
...-Execution Session-...
...-6:55 PM-...
Agathe tersenyum menyeringai ketika Raja menatapnya dengan wajah yang penuh aura kemurkaan. Raja bermantel merah tua itu masih menggenggam pedang di tangannya.
Agathe balas menatap Raja Alaric dengan tegas. Ia tidak mengacuhkan luka tikaman yang sudah bersarang di perutnya.
"Apa? Yang mulia sekarang sedang murka karena putra kebanggaannya disentuh, benar begitu ya."
Raja malah tersenyum miring. Wajahnya penuh dengan keangkuhan dan sikap merendahkan. "Hal yang sebenarnya membuatku murka yaitu pelakunya adalah kau, yang seorang parasit dan perempuan lacur."
Semua orang yang berada di sana terkejut ketika sang Raja itu sedikit membungkuk, kedua tangan Agathe langsung meraih wajah Raja. Sedikit menariknya agar Raja itu berada lebih dekat dengannya.
Siinggg
Celeste langsung saja mengeluarkan pedangnya. Merasa waswas, ia berjalan selangkah maju.
Beberapa waktu lalu...
Sang detektif kerajaan yang bernama Vespera, maju ke depan dan membacakan hasil pengamatan atas tugas yang diberikan kepadanya dan para bawahannya.
"Sesuai dengan perkataan tuan muda Elnathan, senjatanya adalah panah wayer yang dilontarkan dengan ketapel, bukan busur biasa. Ditemukan sekotak anak panah wayer yang serupa dengan senjata percobaan pembunuhan di dalam rak sang tersangka, koki Fabio. Koki Fabio juga kerap menunjukkan reaksi mencurigakan dan selalu menghindari introgasi. Di dalam topi sang koki juga ditemukan tali rumbai yang dicabut dari anak panah wayer untuk mengelabui para saksi. Demikian, bukti tersebut sudah dapat menjelaskan bahwa koki Fabio melakukan pengkhianatan karena percobaan pembunuhannya kepada sang putra dari Raja Avergaille..."
Raja pun mengangkat tangannya dan berkata, "Baiklah, sudah cukup, Vespera."
Setelah beberapa menit berlalu, si pengkhianat baru mau mengaku ketika diancam dan diintimidasi oleh Raja.
Raja psikopat, Raja berhati es, Raja bermata elang. Itu semua adalah sebutan untuk pria yang berdiri di hadapan sang pengkhianat.
Sudah tidak kuat, ia pun mengaku bahwa dalang dari kasus kejahatannya adalah Agathe, wanita yang dianggap sebagai selir Raja. Ia dijanjikan sejumlah harta dan juga 'Celeste' jika setuju untuk menggunakan panah yang diberikan oleh Agathe dan ditujukan untuk mencelakai El.
Padahal Raja menjanjikan kebebasan ketika penjahat itu mengatakan faktanya. Namun, kematianlah yang malah menghadiahi sang pengkhianat.
Sekarang, Celeste hanya bisa berdiam dan memasang wajah yang gugup. Ia hanya berharap sehabis eksekusi ini, Raja masih menaruh kepercayaan kepadanya.
Raja mengernyitkan keningnya ketika Agathe menyentuh wajahnya. Ia terlihat semakin kesal.
"Sekarang biar kulihat, apakah sang mulia masih bisa terpana melihat saya?" Tanya Agathe dengan wajah yang konyol.
Ia tertawa sembari menahan rasa sakit yang menderanya sejak tadi.
Raja meringis. Ia terlihat jijik terhadap Agathe.
"Wanita gila yang tidak layak hidup." Katanya sebelum akhirnya menebas kembali Agathe. Membuat tangannya Agathe terjatuh, tubuhnya pun terkulai ke lantai dengan pasrah.
"Tidak..."
Ren menggerakkan kakinya, berniat menyelamatkan hidup ibunya walaupun sebenarnya tidak ada yang bisa dia lakukan. Namun, yang ia bisa dapatkan hanyalah wajah keji sang Raja yang sedikit tersenyum melihat Ren.
