Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
11| The Lonely Prince



Anabelle langsung terkesiap ,rasanya semua bulu kuduknya berdiri sejenak ketika pelayan El datang dan akan membawa El pergi dari sana. Gadis penakut itu langsung menoleh dan menatap El. El tidak mungkin tega kan meninggalkannya sendirian di sana ? Apa El akan menaati Lev begitu saja...?!


"Oh ,Lev. Aku mengerti."


Harapan Anabelle langsung pupus seketika El menuruti perkataan Lev. Jadi ,apa yang harus ia lakukan !?


Ia begitu takut dan merasa hampa sendirian di sana...apalagi jika tidak ada El.


"Ann ,sampai jumpa besok. Silahkan istirahat di sini." Kata El sambil melangkah meninggalkan Anabelle di sana.


Ketika El sudah melangkah keluar ,Anabelle langsung terperanjat. Wajahnya seperti terkena teror seketika. Ia pun berjalan dan berniat keluar juga mengikuti El.


Namun, Lev langsung menghadang Anabelle menggunakan sebelah tangannya. Membuat langkah Anabelle langsung terhenti tepat di hadapan Lev.


Mata Anabelle mendongak. Menemukan bahwa Lev tengah menatap ke arahnya dan ekspresi wajah yang terkesan angkuh. Tanpa wajah yang menunduk untuk bertatapan dengan tubuh mungil Anabelle ,Lev membuat sebuah lirikan mata ke arahnya.


"Tuan muda El telah memerintahkan anda untuk di sini sampai besok ,nona. Selamat malam."


Anabelle hanya bisa diam di tempat sembari melihat pintu yang tertutup tepat di depannya. Lalu ,pemandangan yang terakhir ia lihat adalah sosok El yang berjalan di depan Lev sembari mengatakan sesuatu.


Tubuh Anabelle berbalik dari sana. Matanya menjelajah ke seluruh penjuru ruangan ,menemukan bahwa dirinya benar-benar sendirian di ruangan gelap pada saat malam hari.


Kemudian matanya mulai berkaca-kaca.


***


-Golden Palace-


-7:37 PM-


Kala itu ,El baru saja ingin tertidur di kamarnya. Biasanya ia akan membaca buku beberapa lama dahulu sebelum tidur untuk menyegarkan kembali otaknya akan ilmu pengetahuan. Tetapi ,hari ini ia merasa begitu lelah hingga tidak sempat melakukan semua itu.


Jadi ,ia hanya bisa langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang megah berwarna putih bercampur keemasan.


Kamarnya hanya diterangi oleh lampu yang remang-remang ,karena sudah malam.


Serta penerangan juga berasal dari jendela kaca berukuran besar yang tirainya dibuka lebar oleh El.


Kamarnya merupakan sebuah kamar yang berukuran megah dan terbesar setelah milik Raja. Jika jendela di pinggir ruangan tersebut dibuka ,akan ada balkon yang menyambut. Balkon tersebut cukup nyaman untuk dijadikan tempat bersantai ataupun berbincang di kala. pagi hari.


Namun ,El agak jarang menggunakannya dikarenakan pemandangan luar istana yang biasa saja menurutnya.


Ia lebih baik mengerjakan tugasnya dibandingkan bersantai tanpa kenal waktu di sana.


El menurunkan kedua kakinya ke karpet tebal nan lembut di bawah ranjangnya. Memegang sebuah buku tebal yang berada di atas nakas.


Charm's Provisions


Sebenarnya ia ingin sekali menamatkan buku yang tengah ia pegang sekarang ini. Namun ,ia membatalkan niat tersebut.


Ia pun mematikan lampu tidurnya karena dirasakannya bahwa ruangannya sudah cukup penerangannya. El pun membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur empuknya. Dengan tubuh mengarah pada jendela yang menampilkan sinarnya bulan ,ia memejamkan matanya dengan perlahan.


***


Di waktu yang bersamaan...


