Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
7| A Great Fear



"Sudah kenyang ?" Tanya El setelah mengajak Anabelle berdiri di hadapannya.


Tetapi Anabelle malah melihat ke arah meja makan yang tadi ia tempati. Keadaannya membuat Anabelle mengerutkan keningnya. Padahal tadi meja tersebut terlihat bersih mengkilap dan sangat indah. Tetapi karenanya ,sekarang itu terlihat kotor dan sangat berantakkan. Ini...kesalahannya kan ?


Seolah El mengetahui apa yang tengah Anabelle khawatirkan saat itu ,ia langsung sedikit memiringkan kepalanya menatap Anabelle dan berkata ,"Jangan dikhawatirkan. Yang penting kau sudah tidak kelaparan kan."


Anabelle langsung menoleh lagi pada El ,menatapnya sayu. Kekhawatiran masih belum hilang dari wajahnya.


"Ta...pi..." Keluh Anabelle sambil menatap kembali meja yang berserakan akibat dirinya


Anabelle kembali menoleh saat sebuah tangan terulur kepadanya. Dia menatap El dengan penuh kerisauan. Namun El malah tersenyum sambil tetap mengulurkan tangan kepada Anabelle. Seperti mengajaknya untuk melangkah bersama dirinya.


"Ayo. Anabelle ,maukah kau menerima tanganku sekali lagi ?" Tanyanya dengan wajah serta suara yang tenang serupa.


Anabelle sudah hendak meletakkan tangannya pada El. Namun langsung ia tarik kembali dengan cepat. Wajahnya terlihat tegang dan takut.


Dia ragu. Memang Anabelle diberikan makanan serta tempat untuk beristirahat selama beberapa hari. Tetapi...entah mengapa ia takut. Ini disebabkan ketidakpengetahuannya mengenai El. Apa sebenarnya yang El ingin lakukan kepadanya ,dan hal menguntungkan apa jika Anabelle berada di tempat tersebut lebih lama lagi.


"Ta...pi..."


El segera berbicara sebelum Anabelle tergagap-gagap lebih parah lagi.


"Tapi apa ? Aku belum menjelaskanmu apapun tentangku dan tempat ini ? Ya kah..."


Glek


Sepertinya El...mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran seseorang... batin Anabelle dengan jiwa polosnya.


"Melihat ekspresimu ,berarti memang benar ya."


Anabelle menghindari tatapan El dan malah menatap ke arah lain dengan wajah canggungnya. Tangannya dia rapatkan di depan tubuhnya. Berpostur begitu malu dan canggung.


"Aku akan menceritakan padamu kok ,tapi setelah penampilanmu menjadi lebih bersih ,ya ?"


Anabelle malah bergeming di tempatnya berdiri dan tidak menjawab El. Membuat El sedikit menghela napasnya.


"Anabelle...?" Panggilnya lagi.


Manik abu Anabelle menatap sebuah tangan yang mungil nan putih di hadapannya tersebut. Lalu beralih pada wajah si pemilik tangan itu. Seorang anak cowok yang berpostur tegap walaupun tidak terlalu tinggi. Dia dengan mata biru indahnya meski hanya sebelah yang nampak.


Kemudian Anabelle pun meletakkan tangannya pada El dengan ragu-ragu. Sampai akhirnya tangan Anabelle pun berhasil El genggam.


Saat Anabelle melirik El, El tengah tersenyum kepadanya. Senyumannya begitu manis dan indah saat itu. Membuat Anabelle langsung terkesima dengan mata yang menjadi lebih terang tatapannya.


El itu...orang yang membuat Anabelle begitu penasaran akan siapa dirinya sebenarnya.


***


El menuntun Anabelle ke sebuah tempat yang terlihat jauh lebih megah dibandingkan ruang makan tadi. Sambil El menuntun tangannya ,mata Anabelle menjelajah ke sekelilingnya ,masih dengan ekspresi yang terkesima.


Manik biru milik El mencuri pandang pada Anabelle dari depan. Ia tersenyum miring sambil menggeleng-geleng ,lalu kembali menatap ke depan sembari menuntun gadis tersebut.


"Waah ,itu..apa...?" Tanya Anabelle penasaran sambil berniat berpaling dari langkah El yang sejak tadi ia ikuti.


El pun langsung berhenti sejenak. Lalu ikut menatap benda yang dimaksud Anabelle.


Dengan penasaran ,Anabelle menunjuk sebuah benda yang berada di atas tungku api. Sebuah pajangan yang berwarna cerah. Mata Anabelle begitu tertarik saat melihat pajangan yang terbuat dari batu ,berisi pahatan seorang wanita yang tampak seperti peri duduk menyandar pada sebuah bulan.


