Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
9| Avergaille's Prince



El berjalan sedikit mendahului Anabelle. Kemudian ia berhenti dan menoleh pada Anabelle. Gadis itu lagi-lagi menatap sekeliling pemandangan yang indah tersebut.


Tempat ini berbeda lagi dibandingkan tempat tadi. Membuat Anabelle sedikit bingung.


Namun ,saat tadi ia menuju ke dalam gedung yang penuh dengan barang-barang mewah ,dia sempat melewati tempat yang sekarang ini ia jalani. Tempat ini begitu sejuk di siang hari menjelang sore. Angin mulai berhembus ,membuat rambutnya tebalnya sedikit terkibar-kibar.


Terkadang ,angin itu bisa bertiup begitu kencang sampai membuat baju jas bagian belakang El yang lebih panjang tertiup-tiup angin. Anabelle menatap rambut El yang sedikit tebal namun masih mempunyai bentukkan yang tertata. Entah mengapa rambutnya yang tertiup-tiup angin tampak sedikit lucu bagi Anabelle. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain ,menatap pepohonan dan bunga-bunga yang menghiasi taman tersebut dengan indah


"Anabelle. Aku perkenalkan tempat ini yang sekaligus menjadi tempat tinggalku."


Mata Anabelle kembali terfokus pada El saat anak tersebut memulai pembicaraan.


"Saat ini ,tempat kita berada merupakan bagian dari kerajaan Avergaille. Dan kita tengah menempati bagian barat Avergaille..."


El menghentikan penjelasannya saat dilihatnya Anabelle linglung di tempat. Ia menghampiri Anabelle dan sedikit berbalik untuk menunjuk suatu arah.


"Itu semua arah mata angin. Di sana utara, artinya yang sekarang kita tempati itu masih termasuk bagian barat. Itu adalah pelajaran dasar lho ,kau pun tidak mengetahuinya ?"


"Ti-Tidak El... Aku tidak bisa mengerti apa yang kau katakan sejak tadi."


"Hoo. Baiklah ,aku mengerti" Jawab El sambil tersenyum.


Dengan bahasa paling sederhana yang El bisa ,ia menjelaskan tentangnya dan tempat tersebut pada Anabelle.


Avergaille merupakan kerajaan yang besar di mana wilayahnya terbagi menjadi beberapa bagian. Jarak antar masing-masing wilayahnya pun tidak bisa dibilang dekat. Namun terlalu jauh pun juga tidak.


Yang tengah Anabelle tempati sejak ia ditemukan pingsan adalah istana Emerald ,yaitu daerah Felleschrya. Wilayah tersebut merupakan satu-satunya wilayah yang memiliki nama untuk bagian outdoor.


Hal tersebut bisa terjadi karena ,istana Emerald memiliki bagian luar istana yang sangat besar dibandingkan istana-istana lainnya. Namun ,ukuran gedung istananya bisa disimpulkan merupakan yang terkecil dibandingkan dua istana lainnya. Felleschrya adalah tempat favoritnya El dikarenakan lingkungannya sangat bersih ,asri dan memiliki harum yang menyegarkan. Juga ciri khas Felleschrya adalah danaunya yang begitu indah disertai dengan air terjun. Tempat itulah dijadikan daerah bagi Anabelle dan El untuk berbincang tadi pagi.


Gedung Emerald sendiri memiliki tiga pintu masuk. Pintu utamanya terletak di depan ,yaitu dekat dengan daerah Anabelle sekarang ini. Pintu yang kedua adalah pintu berukuran sedang yang menghadap ke timur. Pintu yang terakhir merupakan sebuah pintu gerbang yang berada beberapa meter di depan gedung Emerald. Pintu tersebutlah yang digunakan untuk menghubungkan antara Emerald dengan istana pusatnya.


Gedung ini sendiri merupakan tempat para pelayan untuk melakukan pekerjaan khususnya ataupun beristirahat. Tetapi ,sebenarnya ada sebuah kamar khusus yang terpisah dari gedung Emerald itu sendiri. El tidak mengerti siapa yang mendirikan dan untuk apa kamar terpisah tersebut dibangun.


Biarpun begitu ,kamar terpisah itu masih tampak menyatu dan tidak berada jauh dari gedung Emerald. Jadi ,El pikir kamar tersebut bisa diisi oleh Anabelle.