Raja sedikit terkejut ketika mendengar suara-suara dari samping pintu.
El sedang menatap mereka dengan penuh teror. Sedangkan Raja itu malah menyeka darah Agathe yang terciprat di wajahnya.
"Yang Mulia, maafkan saya. Saya sudah sangat berusaha untuk menahan tuan muda..."
Raja Alaric menatap lurus, mengalihkan tatapannya dari Lev dan juga El.
"Biarlah dia menyaksikan sementara aku membelah badan adiknya menjadi dua bagian."
Suasana suram ruangan eksekusi istana menjadi semakin mencekam karena perilaku dan segala kata-kata iblis yang dilontarkan Raja.
Ren sedang bergetar hebat sembari melihat penampakan ibunya yang sudah terkapar menjadi mayat. Sampai kemudian El tiba-tiba berjalan ke depannya. Berdiri tegap sembari merentangkan kedua tangannya ke samping.
"Yang mulia... Aku pikir Ren tidak....ada...hubungannya deng-dengan kasus pemanahan tadi siang... Jadi tolong lepaskan dia..."
El mengatakan ucapannya sambil menahan napas dan mengabaikan pemandangan di sebelahnya yang bergelimangan darah. Wajahnya terlihat penuh rasa getir.
Sesaat, kedua manik hitam Raja terbuka lebar melihat El. Lalu ia malah menyipitkan matanya, menunjukkan wajah datarnya.
"Aku harusnya sedikit tercengang ya, bisa melihat seorang malaikat yang dipuja orang ada di tempat seperti ini."
"Ayah..."
Malahan, Ren yang tercengang di tempatnya karena melihat El di depannya.
"El, menyingkirlah kalau kau masih takut pada darah dan juga padaku."
El menurunkan kedua tangannya. Memejamkan matanya beberapa saat. Padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak gemetar. Tetapi, sekuat apapun ia mencoba tetap saja. Kakinya gemetar di sana. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah ayahnya.
Ren segera berdiri, terlihat sempoyongan. Lalu ia meletakkan tangannya di pundaknya El. Membuat El terkejut, sedikit menoleh pada Ren.
Ia ingin mencegah El terlibat dengannya lebih jauh lagi Ren tidak mau karena dirinya, El membantah ayahnya. Karena hal itu bisa berakibat buruk nantinya...
"El, sudah cukup... Kau, tinggalkan aku saja."
"Diam saja di sana Ren. Kenapa kau mau dihukum padahal tidak salah?"
Raja menghela napas seraya menurunkan pedangnya. Ia sedikit terkekeh sebelum berkata, "Tahu darimana El?"
El terkesiap. Dengan perlahan-lahan, El berpaling dari Ren. Ia bertanya-tanya di sana.
"Kau tahu dari mana kalau dia tak salah? Kedua parasit itu selalu menempel kemanapun mereka berdua pergi kan. Jadi dia tidak tahu apa yang ibunya lakukan?"
"Ayah, Ren tidak mungkin tahu. Dia tidak akan membiarkan nyonya Agathe merencanakan hal buruk kepadaku, ya kan Ren?"
Raja hanya bisa menghela napas menghadapi kekeraskepalaan El.
Di sisi lain, Gelasya tergesa-gesa berjalan ke kusen pintu masuk. Dia begitu terkejut melihat El berhadapan langsung dengan Raja...dengan...mayat di sebelah mereka.
"Ray, seharusnya kita menghalangi El kan! Ayo, bantu aku." Kata Gelasya berniat melangkah masuk ke ruangan.
Namun, Lev langsung menghadang mereka. Dia menatap Gelasya dan juga Ray, sedikit menunduk hormat.
"Hanya sampai di sini, tuan dan nona... Nona tidak boleh melangkah lebih lagi."
"Tapi, itu El-"
"Gelasya... Kau harus lihat itu ada Raja juga. Jangan ikut campur urusan El dengan ayahnya." Kata Ray sembari tetap kalem seperti biasanya.
