Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
20| Impulsive



"Ayah, tak seharusnya ayah memercayai seseorang yang meracunimu dengan obat tidur sehingga ayah menjadi sulit untuk bangun."


Seketika, jantung Lev terasa berhenti berdetak. Kedua matanya terbuka lebar. Ia menatap El tanpa bisa berkata-kata sedikitpun.


Ia mengira ini adalah sebuah lelucon yang dibuat El karena merasa situasinya terlalu tegang. Mungkin saja akhirmya El mau menjadi anak kecil yang suka bermain-main seperti pada umumnya. Tetapi, lelucon seperti ini sama sekali tak bisa membuat seseorang tertawa kan...


Lev memegang rambut putih pirangnya. Ia berusaha agar bisa bernapas dengan normal kembali.


Anabelle melayangkan pikirannya ke saat-saat lalu. Apa maksud ia yang pernah bersikap seperti pengkhianat? Jangan-jangan, ia telah menjadi pengkhianat karena waktu itu mengatakan ia bukan rakyatnya Raja...!? Itu kan, karena murni ia tidak tahu sama sekali tentang kerajaan dan seisinya ini... Anabelle sama sekali tak bermaksud menolak kuasa yang Raja miliki.


"Lanjutkan, El."


El berlutut dengan salah satu kakinya di hadapan ayahnya. Lalu mengibarkan jubah putihnya yang panjang ke belakang. Lalu menundukkan kepalanya dengan elegan, berwajah sungguh-sungguh.


"Yang mulia, saya tidak memberikan tuduhan seperti ini tanpa bukti yang konkret."


Setelah mengatakan kalimatnya, El menoleh ke pintu masuk dan...seorang cowok pun datang ke ruangan tersebut dengan perlahan. Kedatangan anak itu membuat seisi istana terkejut tak percaya. Lev tidak terkecuali.


Lev merasa bahwa pergelangan tangan kanannya saat ini bergetar. Ini akan...menjadi malapetaka baginya.


"Ray Frederick?" Gumam Raja Alaric dengan terheran-heran.


Ray berjalan dan berlutut sisi yang sama dengan El walau jarak mereka berdua terpisah beberapa meter.


'"Salam, tuan Raja yang saya hormati. Segala berkat dilimpahkan pada kerajaan Avergaille yang pemimpinnya amat saya segani. Saya Ray Frederick, berani bersaksi atas pernyataan yang telah dinyatakan oleh tuan muda El."


Lev berusaha untuk tetap tampak tenang karena jika dia panik, dia akan semakin dicurigai. Bagian luarnya memang dia terlihat kalem, namun di dalamnya sebenarnya ia sangat gentar. Bukan hanya gentar karena tiba-tiba El menjebaknya seperti ini, tetapi juga karena ia bersekongkol dengan Ray, putra dari Duke Arthur Frederick. Mustahil kalau Ray betulan menyaksikan ketika Lev meracuni sang Raja dengan obat tidur. Saat itu, tak ada siapapun yang berada di sana selain dirinya.


Desas-desus yang mulai berada di sana membuat sang Raja jenuh. Ia menyandar dan melipat kakinya dengan angkuh. Kemudian ia berperintah, "Sudah, bawa saja anak kecil itu sesuai perintahku tadi."


Titah yang diberikan oleh sang kepala Avergaille membuat El bergidik. Mengapa bisa seperti ini? Harusnya, semuanya berjalan sesuai dengan yang sudah ia perkirakan kan...


Waktu itu, ayahnya menyapa Ray. Yang di mana hal itu merupakan suatu hal yang lumayan langka. Karena itu pun El menyimpulkan bahwa Ray adalah salah satu orang yang memikat hati ayahnya. Maka itu kemarin malam, ia meminta tolong pada Ray untuk menjalankan rencana ini. Ya... Rencana untuk berpura-pura menjadi saksi kejahatan palsu Lev. Tetapi mengapa ayahnya tak mengacuhkannya...


Melihat Anabelle yang mulai diangkat untuk diseret pergi, seluruh organ tubuh El rasanya ingin berhenti bekerja.


Wajah Anabelle terlihat ketakutan saat tiba-tiba dibawa paksa oleh pengawal yang diperintahkan oleh sang Mulia Raja. Ia memang ingin pergi demi melepaskan pundak El dari beban, tapi bukan dengan cara paksa seperti ini... Tapi, ia sama sekali tak berani berteriak minta tolong pada El. Ia hanya bisa menatap El dengan sorot mata yang penuh kegetiran sambil tubuhnya diseret.


"Tidak..." Gumam El di sana. Membuat Ray yang berada di dekatnya segera menoleh untuk melihat gelagatnya.


Ray tergelak tak percaya ketika melihat wajah El kecemasannya begitu dapat terlihat. Ekspresinya menunjukkan entah sebuah kegelisahan, ketakutan ataupun kerinduan yang mendalam. Sebelumnya, Ray sangat jarang melihat ekspresi El yang sesengsara ini. Maka itu ia terkejut.