-Emerald Palace-


-8:22 PM-


"A-Astaga...!" Seru seorang perempuan saat ia terkejut melihat Anabelle menangis sembari menenggelamkan wajahnya di lututnya.


Gadis itu sama sekali tidak menaikkan wajahnya bahkan ketika seorang perempuan dewasa berjalan untuk mendekati dirinya.


Tangan perempuan yang sudah berlutut di hadapan Anabelle itu menyentuh pundak gadis tersebut.


Ia sedikit bingung mengapa gadis kecil ini masih saja mengenakan gaun putih yang terlihat mengkilap. Ia juga masih mengenakan perhiasan rambut serta sepatu hak rendahnya.


"Nona... Mengapa anda menangis ?"


Anabelle berhenti mengeluarkan suara tangisnya seketika ia mendengar suara dari orang di sebelahnya. Dengan perlahan-lahan ,ia menggerakan wajahnya untuk melihat pemilik suara barusan.


Ia menunjukkan wajahnya yang sembab karena terus menangis sejak tadi. Anabelle juga masih saja bernapas dengan tersengal-sengal. Sedih sekaligus takut. Perasaan itulah yang muncul saat Anabelle melihat wajah asing di depannya.


Perempuan asing tersebut langsung mengerutkan keningnya ketika Anabelle menjauhkan tubuhnya darinya sambil ketakutan.


"Nona ,anda tidak perlu takut terhadap saya. Saya Adora ,dan saya diutus langsung oleh tuan muda untuk menemani nona."


"Tu-Tuan muda..." Gumam Anabelle dengan suara yang begitu kecil sampai Adora hampir tidak bisa mendengarnya.


"Ya ,nona. Tuan muda El. Saya mengerti ,sepertinya anda takut berada di sini sendirian ya."


Wajah Anabelle yang memelas membuat Adora begitu prihatin. Kemudian Adora mencoba untuk menenangkan Anabelle dengan caranya sendiri.


Anabelle terus saja menatap Adora dengan wajah yang sawan. Bahkan masih mengikuti sosok Adora yang telah bergerak untuk duduk di sampingnya.


Adora menekuk kedua lututnya hingga ke depan ,mengikuti pose Anabelle. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada tembok bercat krem yang kusam. Sehingga Anabelle berhenti menatap Adora dan berniat menunduk kembali dengan gugup.


"Apakah nona Anabelle tahu kalau saya sudah bersama tuan muda sejak beliau masih kecil ?"


Anabelle tidak jadi menunduk ketika ia diajak untuk bercakap oleh Adora. Ia tidak memutar tubuhnya dan menatap ke samping. Namun ,masih bukan wajah Adora yang ia lihat. Ia hanya bisa melihat bagian pakaian sederhana Adora.


Pakaian itu merupakan seragam yang berbeda dari yang dikenakan oleh pelayan lainnya. Biasanya ,pelayan yang Anabelle pernah lihat itu mengenakan gaun hitam yang sederhana dilengkapi dengan celemek putih yang panjangnya disesuaikan dengan bagian dalam gaun. Tetapi ,pelayan yang Anabelle lihat sekarang ini mengenakan gaun hitam yang tidak terlalu panjang ,hanya selutut Adora. Modelnya lebih kompleks dan tidak sesederhana gaun pelayan lain. Lapisan luar yang berwarna putih bercabang ke kedua sisi pundaknya ,menyatu ketika sudah mencapai bagian pinggang. Kain putih tersebut menghiasi bagian bawah gaun dengan pola yang miring. Terlihat indah untuk dilihat.


Rasa takut Anabelle pada Adora pun sudah sedikit memudar karena Adora terlihat dekat dan menghormati El. Oleh karena itulah ,Anabelle menganggap Adora merupakan orang yang baik dan tidak akan melakukan sesuatu yang buruk untuk ke depannya.


Entah mengapa ,Anabelle tidak berpikir terlebih dahulu dan langsung terlihat bodoh dengan mengatakan, "Kenapa ? Me...mang kamu ibunya El ?"