Gelasya berbalik, menatap Ray dengan tatapan tak menyangka. "Kelihatannya El memang tidak gentar. Tapi, tidak mungkin kan.. Apalagi di sana banyak darah..."
Gelasya berkata sambil menutup mulutnya, matanya terbuka lebar.
Ray hanya menggeleng-geleng sembari memejamkan matanya. Ia pun meraih lengan Gelasya dan menatapnya dengan lekat. "Percaya saja padanya."
Alis Gelasya mengerut. Ia langsung menghentakkan tangannya yang dipegang Ray, sehingga tangan Ray terlepas paksa.
"Aku tahu kau memang terlalu respek pada El. Dia kelihatan sempurna tanpa ada kelemahan. Tapi tetap saja... dia itu, sejak dulu, hubungannya dengan Raja..."
Gelasya tidak melanjutkan ucapannya. Dia sudah terlalu ketakutan akan apa yang akan terjadi pada El selanjutnya.
Ray berwajah datar. Ia menarik kembali tangannya. Padahal, dia percaya pada El bukan tanpa alasan. Sebesar apapun kesalahannya El, Ray tahu kalau Raja tidak akan pernah menyakitinya.
Ia mengalihkan tatapannya dari Gelasya. Menatap apa yang terjadi pada sahabatnya yang berada di dalam ruangan suram itu. Walau sebenarnya Ray mengatakan bahwa ia memercayai El, tapi hatinya tidak bisa bekerja sama dengan perkataannya. Tetap saja ada rasa kekhawatiran di dalam hatinya.
Di sisi lain, sang Raja tampaknya sudah mulai jenuh akan tindakan yang ia pikir sangat buang-buang waktu.
Setelah mendengar perkataan El yang tidak menyalahkan Ren, wajah Ren langsung gugup. Alisnya sedikit ia kerutkan, menatap El dengan rasa bersalah.
Dia tahu semuanya. Apapun yang ibunya lakukan, rencanakan dan dapatkan, Ren tahu semua itu. Termasuk percobaan pembunuhan terhadap El.
Tapi, memangnya dia bisa lakukan apa untuk menghentikan rencana busuk tersebut?
Raja memandang El dengan tatapan yang merendahkan. "...Anak bodoh yang tak tahu situasi."
Dengan kaki yang gemetar, El tersenyum meringis. Kemudian dia menjawab, "Aku tahu situasinya... Yang mulia mau membunuh Ren karena takut dia bisa menyaingi posisiku kan? Apalagi, orang bilang kalau Ren lebih mirip denganmu, dibandingkanku."
Tangan kiri Raja terkepal menahan geram. Ia masih menatap El dengan sungguh-sungguh dan kedua alis yang dikerutkan.
"Kuberi waktu sampai detik ketiga... Menyingkir dari sana El."
"Your Highness, maaf kali ini aku tidak bisa menurut. Aku akan pergi...jika bersama Ren."
Celeste tiba-tiba saja bergerak dari sana. Ia tersenyum ceria sembari melangkah menuju posisi sang Raja dengan putranya. Hendak melakukan tugasnya sebagai tangan kanan Raja.
"Yang mulia. Izinkan saya..."
Langkah gadis berambut ungu gelap itu terhenti ketika Raja menoleh dan menghujaminya dengan segala tatapan ancaman. Seperti memberikan perintah tidak langsung agar Celeste tidak ikut campur kali ini. Celeste sedikit berdecih saat Raja sudah tidak lagi menatapnya.
Bau amis darah semakin menusuk hidung El. Membuat kepalanya pusing. Ia berharap kali ini saja... Hanya kali ini ayahnya bermurah hati agar mau melepaskan Ren. El sudah tidak tahan lagi dengan situasi mengenaskan di ruangan itu. Terdapat aura suram yang membuat perasaannya tidak nyaman.