Yang Ray tahu, El hanya pernah dua kali menunjukkan ekspresi seperti ini sebelumnya. Yaitu ketika pertama kalinya El melihat wajah ibunya di sebuah potret dan ketika... El menceritakan mengenai Zora yang tewas mengenaskan di tangan ayahnya El sendiri. Saat nyawa Ren terancam pun, ekspresi El masih berbeda dengan saat ini. Ekspresinya yang dalam dan penuh makna tersebut, ditunjukkan karena gadis bernama Anabelle.


"Tidak... Jangan ambil adikku..." Gumam El dengan suara yang putus asa.


Keputusasaannya El membuatnya tak lagi bisa berpikir jernih. Ia sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selain berjalan maju langsung ke depan ayahnya.


El berjalan menghampiri pengawal yang sedang menyeret Anabelle. Membuat mereka berhenti sejenak dan menoleh pada El dengan bingung. Pengawal berbaju zirah serta syal khas berwarna silvernya itu sedikit menundukkan kepalanya pada El dan hendak kembali berjalan membawa Anabelle.


Charity pun mengikuti langkah tuannya dan menggonggongi para pengawal yang menahan Anabelle.


"Saya sebagai putra mahkota dan satu-satunya pewaris takhta di kerajaan Avergaille memerintahkan kalian untuk melepaskannya."


Anabelle dengan keadaan kedua tangan yang dicengkeram oleh sang pengawal langsung berusaha memutar lehernya demi melihat El di belakang mereka.


"El..." Gumamnya dengan khawatir.


Anabelle malah tersenyum dan menatap El dengan ceria, seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, hal itu tak membuat hati El menjadi tenang. Malah menjadi terkikis dengan pedih.


"Kalian dengar kan... Lepaskan dia, kubilang..."


El berbicara dengan mata yang masih menatap Anabelle. Seolah-olah ia mengatakan perkataannya tanpa ia sadari.


"Ma-Maaf tuan muda. Tapi perintah yang mulia itu mutlak....dan tak bisa dibantah..."


"Kalian sungguh menolak perintahku?" Tanya El dengan wajah yang datar. Hal itu membuat kedua pengawal menatap satu sama lain, merasa getir. Mereka bingung, seharusnya mereka menuruti perintah Rajanya, tapi, entah mengapa tatapan mata El saat ini terlihat menyeramkan dan berbeda dari biasanya yang ramah.


Ray sedikit mendongakkan kepalanya, menemukan sosok Raja yang sudah mulai terlihat geram di tempatnya. Membangkang adalah sifat yang paling dibenci olehnya. Tetapi entah mengapa El berani melakukannya sejak hari-hari yang lalu.


Daripada terjadi hal-hal buruk yang tak diinginkan, Ray langsung berbalik dan berdiri. Kemudian berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju El.


"El, kuharap kau berhenti bertindak seperti ini." Kata Ray sambil memegang pundak El dengan wajah yang khawatir.


Namun, El sama sekali tak menanggapi perkataan Ray. Ia masih saja diam dan terus meratapi wajah adiknya yang tengah ketakutan di depannya sekarang ini.


Melihat hal tersebut, sebenarnya Ray ingin sekali berteriak di depan wajah El untuk menyadarkannya kembali. Tetapi tindakan itu sama sekali tak sopan di depan Raja. Ia memilih untuk mengatakan semuanya yang ia pikirkan saja.


"Daripada dia, bukannya seharusnya kau lebih mengkhawatirkan Tuan Val yang sudah menyelamatkan nyawamu, El!?"


Sepatah kalimat yang diucapkan Ray membuat El terkesiap. Dengan cepat, El langsung menoleh pada Ray. Menatapnya dengan wajah yang tak dapat terbaca ekspresinya.


"Bisa dihentikan pertikaian anak kecilnya?" Kata sang Raja yang sudah berdiri di depan tangga yang menuju ke singgasana.


Wajahnya mendongak angkuh, ia melipat kedua tangannya di dada. Di dekatnya Arch berdiri mendampinginya dengan kepala yang tertunduk padanya.


Melihat ayahnya yang sudah turun ke sana, El pun langsung berbalik dan ikut menunduk hormat. Masih dengan wajah yang terpuruk.


"Yang Mulia. Mohon ampun jika saya bertindak tidak santun." Kata Ray sambil menunduk dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Aku tak bisa memercayaimu begitu saja. Kalian berdua kan berteman, bagaimana mungkin tak ada kemungkinan kalau kalian berdua bekerja sama mengelabuiku." Kata Raja dengan senyuman menyeringai.


Ray langsung berlutut di depannya. "Tuan Raja Alaric. Saya tak mungkin sanggup melakukan hal itu terhadap anda."


"Aku belum selesai bicara."


Wajah Raja Alaric menoleh pada El, menatapnya dengan sinis.


"Apalagi, El kelihatannya mulai merencanakan sesuatu terhadapku karena rasa dendamnya."


El tak bereaksi apapun atas pernyataan kecurigaan ayahnya. Ia termenung dengan lesu. Sudah mulai putus asa akan keselamatan Anabelle.


"Sekarang, bawa anak perempuan itu dari sini, tak usah pedulikan apapun." Kata Raja dengan perintah yang mutlak.