Pasti ada fungsi khususnya kan jika ruangan itu didirikan terpisah dari istananya.


"A-Aku mengerti El... Aku tidak menyangka ini...adalah sebuah kerajaan yang...seluas itu...!?"


"Ya Anabelle. Memanglah luas. Yang kamu lihat di sini pun masih seperempat bagian dari kerajaan Avergaille yang besar."


Anabelle sedikit ternganga sembari ia menatap ke arah kiri dan kanannya. Daerah ini saja sudah terlihat besar baginya. Apalagi masih ada beberapa daerah lain yang tidak bisa ia jamah sekarang ini.


Ia tidak menyangka. Ternyata sebelumnya ia hanyalah seorang gadis yang tinggal di sebuah ruangan kecil yang begitu sempit.


Anabelle baru saja bisa untuk mencoba mengenal tempat-tempat lain selain ruangan kumuh yang berbau.


Sepertinya malaikat benar-benar memberikan El untuknya ,sehingga ia bisa merasakan hal seperti ini. Anabelle menatap El. Apalagi ,titisan malaikat ini memang mencerminkan seorang malaikat penyelamat.


Anabelle tergelak. Ia menyadari sesuatu. Bukankah di suatu tempat haruslah ada seseorang yang berada di paling atas ,alias pemimpin kan.


Anabelle mulai membuka mulutnya. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya ,"Tapi El. Sebenarnya...apakah kau ini pemimpin Avergeil ini ?"


El sedikit terkejut. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk dan sedikit memajukan wajahnya. Bagaimana mungkin anak sekecilnya bisa memimpin kerajaan seluas ini.


"Aku ?"


"Aku bukan pemimpinnya. Hmm ,yang kau maksud itu Raja ya. Ada kok Raja yang memimpin. Namanya Raja Alaric. King Alaric the Second."


Anabelle memiringkan bibirnya. Wajahnya tampak masih ragu dan gugup.


"A...ku... penasarannya dengan El."


"Oh ,aku-"


Saat El belum selesai berbicara mengenai jawabannya atas Anabelle ,tiba-tiba seorang anjing putih berlari dan melompat ke pelukan El dengan girang. Membuat El jatuh terduduk dengan tangan memeluk anjing putih yang langsung menjilat-jilat wajahnya.


"Haha ,Charity. Berhentilah seperti ini." Kata El terkekeh sembari sedikit menggerakkan wajahnya karena merasa geli terus dijilati oleh Charity.


Anabelle hanya bisa berdiri kaku sambil sedikit terperanjat ketika Charity berlari dari sana. Ia pun sedikit memundurkan tubuhnya karena adanya suatu makhluk yang tidak dia ketahui apa jenisnya.


Seingatnya ,dahulu ia pernah melihat makhluk yang berkaki empat seperti ini. Tapi itu sangat jauh sebelum ia dikurung oleh ibu kejamnya. Makhluk tersebut berbulu ,terlihat halus dan warnanya putih. Ia memiliki dua telinga yang tegak ke atas di kedua sisi ujung kepalanya.


Moncong hidungnya mancung dan memanjang ke depan. Wajahnya terlihat bahagia saat melihat El. Lidahnya menjulur keluar ,mulutnya terlihat tersenyum. Ekor panjangnya nya juga bergoyang-goyang dengan kencang.


Saat diperintahkan oleh El ,Charity langsung berpindah dari badannya. Ia berdiri menghadap Anabelle dengan waswas. Tubuhnya ia tegakkan dengan kaki yang keempat-empatnya lurus. Wajahnya saat menatap Anabelle tidak terlihat ramah seperti saat ia berlari dan menabrak El. Membuat Anabelle ketakutan dan semakin melangkah mundur dari makhluk yang dipanggil 'Charity' oleh El.


El pun bangun dari tanah dan langsung berdiri. Ia memanggil Charity ,"Hei-Hei ,Charity."


El menghampiri Charity dan mengelus kepalanya. Kemudian ia meraih tangan Anabelle dan menunjukkannya pada Charity.


"Dia temanku ya." Kata El sambil membuat Anabelle sedikit melangkah maju dari tempat asalnya.


Anabelle masih saja takut untuk melangkah. Ia menatap Charity dengan kegetiran.