Sang Raja menghela napas ketika sampai detik yang ia tentukan pun, El tidak kunjung bergerak juga dari tempatnya. Ia pun melangkahkan satu kakinya ke depan, kemudian ia mendekati El dan berbicara di dekat telinganya, "Padahal, sampai saat ini aku menunggu kau mengenalkan gadis imut yang kau temukan itu, El."
Mata biru El terbuka lebar. Ia selangkah mundur dari ayahnya, menatapnya dengan terkejut.
"Ma-Maksud ayah...?"
"Aku tak mempercepat perjalananku di luar bukan tanpa alasan." Kata Raja sambil tersenyum miring.
Raja memegang dagunya dengan beberapa jarinya, kemudian ia mendekati El dan berbisik di telinganya. "Apa kau mau melihat gadis yang kau bawa itu bersimbah darah? Aku sungguh akan membunuhnya jika kau terus membantah."
Ucapan intimidasi yang dilontarkan Raja mampu membuat anak di belakang El itu membelalakkan matanya.
El mengepalkan kedua tangannya, merapatkan kedua giginya dengan mata yang sinis. Ia terheningkan seketika. Memejamkan matanya beberapa saat.
"Mereka...beruntung karena ayahnya tidak sekejam yang mulia."
***
El berjalan menyusuri taman Felleschrya. Ia termenung di kala langkah demi langkah yang ia jalankan. Dari semua ruangan di segala penjuru istana, ruangan eksekusi tadilah yang paling ia hindari. Ruangan itu yang paling tidak ingin ia masukki dari semua ruangan yang ada.
Di tempat itu jugalah, di mana ia waktu itu menyaksikan sahabat yang sudah dianggap adik kecilnya sendiri dibunuh terang-terangan. Padahal, ia tidak bersalah sama sekali.
Tetapi kenapa, orang terdekatnya itu selalu saja diambil darinya?
Apakah orang itu benar-benar menganggap ia harus membunuh semua yang ia lihat sebagai parasit...?
Tidak ada manusia yang menjadi parasit di dunia ini. Tuhan pasti menciptakan satu persatu dengan suatu kegunaannya sendiri kan. Yang salah, hanyalah orang yang tidak mau berusaha. Namun, El seringkali melihat orang itu tidak mau menghargai seorang manusia. Kejam, merasa seperti Tuhan yang dapat berkuasa atas nyawa siapapun. Itulah yang El pikirkan.
El berhenti merenung ketika dari balik pohon yang besar, ia melihat ada yang duduk di sana. Sebelum menghampirinya, El melirik untuk memeriksa dari balik pundaknya.
El memasuki daerah taman di balik pohon. Menyingkirkan dedaunan yang menghalanginya. Kemudian melangkah masuk ke sana.
Di dalammya, Amadea langsung berdiri dari duduknya. Membungkuk kepadanya.
"Ah, selamat malam tuan muda."
Melihat pembimbingnya berdiri, Anabelle pun turut berdiri. Wajahnya seriang matahari melihat El. "El, halo lagi!!"
"Malam... Ann, sedang apa?" Tanya El yang melihat Anabelle tengah memegang sebuah pena sepaket dengan buku putih di tangannya.
"Tuan muda. Saya ingin membuat nona bermain dengan imajinasinya. Pemandangan langit malam hari ini kan indah, jadi saya pikir akan bagus jika nona mencoba berkreasi."
"Betul El. Tapi...aku...tidak bisa menggambar apapun..." Kata Anabelle yang mengangkat lembaran kosong di tangannya.
El tersenyum, ia menghela napas dan mengulurkan sebelah tangannya. "Sini, mau aku ajarkan?"
"Mau...!"
Amadea menghela napasnya, ia pun tersenyum. Membiarkan El duduk di atas rumput dan menyandarkan bukunya pada lutut yang telah ia tekukkan.
Anabelle duduk di sebelahnya, memandang El yang akan menggambar sesuatu di lembaran kosong tersebut.
El mendongak, menatap langit malam yang terbentang luas di atasnya. Memang benar apa yang dikatakan nyonya Amadea. Malam ini, langitnya indah sekali.
