Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
15| Tragic Day



...-Felleschrya-...


...-04:39 PM-...


Anabelle membulatkan matanya ketika mendengar bahwa El jatuh pingsan siang hari tadi. Ia mengerutkan keningnya, wajahnya sedih. Padahal rasanya sudah lama sekali tidak bersama dengan El. Sekalinya El datang berkunjung, ia langsung pergi lagi entah ada masalah apa.


Kemarin sore sih, keadaannya cukup bising. Anabelle bisa mendengar seperti suara sorakkan dan musik dari luar tempatnya menetap. Sepertinya El pergi karena masalah itu.


Tapi sekarang...El malah jatuh pingsan? Itu...berarti seperti Anabelle yang keracunan makanan dahulu kan hingga bisa jatuh tidak sadarkan diri. Anabelle sedih karena mengetahui El mengalami rasa pedih seperti yang dirinya juga pernah alami.


Dia...ingin melihat El. Ia ingin melihat kalau El baik-baik saja, tidak lesu seperti dirinya waktu terbaring.


"Nyo-Nyonya Amadea, aku ingin melihat El. A-Aku ingin memastikan kalau El baik-baik saja..."


"Tidak bisa, nona. Saat ini yang mulia ada di istana, dan tuan muda El melarang keras anda keluar dari tempat ini."


Anabelle terdiam, ia mendongak menatap Amadea, sedikit tercengang.


"pTapi kan...El itu satu-satunya teman Anabelle... Kalau El saja tidak ada, aku...buat apa di sini?" Tanya Anabelle dengan wajah penuh teror.


Wajah yang ditunjukkan Anabelle padanya membuat Amadea sedikit terkesiap. Ia memejamkan matanya beberapa saat.


"Tuan muda pasti akan ke sini lagi, nona. Anda hanya perlu menunggu."


Anabelle termenung di tempatnya. Beberapa detik kemudian, ia pun mengangguk.


Tadi Amadea mengatakan soal yang mulia berada di istana. Kedua mata Anabelle membulat. Apa orang itu yang dimaksud Raja oleh Lev dan El waktu itu ya...


Kalau begitu...ini gawat kalau seandainya Anabelle yang bukan bangsawan ketahuan tinggal seenaknya di istana Raja. Entah mengapa, insting Anabelle berkata seperti itu. Entah mengapa saat itu hati Anabelle menyuruhnya untuk segera pergi saja. Bukan pergi untuk menemui El, tapi pergi untuk benar-benar meninggalkan Avergaille.


Tetapi, bagaimana El jika Anabelle pergi?


El sendiri...terlihat menikmati kebersamaannya dengan Anabelle. Dan lagi, Anabelle tidak ingin meninggalkan malaikat penyelamatnya.


Sepertinya dikurung bertahun-tahun di sebuah ruangan suram membuat Anabelle menjadi lebih waswas akan semua situasi.


Dia menunduk dengan wajah yang masih saja penuh teror. Entah mengapa ia peka akan ada bahaya yang menunggunya. Ia merasa...ayahnya El adalah orang kejam yang melakukan sesuatu seenaknya. Soalnya...Lev juga bilang kalau Raja itu tak akan menaruh sedikitpun belas kasihan pada orang lain yang tidak disukainya.


"El...benar-benar akan kembali ke-ke sini?" Tanya Anabelle sembari menaikkan wajahnya lagi ketika bertanya pada Amadea.


"Nona... Saya-"


"Nyonya Amadea, maaf memotong."


Amadea tidak jadi mengatakan jawaban atas pertanyaan Anabelle. Ia menoleh ke belakang. Menemukan bahwa Terrence, sang penanggung jawab gedung safir tengah berdiri di sana sembari membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di dada.


Amadea balas membungkuk. "Ya Sir Terrence, ada apa?


Anabelle sedikit terkesiap melihat ada orang baru lagi dari hari ke hari. Dan juga...ia tergelak ketika ada empat orang yang berjalan di belakangnya Terrence.


