Love Story Sheila And Vero

Love Story Sheila And Vero
Episode 19



Dirumah Vero, ia dan Mauren tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa Bu Nindipun mengingatkan kembali untuk membawa Kue Bolu yang dibuatnya tadi pagi.


“Vero, Mauren jangan lupa kue yang tadi di bawa!” perintah Bu Nindi.


“Siap bu!” sahut Mauren.


Maurenpun segera ke dapur dan mengambil kue yang sudah di bungkus kecil-kecil. Dari kejahuhan Vero melihat Mauren seperti keberatan, dengan segera Vero langsung berlari dan mengambil keranjang kue yang di bawa Mauren.


“Sinih biar aku yang bawakan!” ujar Vero.


“Silahkan!” kata Mauren.


“Yasudah ayo berangkat!” ucap Vero.


“Ayo!” sahut Mauren.


Ia pun berjalan beriringan sebelum itu ia berpamitan terlebih dahulu kepada Bu Nindi.


“Bu kami berangkatnya!” ucap Vero.


“Iya hati-hati dijalan!” sahut Bu Nindi.


Mereka berdua pun pergi dari rumah menuju ke sekolah dengan membawa keranjang kue untuk dijualkannya. Selama perjalanan kue tersebut banyak dibeli oleh para warga kampung.


“Sepertinya mereka suka kue bolo buatan kita kak!” ucap Mauren.


“Bener, ayo kita semangat jualannya!” pinta Vero.


“Siap kak!” kata Mauren.


Selama perjalanan mereka pun selalu berteriak agar orang-orang mendengar bahwa kita sedang jualan.


“Bolu-bolu-bolu, enak dan sehat. Ayo dibeli-ayo dibeli!” ucap Vero dan Maueren.


Para pembelipun berdatangan untuk membeli kue bolu Vero dan mauren. Belum sampai ke sekolahpun kue tersebut tinggal sedikit, meraka pun berencana untuk menghabiskan kue tersebut dikampung ini. Mereka berkeliling kampung lagi untuk menjualkannya. Setelah berkeliling kue tersebut akhirnya habis. Vero dan Maurenpun segera bergegas menuju ke sekolah. Namun, sayang waktu sudah tinggal sedikit lagi, jika tidak sampai tepat waktu mereka terlambat dan harus menjalankan hukuman dari guru BP. Mereka pun langsung berlari sekencang-kencangnya untuk dapat sampai disekolah dengan waktu yang tersisa ini.


...****...


Sesampainya Vero dan Mauren di sekolah, pagar sudah di tutup oleh satpam. Merekapun akhirnya telat datang sekolah. Mereka di perintahkan satpam untuk menunggu terlebih dahulu sampai orang lain yang juga terlambat berkumpul, lalu setelah itu Guru BP akan memberikan sanksi atas keterlambatannya.


Vero dan Mauren pun berdiri didepan gerbang menunggu teman-teman yang lain yang juga terlambat. Sementara itu didepan sedang ada acara pagi. Dimana siswa dan siswi berkumpul dan mendengarkan para guru untuk memberikan nasihat.


...****...


Setelah acara di lapangan selesai. Guru BP langsung menemui Vero dan Mauren di depan gerbang sekolah.


“Kalian datang terlambat?” tanya Guru BP.


“Iya Bu!” jawab Vero.


“Pak, buka pintunya!” perintah Bu BP.


“Baik bu!” jawab pak Satpam.


Vero dan Mauren di perintahkan Bu BP untuk masuk. Mereka berduapun masuk dan mengikuti Bu BP dari belakang. Meraka diajak kelapangan dan diperintahkan untuk baris memanjang. Mereka diperlihatkan dan dipermalukan di depan teman-temannya yang lain. Teman-teman yang melihat itu sebagai tontonan mereka menertawakannya.


“Huuuuuuuuuuuuuu, malu-maluin, huuuuu!” suara sorakan dari teman yang lain.


Vero dan Mauren terlihat sabar menghadapi itu karena ia memiliki alasan tersendiri mengapa ia telat datang ke sekolah. Vero juga menenangkan Mauren agar tak terpancing oleh sorakan teman yang lain.


“Semuanya yang terlambat dengarkan saya baik-baik. Kalian saya beri hukuman jalan jongkok keliling lapangan sebanyak 10X setelah itu kalian bersihkan taman dan toilet. Kalian boleh masuk ke kelas pada jam 10.00 Wib. Semuanya mengerti!” papar Bu BP.


