Love Story Sheila And Vero

Love Story Sheila And Vero
Episode 17



Kapankah langitku akan datang padaku?


Ku sangat menantikanmu


Disini ku menunggu kehadiranmu


Untuk melepaskan kesunyian hatiku


Senja telah bertemu malamnya


Matahari telah bertemu bulannya


Terang telah bertemu gelapnya


Jadi, kapan aku bertemu langitku?


Setiap malam aku termenung


Memikirkan tentang hal itu


Lagi, lagi, dan lagi tentang langitku


Ia bahkan membuatku tak bisa tidur


Aku dibuatnya jadi penasaran


Seperti apakah wujudnya


Bagaimanakah parasnya


Dan bagaimanakah perangainya


Suatu saat aku akan menyadari kehadiranmu


Datang menemuiku dengan rasa bahagia


Aku bertemu langitku


Yang selama ini aku nantikan


Tapi, sebelum itu semua terjadi


Aku akan tetap bersabar menunggu hadirmu


Aku akan menjaga hati ini untukmu


Kamu langitku


“Bulan!, Seperti apa pangeran impianku?” tanya Sheila.


“Aku harap ia pangeran yang terbaik seperti buku cerita yang kubaca”, ucap Sheila.


“Bulan!, sampaikan padanya. Aku menunggu kehadirannya!” kata Sheila.


Kemudian ia berdiri dari kursi dan pergi menuju rumahnya.


...****...


Dikamarnya Sheila. Disana terpampang foto-fotonya dan juga dikasurnya terdapat banyak sekali boneka doraemon. Ia sangat menyukai boneka tersebut dari kecil. Bahkan sampai sekarang ia masih menyukainya. Setiap kali papahnya pergi keluar kota. Ia selalu memesan untuk dibelikan boneka tersebut. Ia berencana ingin membangun istana boneka dirumahnya.


Ia mengambil salah satu dari boneka tersebut lalu ia duduk dikasur dan memangkunya. Boneka tersebut merupakan boneka yang paling disayangnya karena merupakan boneka pertama yang ia miliki berkat pemberian mamahnya, ia begitu mencintainya. Dan boneka itu pula dimana ia menceritakan semua keluh kesahnya. Ia selalu curhat padanya kapanpun dan dimanapun.


“Halo Cicin (panggilan kesayangan untuk boneka Doraemonnya), kamu apa kabar?, aku harap kamu baik-baik saja ya!, Cicin aku cerita kira-kira kapan ya aku bertemu dengan pangeran impianku?” tanya Sheila.


“Aku tahu kamu tidak bisa jawab. Tapi, aku harap secepatnya bisa bertemu dengannya!” ucap Sheila.


...****...


Sementara itu, pak Arya baru saja pulang dari kantornya. Bu Asmita kemudian bertanya kepadanya,


“Pah kenapa baru pulang sekarang. Ini kan sudah malam, kantor juga sudah pasti tutup. Jujur pah, kamu dari mana, jujur sama aku?”.


“Aku itu lembur, dikantor banyak kerjaan. Klien juga banyak yang mau kerja sama sama saya. Enggak usah bawel deh, ini juga nanti buat kamu kok. Dahlah aku capek, aku mau istirahat dulu!” ucap Pak Arya.


Bu Asmita meneteskan air mata, karena ia curiga dengan suaminya tersebut. Tapi, ia tak punya bukti. Ia hanya mengandalkan nuraninya saja. Dan bukan faktanya. Jadi, ia hanya bisa menangis tanpa tahu yang sebenarnya. Biarpun ia tahu yang sebenarnya mungkin ia takkan sanggup mendengarnya, dan bahkan akan membuatnya shock.


...****...


Sheila yang mendengar pertengkaran kecil kedua orang tuanya tersebut merasa tidak tenang. Ia tak pernah bahagia berada dirumah.


“Papah kenapa ya, kok seminggu terakhir selalu pulang malam?” tanya Sheila dalam hati.


“Tapi, aku harap papah tidak seperti apa yang aku pikirkan. Mudah-mudahan papah tetap setia bersama mamah dan tak ada lagi pertengkaran-pertengkaran dirumah ini. Amiiinn!” ucap Sheila.


“Aku ingin seperti orang lain. Yang orang tuanya akur dan selalu mesra. Tidak hanya saat dilihat orang dirumahpun aku harap seperti itu!” ucap Sheila.


Sheila kemudian terbaring di kasurnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dari hawa dingin.


......\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=......


...Hello!, Terimakasih ya sudah setia membaca ceritaku. Ikuti terus kelanjutan ceritanya hingga tamat. Jangan sampai terlewatkan ya ceritanya. Untuk teman-teman semua jangan lupa tinggalkan pesan lewat tombol like jika suka dan juga komen bila ingin request. ...


...Terimakasih 🙏🙏🙏...