Terrence menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memperlihatkan ada anak-anak bangsawan di belakangnya. Ia sedikit mengulurkan tangan kanannya, menunjukkan para anak di belakangnya.


"Saya ingin minta tolong pada anda untuk mengantarkan para tuan dan nona ini ke ruangan tuan muda El. Tuan Lev mengundang mereka untuk menemani tuan muda agar tidak terlalu tertekan."


"Baiklah, tuan."


Di sana, salah satu dari mereka melambai ramah pada Amadea dan Anabelle. Ia merupakan gadis berambut cokelat kemerahan. Kedua pipinya berwarna kemerahan, yang membuat wajahnya terlihat manis. Ia mengenakan gaun merah tua dengan corak kupu-kupu yang menghiasi bagian bawah gaunnya.


"Soree, Mrs Amadea kan. Terima kasihh ya sudah mau membantu kami."


"Huh, aku tidak ingat kalau kamu juga diundang, Quin." Kata anak laki-laki di sebelahnya. Ia tersenyum meledek pada Quin sembari melipat kedua tangannya di dada.


Quin terlihat jengkel. Ia berusaha untuk sabar dalam menghadapi temannya ini yang menyebalkan.


"Michel... Kalau kau diundang, artinya aku juga lho."


"Tidak ada aturan seperti itu, Quin."


Di depannya, seorang gadis berpenampilan anggun menoleh ke belakangnya, menatap Quin dan Michel dengan wajah yang sedikit kesal. Gaunnya lebih panjang dibandingkan Quin, rambut hitamnya tergerai hingga punggungnya Terlihat sangat halus dan juga lurus.


"Bisa ditunda obrolannya? Jagalah tata krama kalian." Kata gadis itu memperingati kedua temannya di belakang.


Quin sedikit tidak santai ketika perempuan jutek itu mulai memperingatinya. Ia mengangguk-ngangguk sembari menatap lurus kembali.


"Baiklah, tuan dan nona. Mari, saya antar ke ruangan tuan muda El."


Anak laki-laki berambut sedikit bergelombang atau dipanggil Michel itu terdiam di tempatnya. Biasanya Raja tidak akan membiarkan orang sebanyak ini mengunjungi El jika ia sedang sakit. Michel jadi ragu apakah mereka benar-benar diperbolehkan atau tidak.


Terrence membungkukkan tubuhnya, mengatakan sapaan sebelum melangkah dari tempat itu. Sembari ia melangkah, ia menaruh tatapannya pada Anabelle, berwajah sedikit keheranan.


Anabelle berwajah kecewa ketika keempat orang anak bangsawan itu pergi bersama Amadea. Anabelle ingin sekali ikut dengan mereka mengunjungi El.


Ia sadar akan posisinya. Jika saja dia terlahir menjadi bangsawan... Ia tidak akan merasa rendah dan tidak berguna seperti ini kan.


Bakat Anabelle hanyalah menciptakan masalah untuk El. Dia sama sekali tidak bangga akan hal itu.


***


Raja berdiri tegap di ujung ruangan, menatap El yang tengah istirahat di atas kasurnya. Kemudian ia melipat dadanya. Tetap berwajah kalem seperti biasanya.


El menatap ayahnya dengan wajah khawatir. Setelah sekian lama, akhirnya dia memberanikan diri untuk menanyakan kondisi Val pada ayahnya.


"Ayah, bagaimana kondisi Val?"


"Masih belum bangun. Ada racun mematikan di tubuhnya. Sebuah keajaiban jika dia masih hidup."


El terdiam. Ia terduduk, sedikit tercengang. Val...


Padahal, Val salah satu temannya sejak kecil. Val adalah temannya yang membuatnya bisa menggunakan pedang. Dia jugalah yang membuat El menjadi pribadi yang kuat, tidak cengeng.


El memegang dahinya dengan tangannya, menutup matanya yang menyerupai warna permata biru. Jika Val tidak bisa selamat, dia harus apa? Val terluka karena menyelamatkan dirinya...


Bahkan sampai saat ini pun El masih sedikit merasa syok.


Raja melirik El yang terlihat tercengang di sana, jiwanya tampak tertekan.


