Love Story Sheila And Vero

Love Story Sheila And Vero
Episode 5



Bu Nindipun selesai membersihkan rumah yang kumuh itu. Ia pun segera membawa masuk kedua bayi tersebut ke dalam rumah. Tiba-tiba datanglah ibu-ibu yang tidak dikenali. Dengan perasaan yang masih was-was. Bu Nindipun menghampirinya secara diam-diam sambil membawa sapu injuk. ketika sudah di depan pintu ia mulai memperhatikan gerak-gerik ibu tersebut. Bu Nindi menganalisa apakah ibu ini memiliki niat jahat atau tidak. Setelah ia melihat ibu tersebut tidak membawa sesuatu yang mencurigakan, ia pun memberanikan diri untuk menemuinya.


“Ibu siapa ya?, dan ibu ada keperluan apa ke rumah saya?” tanya Bu Nindi.


“Ibu anaknya Bu Shinta kan?” tanya balik ibu itu.


“Iya benar, itu ibu saya”, jawab Bu Nindi.


“Syukurlah saya tidak perlu ke Jakarta untuk mencarinya. Ini bu uang untuk ibu. Ini tadinya ingin saya berikan ke orang tua ibu, karena saya memiliki hutang padanya. Karena saya baru punya uang jadi saya baru bisa bayar sekarang”, terang ibu itu.


“Owh, terimakasih bu. Sudah mau mengembalikan uang ibu saya. Saya bersyukur ibu datang diwaktu yang tepat ketika saya dan anak-anak saya sedang dalam kesusahan”, ucap Bu Nindi.


“Sama-sama Bu, ya sudah saya pergi dulu ya!” ucap Ibu itu.


“Silahkan bu!” sahut bu Nindi.


Bu Nindi pun merasa senang karena ia bisa membeli makan dan juga membeli minyak tanah untuk menerangi rumah ini yang masih dalam keadaan gelap.


“Allhamdulillah, terimakasih ya Allah, kau tlah memberikan ku kemudahan!” ucap Bu Nindi bersyukur kepada yang kuasa.


...****...


Di ruang tamu, bu Nindi menyalakan lampu dari api di sekeliling ruangan. Setelah itu ia memberikan susu kepada kedua anaknya. Vero yang tampan kemudian terlelap tidur. Namun, si bayi perempuan terus saja menangis. Dengan segera bu Nindi menggendongnya dan menenangkannya agar bisa tidur dengan nyenyak.


Bu Nindi teringat bahwa bayi perempuan ini belum diberikan nama, maka ia berinisiatif untuk memberikannya nama Mauren. Bayi tersebutpun langsung tertidur dan tidak rewel lagi.


...****...


Sementara itu, Pak Arya sedang bahagia. Ia membawa istri dan anaknya Sheila untuk tinggal di rumah pak Efendi yang sudah direbut. Merasa heran bu Asmita pun bertanya pada pak Arya,


“Mas!, ini rumah siapa?”


“Sekarang rumah ini adalah milik kita!” kata pak Efendi.


“Kamu punya uang darimana bisa beli rumah sebesar ini?” tanya kembali Bu Asmita.


“Uang tabunganku lah. Dan juga pak Efendi telah mewariskan hartanya kepada saya”, ujar Pak Arya.


“Lalu pak Efendinya kemana?” tanya lagi bu Asmita.


“Keluarga pak Efendi semuanya telah meninggal, jadi aku ditunjuk untuk mewarisinya”, ujar pak Arya.


Ketika merasa sudah tak ada yang janggal, Bu Asmita pun pergi ke kamar yang sudah disediakan untuk menidurkan Sheila.


...****...


Park Arya sedang terduduk di kursi dekat kolom renang sambil menikmata semua harta kekayaan milik pak Efendi.


“Efendi, Efendi, begitu mudahnya aku mengalahkanmu. Kamu terlalu bod*h untuk aku permainkan. Nikmatilah kekalahanmu di alam sana. Dan do’a kan saja istri dan anakmu hidup bahagia!” ucap Pak Arya.


Pak Arya kemudian mengambil handphonenya dan menelpon seseorang, dan ternyata itu adalah seorang pengecara. Pak Efendipun meminta untuk bertemu dengannya di suatu tempat.


Pak Arya pun langsung bergegas pergi meninggalkan rumah menuju tempat yang telah dijanjikan.


...****...


Setelah menempuh perjalanan, pak Arya pun langsung sampai di cafe Green untuk bertemu dengan pengecara.


“Hallo pak Rahmah!, apa kabar?” sapa pak Arya.


“Baik pak, silahkan!” ucap Pak Rahmat pengecara mempersilahkan duduk.


“Bagaimana dengan berkas pemindahan aset dari pak Efendi beralih atas nama saya?, kapan kiranya dapat segera selesai?” tanya pak Arya yang tak sabar.


“Mohon maaf pak, ini membutuhkan waktu yang sangat lama!” ujar pak Rahmat.


Merasa tak puas dengan jawaban pak Rahmat, kemudian pak Aryapun mengepal kencang kerah baju atas pak Rahmat sembari mengancam,


“Saya sudah bayar kamu mahal, jadi selesaikan ini dalam waktu tiga hari. Saya tidak mau tahu. Kalau kamu tidak bisa memenuhi permintaan saya, kamu saya habisi!”.


“Baik pak saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan bapak!” ucap pak Rahmat ketakutan.


Kemudian pak Rahmat pun pergi meninggalkan pak Arya dengan wajah pucat, karena ketakutan dengan acaman dari pak Arya. Orang jahat itu merupakan orang yang kejam. Semua yang ia mau harus bisa di penuhi. Jika tidak ia tidak akan segan-segan menghabisi orang tersebut bahkan bisa membuangnya ke tempat-tempat terpencil, sehingga membuatnya jauh dari keluarga.


...****...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=


...Hallo!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request. Terimakasih 🙏🙏🙏...