Perempuan berambut cokelat kemerahan itu nampaknya terkejut ketika mendapat reaksi pertanyaan dari Anabelle. Terlebih lagi ,ia baru pertama kali bertemu dengan gadis yang memanggil orang dengan usia jauh lebih tua dibandingkannya menggunakan kata 'Kamu'.


Beberapa detik setelah Anabelle melontarkan pertanyaannya ,ia menutup mulutnya kembali dengan kedua mata yang terbuka lebar.


Jelas-jelas baru saja sore tadi El mengatakan bahwa ibunya sudah tidak ada. Betapa bodohnya dirinya saat menanyakan itu kembali pada Adora.


"Ah ,saya bukan ibu tuan muda ,nona. Tugas saya itu mengasuh tuan muda sejak ia masih kecil sekali."


Usai mengatakan beberapa kalimatnya tersebut ,Adora berhenti menatap Anabelle. Ia menatap pemandangan kamar Anabelle yang hanya diterangi dengan lampu bersinar redup. Wajahnya sedikit mendongak ,pikirannya mulai mengenang masa lalu.


"Tapi sekarang tuan muda sudah mandiri sekali. Ia sudah tidak lagi bergantung pada saya untuk membantunya. Maksud saya ,tuan muda akan melakukan semuanya sendiri jika ia bisa."


Anabelle pun tiba-tiba menatap wajah Adora. Tubuhnya menyamping ,sedikit menghadap Adora yang tengah bersandar pada tembok di belakang mereka.


Anabelle tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia menemukan ekspresi kagum yang sama lagi terlihat ketika sedang membicarakan El Waktu itu ,Anabelle melihat ekspresi senang dan kagum seorang pelayan saat ia diajak bicara oleh El.


Jadi ini ya ,pengasuh El sejak kecil. Anabelle bertanya-tanya ,apakah pengasuh itu sudah menjadi seperti pengganti bagi sosok ibunya El...?


"Ap..akah El o-orang yang begitu berharga bagi....."


"anda ?"


Mendengar pertanyaan Anabelle ,senyum Adora merekah. Ia cukup senang saat mendengar pertanyaan yang sangat ia suka dan tidak sulit untuk dijawab.


"Ya ,benar sekali nona. Tuan muda merupakan orang yang sangat berharga bagi saya. Ia merupakan bangsawan paling cerdas dan rendah hati yang pernah saya kenal ,nona."


Anabelle mengernyitkan keningnya dan mencoba untu mengulangi kata yang diucapkan Adora. "Bangsa...wan?"


"Maksudnya termasuk keturunan dari orang kerajaan ,nona. Tuan muda kan merupakan putra mahkota."


Mendengar sebutan yang lagi-lagi tidak bisa Anabelle pahami ,ia hanya bisa mengangguk-ngangguk dengan alis yang ia kerutkan.


Tetapi ,Anabelle merasa begitu beruntung karena bisa diselamatkan oleh orang baik seperti El. Sekali lagi ,ini merupakan jawaban doa dari malaikat penyelamat hidupnya. Tidak-Tidak. El itu merupakan seorang malaikat baginya.


Adora menoleh pada jam dinding yang terpajang di sana. Ia sedikit terkejut. Wajahnya pun terlihat khawatir dan terisi dengan keresahan.


Namun ,ia berusaha untuk tenang di hadapan Anabelle. Tangannya mengelus pundak Anabelle.


"Nona. Hari sudah sangat malam. Ini saatnya anda untuk tidur. Tidak perlu takut, saya temani ya."


"Ta-Tapi ..."


Wajah Anabelle terlihat kecewa. Kedua alisnya mengerut. Membuat Adora menghela napas.


"Apakah nona tidak ingin tidur dan bertemu dengan tuan muda di esok pagi ?"


"Ber..temu dengan El !? Tentu aku mau !"


"Baiklah. Kalau begitu, sudah saatnya beristirahat, nona. Tuan muda juga pasti sudah tidur saat ini."