"Buat apa memikirkannya seperti itu. Dia sudah melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang kesatria terkuat." Ujar sang Raja sembari memegang dagunya dan sedikit mengusapnya.


El masih saja terbungkam. Dia...tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa berharap, Val selamat... Tapi...pria di depannya ini, tampak sama sekali tidak peduli pada keselamatan orang yang menyelamatkan El.


Padahal, jika Val tidak mengorbankan dirinya, Avergaille kehilangan putra mahkota satu-satunya kan.


El meringis, ia menyesali akan apa yang sudah terjadi.


Val, tidak seharusnya kau melakukan itu.


"Calon Raja sepertimu, tidak boleh terluka oleh pengkhianat."


Val, seharusnya kau yang paling mengerti kalau aku tidak pernah mau menjadi Raja.


"Biarpun begitu, kerja yang sangat baik karena berhasil mengetahui senjata pengkhianat itu."


Raja Alaric merasa ia sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Kondisi El juga tidak terlihat buruk. Raja menyimpulkan bahwa El sama sekali tidak terluka.


Seorang bawahannya tiba-tiba memasuki ruangannya. Ia membungkuk pada Raja dan berkata, "Yang Mulia. Pelakunya sudah ditemukan."


"Baiklah."


El terkejut, ia baru saja ingin melepaskan selimutnya dan turun dari ranjangnya. Ingin mengetahui juga sebenarnya siapa yang mampu melakukan pengkhianatan terhadap kerajaannya.


Namun El berhenti begerak ketika ayahnya menoleh padanya dan seperti menusuk El dengan tatapannya. Raja menatapnya dengan satu matanya yang terlihat, matanya yang lain sedikit tertutup oleh poninya.


El seperti disuruh untuk diam di ruangan itu dan tidak mencampuri urusan soal pengadilan kepada pengkhianat. Anak bermata sebelah itu pun menurut. Ia kembali menaikkan kakinya ke atas kasur dan duduk sembari melipat kakinya.


El terdiam. Ia mengulangi perkataan ayahnya tadi di dalam hatinya. Val...sudah melakukan tugasnya dengan baik ya.


Tangan El terkepal. Tak bisakah dia menunjukkan suatu belas kasihan atau rasa berterima kasih sedikitpun terhadap Val...


Di sisi lain, Raja berhati dingin itu melangkah keluar diikuti oleh bawahannya. Ia mengenakan mantel berwarna merah tua dengan bulu hitam tebal yang menghiasi bagian atas kerahnya.


"Gelasya, apa El sebenarnya takut darah?"


Gelasya baru saja ingin menjawab pertanyaan Quin. Namun gadis berambut hitam itu sedikit terkesiap ketika melihat sosok ayahnya El yang akan berpapasan dengan mereka.


"Diam dan menghormatlah."


"Eh..."


Quin pun juga sedikit terkejut.


Gelasya, Quin dan Michel berjalan berdampingan, sedangkan anak laki-laki berambut cokelat terang berjalan di belakang mereka.


Mereka membungkuk ketika berpapasan dengan sang Raja. Kemudian mengucapkan salam hormatnya pada sang pimpinan.


Sang Raja berwajah datar, kemudian menatap mereka sejenak. Ia berkata, "Ray, putra Duke Arthur?"


Ray yang sendirian di belakang terkejut. Ia tidak menyangka sang Raja bisa mengingatnya dan...menyapanya?


Ia mengangguk dan manatap Sang Raja dengan ragu-ragu.


"Benar, itu saya, yang mulia."


Raja tidak ingin berbuat apapun terhadapnya kan... Ia hanya ingin sekadar menyapanya kan...? Ray seketika itu juga menjadi gugup. Namun, ia bisa bernapas lega ketika Raja sedikit mengangguk dan melangkah melewati mereka.


"Baiklah, jangan bising."


"Baik, yang mulia."


Michel merasa sedikit aneh. Ia membalikkan tubuhnya dan menghadap Ray. Begitu pula dengan Quin. Sedangkan Gelasya hanya sedikit menyampingkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di dada.