Entah mengapa ,Anabelle sangat ingin menyentuhnya. Warna gaun panjangnya yang berwarna biru terang dan bulannya yang berwarna silver.


Tanpa El bisa prediksi ,dengan cepat Anabelle langsung berlari menghampiri patung tersebut. El berniat mengejar anak gadis tersebut ,memanggil namanya berkali-kali.


Akan tetapi Anabelle sudah terlanjur sampai ke depan pajangan peri bulan tersebut. El hendak mencegahnya dari menyentuh apapun dari pajangan-pajangan di atas tungku api.


"Anabelle !"


Tepat saat El menyerukan nama gadis itu ,tangan Anabelle mendekati patung peri bulan tersebut. Akan tetapi ,pergelangan tangan Anabelle malah tersenggol pada patung lain yang berada di sebelah sang peri bulan. Tepat sebelum El menggapai Anabelle dan menariknya dari sana ,patung yang tersenggol Anabelle sudah lebih dahulu bergeser dari tempatnya dan terjatuh ke lantai.


El hanya bisa tercengang saat melihat pajangan mewah yang sudah pecah berkeping-keping di hadapannya. Seketika itu juga ,Anabelle ternganga-nganga. Kemudian dia menatap kedua tangannya dengan penuh kepanikan. Tangan cerobohnya lah yang membuat sebuah masalah terjadi.


Anabelle kemudian menatap El dengan tergagap-gagap ,xia berniat meminta maaf kepadanya. Namun ,El malah terus saja memandangi pecahan patung di depannya.


Glek


Anabelle seperti baru pertama melihat ekspresi El yang cemas seperti demikian. Sepertinya masalah yang ia ciptakan benar-benar parah. Anabelle menelan ludahnya ,tidak tahu apa yang bisa dilakukan olehnya.


Beberapa detik kemudian ,El mulai membungkukkan badannya untuk mengambil salah satu pecahan beling tersebut.


Tetapi ,seorang pelayan cepat tanggap dan langsung menghampiri kekacauan tersebut. Ia menghalangi El dari menyentuh apapun dari beling patung.


"Tuan muda ! Biarkan saya membersihkannya terlebih dahulu. Tangan Anda bisa terluka."


Pelayan tersebut sedikit terkesiap saat melihat wajah El yang panik setengah mati.


"Sebentar Paula... Kupikir aku harus memperbaikinya seperti semula."


Mata El menjelajah ke pajangan lain yang berada di atas tungku api. Kemudian menatap patung yang sudah terbelah-belah di atas lantai. Tidak salah lagi ,yang pecah ini kan...


Tangan Paula ,sang pelayan memegang salah satu pecahan patung ,dia tentunya sudah tahu patung apa yang ia pegang ini.


"Tapi tuan muda... Sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Meskipun diperbaiki ,bentuknya tidak akan bisa seperti sediakala."


"Gawat..." Gumam El dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.


"El... Yang aku pecahin itu...barang yang sangat berharga kan ya... Aku-Aku benar-benar minta maaf..."


Kemudian El berdiri tegap kembali ,berada di dekat Anabelle. Wajah kegetirannya masih tetap terlihat ,namun masih berusaha untuk ditutupkan olehnya.


"Ya. Kukira kau anak yang kalem. Jadi...aku tidak terpikir untuk melarang-larangmu sesuatu tadinya. Tapi ,aku sangat minta tolong agar...kamu jangan mengulanginya ya."


"I-Iya...aku minta ma-maaf El. Apa aku akan kena hukuman sehabis ini...?" Tanya Anabelle dengan getir.


Karena di rumahnya pun selalu demikian. Ketika ia melakukan sebuah kesalahan ,dia akan langsung diberikan hukuman atas kesalahan tersebut. Entah itu kesalahan kecil ataupun besar ,hukuman ibunya selalulah kejam dan menyakitkan baginya. Apalagi...sekarang. Anabelle begitu takut karena El saja sampai terlihat sangat panik. Baru kali ini El terlihat seperti itu...


"Hukuman ? Tentu tidak ,untuk apa aku menghukummu...?"


Alis Anabelle mengernyit begitu mendengar jawaban dari El. Padahal..terlihat jelas bahwa El akan terkena masalah akan hal ini. Tapi kenapa...El tidak menghukum Anabelle ? Paling tidak ,seharusnya El memarahinya kan.


Lev yang baru datang pun menghampiri tempat kejadian masalah di sana.


"Tuan muda. Anda baik-baik saja kan !?"