"E-El ,i-itu apa...?"


"Anabelle ,dia anjing peliharaanku. Kamu tidak perlu takut ,dia juga dibesarkan di istana sejak aku masih berusia berusia enam tahun."


Charity telah diajarkan untuk berkenalan pada orang baru saat diketahuinya orang tersebut tidak membahayakan majikannya. Ia menghampiri si gadis yang langsung kaku tanpa bisa bergerak. Kemudian tubuhnya sedikit bergetar saat Charity mengendus-endus bagian bawah kakinya. Setelah mengenali baunya ,wajah Charity mendongak pada Anabelle ,ia menggonggong pelan dengan irama yang teratur.


El menoleh pada Anabelle ,sedikit tersenyum."Anabelle. Maukah kau berkenalan dengan Charity ? Ia memintamu agar menawarkan tanganmu."


"O-Oh...?"


Dengan perlahan dan sedikit bergetar ,Anabelle .mengulurkan tangannya pada Charity. Namun ,saat anjing berbulu putih itu mengangkat tangan dan berniat meletakkannya pada Anabelle ,gadis itu kembali menarik tangannya dengan mata yang terbuka lebar akibat terkejut.


Charity mengeluarkan suara-suara seperti rengekkan yang halus. El sedikit tertawa dan menggeleng-geleng. Merasa kasihan pada peliharaannya , El pun mengambil tangan Anabelle dan mengulurkannya pada Charity.


Charity langsung menyentuh tangan Anabelle dengan tangannya ,menatap Anabelle dengan wajah yang ramah. Mata cokelatnya terlihat hangat saat memandang Anabelle.


"Lihat. Dia baik kan ,Anabelle."


"I-Iya..."


"Hahaha. Kamu kaku sekali ya ,Anabelle."


El pun mengelus tubuh Charity ,membuat Charity terlihat tersenyum. "Ini waktunya kau makan kan ,Charity. Sudah sana ,sebelum Naomi mencarimu."


Charity menggonggong pelan. Kemudian ia pun langsung berlari kembali setelah diberitahu oleh El. Setelah melihat anjingnya yang telah semakin bertumbuh besar itu berlari pergi ,El kembali pada pembicaraannya dengan Anabelle terakhir sebelum diganggu oleh Charity.


"Jadi ,seperti itulah. Di setiap tempat ,pasti ada satu pemimpin yang kuat dan sanggup melakukan apapun. Semua orang di sini pun tunduk pada satu orang yang memimpin."


"Me-Mengapa terdengar seram ,El...?"


Anabelle hanya bisa mengikuti langkah El dan menerima saat tangannya dituntun oleh El.


Rasa takut dan curiga Anabelle pada El sudah sirna sepenuhnya begitu saja. Anabelle sudah melihat banyak kebaikan dan kehangatan yang El tunjukkan sepanjang hari ini. Dan juga ,El memiliki anjing peliharaan yang sama baiknya dengannya. Walaupun Anabelle telah melihat setiap orang yang bertemu dengan El ,pasti tunduk kepadanya. Tetapi ,El tak pernah menunjukkan sifat mengatur dan angkuh sedikitpun.


Saat berterima kasih ,meminta bantuan dan meminta maaf pun ,El tampak tulus saat menyampaikan semua itu.


Anabelle tergugah sembari menatap El yang tengah berjalan sembari menuntunnya. Dari tampak belakang saja ,El sudah tampak bagaikan orang yang cerah dan dapat diandalkan. Entah mengapa ,Anabelle merasa begitu bahagia saat berada di dekatnya. Seperti ada sebuah sihir di sekitar tubuh El yang dapat memantra hatinya menjadi gembira.


Setelah sampai di tempat yang El inginkan ,ia langsung menghadap ke gedung Emerald. Ia mendongak dan tersenyum pada Anabelle.


"Nah ,itulah istana yang tadi kau tempati untuk mandi dan makan."


Anabelle ikut mendongak. Wajahnya terpukau. Mulutnya lagi-lagi ternganga akan keindahan yang ia lihat. Ia melihat gedung Emerald tersebut dari sisi kiri. Bahkan dari samping saja ,istana tersebut sudah terlihat menakjubkan.