"Ray? Aku tak tahu kalau Raja bisa mengingat anak bangsawan lain seperti itu." Ujar Michel dengan ekspresi yang tergugah.


Ray mengerutkan keningnya. Ia sendiri pun bingung mengapa dia bisa diingat oleh Raja seperti itu.


"Ray kan teman dekat El. Bukankah wajar kalau Raja menyapanya?" Kata Gelasya yang merespon perkataan Michel.


Quin menatap Gelasya dan menjadi bingung. "Kau sendiri katamu juga teman kecil El kan, Gelasya?"


Ray sedikit terkekeh. Ia menatap mereka bertiga sembari menggeleng-geleng. Kemudian ia menghela napasnya sedikit panjang.


"Apalagi Gelasya. Raja pasti mengenalnya lah, dia kan ingin dijodohkan dengan El."


"Eh!? Dijodohkan... Serius!?" Seru Michel tak percaya.


Gelasya memutar bola matanya dengan malas. Ia kemudian berjalan mendahului mereka sembari berkata, "Tidak usah percaya pada Ray. Aku saja tidak pernah diberitahu apa-apa."


Ray hanya berdeham. Padahal, El sendiri yang cerita padanya bulan lalu.


***


El sedang menyeruput teh hangatnya ketika mereka berempat melangkah masuk ke dalam ruangannya. El pun tersenyum sembari menyambut teman-temannya.


Tanpa basa-basi apapun, Ray langsung menghampiri El dan memeriksa keadaannya. El malah tersenyum ketika Ray mengkhawatirkannya.


"Halo Ray, bagaimana kabarmu?"


"Kok kau malah bisa tersenyum seperti itu? Anak panah Wayer hampir mengenaimu kan!?"


Gelasya menghela napasnya sembari berdiri di samping Ray. Padahal di belakang El, Ray tampak tidak terlalu peduli dan cemas pada El ya. Ternyata, perlakuan Ray masih sama ketika sudah di depan El. Cowok tidak cocok seperti itu tahu!


"Mau bagaimana lagi? Kita kan sudah agak lama tidak bertemu, Ray. Sikapku memang harusnya bagaimana?" Ujar El sembari meletakkan cangkirnya di atas nakas.


"Seperti biasa...kau aneh, El. Jadi kau baik-baik saja kan." Kata Ray lagi.


Gelasya tertawa kecil. Ia menggeleng-geleng melihat Ray. Kemudian ia berkata, "Dasar, sudah jelas El baik-baik saja. Tidak luka sama sekali, baguslah."


El tertawa hangat. Ia memang tidak boleh memperlihatkan sikap murung ataupun sedih di hadapan teman-temannya kan. Kalau dia begitu, dia seperti menyebarkan suasana negatif di sana.


El tersenyum sembari merangkul tubuh Ray yang sudah duduk di kursi sebelah ranjangnya. "Ray memang baik kan."


Tiba-tiba wajah Ray memerah dipuji baik secara langsung seperti ini. Michel di sisi lain memegang dagunya sendiri. Ia ditempeli oleh Quin di belakangnya, gadis dengan pipi kemerahan itu tengah bersembunyi sembari malu-malu.


"Perlu kau ketahui kalau Ray hanya baik padamu, El."


El sendiri menoleh pada Michel. Kemudian ia sedikit bingung ketika ada gadis lain di belakang Michel. Ia kira yang datang hanya ada tiga orang. Lalu, di belakang Michel ada gadis lain ya.


"Hahaha, tidak kok aku yakin. Michel, di belakangmu siapa?"


"Ah... Keluarlah, ngapain di belakangku?" Ujar Michel sembari menarik tangan Quin untuk bergeser dari belakangnya.


El menatap Quin sejenak. Namun, Quin malah tersenyum canggung. Gelagatnya terlihat linglung ketika bertatapan dengan El.


Mata biru El terbuka lebar, kemudian menyipit karena ia tersenyum ramah.


"Quintessa, putri Chief Hester?"