El langsung menoleh pada Lev dengan wajah penuh kecemasan dan kegetiran.


"Lev. Kau harus lebih mengkhawatirkan patung ini. Apa yang harus aku lakukan...?"


El menggeleng tak percaya. Ia menunjuk pecahan patung tersebut dengan wajahnya.


"Tidakkah kau lihat patung apa yang pecah ? Itu patung pahatan dewi Athena ! Kau ingat kan apa yang ayahku katakan mengenainya ...?"


Lev terkejut saat mendengar El. Ia melihat pecahan patung tersebut sekali lagi. Dan memang benar. Dari pecahan-pecahan tersebut ,terlihat ada tombak dan sebuah perisai khas dewi Athena ,sang Dewi dalam Peperangan.


"Tuan muda...boleh saya menanyakan penyebab pahatan tersebut bisa rusak sampai demikian...?"


El terdiam. Ia terlihat memikir. Lalu berbicara sambil melihat pecahan patung dewi Athena.


"Aku tadi tidak sengaja menjatuhkannya saat tengah melihat pahatan itu."


Lev sedikit terkejut. Dia selama ini sangat mengerti bahwa El bukanlah seseorang yang mempunyai secuilpun sikap ceroboh. Sangat janggal jika dia mengatakan bahwa sebuah patung tak ternilai harganya pecah karenanya.


"Benarkah tuan muda...? Saya tidak tahu bahwa anda bisa seceroboh demikian..." Ujar Lev sambil menghela napas.


Kemudian El mengusap-usap bagian belakang kepalanya ,merasa bingung harus berbuat apa.


Anabelle terkesiap saat ia ditatap tajam-tajam oleh Lev. Ia merasa seperti dipaksa oleh Lev untuk mengaku bahwa dia lah yang sebenarnya menyebabkan masalah tersebut ,bukan El. Lev menuduh Anabelle dengan tatapannya bukan tanpa arti. Sejak tadi Anabelle menunjukkan gelagat yang sangat mencurigakan. Bukan hanya itu ,Anabelle juga menatap El tanpa henti dengan ekspresi yang merasa bersalah. Bahkan sampai melindungi Anabelle dari terkena suatu masalah baru yang lebih buruk lagi.


El memang tidak akan menghukum ataupun memarahi Anabelle. Hanya saja... pahatan yang dipecahkan Anabelle bukan miliknya dan El tidak mempunyai hak untuk merusaknya sedikitpun.


Sekujur tubuh Anabelle terasa mati rasa saat ditatap tajam dan penuh intimidasi oleh Lev ,pendamping utama El. Anabelle menatap El dan Lev bergantian. Dia merasa ini sangat salah. Anabelle merasa ,El berbohong demi dirinya adalah sebuah kesalahan dan akan berujung buruk bagi El.


Anabelle pun tidak akan merasa tenang jika ia terus dihantui oleh rasa bersalah seperti ini. Ia lebih baik terkena masalah baru dibandingkan seperti ini...


"Aku.... Aku yang memecahkan patung dewi Athena... Bu-Bukan El..."


El langsung menoleh pada Anabelle dan menatapnya dengan heran. Lalu ia sedikit menggeleng dan berkata ,"Tidak. Akulah yang-"


"Tuan muda. Saya tidak ingat jika anda pernah diajarkan untuk berbohong seperti ini." Ujar Lev sebelum El sempat untuk melanjutkan perkataannya


Lev memang tidak berhak untuk menentang keputusan yang ingin dilakukan oleh El. Tetapi jika El melakukan sebuah kesalahan atau tindakan yang tidak terpuji ,Lev bisa menegurnya akan hal itu. Hal itu bertujuan agar El tumbuh menjadi orang yang berbudi pekerti.


El sedikit terkesiap saat ditatap dengan sungguh-sungguh oleh Lev.


"Lev..."


Lev masih saja terdiam dan belum mengatakan apapun lagi. Sehingga El tentu langsung mengetahui apa yang harus dilakukannya.


El sedikit menunduk dan menunjukkan ekspresi sungguh-sungguhnya. Ia pun berkata ,"Lev ,aku minta maaf. Aku salah ,tadi aku hanya berniat mengasihani Anabelle."


Melihat El yang menunduk ,Anabelle pun juga langsung mengikutinya ,menunduk sampai setunduk mungkin.


"Maafkan aku..."


Lev menghela napas. Lalu memegang pundak El. Membuat El mendongak ke arahnya. Lev sedikit tersenyum. "Tuan muda ,saya hanya tidak ingin anda nantinya terbiasa berbohong seperti tadi."