Di kalimat terakhirnya ,terdapat keraguan di wajah Adora. Ia tidak berhenti menatap jam dinding yang telah menunjukkan waktu semakin larut. Ia tidak yakin sih apakah tuannya itu sudah bisa tidur atau belum... Maka itu ia semakin khawatir sekarang ini.


Mengapa juga Adora harus menemani seorang anak kecil yang ia sama sekali tidak ketahui asal-usulnya ini. Yang ia tahu, Anabelle hanyalah anak yang ditemukan oleh El sedang tergeletak di pinggir sungai beberapa hari lalu. Tetapi karena El yang memerintahkannya seperti ini, Adora akan melakukannya setulus yang ia bisa.


"Baiklah! Aku juga mau mengikuti apa yang El lakukan di manapun tempatnya sekarang ..."


"Ya, nona. Tuan muda pasti akan senang jika anda mau taat kepadanya."


***


-Golden Palace-


-11:55 PM-


Kala itu ,El terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah. ia memegang dada yang di dalamnya ,jantungnya memompa darah begitu cepat. Membuat napasnya semakin merasa pengap.


El memejamkan matanya beberapa saat. Berusaha untuk menenangkan dirinya yang baru saja dihantui lagi-lagi oleh mimpi buruk. Hal ini sudah seperti kegiatannya sehari-hari. Mendapat mimpi buruk ,kembali terbangun. Hal itu terjadi hampir di setiap malam.


Jantungnya masih saja berdetak dengan begitu kencang. Dahinya dipenuhi dengan keringat. Ia pun menggerakkan kakinya dengan perlahan, berniat untuk mengambil segelas air di sebelah kamarnya.


Ia menyalakan lampu kamar dan berjalan ke luar dari sana. Menemukan sebuah lorong istana mewah yang sangat sepi di kala malam hari. Kamar El terletak sedikit terpisah dari ruangan lainnya. Tujuannya adalah agar pangeran satu-satunya itu bisa mendapat ketenangan tanpa diganggu oleh orang lain. Tetapi, daerah El ukurannya begitu luas. Juga sangat lengkap ruangan-ruangan untuk keperluan El sehari-hari.


Istananya termasuk juga dunianya.


El perlu berjalan beberapa meter hingga sampai ke dapur khusus untuk dirinya. Ia sedikit tidak kuat lagi akan jantungnya yang masih terus saja memompa darah dengan irama yang tidak bisa pelan. Seharusnya ia menyediakan minum dan obat di kamarnya sebelum tidur, tetapi ia lupa saking lelahnya hari ini.


Dan biasanya pun Adora akan menyediakan semua itu untuknya. Tapi El malah menyuruhnya untuk langsung mendatangi Anabelle di istana Emerald.


Ia meletakkan tangannya di atas meja dengan sedikit dihentakkan, kemudian meneguk air minum dengan sedikit tergesa-gesa.


El meletakkan kembali gelas itu di atas meja. Memegang dadanya dan berusaha untuk bernapas dengan normal. Seperti biasa. Jika napasnya sudah mulai sesak, jantungnya juga berdetak tak karuan, ia langsung mencari obatnya.


Untunglah botol yang berisi pil tidak diletakkan jauh dari tempatnya sekarang ini. Tangannya yang sedikit bergetar menuangkan dua buah pil ke tangannya yang lain.


Selesai meminum obatnya, ia menyandarkan tubuhnya sejenak pada meja besar di tengah-tengah ruangan. Memejamkan kedua matanya beberapa lama. El memegang sebelah penutup matanya yang jarang sekali ia lepas. Ia mengingat wajah dingin ayahnya ketika mendapati El tanpa penutup matanya. El bahkan menghindari tatapan itu lagi. Tatapan ayahnya yang seakan bisa membunuhnya saat itu juga.