Bintang-bintang menghiasi bagian langit dengan sangat lengkap. Empat bintang paling terang kala itu muncul dan membentuk sebuah salib yang miring. Bulan sabit pun turut menggantung di langit atas pohon besar.
Suara kicauan burung hantu terdengar, namun tak mengganggu karena tidak begitu nyaring.
Anabelle terus saja memerhatikan El yang membua gores-goresan di atas kertas menggunakan penanya. Ia menggambar sketsa sebuah bulan di tengah-tengahnya, lalu ia hiasi dengan awan-awan yang menutupi bulan itu. Dengan perlahan dia menggerakkan tangannya untuk membuat sebuah sketsa langit malam.
"Ternyata begitu ya caranya..." Kata Anabelle yang terkagum-kagum.
El menghentikan tangannya ketika seseorang memanggilnya dari balik pohon. Wajahnya menjadi datar.
"Jangan mengganggu, Lev."
Lev hanya bisa berdiri pasrah di dekat pohon. Wajahnya terlihat cemas.
"Tuan muda, maafkan saya... Saya melakukannya karena saya ingin melindungi anda..."
"Kalau soal yang tadi, aku mengerti. Tapi, tak kusangka kamu bisa melaporkan Anabelle pada ayahku, Lev..."
Lev sedikit meringis. "Saya tidak kuat rasa melihat anda terus saja dalam masalah karena nona itu. Jadi saya benar-benar terpaksa membuat yang mulia Raja tahu, tuan..."
Anabelle tergelak. Sedikit merinding akibat angin yang menghembuskan kulit pucatnya.
Jadi...keberadaannya sekarang sudah diketahui oleh pimpinan itu... Lalu sekarang bagaimana? Apakah sebentar lagi El dalam masalah? Ataukah, Anabelle sebentar lagi berpisah dengan El...
Anabelle tidak masalah. Ia tidak masalah menggelandang asal tidak lagi menyusahkan El.
"Justru karena Raja tahulah, aku pasti dalam masalah sekarang..."
"Tuan muda... Menurut saya lebih baik jujur daripada anda terus menyembunyikan soal nona... Yang mulia juga pasti melakukan semua yang terbaik untuk tuan kan."
Anabelle mengerutkan keningnya, berwajah sedih karena merasakan situasi tegang dan tidak baik yang terjadi saat ini.
El meletakkan penanya, menatap Lev dengan heran. "Jadi membunuh Zora dan Ren itu melakukan yang terbaik menurutmu Lev? Raja yang menyuruh anaknya sendiri memegang pedang sejak batita, dan memaksa agar aku menguasai segala bakat, itu... semuanya demi aku ya."
Lev berwajah melas. "Tuan muda..."
El menghela napasnya dengan lelah. Ia menutup buku dan menyerahkan perlengkapan menggambarnya pada Amadea.
"Situasinya jadi tidak mengenakkan karena perbincangan ini. Jadi, aku akan mengantar Anabelle ke kamarnya ya, nyonya?" Tanya El dengan wajah yang datar.
Amadea langsung membungkuk dan menerima sebuah buku gambar dan pena dari El. Lalu ia pun menjawab, "Ya tuan, silahkan."
Lev hanya bisa pasrah dan membiarkan tuannya berjalan pergi melewatinya. Di sebelah El, Anabelle hanya bisa menurut dengan wajah yang cemas. Saat melewati Lev, tak lupa Anabelle menunduk hormat. Lev hanya membalasnya dengan sedikit anggukan.
Di luar, Ray tengah menunggui El sambil melipat kedua tangannya di dada. Menatap tanah, tampak sedang memikirkan sesuatu. Ketika melihat El, kedua alisnya sedikit turun.
Tangan El masih menggandeng Anabelle. Menatap Ray dengan wajah sedikit bingung. "Ray? Kukira kamu sudah pulang bersama Gelasya."
Ray berdiri di depan El. Menatap gadis di sebelahnya yang mengumpat di balik pundak El.
"Sebenarnya dia siapa? Kenapa kau malah mencarinya di saat Sereno dalam bahaya?"
