Love Story Sheila And Vero

Love Story Sheila And Vero
Episode 16



Vero berjalan dengan termenung mengarah ke tanah, ia menahan kesedihan akibat dijauhi oleh sahabatnya Salsa. Sekarang ia tak lagi memiliki teman baik disekolah. Ia pun berjalan menuju Mauren yang tengah menunggu. Mauren langsung melirik ke arah Vero. Ia begitu khawatir ketika melihat raut wajah Vero yang sedih, ia pun segera menghampirinya.


“Kak, Are you oke?” tanya Mauren.


“Yes, I’am Fine!” jawab Vero.


“Kakak kenapa ya, kok raut wajahnya sedih gitu?” tanya Mauren dalam hati.


...****...


Dirumah, Vero tengah terduduk dibangku teras, ia melamun sambil menatap bulan tajam, seakan ingin bercerita sesuatu yang berat. Mauren yang melihat hal ini langsung menghampiri Vero dan terduduk disampingnya.


“Kak!” panggil Mauren.


“Eh kamu Mauren!” sahut Vero.


“Kenapa kak, kalau mau cerita silahkan, aku mau dengirin kok!” tawar Mauren untuk menceritakan beban Vero.


“Semakin hari Salsa terus saja menjauh dari kakak, padahal kakak ingin menceritakan yang sebenarnya. Ia seperti tak percaya pada sahabatnya, ia lebih memilih untuk percaya sama Rio dan kawan-kawan”, curhat Vero pada Mauren.


“Jadi ini yang buat kakak dari tadi sedih. Salsa juga tidak hanya menjauhi kakak. Tapi, aku juga. Aku enggak tahu kenapa ia bisa terhasut sama Rio. Padahal kita ini sahabatnya yang dekat dengannya. Tapi, ia lebih memilih Rio!” ucap Mauren.


“Tapi, kayaknya percuma saja kakak menjelaskan yang sebenarnya, toh kita juga tidak punya bukti yang akurat. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya bisa bersabar menerima sikap Salsa pada kita!” ucap Vero.


“Tapi, sampai kapan kak?, apakah selama sekolah SD. Kalau iya berarti kita akan dijauhi oleh Salsa selama 6 tahun dong?” tanya Mauren.


“Entahlah!” kata Vero.


“Yasudah ayo masuk, ini sudah malam!” ajak Vero.


“Ayo”, kata Mauren.


Mereka berduapun masuk ke rumah setelah menceritakan yang selama ini dipendam dan juga memperkirakan kemungkinan sampai kapan mereka berdua akan dijauhi oleh Salsa.


...****...


Esok adalah hari ulang tahun bagi kedua anak dari dua keluarga, yaitu Sheila dan Vero.


Dikediaman Sheila, ulang tahunnya diadakan secara meriah oleh papah dan mamahnya. Kedua orang tua tersebut mengundang seluruh teman-teman Sheila beserta kedua orang tuanya juga. Tak hanya itu papahnya Sheila yaitu pak Arga mengundang para kliennya diacara ini. Sungguh acara yang meriah membuat Sheila bahagia, ia selalu tersenyum disetiap langkah kakinya dan juga selalu tersenyum ramah pula bila ditatap orang.


Mc di acara tersebut telah meminta untuk Sheila masuk ke ruangan acara berkumpul dengan teman-temannya. Sheila pun melangkah dengan lembut ditemani mamahnya. Ia menuju ke tempat yang telah disediakan oleh panitia. Ia terlihat anggun dengan pakaian yang indah disertai wajah yang menawan membuat semua orang disini terkesima padanya.


Mc kemudian meminta para hadirin untuk menyanyikan lagu ulang tahun. Setelah selesai ia kemudian meminta Sheila untuk meniup lilin dikue besar itu. Dengan senang hati ia melakukannya.


“Husssssssss”, bunyi tiupan ke arah lilin.