"Be-Benar. Kamu tahu aku!?"


"Salam kenal, Quin." Ujar El sambil tersenyum ramah.


Michel tertawa melihat gelagat Quin. Padahal biasanya dia bawel sekali. Dia biasanya banyak bicara jika sedang menyangkut soal El. Ia tampak selalu penasaran dan mengagumi El akibat rumor-rumor bahwa El adalah anak bangsawan yang dicap paling baik dan cerdas.


Sejak pertama kali Quin melihat El yang waktu itu tengah mendampingi ayahnya, matanya sudah terlekat pada El. Ia melihat aura positif yang ditunjukkan anak itu. Quin sangat ingat kejadian saat ia pertama kali melihat El.


"Hahaha, tunggu, jangan keburu senang begitu deh Quin. El memang selalu mengingat orang lain kok, pelayan saja diingat...!"


"Ihh, Michell!! Aku tidak berbicara denganmu!!" Seru Quin yang sudah naik pitam sejak tadi karena Michel.


Gelasya tetap pada postur tegapnya yang anggun. Ia berwajah datar dan menoleh pada Quin, "Quin, jaga sikap. Ingat kan pesan Raja supaya tidak bising."


"Raja? Kalian tadi bertemu dengannya?"


"Ya El, tadi ayahmu juga sempat menyapa Ray. Cukup aneh bukan?" Kata Michel sembari sedikit mengangkat tangannya dan menengadahkan telapaknya ke atas.


El sedikit mengerucutkan bibirnya. Jarang sekali ayahnya bisa memerhatikan anak bangsawan lain. Ah, ia ingat. Ayahnya kan menyukai orang yang cerdas ya. Ray adalah salah satu yang bisa menggugah perhatian orang itu.


"Ah..."


Gelasya menatap El sejenak, lalu menghela napas sembari memejamkan matanya.


"El, apa Raja mengatakan sesuatu yang membuatmu tertekan?"


El sedikit terkejut, ia mendongakkan wajahnya dan menatap Gelasya. Mata birunya mengatakan bahwa ka tertekan. Tetapi mulutnya malah memberitahu yang sebaliknya.


"Tidak kok, Gelasya."


"Tidak perlu berbohong. Di saat-saat seperti ini, tak mungkin Raja malah baik dan mengkhawatirkanmu seperti ayah yang seharusnya."


Ray mengernyitkan keningnya. Ia menatap Gelasya dengan tatapan yang cemas. "Gelasya, hal ini tidak perlu dibicarakan... di depan Quin dan Michel."


"Huh? Aku hanya mengatakan fakta."


El memejamkan matanya beberapa saat. Kemudian ia menghela napas dan memberikan Gelasya sebuah senyuman.


"Kau cermat seperti biasa, Gelasya. Tapi aku sungguh tidak apa."


"Kau tahu El, aku paling tak suka dengan kata-katamu yang 'tidak apa' itu."


Perkataan Gelasya hanya dibalas El dengan sebuah anggukan. Quin terdiam melihat pembicaraan yang hanya berputar di antara Ray, El dan juga Gelasya.


Tiba-tiba saja Quin langsung mendatangi tempat El dan memegang tangannya. Alias, merebut tangan El dari Ray.


"El, bolehkah kau menunjukkan sebelah matamu? Kita sekarang sudah berteman kan!?"


Gelasya terkesiap. Ia memandang Quin dengan tatapan yang tajam. Padahal baru kali pertama mereka bertemu. Gelasya saja, segan untuk menanyakan hal seperti itu pada El. Tetapi anak ini...


El menatap Quin dengan sedikit terkejut. Ia mengerutkan keningnya, sebenarnya merasa jengkel dengan tingkah laku Quin yang sejujurnya tidak seperti bangsawan. Tetapi ia malah mengkhianati kata hatinya dan malah tersenyum. Kemudian berkata, "Lho, maaf ya. Mataku memang seperti ini, aku tidak bisa memperlihatkan mata kiriku."