Kata-Kata itu membuat kedua pengawal tak lagi memedulikan perintah El. Mereka masih mau kepala mereka menyatu dengan lehernya, karena itu ia langsung menyeret kembali Anabelle dari sana. Suara lemah Anabelle yang meringis sembari dibawa itu terdengar di telinga El. Hatinya tak tenang, ia sama sekali tak bisa tinggal diam melihat semua ini.


"Mengapa ayah sama sekali tak pernah mendengarkanku?" Tanya El masih dengan sikap yang menunduk.


"Sejak dulu pun, ayah seperti ini padaku. Biar aku kesakitan pun, hampir mati pun, putus asa sekalipun, ayah...sama sekali tidak peduli kan. Apa ini juga yang membuat ibu memutuskan untuk meninggalkan kita...?"


Ray mendelik ketika tangan Raja itu terkepal. Wajahnya tampak menahan murkanya. Menghindari topik itu dari El, ia berbalik dan berkata, "Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan ini."


"Tidak... Sampai kapanpun, aku akan terus mengungkit mengenai ibu. Ibu yang seharusnya bersamaku...namun karena ayah...semuanya menjadi seperti ini." Tutur El sambil menahan tangisnya.


Wajahnya penuh dengan kekecewaan dan keputusasaannya yang mendalam. Sambil berbicara seperti itu, tubuhnya kian bergetar menahan kesedihannya. Entah ia mendapat keberanian dari mana ataupun niat nekat itu dari mana. Tetapi ia sudah sama sekali tak peduli. Untuk kali ini saja, jangan ambil adiknya dari sisinya. Hanya kali ini saja ia memohon...


Tangannya ia kepalkan, bibirnya ia rapatkan.


Sejak kecil, ia sudah mendapatkan mimpi buruk yang terjadi secara terus menerus. Mimpinya yang tak lain dan tak bukan merupakan tentang tragedi yang menimpa orangtuanya waktu dulu sejak ia baru lahir. Dari mimpi tersebut, dapat ia simpulkan kalau orang yang membuat ibunya meninggal adalah ayahnya itu sendiri. Kejadian di mimpinya itu tetap sama dan tak berubah. Melihat orang itu tak menyangkal pernyataannya, sepertinya semua yang ia katakan itu benar adanya.


"Tutup mulut itu sebelum aku benar-benar menghukummu."


"Jika itu yang mulia kehendaki, silahkan..., silahkan ayah..."


Sebuah tawa sarkas yang renyah membuat El terkesiap.


Dari belakang, ia hanya bisa melihat pundak lebar ayahnya yang membelakanginya. Ia tak dapat memahami apa yang sedang pria itu pikirkan dan rasakan walau El yakin ekspresinya tidak akan berubah. Tetap dingin dan datar seperti biasanya. Dari semua ekspresi wajah yang ada, ayahnya hanya memiliki satu yang alamiah yaitu ekspresi dingin. Tak ada wajah hangat, ramah maupun ungkapan kesedihan.


"Kerja yang baik karena membuatku menyesal telah membesarkanmu. Dari semuanya, itu adalah hal yang paling kusesali. Ternyata kau hanyalah seorang anak pembangkang yang hanya memiliki kelebihan di bagian otak. Selebihnya, kau itu cuma sampah."


Seisi istana bagaikan dibuat terkejut karenanya. Termasuk Arch.


Siapapun memang tahu kalau Raja Avergaille memang seorang pria yang kejam dan tak pandang bulu saat akan membunuh seseorang yang dianggapnya menjengkelkan. Namun, seekor singa yang ganas pun tetap akan berlaku baik kepada darah dagingnya sendiri kan.


Tetapi, kelihatannya tidak terlalu...


Selain pedang miliknya yang membahayakan, ucapannya pun seringkali terdengar menyakitkan hati. Apalagi, yang mendengarnya adalah seorang pangeran kesepian yang tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu.


"Sekarang, bukan hanya berlagak lemah tapi kau malah bermain rumah-rumahan lagi dengan anak jalanan. Sungguh, kau...merupakan anak ****** yang tidak tahu diri."


Ray bergerak refleks dengan menutup mulutnya sendiri. Ia saja yang hanya mendengarnya terasa begitu pedih hatinya. Bagaimana mungkin bisa sesosok orangtua mengatakan hal kejam seperti itu pada anaknya...


Wajahnya langsung ia tolehkan untuk menatap El.


Crack


Perasaan Ray baru hancur saat itu ketika melihat air mata El menitik dari matanya tanpa ia sadari.


Dengan wajah yang masih syok, sebelah mata El meneteskan air matanya karena sebuah reaksi kesedihan hati yang dialaminya.


Apa? Apa yang bisa ia lakukan untuk membalas air mata yang diteteskan El...?


"JANGAN...!!"


Sebuah seruan nyaring seorang anak gadis tiba-tiba terdengar sampai ke seluruh sudut ruangan. Membuat sosok Raja itu langsung membalikkan badannya untuk menyaksikan langsung pemilik suara tersebut.


***


...-End of Chapter 20-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️