“Mengerti bu!” sahut Vero, Mauren dan teman yang lain.


“Kalau begitu silahkan laksanakan!” perintah Bu BP.


Vero dan Mauren pun mematuhi perintah Bu BP karena mengakui kesalahan yang ia perbuatnya. Mereka terlihat sabar dalam menjalani ujian ini. Vero dan Mauren berjalan jongkok keliling lapangan.


Rio dan Helen yang melihat ada Vero dan Mauren disana, menghasut teman-teman dikelas untuk menertawakan serta menyoraki Vero dan Mauren dengan kata-kata VAB dan MAB.


Vero terlihat santai saja menghadapinya begitu juga dengan Mauren. Karena hinaan yang mereka berikan masuk dimaafkan olehnya. Dan hal-hal yang tidak Vero sukai adalah orang-orang menghina urang tuanya.


...****...


Setelah Vero dan mauren menyelesaikan jalan jongkok mereka pun langsung menjalankan hukuman yang kedua yaitu membersihkan toilet. Karena membersihkan taman sudah banyak dilakukan oleh teman-teman yang lain.


Vero dan Mauren membersihkan toilet kelas Elite. Mereka membersihkan bersama dan saling bahu-membahu agar cepat selesai.


Rio mendapatkan kabar bahwa Vero dan Mauren sedang membersihkan toilet. Ia pun meminta Helen dan beberapa teman di gengnya untuk menjahili mereka berdua yang sedang membersihkan toilet. Aksi ini dipimpin langsung oleh Rio.


Pertama-tama ia meminta salah satu orang untuk masuk ke toilet tersebut. Ia meminta untuk jalan saja dari tempat mereka mengumpat sampai ke toilet. Sepatu yang digunakannya ternyata diberikan kotoran berupa tanah merah. Bekas tanah tersebut melekat di lantai yang sedang Mauren pel. Mauren masih sabar untuk menghadapinya. Tapi, orang tersebut masuk dan keluar toilet berkali-kali sehingga membuat Mauren kesal, karena lantai yang ia pel menjadi sia-sia.


Kemudian Rio meminta lagi temannya kali ini Helen yang di perintah untuk menjahili mereka berdua (Vero dan Mauren). Helen masuk ke toilet dan memasuki ruangan. Kemudian Helen mengambil embar yang sudah berisi air. Kemudian air dalam ember tersebut di tumpahkan dari dalam ruangan toilet ke lantai yang sedang Mauren pel. Mauren pun merasa jengkel, kemudian ia mengetuk ruangan toilet yang dimasuki oleh Helen. Dengan santai Helen pun keluar dan langsung menghadap Mauren.


“Ada apa?” tanya Helen.


“Maksud kamu apa, numpahin air ke lantai yang sedang aku pel?” tanya Mauren atas perbuatan Helen.


“Enggak apa-apa kok. Cuman mau seneng-seneng aja!” jawab Helen.


“Lama-lama kamu itu kurang ajar ya, apa perlu saya beri pelajaran?” tanya Mauren.


“Owh, mau kasih pelajaran. Silahkan mau kasih pelajaran apa. Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indo/inggris, atau mau yang lain?” ujar Helen.


“Kamu di biarin lama-lama jadi ngelunjak ya!” ucap Mauren dengan kesal.


“Owh, gitu!” kata Helen.


“Lama-lama saya hajar kamu!” ucap Mauren.


“Owh mau hajar gue silahkan, mau yang mana pipi kiri atau yang kanan?. Nih-nih, buruan katanya mau di hajar!” ucap Helen sambil memegangi ke pipi kiri dan kanannya.


Vero yang melihat hal itu, langsung menghampiri Mauren untuk menenangkannya.


“Mauren, sudah jangan di lanjut amarahmu, berhenti?” peringatkan Vero kepada Mauren.


“Owh, ternyata si cewek ini sama kakaknya ternyata lemah!” ucap Helen mengompori Mauren.


Mendengar perkataan tersebut membuat Mauren tak terima. Ia terlihat sangat emosi dan ia pula menggenggam tangan dengan erat sambil mengepalnya. Kemudian Mauren…………


...****...


...Hello!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request. ...


...Terimakasih 🙏🙏🙏...