Mulai dari kejar-kejaran, ngumpet, dan lain-lain, kebehagian mereka tidak perlu banyak uang, mereka hanya butuh waktu yang cukup.


...****...


Kembali ke rumah Sheila.


“Mah aku berangkat dulu ya!” kata Sheila.


“Kamu hati-hati ya dijalan!” ucap Bu Asmita.


“Pak Jajang antarin Sheila jangan ngebut-ngebut ya bahaya, saya enggak mau anak saya kenapa-napa!” perintah Bu Asmita pada supir pribadinya.


“Baik bu laksanakan!” sahut Pak Jajang.


Sheila pun berangkat ke sekolah diantar oleh supir pribadinya, pak Jajang. Ia sudah bekerja dikeluarga ku sudah lama. Bahkan sejak Sheila masih kecil. Selama diperjalanan ia terus saja melihat ke kanan, melihat pemandangan yang dilalui mobilnya. Sesekali ia membuka layar ponsel dan mendengarkan salah satu musik yang berada di playlist Sportify miliknya. Ia merasa bosan karena tak ada teman atau sahabat disisinya. Paling hanya disekolah saja dia bertemu sahabatnya, setelah dirumah ia kembali sendiri dan hanya melamun dan menulis saja.


Ditengah jalan ia melihat ada seorang nenek paru baya yang sedang berjualan. Ia seperti sedang di diskriminasi atau sedang dipalak oleh para pereman. Tubuh mereka kekar dan berotot ditambah tato ditubuhnya yang membuat si nenek itu ketakuata. Dengan segera ia memimta pak Jajang untuk berhenti dan menolong nenek itu,


“Pak berhenti, kita tolongin nenek itu kesian dia!”.


“Baik non!” kata pak Jajang.


Sheila pun keluar dari mobil dan segera berteriak,


“Woy!”


Ia pun segera menghampiri-nya dan mendekati nenek paru baya tersebut. Karena penasaran ia pun segera bertanya mengapa memaki nenek ini,


“Kalian kenapa memaki nenek ini?”


“Bener kalian ada urusan apa sama nenek ini?” tanya Pak Jajang.


“Nenek ini belum bayar sewa lapak disini selama 3 bulan. Jadi kami harus memberikan teguran!” terang ketua preman itu.


“Kalau mau minta bayar sewa, lakukan dengan baik jangan seperti ini memaki-maki. Lakukan sesuatu dengan lembut, apalagi yang kalian hadapi ini adalah nenek para baya. Tidak begitu caranya!” nasihat Sheila pada preman tersebut.


“Heh anak kecil jangan banyak omong, kita enggak perduli. Yang kita mau hanya nenek ini bayar sewa kios!” ucap preman itu.


“Berapa sewanya?” tanya Sheila.


“100.000 rupiah selama tiga bulan!” ucap salah satu preman.


“Pak boleh tolong di bayarkan!” pinta Sheila pada Pak Jajang.


“Bisa non!” sahut pak Jajang.


“Nih, awas ganggu lagi. Nih saya lebihin lima ratus ribu!” kata Pak Jajang.


“Nah gini dong, kan cepet jadinya. Awas ya nek nunggak lagi!” ucap preman tersebut sambil menunjuk ke arah si nenek.


“Nek, nenek baik-baik saja kan, nenek tidak di apa-apain kan sama preman itu?” tanya Sheila.


“Tidak neng, nenek baik-baik saja. Terima kasih ya sudah bantu nenek!” ucap nenek itu.


“Sama-sama nek, owh iya ini buat nenek, saya beli barangnya nanti nenek kasih ke orang lain saja!” ucap Sheila sembil memberikan uang dari dompet-nya.


“Alhamdulillah terima kasih neng, akhirnya nenek bisa pulang cepat juga, terima kasih sekali lagi neg!” kata si nenek.


“Sama-sama, yasudah nenek hati-hati ya, saya pergi dulu!” kata Sheila.


“Iya neng terima kasih sekali lagi ya!” ucap nenek itu.


Kemudian Sheila pun kembali ke mobilnya dan segera melanjutkan perjalanan-nya menuju ke sekolah.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


...Hello!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request....


... Terimakasih 🙏🙏🙏...