"Yaah, mengapa seperti itu El? Membuka penutup mata bukanlah sebuah tindakan yang berbahaya, kan!?" Kata Quin memaksa sembari mengganggu El yang sedang duduk di tenang di atas kasurnya.


El sedikit menjauh dari Quin, ia merasa tidak nyaman. Ia tidak terlalu sakit sih sebenarnya. Ia hanya mual karena trauma melihat lumuran darah Val. Tetapi, entah mengapa ia dipaksa untuk istirahat, walaupun tidak mau.


Tetapi sejujurnya, lebih baik El tidak beristirahat daripada ia diganggu seperti ini oleh anak yang baru dikenal. Ia sudah mengaku-ngaku berteman dengan El...


"Quin..."


Quin masih saja bersikukuh, ia menatap El masih saja dengan ceria, mengganggu tangan El di sana.


Namun, Quin tergelak ketika Ray menghadang tangan El dari Quin. Membuat tangan Quin terlepas dari El.


Quin menoleh pada Ray dengan wajah yang terkejut. Sedangkan, Ray menatapnya dengan dingin. Dengan wajah tegas, dia berkata, "Memaksa orang itu kelakuan yang tidak beretika. Seenaknya saja kamu, padahal El hanya baru memperkenalkan dirinya. Tapi kau seolah menganggap sudah bersahabatan karib saja dengannya."


Quin menarik kembali tangannya, berdiri di dekat mereka dengan wajah yang menahan tangis.


Dengan wajah sedih, ia langsung berbalik dan melangkah dari sana. Sebelum pergi, ia mengatakan bahwa ia meminta maaf...


Michel menatap Quin yang sudah keluar, ia pun khawatir. "Aku lihat Quin dulu, maafkan dia ya."


Setelah itu, Michel dan Quin sama-sama keluar dari ruangan El. Menyisakan mereka bertiga, sang sahabat karib yang sebenarnya.


Ray sedikit berdecih ketika melihat mereka pergi. Kemudian ia kembali melangkah mundur dan duduk di atas kursi. Bersikap seperti biasa kembali, tidak menunjukkan ekspresi bahwa ia sedih atau merasa bersalah.


"Ah, apa...kau tidak terlalu keras padanya, Ray Frederick?" Tanya El dengan wajahnya yang tenang bak malaikat.


Ray terdiam, ia pun berwajah masam. "Biarkan dia, aku sudah sejak tadi kesal melihatnya seperti itu. Dia sebenarnya tidak diundang oleh Lev, El."


El tertawa kecil melihat Ray. Ia pun kemudian berkata sambil menunjukkan wajahnya yang hangat seperti biasanya. "Haha. Biar begitu, tidak usah terlalu kasar ya padanya. Aku yakin dia tidak bermaksud buruk kok."


Ray sedikit tercengang. Tatapannya terpaku pada El beberapa saat. Seperti biasa, Ray merasakan sebuah pancaran sinar yang berasal dari El. Tidak tahu mengapa, tapi sejak dulu Ray merasa El memanglah orang yang seperti itu. Orangnya baik, tulus dan sama sekali tidak bisa jahat pada orang lain.


Setelah sangat lama berteman dengannya, Ray sampai bisa merasakan aura seperti sinar malaikat dari tubuh El. Maka ia sedikit kaget waktu mengetahui bahwa ayahnya El adalah yang masyarakat tahu sebagai orang yang sangat kejam. Seperti El bukan benar-benar putranya saja.


Tapi, aura kebaikan El lah salah satu alasan yang membuat Ray sangat peduli padanya kan.


Sejak dahulu, Ray bertanya-tanya mengapa El masih ingin bersahabat dengannya ataupun Gelasya.


Gelasya masih mending, tapi Ray... Semuanya sering berpendapat kalau El tidak cocok berteman dengan orang seperti Ray. Katanya, Ray tidak sebaik dan seramah El. Malahan, Ray tidak begitu suka ada orang lain yang terlalu dekat dengannya. Mereka berdua, seperti jelmaan wujud iblis dan malaikat kan.


"Ray, sedang melamun?" Tanya El tiba-tiba.