El menghela napas. "Aku sudah melakukan yang sebisaku untuk Ren. Tapi kau pasti kenal ayahku seperti apa kan."
Ray menjadi bingung. Tidak mengerti dengan apa yang El pikirkan. Menurutnya, saat ini El terlihat aneh dan tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Ray memegang rambut cokelatnya, menyapu rambutnya ke belakang. "El, sebenarnya apa yang Raja katakan padamu?"
Anabelle menatap El yang tampak menjaga sikap kalemnya. Ia pun berkata, "Maksudmu?"
"Apa yang kau takutkan sampai tiba-tiba menyerah soal Ren? Aneh saja, belum sampai beberapa saat lalu kamu kukuh khawatir sekali kan pada Ren, sekarang kau sudah terlihat baik-baik saja."
El tampak bingung. "Lho? Kau menilai perasaan yang kualami cuma dari kelihatannya saja? Kali ini saja percaya pada keputusanku."
Ray hanya bisa terus memandangi El dengan tak bisa menduganya. Tak bisa menduga bahwa El benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sebaiknya kamu kembali Ray. Sampai jumpa besok."
Langkah Anabelle mengikuti El sambil tetap dituntun olehnya. Sebelum berjalan meninggalkan Ray, Anabelle menoleh untuk menatap Ray. Anak itu sedang meneliti mereka berdua dengan wajah yang dingin. Lalu Ray menaruh tatapannya pada Anabelle, sedikit memicingkan matanya.
Anabelle tergelak. Kemudian kembali berbalik, menatap jalanan di depannya.
Angin malam berhembus, membuat rambut Anabelle terkibas-kibas dengan pelan. Anabelle suka dengan situasi malam di kerajaan yang sedang ditempatinya. Seakan-akan, ia sedang berada di sebuah dunia fantasi. Apalagi dengan keberadaan El di sampingnya, Anabelle merasa bahwa dia bisa melalui segala masalah.
Sebenarnya sejak tadi Anabelle merasa bahwa ada yang mengikuti mereka jauh di belakang sana. Namun, dirasanya gadis itu tahu siapa yang mengikut. Jadi, ia biarkan saja. Mungkin itu sudah termasuk kewajibannya kan...
"El, apa kamu sudah tidak sakit?" Tanya Anabelle yang memecah keheningan malam itu.
El tersenyum dan menjawab, "Tidak kok. Aku baik-baik saja Ann. Bagaimana kabarmu seharian ini?"
"Umm, hari ini menyenangkan. Aku belajar banyak hal."
"Aku senang mendengarnya. Apapun yang terjadi, kau harus semangat dan jangan berkecil hati. Demi aku, ya Ann?"
Kedua mata Anabelle terbuka lebar mendengar perkataan El yang tiba-tiba menyemangatinya. Ia menyipitkan matanya dan tersenyum bahagia. "Baiklah El. Aku akan berusaha demi El!"
El menghela napasnya dan menarik senyuman.
Anabelle menghentikan langkahnya sesaat ketika mereka akhirnya mencapai danau Felleschrya. Ia memandang keadaan danau yang jauh berbeda dari biasanya. Kali ini, kunang-kunang yang bercahaya terang menghiasi area dekat danau. Bunga lili yang waktu itu ia kagumi, sekarang juga mengeluarkan cahaya yang warnanya sesuai dengan warna bunga mereka. Bagaikan ada seorang peri yang menyalakan bunga tersebut dengan sihirnya.
Air danau yang biasanya biru jernih itu sekarang bukan hanya jernih, tapu juga menyala terang. Bagaikan mereka semua ingin melakukan tugas bulan dan bintang. Bedanya, mereka ingin menerangi bagian daratan sehingga malam kala itu tidak terkesan suram dan gelap. Malah, terlihat begitu memukau.
Bibir Anabelle sedikit terbuka menatap keelokkan danau jauh di depannya.
El pun menyadari hal itu. Kemudian ia pun menawarkan untuk pergi danau itu dahulu dan menikmati keindahannya.