Sheila pun merasa senang melihat acara ulang tahunnya dihadiri banyak orang. Ia bersyukur karena banyak kado yang ia terima mulai dari amplop yang berjuta-juta hingga kado barang mewah. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Vero. Ia merayakan hari ulang tahunnya dengan sederhana. Hanya kue kecil disertai lilin yang berapi yang dibawa oleh ibunya. Mauren mendampingi Bu Nindi dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Vero yang tengah tertidur terkejut. Ia tak kuat menahan air mata rasa haru atas apa yang telah ibu dan adiknya berikan padanya, memberikan kejutan ditengah malam meskipun keadaan keluarganya tengah terpuruk. Vero kemudian terbangun dan menghampirinya.


“Duh-duh-duh, anak laki jangan nangis. Ayo tiup lilinnya!” perintah Bu Nindi.


“Bener kak, cepetan aku sudah lapar mau makan kuenya!” kata Mauren.


“”Husssssssss” suara desiran nafas Vero membuat api lilin itu mati.


“Bu terimakasih ya!” ucap Vero.


“Sama-sama anakku sayang!” sahut Bu Nindi.


“Aku sayang ibu, dan juga Mauren!” ucap Vero dan kemudian memeluk keduanya dengan rasa sayang.


****


Waktu terus berlalu, hari demi hari telah dilewati, hingga 5 tahun berselang Vero dan Mauren tumbuh menjadi anak yang dewasa tampan dan cantik. Meski demikian, mereka berdua tetap saja dijauhi oleh teman-teman yang lain karena kesalahan dimasa lalu yang sama sekali tidak ia lakukan. Seperti ia dihukum tanpa kesalahan yang ia perbuat.


Salsa sahabat dekatnya yang mau berteman dengannya kini malah menjauhinya. 5 tahun lamanya ia tak lagi menyapa Vero dan Mauren. Selayaknya orang yang tak pernah kenal. Hanya hasutan orang yang dengki membuat persahabatan ketiganya hancur. Tak ada kepercayaan dan persaudaraan sehingga membuat Salsa mudah terpengaruh.


...****...


Ditengah jalan menuju ke kelas, disebuah lorong kiri dan kanan dipenuhi kelas. Vero berjalan sendirian. Ia berjalan menunduk sehingga tak melihat ke depan, hingga pada akhirnya ia menabrak seseorang hingga membuat orang tersebut terjatuh dan buku-buku yang dibukunya bergeletakan dilantai.


“Maaf-maaf aku enggak sengaja!” ucap Vero.


Kemudian ia menatap ke arah wajah orang yang ditabraknya. Dan ternyata orang tersebut adalah Salsa, sahabat dekatnya yang selalu menghindarinya selama 5 tahun.


“Kamu!” ucap Salsa.


Salsa langsung mengambil semua buku-buku yang tergeletak dilantai dengan tergesa-gesa. Vero kemudian membantu Salsa mengambil buku tersebut. Hingga Vero memegang tangan Salsa. Hal tersebut membuat Vero tak karuan. Jantungnya berdetak kencang, pipinya memerah, matanya saling menatap satu sama lain. Hingga salah seorang membuyarkan suasana.


“Ehem-ehem!” suara batuk dari salah seorang teman Salsa.


Salsapun segera melepas tangan Vero dan mengambil buku-buku yang masih berserakan dilantai. Setelah selesai ia pun berdiri, tapi sikapnya selalu salah tingkah.


“Lu ngapain sama pencopet ini?” tanya teman Salsa tersebut.


“Enggak kebetulan aja ketemu!” sanggah Salsa.


“Owh yaudah pergi. Enggak ada waktu sama si pencuri ini!” ucap teman Salsa.


“Yaudah ayo!” sahut Salsa.


Kemudian Salsapun pergi, tetapi matanya terus mengarah ke Vero. Begitu juga dengan Vero matanya selalu mengikuti Salsa pergi. Sampai jauh pun masih terus diperhatikannya.


“Apa ini, kok jantungku berdetak kencang?, ada apa denganku?, ketika berdekatan di samping Salsa kenapa dengan hatiku?, kenapa rasanya berbeda jika bersamanya?” tanya Vero dalam hati dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


...Hello!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request....


...Terimakasih 🙏🙏🙏...