Saking yg terpesonanya ,mata Anabelle sampai terpaku. Warna istana yang putih cerah tanpa noda. Dengan atap yang dihiasi dengan warna hijau tua. Terdapat beberapa puncak yang menghiasi istana tersebu ,puncaknya menjulang tinggi ke langit.


Anabelle merasa bahwa ia sedang berada di tengah-tengah dunia fantasi. Ia sangat mengagumi akan fakta bahwa selama ini ,El hidup di tempat yang menakjubkan seperti ini. Baik dari segi dalam maupun luarnya...semuanya bagus.


"Sampai kapan mau tertegun seperti itu sih...?" Tanya El sambil tersenyum. Ia sedikit mengulurkan tangannya pada Anabelle ,yang merupakan sebuah isyarat untuk kembali menggandeng Anabelle.


Anabelle langsung tersadar dan berhenti mendongak. Ia cepat-cepat meletakkan tangannya kembali pada El. Mereka pun berjalan kembali dengan perlahan sembari menikmati udara segar di sore hari itu.


"Jadi ,apa terbesit di pikiranmu mengenai tinggal di tempat ini ?"


Anabelle terdiam. Ia tampak memikirkan perkataan El sambil tetap melangkahkan kakinya bersama El.


"Kupikir ,kamu akan bisa bersenang-senang jika berada di sini. Apalagi ,tempat ini sangat indah kan."


"Lalu... Apakah El senang tinggal di sini selama ini ?"


Saat Anabelle melontarkan pertanyaannya ,El langsung menghentikan langkah kakinya. Begitu pula dengan Anabelle yang sudah terheran-heran di tempatnya. Sebelah tangannya memegangi gaun yang dipakainya agar tidak tertiup-tiup angin. Sebelah mata biru El yang berwarna biru menoleh pada Anabelle. Memandangnya dengan sedikit terkejut. Membuat Anabelle menjadi gugup dan takut akan dirinya yang salah melontarkan pertanyaan.


"A-Apakah aku salah? Ha-Habisnya El mengatakannya hanya aku yang bersenang-senang. Ma-Makanya aku bertanya..."


El seperti tersadar akan lamunannya. Ia sedikit menggeleng dan tersenyum kembali. Kembali ke gelagat normalnya selama ini.


"Ohh ,kamu tidak salah. Hanya saja ,aku belum pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini sebelumnya. Aku juga bahagia di sini kok. Mengapa tidak ?" Jawab El sambil menepuk-nepuk pundak Anabelle dengan perlahan.


"Baguslah kalau begitu El. Kalau El saja senang ,maka aku pun akan senang !" Kata Anabelle dengan riang.


"Jadi artinya Anabelle mau menetap di sini ?"


Anabelle hampir saja mengangguk dan menyetujui tawaran yang sangat menggiurkan tersebut. Bagaimana ia tidak tergiur. Anak kecil sepertinya yang tersesat ,ditawarkan tempat tinggal yang menakjubkan seperti Avergaille ini. Dan lagi ,ia bisa mendapatkan makanan dan air seperti tadi...setiap hari ?! Bukankah ini sebuah mimpinya yang tidak pernah bisa tercapai sebelumnya. Apalagi ,ia bisa di sini sekaligus bersama dengan El setiap hari.


Namun ,masih ada satu hal yang mengganjal di hati Anabelle.


"Tetapi...bagaimana dengan o-orang yang tadi El bilang semuanya tunduk...? Si-Siapa ya ,Raja...?"


"Hmm ya ,beliau itu adalah Raja. Sekarang ini ,Raja belum pulang ke Avergaille. Dan lagi ,tempatnya bukan di istana Emerald. Jadi seharusnya beliau akan jarang ke sini."


"Kedengarannya...orang itu menyeramkan..."


El sedikit kebingungan saat Anabelle menyebut sang Raja dengan menggunakan 'orang itu'. Jika ada orang di sini selain El ,Anabelle bisa saja dihukum dan tidak dimaafkan kesalahannya


"Hey...Cobalah untuk menyebut Raja dengan tidak menggunakan sebutan seperti orang itu ya ,Anabelle."


"O-Oh...baik ,El..."


Anabelle sedikit merasa malu. Sejak tadi ,ia selalu saja ditegur karena penggunaan kosa katanya yang salah. Ternyata El dan Raja itu tidak boleh disebut dengan menggunakan kata sembarangan ya. Apakah semua orang di sini tidak boleh...? Mengingat El saja begitu dihormati.