Anabelle terkesiap. Ia ingin sekali mengatakan iya, namun ia berpikir lagi. Beberapa detik kemudian, ia malah menggeleng.
"Tidak usah El. Hari ini sangat panjang bagi El. Lebih baik El cepat beristirahat kan."
Ucapannya pun tidak sepenuhnya salah. Sebenarnya pun, Anabelle sangat takut ia akan ceroboh dan melakukan kesalahan lagi. Sudah cukup, kali ini benar-benar sudah cukup. Anabelle akan menghindari tempat-tempat yang berisiko baginya. Apalagi, waktu itu dia dilarang untuk berada dekat-dekat dengan danau ini kan.
"Jarang-jarang lho danaunya seindah ini. Aku juga ingin lihat, yuk Ann."
Alis Anabelle mengerut dengan cemas. Perasaannya tidak enak. Firasatnya terasa buruk...
"Tapi El..."
El tersenyum hangat dan menoleh untuk menatap Anabelle. Ia pun berkata, ”Aku tidak lelah. Malah, berada di sini membantuku memulihkan energi. Tidak usah khawatir."
Anabelle pun menyerah untuk kembali menolak ajakan El. Ia mengikuti langkah El dengan penuh kewaspadaan. Menghampiri sebuah danau bercahaya di balik rerumputan.
El menuntun Anabelle agar berjalan ke tepi danau. Anabelle mengerutkan alisnya ketika kakinya sudah melangkah di tepi danau.
"El? Apa tidak terlalu dekat!?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu Ann."
Anabelle dan El akhirnya sampai di tepi danau. Suara jatuhnya air terjun semakin menderu di telinga mereka. Malam yang gelap kala itu diterangi oleh jernihnya air serta kunang-kunang yang berterbangan di sekitarnya.
Anabelle terkejut bukan main ketika ia berhadapan dengan El. El memegang kedua tangan Anabelle, membuat mereka bertatapan.
Mata Anabelle bergerak ke sekitarnya. Menemukan bahwa kunang-kunang tadi telah terbang memutari mereka berdua. Ia merasa seperti di dunia fantasi yang penampilannya bisa tiba-tiba berubah karena dibantu oleh peri dan kunang-kunang cahaya.
Kunang-kunang pembawa cahaya itu memberikan mereka sebuah sensasi yang begitu indah.
Wajah Anabelle langsung tersenyum bahagia merasakan hal indah seperti ini bersama El.
"El? Mereka tidak akan menggigit kan!?" Tanya Anabelle dengan wajah yang begitu riang gembira.
Di depannya, El hanya bisa terbelalak. Matanya terpaku pada wajah Anabelle. Tidak beralih sedikitpun.
El, mereka tidak akan menggigit kita kan!?
"Indahnya..." Gumam Anabelle yang tak bisa berhenti memandang ke sekitarnya.
El tergelak, wajahnya tampak takjub. Ia mengulurkan tangannya dan memegang rambut Anabelle. Meneliti rambutnya dengan sungguh-sungguh.
Anabelle terkesiap. Ia berhenti memandang ke sekitarnya. Ia menatap El yang masih mengusap rambutnya dengan lembut.
Merasa bahwa ia sudah kelewat batas, El langsung menarik kembali tangannya. Menggeleng-geleng beberapa kali.
El melepaskan tangan Anabelle, berbalik darinya dan menghadap danau. Membuat kunang-kunang tadi langsung pergi dari lingkaran mereka.
Anabelle pun juga ikut menghadap danau, bersebelahan dengan El.
"Tempat ini penuh dengan keajaiban ya, El?"
"Benar. Sebenarnya, kunang-kunang di sini akan mengitari siapapun yang bergandengan seperti kita tadi. Mereka itu mengira kita pasangan, makanya melakukan hal tadi."
"Pasangan? Apa maksudnya?"
El menoleh pada Anabelle, menatapnya dengan tak percaya. Ia membulatkan matanya dah berkata, "Kamu...bahkan tidak tahu kata itu?"