El pun mengangguk dengan wajah memelas. Penuh dengan rasa bersalah karena mengatakan kebohongan sekalipun untuk kebaikan.


Ia menatap patung itu dengan cemas ,masih dengan mata yang sayu. Merasa pasrah dan frustrasi ,El meghela napas panjang.


Lev menyadari kecemasan tuannya. El pun terasa bahwa hidupnya terselamatkan ketika Lev berkata ,"Anda tenang saja ,tuan muda. Saya akan berusaha untuk mengembalikan patung ini seperti semula."


Harapan hidup El rasanya telah kembali lagi.


"Benarkah Lev !? Akan kau carikan caranya ?"


"Ya ,tuan muda. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anda ,hanya karena seorang perempuan ceroboh ini."


Mendengar dirinya disindir ,Anabelle langsung menunduk kaku tak berdaya. Tak mampu bergerak dan mengatakan sesuatu di sana.


El hanya bisa terdiam ,sembari menatap Anabelle. Tidak lama kemudian ,dia bergantian untuk menatap Lev yang dirinya tengah sibuk memberikan arahan kepada para pelayan mengenai masalah tersebut.


***


Setelah kejadian yang menimpanya tadi ,Anabelle tidak berani untuk menyentuh setitikpun barang yang ada di sana. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan dan membuat El menunjukkan gelagat yang seperti tadi.


Anabelle melihat ke pemandangan di depannya ,di mana seorang El tengah berbicara kepada seorang pelayan sambil tersenyum ramah. Pelayan yang tengah berbicara dengannya pun terlihat menyukai jika ada sosok El di sana.


Anabelle mengiyakan perasaannya di dalam hatinya. Dia ingin tetap melihat sosok El yang seperti matahari ini. Walaupun Anabelle baru saja bertemu dengan El ,namun ia sudah menyukai kehadirannya. Kehadiran El membuat hatinya merasa tenang dan hangat.


Tetapi ,gadis lusuh tersebut masih saja merasa canggung dan tidak bisa menatap mata El langsung. Ia juga tidak bisa berbicara secara benar dan normal dengan El. Akankah ,ia bisa seperti pelayan yang melakukan pembicaraan menyenangkan itu bersama El...?


Pelayan tersebut melangkah dari tempatnya usai berbicara dengan El.


Anabelle terkesiap saat El berjalan melewatinya. Tubuh Anabelle langsung berbalik 180° ,menghadap pintu yang tengah dituju oleh El saat ini.


El hendak meninggalkannya sendirian di sana. Dan ,Anabelle tidak tertahankan rasa takutnya saat itu juga. Mengetahui Anabelle yang sedang menatap dirinya baik-baik ,El langsung berhenti terlebih dahulu dan balas memandang Anabelle.


Ia tersenyum dan berkata ,"Aku tinggal sebentar ya. Kau di sini dulu dengan Kimberly ,ya Anabelle ?"


Anabelle menggeleng keras sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Di kala wajah cemasnya itu sedikit mengejutkan El ,ia membuka bibirnya dan hendak mengatakan sesuatu.


Kemudian pelayan yang tersemat nama Kimberly di bajunya itu memegang kedua pundak Anabelle. Ia pun berkata ,"Ayo nona ,saya sudah siapkan air hangatnya untuk anda."


Kedua mata Anabelle tetap saja terpaku pada El. Ia menampilkan ekspresi yang seolah ia sedang dikejar oleh seekor singa.


"El....!!!" Panggilnya tiba-tiba dengan suara yang kencang.


Suara kencang milik Anabelle membuat El berbalik kembali dengan spontan. Ia memegang sebelah penutup matanya ,mengerutkan matanya dengan keheranan.


Kimberly memegang mulutnya sejenak. "Nona..."


Tepat saat Kimberly melepaskan tangannya dari Anabelle, dengan cepat Anabelle langsung melangkah dari sana. Kakinya dengan cepat menuju ke tempat El berada. El yang sudah hendak membuka pintu untuk pergi dari ruangan tersebut.


Saat itu ,mata biru El terbuka lebar saat menatap Anabelle yang kembali menghampiri dirinya. Seperti tidak pernah ingin ditinggalkan olehnya.


Dengan tubuh yang menyamping dan tangan yang memegang gagang pintu ,El menoleh ke belakang. Di sisi lain Anabelle sudah tiba di sisinya. Memandangnya dengan wajah yang lagi-lagi seperti tengah dikejar-kejar oleh seekor


singa.


"Ak...u...tak...ut ,kalau...El pergi...!" Ujar Anabelle kemudian dengan suara yang bergetar dan sedikit terbata-bata.


***


...-End of chapter 7-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️