Beberapa saat kemudian ,Anabelle kembali bertanya ,"Bagaimana dengan El ? Apakah El juga tinggal di istana Emerald ?!"


"Hoo. Sungguh penghinaan jika seorang Elnathan dikatakan tinggal di Emerald."


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Membuat Anabelle dan El sama-sama menoleh ke asal suara tersebut.


Di sana ,seorang anak yang tampak seumuran dengan El berjalan menghampiri mereka. Ia mengenakan setelan jas putih. Meskipun juga tampak mewah ,namun jasnya masih terlihat lebih simpel dan sederhana dibandingkan El. Rambutnya berwarna hitam pekat ,persis seperti milik El. Matanya pun berwarna hitam pekat serupa. Anak itu tampak mirip dengan El ,kecuali bagian mata dan bibirnya. Bentuk ukuran mata anak tersebut lebih besar dibandingkan yang El miliki. Bibirnya pun tampak lebih melengkung dan tidak datar.


Saat ia mendekati mereka ,terlihatlah bahwa postur El masih lebih tinggi daripada anak tersebut.


"Ren."


Anak yang El panggil dengan sebutan 'Ren' tersebut memiringkan wajahnya dan menatap Anabelle. dari depan. Sehingga El mengerutkan alisnya dan sedikit memundur.


"Hei nona. Emerald itu tempat pelayan. Jangan menghina sang pangeran seperti itu." Kata Ren yang ekspresinya tampak yakin.


Anabelle hanya bisa terkesiap di tempatnya saat tiba-tiba didatangi oleh Ren. Lalu El pun mengambil tangan Anabelle dan sedikit menjauhkannya dari Ren.


"Haish ,tidak selalu untuk pelayan ,Ren. Dan juga ,ada apa sampai kamu main jauh sekali ke sini ?"


"Huh... Bukankah kau sendiri pun juga."


Anabelle hanya terdiam di tengah-tengah pembicaraan mereka berdua yang Anabelle tidak ketahui apa hubungan keduanya. Namun ,kosa kata yang tadi Ren gunakan membuat Anabelle berpikir. Pangeran...?


Anabelle pun langsung berpindah ke sebelah El dan berbisik padanya untuk menanyakan kebingungannya.


"El ,ka-kamu pangeran...?"


Akan tetapi ,Ren masih tetap bisa mendengar perkataan Anabelle menggunakan pendengarannya yang tajam. Kedua alisnya langsung mengernyit ,ia terheran-heran.


"Lho ? Kukira kau temannya El ,kok belum tahu tentangnya sih ?"


Anabelle langsung menjauh dari El dan menatap Ren dengan terkejut ,tak berani membalas perkataannya. Karena ia pun bahkan belum mengenal siapa anak yang terus menjawab pertanyaannya ini.


"Ren ,sudahlah. Dia memang baru kok di sini,makanya aku baru mau beri tahu."


Ren menghela napas. "Haish ,memang kebiasaanmu kan melewati pembicaraan tentang dirimu sendiri."


Kemudian Ren berdiri di depan Anabelle dan memegang pundaknya El. Ia menajamkan kedua matanya pada Anabelle ,membuat gadis itu terkesiap.


"Hei nona. Orang yang tengah bersamamu itu seorang pangeran di sini. Kalau kau tidak mengerti apa artinya ,dia ini putra sah satu-satunya Raja Avergaille. Artinya ,pangkatnya kedua tertinggi setelah Raja."


Mendengar itu ,Anabelle langsung terkejut bukan main. Jadi ,sejak tadi... ia tengah bersama dan berbincang dengan putra Raja itu sendiri...?


Mengetahuinya saja membuat Anabelle merasa ingin pingsan saja di tempat. Mengetahui bahwa ia sejak tadi bisa santai dan bahkan berlaku tidak sopan saat menyebutnya terhadap para pelayan saja...tidak bisa ia percayai.


Anabelle memandang El dengan takut-takut. Tidak heran jika semua orang menghormatinya dan juga segan terhadapnya. Tak heran jika El terlihat sempurna bak malaikat. Karena ayahnya saja merupakan pemilik sekaligus pemimpin kerajaan ini.


***


...-End of Chapter 9-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️