Ray langsung melepaskan tangannya dari atas selimut El, kemudian menggeleng-geleng.


"Huh, oh ya El. Tadi ada anak gadis di Felleschrya. Itu siapa? Temanmu?" Tanya Gelasya tiba-tiba.


"Oh, apa dia berambut cokelat seperti Ray? Eh, rambut Ray sepertinya lebih terang ya."


"Tidak tahu, aku tidak perhatikan dia." Kata Ray dengan wajah datar.


Gelasya tersenyum miring, lalu menghela napas. "Iya, yang kau pikirkan kan hanya El, Ray."


Ray menoleh pada Gelasya dan menatapnya dengan jengkel. El hanya tertawa dan menenangkan mereka. "Hei, sudah-sudah."


"Hmm, tadi itu-"


Percakapan mereka terhenti ketika tiba-tiba saja Adora membuka pintu dan muncul dengan napasnya yang terengah-engah.


"Adora?"


"Tuan muda..."


Adora masih saja terengah-engah napasnya. Ia menatap El dengan wajahnya yang panik. Sepertinya ia terburu-buru datang untuk menemui El setelah...melihat sebuah masalah yang terjadi.


"Ada apa sih, Adora?"


"I-Itu...sekarang yang mulia sedang mengadili pelaku yang memanah tadi. Dan...adik tuan muda terlibat..."


"Ren!?"


Tanpa basa-basi lagi, El langsung turun dari ranjangnya dan berjalan untuk keluar dari ruangannya.


"El, kau ingin ke mana?" Tanya Ray sembari berdiri dengan cemas, begitu pula dengan Gelasya.


"Ah, aku harus melihat langsung pengadilannya. Jika Ren terlibat, aku pun juga."


"Tapi-"


"Ray, maaf ya aku tidak bisa diam dan duduk santai saja di sini." Kata El yang tidak mengacuhkan Ray. Ia pun langsung keluar dari ruangannya, menuju ke ruang pengadilan.


***


Alangkah terkejutnya El ketika ia sampai di sebuah ruangan pengadilan yang suasana ruangannya gelap. Hanya ada obor-obor terpajang di dinding yang menerangi ruangan tersebut. Semua jendelanya tertutup.


Ia agak terlambat sampai ke sana akibat harus berdebat dahulu dengan Lev yang bersikukuh menahannya di ruangan tadi.


Namun, El tidak bisa berkata-kata ketika pemandangan yang ia temukan, adalah ibunya Ren yang sedang terbatukkan darah ketika sebuah pedang luhur ditusukkan di tubuhnya. Darah bercipratan di sana. Dan sedikit bagiannya, mengenai Ren yang tengah berlutut di sebelahnya dengan tubuh gemetar hebat.


El takut, El takut jika harus mendekati tempat yang berlumuran darah itu. Tubuhnya terjatuh, ia menutup mulutnya saking terkejutnya.


"Tuan muda..." Ujar Lev sembari memegangi tubuhnya, berniat untuk mengangkat El berdiri.


El langsung menghempaskan tangan Lev. Lalu memandang Lev dengan wajah penuh kebencian. Membuat Lev terkesiap.


"Kenapa juga kau menahanku Lev sejak tadi!? Kalau saja kau membiarkanku pergi, Ny-Nyonya Agathe..."


"Apakah anda sadar bahwa dia adalah seorang pengkhianat, tuan muda!? Tidak seharusnya anda membelanya. Dan juga, yang mulialah yang mengeksekusinya sendiri...!!"


Mendengar ada suara bising di dekat pintu masuk, sang Raja yang sudah menarik kembali pedangnya itu langsung menoleh. Menatap El dengan kondisi wajah yang bercipratan darah. Ia memandang mereka dengan dingin, kemudian mengusap darah dengan tangannya.


Sedangkan, El menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang ia tegakkan di atas lantai. Merenungkan nasibnya dengan wajah yang masih penuh teror.


Ren...? A-Apa hukuman pembantaian seluruh keluarga pengkhianat akan terjadi sekarang...!?


***


...-End of Chapter 15-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️