Dengan polos, Anabelle menggeleng-geleng. Membuat El menghela napas.
"Ya sudah, berarti belum waktunya kau tahu."
Anabelle memiringkan bibirnya. Menatap El dengan rasa penuh ingin tahu. Sekarang, dia jadi penasaran sekali kan apa maksud pasangan. Yang ia tahu, pasangan itu seperti sepasang sepatu, atau sepasang anting. Kalau sepasang sepatu, berarti mereka berdua sama persis kan?
Lho?
Anabelle tidak mengerti sama sekali. Mengapa mereka mengira El dan Anabelle sama persis? Padahal sudah jelas-jelas berbeda kan. Ia merasa terlalu bodoh untuk mengerti kata-kata yang bermakna asing baginya. Selama ini yang ia mengerti hanyalah berbaring, makan makanan layu, serta segelas air tiap harinya.
Fokus Anabelle terbuyarkan ketika ia mendengar suara kicauan elang yang terbang di atas mereka. Elang berbulu emas campuran abu-abu itu merentangkan kedua sayapnya yang indah. Terbang melawan angin sebelum akhirnya hinggap di atas tebing air terjun Felleschrya.
Anabelle mendongak dan melihat elang yang sedang hinggap seraya memerhatikan mereka berdua.
Deg
Anabelle serasa begitu takut ketika ia melihat wajah elang yang sangar itu. Ia langsung berhenti mendongak dan kembali memerhatikan El.
"Ann. Lili itu, apa kau menyukainya?" Tanya El sembari menunjuk sebuah bunga lili yang mengapung di atas air.
Anabelle tergugah melihat lili yang menyala terang di tengah-tengah air.
"Dari semua bunga, itu yang paling terang ya El!"
"Benar. Maka itu aku akan memetiknya."
"E-Eh..., bukankah lebih baik jangan El? Bunganya...terlalu...jauh..."
"Tidak apa, aku bisa."
El tersenyum manis pada Anabelle. Ia ingin melihat tawa Anabelle sekali lagi sebelum ia akan jarang bisa melihat Anabelle. El menggulung kedua celananya sedikit ke atas.
Kemudian El menoleh dan mencari-cari sebatang kayu. Setelah menemukan benda yang dicarinya di dekat rerumputan, ia langsung mengambilnya. Kakinya tertekuk, hingga tubuh El berjongkok menghadap bunga lili yang mengapung di tengah danau.
Saat El tengah mengulurkan batang kayu yang ia genggam pada daun bulat tempat bunga lili terlekat, tanpa diduga. Sebuah katak melompat dari balik bunga lili, hendak menuju ke tangannya El.
"Kroaak..."
"Kyah!" Suara Anabelle yang terkejut melihat katak hijau dengan mata oranye.
El tidak kalah terkejutnya ketika katak menjijikkan itu melompat-lompat dengan sangat cepat di depannya. Ia langsung berdiri dan menarik tangannya sebelum ditumpangi katak.
Namun, El membulatkan matanya saat tiba-tiba katak yang melompat-lompati berbagai daun itu akhirnya berhasil mencapai tepi dan menimpa kakinya El. Sepatu putih El yang begitu bersih akhirnya berubah menjadi butek karena tubuh katak yang kotor.
"Gaah...!!"
El terperanjat melihat katak yang mengganggunya itu. Ia mencoba untuk menjatuhkan katak yang bersarang di kaki kanannya. El menggunakan kaki kanannya dan menggerak-gerakkannya, berharap katak itu melompat pergi.
"Tuan muda...!?"
Lev langsung muncul dari persembunyian diam-diamnya ketika melihat El yang mengalami kesulitan.
El terkejut karena bukanlah katak yang melesat pergi, malahan dirinya lah yang kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Splashhhh
Manik abu-abu Anabelle terbuka lebar. Sedangkan dari belakang, Lev melesat dan mencoba untuk menyelamatkan El.
"TUAN EL!?"
***
...-End of Chapter 16-...
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️