El memukul-mukul kepalanya pelan. Seharusnya ia tidak boleh memikirkan apapun saat ini, apalagi ayahnya itu. Beberapa lama ia diam dan menenangkan dirinya ,jantungnya sudah mulai kembali normal. Napasnya pun juga tidak lagi terengah-engah. Benar-benar, ia mau lelah juga tidak bisa. Mimpi buruknya sungguh bisa memecah belah mentalnya semakin hari bertambah.


Ia sebaiknya kembali tidur agar tubuhnya tidak kurang tidur. Tubuhnya tergolong lemah, ia pun mudah terkena penyakit. Jadi, lebih baik ia memanfaatkan semua waktu yang tersisa untuk bangun tepat waktu di pagi hari.


Ia berjalan ke kamarnya, menyusuri kembali lorong bertema emas yang begitu sepi di tengah gelapnya malam. Lalu ia melangkah, memasuki ruang berganti pakaian di dalam kamarnya. Terdapat berbagai lemari besar yang berisi pakaian dan segala macam perlengkapan untuk penampilannya.


Kamar dan ruang berganti pakaiannya dihubungkan tanpa melalui pintu. Ia bisa langsung masuk dan membuka salah satu lemari putih berdesain hitamnya. Tangannya mengambil salah satu piyama tidur lengan panjangnya.


Setelah itu, ia menggantungkan piyama tidur yang baru ia ambil dari lemarinya. Kemudian melepaskan setelan tidur biru tua yang tengah ia kenakan saat ini.


El pun langsung mengenakan setelan piyama satin berwarna hitamnya. Usai meletakkan piyamanya yang penuh keringat di tempat baju kotor, ia pun melangkah masuk ke ruang tidurnya untuk siap kembali tidur.


Saat ia telah duduk di atas kasur empuk nan besarnya, pintu kamarnya diketuk dari luar. Membuat El membatalkan dirinya untuk langsung berbaring.


"Maaf, tuan muda. Apakah anda masih bangun?" Tanya Adora dari luar ruangan.


El pun langsung berjalan menuju ke pintu, berniat membukakan pintu tersebut untuk Adora.


"Adora, malam. Tadi aku sempat terbangun sebentar sih. Tapi tidak apa."


Wajah Adora terlihat khawatir saat menatap El. Wajah pangeran yang dijuluki The Lonely Prince itu terlihat pucat dan tidak sehat. Keringat masih sedikit tercucur dari atas keningnya. Apalagi penutup mata yang kelihatannya malah membuatnya semakin merasa gerah. Adora sungguh tidak tahan melihat El. Rasa khawatir, kasihan, dan sedihnya bercampur aduk.


"Tuan muda, maafkan saya karena lupa menyiapkan obat dan airnya untuk anda... Nona juga baru bisa tidur beberapa saat lalu, tuan."


"Dia baru bisa tidur sekarang?" Tanya El sedikit terkejut.


Adora mengangguk. Ia berkata, "Tuan muda, bukan saatnya mencemaskan orang lain. Yang penting adalah kondisi anda sendiri..."


"Ya, aku tahu. Kalau begitu, aku kembali tidur dulu. Kau bisa pergi kok, Adora. Tidak apa."


"Baiklah...tuan muda. Selamat malam. Semoga tidur anda nyenyak, tuan muda."


"Malam, Adora." Kata El sebelum akhirnya menutup pintu itu kembali.


Adora terdiam, kemudian menatap sekeliling lorong istana yang terkesan suram tersebut. Mengapa keadaan ini menjadi sungguh berbeda? Bukankah dulunya, tempat ini memiliki suasana yang ceria dan hangat...karena ada El.


Adora berjalan menyusuri lorong berlapis warna emas gelap. Sambil berjalan, ia menahan air matanya sendiri agar tidak menitik. Sekarang, El juga tidak lagi ingin mengandalkannya. Tidak ada lagi sosok El yang terus saja ingin lari ke pelukkan Adora. Padahal seingatnya, dulu Raja begitu sering bersama El. Pria itu sangat menyayanginya.


Adora tidak mengerti akan semua ini. Semua hal di sekitarnya yang lambat laun semakin berubah.


***


...-End of Chapter 11-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️


.