
Dengan membawa berkas aset kekayaannya Pak Efendi pergi menemui penculik itu dengan mengendarai mobil menuju ke sebuah gedung yang tidak lagi terpakai.
Setelah sampai ia segera bergegas menuju ke rooftop dengan menaiki anak tangga secara cepat.
Pak Efendipun sampai di atas rooftop, ia seperti memperhatikan si penculik itu. Ia merasa sudah familiar dengan tubuh penjahat, serasa familiar di pikirannya. Ia pun segera menghampiri orang tersebut.
“Hai siapa kamu, kembalikan anakku. Ini aku sudah membawa apa yang kamu minta!” ucap Pak Efendi.
Penjahat tersebut membalikkan badan sembari menggendong bayi Vero. Betapa kagetnya Pak Efendi ternyata yang menculik anaknya adalah orang kepercayaannya sendiri, Pak Arya. Orang yang selama ini bekerja sama dari masa muda sampai sekarang, ternyata dia penghianat.
“Arya, Penghianat kamu!” sentak Pak Efendi.
“Lalu kenapa saya penghianat, bukankan dalam persahabatan itu sudah hal lumrah jika melakukan itu?” tanya Pak Arya.
“Kurang ajar, ternyata aku salah percaya sama kamu, penghianatttt!” cerca Pak Efendi merasa kecewa.
“Jangan banyak bicara, cepat serahkan berkas itu atau anak ini aku lempar ke bawah sana, lihat, lihat, lihat tinggi lohhh!” pinta Pak Arya.
“Kembalikan dulu anakku, baru aku akan serahkan ini. ini kan yang kamu mau?” ucap Pak Efendi.
Akhirnya terjalin kesepakatan untuk saling bertukar di tengah, dan saling mengambil jika sudah. Pak Arya membawa Vero menuju ke tengah dan Pak Efendi pun membawa berkas itu ke tengah. Vero pun berhasil di ambil oleh Pak Efendi begitu pula dengan berkas yang di minta Pak Arya sudah berada di tangannya. Namun, ketika pak Arya membuka map tersebut. Ternyata isi suratnya kosong, itu hanya kertas HVS biasa.
“Sialan kamu Efendi, berani main-main dengan saya!” sentak Pak Arya.
Namun, tanpa di sangka-sangka. Anak buahnya tersebut menghianati juga dirinya. Mereka bukan melindunginya malainkan menyerangnya. Pak Efendi yang kaget mencoba menangkis pukulan-pukulan itu sembari melindungi vero. Karena sudah tidak kuat untuk berkelahi, ia pun terjatuh sembari menaruh anaknya di tanah dan membiarkan badannya untuk dipukuli terus-menerus. Hal itu ia lakukan untuk melindungi sang anak tercinta.
Setelah itu anak buah yang sudah diberi perintah khusus oleh Pak Arya, sudah menemukan berkas yang asli. Pengroyokan itu disaksikan oleh istrinya pak Efendi. Ia meneteskan air mata, melihat suaminya di siksa seperti itu. Bu Nindi kemudian segera menghampirinya dan mencoba menghentikan pengroyokan tersebut. Para preman yang banyak itu akhirnya berhenti. Atas perintah Pak Arya mereka semua pergi.
Pak Arya kemudian menghampiri Bu Nindi dan suaminya yang babak belur karena pengroyokan itu.
“Lain kali, jangan pernah main-main dengan saya. Kamu tahu akibatnya!” peringatkan pak Arya pada keluarga Pak Efendi.
“Kurang ajar!” gertak Bu Nindi sembari menampar Pak Arya.
“Kamu adalah orang kepercayaan suami saya, kenapa kamu tega-teganya menusuk dia dari belakang. Kamu keterlaluan. Kamu orang yang gak tahu diri. Enggak tahu di untung. Seharusnya kamu dibiarkan saja dijalanan mengemis-ngemis!” omel Bu Nindi.
“Dulu saya adalah pengemis, tapi sekarang kalian adalah pengemisnya, hahahahahaha!” ucap Pak Arya bahagia semua keinginannya sudah tercapai.
“Kamu ingat, suatu saat saya akan membalas perbuatan kamu, camkan itu!” ancam Bu Nindi kepada Pak Arya.
Pak Aryapun pergi dengan tertawa-tawa layaknya orang gila. Karena ia berhasil menguasai semua harta pak Efendi yang selama ini ia incar. Kini ia menjadi orang terkaya di Indonesia, bukan karena keberhasilannya, melainkan karena merebut dari hasil usaha orang lain.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Hallo!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request. Terimakasih 🙏🙏🙏...